Jipangulu, Ngelo — 8 April 2022
Majelis pengajian bukan sekadar tempat berkumpul dan mendengarkan tausiyah. Lebih dari itu, majelis pengajian merupakan ruang untuk menyegarkan kembali keimanan, memperluas pengetahuan agama, sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi di antara sesama umat.
Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo. Dalam kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan kajian dari Kitab Wasiyatul Mustofa, sebuah kitab yang sarat dengan nasihat dan tuntunan akhlak bagi umat Islam.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah tentang tanda-tanda kemuliaan seorang mukmin. Kemuliaan tersebut ternyata tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah seseorang secara pribadi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan keluarga dan hubungan sosialnya dengan masyarakat.
Dalam Wasiyatul Mustofa disebutkan sebuah nasihat kepada Sayyidina Ali:
يَا عَلِيُّ مِنْ كَرَامَةِ الْمُؤْمِنِ زَوْجَةٌ مُوَافِقَةٌ وَالصَّلَاةُ جَمَاعَةً وَجِيْرَانٌ يُحِبُّوْنَهُ
Artinya:
"Wahai Sahabat Ali, termasuk kemuliaan seorang mukmin adalah memiliki istri yang patuh pada suami, senantiasa melaksanakan salat berjamaah, dan memiliki tetangga-tetangga yang mencintainya."
Nasihat tersebut mengandung pesan yang sangat luas. Kehidupan seorang mukmin idealnya tidak hanya baik dalam hubungannya dengan Allah SWT, tetapi juga baik dalam membangun hubungan dengan pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Keluarga yang Harmonis adalah Bagian dari Kemuliaan
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang belajar tentang agama, akhlak, kesabaran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Karena itu, terciptanya keluarga yang harmonis menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kehidupan seorang muslim.
Dalam konteks ini, ketaatan seorang istri kepada suami tentu harus dipahami dalam koridor kebaikan dan ajaran agama. Ketaatan bukan berarti menghilangkan hak, martabat, maupun ruang musyawarah dalam rumah tangga. Sebaliknya, hubungan suami dan istri semestinya dibangun di atas prinsip saling menghormati, saling menjaga, saling menguatkan, serta bersama-sama menjalankan tanggung jawab keluarga.
Dalam keterangan lain disebutkan bahwa seorang perempuan yang menjaga ibadahnya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri mendapatkan keutamaan yang besar.
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Artinya:
"Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, 'Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka'."
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak hanya terletak pada perannya sebagai istri, tetapi juga pada kualitas ibadah, kehormatan diri, dan keteguhan menjalankan kewajiban kepada Allah SWT.
Begitu pula bagi seorang suami. Keharmonisan rumah tangga tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak saja. Suami memiliki tanggung jawab untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih sayang, memberikan keteladanan, memenuhi kewajiban keluarga, serta memperlakukan istri dan anak-anak dengan baik.
Dengan demikian, keluarga yang ideal adalah keluarga yang saling mengajak kepada kebaikan.
Salat Berjamaah dan Membangun Kebersamaan
Selain keluarga yang harmonis, nasihat tersebut juga menyebut salat berjamaah sebagai salah satu bagian dari kemuliaan seorang mukmin.
Salat berjamaah bukan hanya persoalan memperoleh pahala yang lebih besar. Di dalamnya terdapat pendidikan sosial yang luar biasa. Orang-orang dari berbagai latar belakang berdiri dalam satu saf, tidak membedakan kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, tua maupun muda.
Ketika salat berjamaah dilakukan secara istiqamah, hubungan antarsesama jamaah pun semakin dekat. Dari masjid, tumbuh kepedulian, persaudaraan, dan semangat untuk saling membantu.
Karena itu, masjid hendaknya tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta tempat mempererat ukhuwah Islamiyah.
Dicintai Tetangga karena Menjaga Lisan dan Perbuatan
Kemuliaan seorang mukmin berikutnya tercermin dari bagaimana ia hidup berdampingan dengan tetangga.
Seseorang yang dicintai tetangganya biasanya adalah orang yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram kepada lingkungan sekitarnya. Ia tidak mudah menyakiti hati orang lain, tidak gemar menyebarkan fitnah, tidak suka membuat keributan, dan mampu menjaga ucapan maupun perbuatannya.
Prinsip tersebut ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه
Artinya:
"Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim, Lihat Shahiihul Jaami’ No. 6709)
Hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menjaga lisan tidak hanya berarti tidak berkata kasar secara langsung. Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan, komentar, pesan, unggahan, dan berbagai bentuk komunikasi digital.
Satu kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat menyakiti seseorang. Satu informasi yang belum jelas kebenarannya dapat menimbulkan fitnah. Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berpikir sebelum berbicara maupun menulis.
