Suntari merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang dakwah, pengembangan masyarakat, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Berdomisili di Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam upaya membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan penuh kemanfaatan.
Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Suntari dipercaya sebagai Anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk turut mendukung kegiatan dakwah serta mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial.
Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah dan pengajian, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Membantu sesama, menjaga lingkungan, membangun kebersamaan, dan memberikan keteladanan merupakan bagian dari dakwah yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Berkhidmat melalui Fatayat NU
Selain aktif di MUI, Suntari juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris II PAC Fatayat NU Margomulyo. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian beliau di lingkungan Nahdlatul Ulama, khususnya dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan, pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Sebagai bagian dari organisasi, kemampuan administrasi, koordinasi, dan komunikasi menjadi hal penting untuk mendukung kelancaran program. Semangat berorganisasi bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk bekerja sama dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Kiprah di MUI dan Fatayat NU menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang besar untuk mengambil peran dalam dakwah dan pembangunan masyarakat.
Kreativitas melalui Kuliner Nusantara
Suntari memiliki bidang keahlian dalam resep masakan dan kuliner Nusantara. Keahlian ini merupakan salah satu bentuk kreativitas yang dekat dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Kuliner Nusantara tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga menyimpan nilai budaya, tradisi, kreativitas, dan kebersamaan. Memasak dapat menjadi sarana mempererat hubungan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi apabila dikembangkan menjadi usaha.
Keterampilan mengolah makanan juga dapat menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang baik, kuliner dapat dikembangkan menjadi produk UMKM yang memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus mendukung kemandirian ekonomi.
“Kebersihan Sebagian dari Iman”
Pesan yang menjadi prinsip Suntari adalah:
“Kebersihan sebagian dari iman.”
Pesan tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kebersihan bukan hanya persoalan lingkungan yang terlihat oleh mata, tetapi juga berkaitan dengan kebersihan diri, tempat ibadah, rumah, lingkungan, serta hati dan perilaku.
Dalam Islam, kebersihan dan kesucian memiliki kedudukan penting. Seorang muslim diajarkan untuk menjaga kebersihan tubuh, pakaian, tempat ibadah, serta lingkungan di sekitarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
Hadis tersebut merupakan landasan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga kesucian dalam kehidupan seorang muslim.
Perlu dicatat, ungkapan populer “kebersihan sebagian dari iman” sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan redaksi hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim adalah الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ, yang bermakna “Kesucian itu adalah separuh iman.”
Kebersihan sebagai Bentuk Dakwah
Jika dikaitkan dengan amanah Suntari di Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, pesan tentang kebersihan memiliki makna yang lebih luas.
Dakwah tidak selalu harus disampaikan dengan kata-kata. Ketika seseorang membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan masjid, membersihkan lingkungan, dan mengajak keluarga hidup sehat, sesungguhnya ia sedang memberikan contoh nyata tentang nilai-nilai Islam.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesucian merupakan bagian dari perilaku yang dicintai Allah SWT.
Kebersihan juga memiliki dimensi sosial. Lingkungan yang bersih membuat masyarakat lebih nyaman, mengurangi potensi berbagai gangguan kesehatan, dan menciptakan suasana kehidupan yang lebih baik.
Dimulai dari Diri Sendiri
Membangun budaya bersih tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.
Membersihkan rumah, menjaga kebersihan tempat ibadah, mengelola sampah, menjaga kebersihan makanan, serta mengajarkan anak untuk hidup bersih merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Keluarga menjadi tempat pertama untuk menanamkan kebiasaan tersebut. Anak yang dibiasakan menjaga kebersihan sejak kecil akan membawa kebiasaan tersebut dalam kehidupan sosialnya.
Dengan demikian, menjaga kebersihan juga menjadi bagian dari pendidikan karakter.
Dakwah yang Hadir dalam Kehidupan
Amanah sebagai Anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat memberikan ruang bagi Suntari untuk turut mendorong dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dakwah yang baik bukan hanya mengajak manusia memahami ajaran agama, tetapi juga membantu menghadirkan nilai-nilai agama dalam tindakan nyata.
Ketika nilai kebersihan diterapkan dalam kehidupan, maka ajaran Islam tidak hanya terdengar melalui ceramah, tetapi juga terlihat melalui perilaku.
Ketika seseorang menjaga kebersihan masjid, ia sedang menghormati rumah Allah. Ketika seseorang menjaga kebersihan lingkungan, ia sedang menghargai hak orang lain untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman. Ketika seseorang menjaga kebersihan makanan, ia sedang menjaga kesehatan diri dan keluarga.
Semua itu dapat menjadi bagian dari pengamalan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pengabdian dengan Semangat Kemanfaatan
Melalui amanah sebagai Anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kecamatan Margomulyo serta Wakil Sekretaris II PAC Fatayat NU Margomulyo, Suntari turut mengambil bagian dalam kegiatan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara keahlian dalam kuliner Nusantara menjadi potensi yang dapat dikembangkan sebagai bentuk kreativitas, pemberdayaan keluarga, maupun peluang ekonomi.
Pesan “Kebersihan sebagian dari iman” menjadi pengingat bahwa nilai-nilai agama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Sebab, membangun masyarakat yang baik tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia dimulai dari hal sederhana: menjaga kebersihan, menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, dan memberikan keteladanan kepada orang-orang di sekitar.
Dengan semangat dakwah yang diwujudkan melalui tindakan nyata, setiap kebaikan kecil dapat menjadi bagian dari perubahan besar bagi keluarga dan masyarakat.
Identitas Singkat
- Nama: Suntari
- Alamat: Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
- Jabatan di MUI: Anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat
- Jabatan Sosial: Wakil Sekretaris II PAC Fatayat NU Margomulyo
- Bidang Keahlian: Resep Masakan dan Kuliner Nusantara
- Pesan: “Kebersihan sebagian dari iman.”







Tidak ada komentar:
Posting Komentar