Prinsip sederhananya adalah: jangan sampai orang lain merasa tidak aman karena lisan dan tangan kita.
Bahkan hubungan baik dengan tetangga tidak hanya berlaku kepada sesama muslim. Sikap menjaga kedamaian, menghormati, dan tidak mengganggu juga merupakan bagian dari akhlak seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat.
Ramadan: Kesempatan Membersihkan Diri
Kajian kemudian berlanjut pada keutamaan bulan Ramadan. Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadan merupakan momentum pendidikan jiwa.
Seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu, menjaga ucapan, memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian kepada sesama, dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Dalam Wasiyatul Mustofa disebutkan:
يَا عَلِيُّ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَاجْتَنَبَ الْحَرَامَ فِيْهِ وَالْبُهْتَانَ رَضِيَ عَنْهُ الرَّحْمٰنُ وَاَوْجَبَ لَهُ الْجِنَانَ
Artinya:
"Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan, menjauhi perkara haram dan dusta di dalamnya, maka Tuhan Yang Maha Pengasih ridha padanya dan mewajibkan baginya surga-surga."
Pesan ini menunjukkan bahwa hakikat puasa tidak berhenti pada menahan makan dan minum.
Puasa juga merupakan latihan untuk mengendalikan diri dari kebohongan, fitnah, pertengkaran, perkataan yang menyakitkan, serta berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Ramadan seharusnya mampu mengubah perilaku seseorang. Jika sebelum Ramadan seseorang mudah marah, setelah Ramadan ia menjadi lebih sabar. Jika sebelumnya mudah berkata kasar, setelah Ramadan ia semakin mampu menjaga lisannya. Jika sebelumnya kurang peduli kepada sesama, setelah Ramadan ia semakin ringan tangan untuk membantu.
Itulah salah satu tanda bahwa pendidikan Ramadan memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Menyempurnakan Ramadan dengan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, umat Islam masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan amal dengan puasa enam hari pada bulan Syawal.
Dalam materi kajian disebutkan:
يَا عَلِيُّ مَنِ اتَّبَعَ رَمَضَانَ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ صَوْمَ الدَّهْرِ كُلِّهِ
Artinya:
"Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang mengikuti Bulan Ramadhan dengan puasa 6 hari di Bulan Syawal, maka Allah mencatat baginya puasa setahun penuh."
Hal tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa enam hari setelah Ramadan. Amalan ini menjadi salah satu bentuk kesinambungan ibadah.
Pesan pentingnya adalah bahwa semangat beribadah jangan berhenti ketika Ramadan berakhir.
Ramadan memang telah meninggalkan kita, tetapi kebiasaan baik yang dibangun selama Ramadan seharusnya tetap dipelihara. Salat berjamaah tetap dijaga, membaca Al-Qur'an tetap dilanjutkan, bersedekah tetap dibiasakan, menjaga lisan tetap menjadi prinsip, dan hubungan baik dengan keluarga maupun tetangga harus terus dirawat.
Menjadikan Pengajian sebagai Jalan Perubahan
Ngaji rutin seperti yang dilaksanakan Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo memiliki makna yang sangat penting. Pengajian bukan hanya menjadi kegiatan rutin yang berlangsung dari waktu ke waktu, tetapi dapat menjadi ruang untuk memperbaiki diri secara bersama-sama.
Ilmu agama yang diperoleh dalam majelis hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata.
Memahami pentingnya menjaga lisan berarti mulai berhati-hati ketika berbicara.
Memahami pentingnya menjaga hubungan dengan tetangga berarti mulai membiasakan diri menyapa, membantu, dan menghormati mereka.
Memahami pentingnya keluarga berarti berusaha menciptakan rumah yang penuh kasih sayang.
Memahami keutamaan ibadah berarti berusaha meningkatkan kualitas dan keistiqamahan dalam beramal.
Dengan cara seperti itu, majelis pengajian akan benar-benar menjadi tempat lahirnya perubahan sosial yang positif.
Pada akhirnya, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terlihat dari seberapa banyak ia beribadah secara pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kehadirannya memberikan ketenteraman bagi orang-orang di sekitarnya.
Ia menjadi pribadi yang baik di dalam rumah, khusyuk dalam ibadah, santun kepada tetangga, mampu menjaga lisannya, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Semoga kegiatan Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo senantiasa istiqamah dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, guyub, dan penuh keberkahan.
Semoga ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat.
Wallohu A’lami Bisshowab.
Pemateri: De Badruns
Ketua MUI Margomulyo







Tidak ada komentar:
Posting Komentar