Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi

KUWALI ||KULTUM MATAWALI || Orang yang Tertipu Selama Ramadhan || ROMADHON #4


 

rang yang Beribadah tetapi Tertipu Selama Ramadhan

Materi KUWALI — Kultum Matawali
Pemateri: De Badruns
Ketua MUI Margomulyo

الحَمْدُ للهِ الّذِي خَلَقَ الخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَأَمْرُهُمْ بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْمَلُ الخَلْقِ عُبُودِيَّةً للهِ، وَأَعْظَمَهُمْ طَاعَةً لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ. اَمَّا بَعْدُ،

Jamaah KUWALI rahimakumullah,

Ramadhan hadir sebagai bulan yang sangat istimewa di antara sebelas bulan lainnya. Bulan ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbanyak amal kebajikan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender dalam kehidupan seorang muslim. Ia adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dunia, melakukan introspeksi, dan kembali menata hubungan kita dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Keistimewaan Ramadhan terlihat dari begitu banyaknya dorongan untuk memperbanyak ibadah. Setiap hari, bahkan setiap detik yang dilewati seorang muslim dalam bulan suci ini memiliki nilai yang sangat berharga.

Bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan, waktu bukan sekadar waktu. Tidurnya dapat bernilai ibadah, diamnya dapat menjadi tasbih, dan amal kebajikan mendapatkan ganjaran yang berlipat.

Karena itulah, tidak mengherankan apabila kedatangan Ramadhan disambut dengan penuh antusias oleh umat Islam.

Masjid mulai dipenuhi jamaah. Al-Qur'an semakin sering dibaca. Dzikir dan doa semakin banyak dilantunkan. Salat tarawih menjadi rutinitas malam. Hidangan berbuka dibagikan kepada sesama. Sedekah ditingkatkan dan berbagai amal sunnah lainnya mulai digalakkan.

Semua itu tentu merupakan pemandangan yang menggembirakan.

Ramadhan dan Semangat Memperbaiki Diri

Jamaah KUWALI hafidhakumullah,

Kita patut bersyukur ketika melihat perubahan positif yang terjadi di tengah masyarakat selama Ramadhan.

Orang yang biasanya jarang ke masjid mulai hadir. Orang yang jarang membaca Al-Qur'an mulai bertadarus. Orang yang biasanya kurang memperhatikan ibadah mulai berusaha memperbaiki diri.

Ramadhan seolah memberikan ruang kepada manusia untuk mengambil jarak sejenak dari kesibukan duniawi yang melelahkan.

Namun, ada satu hal yang harus kita renungkan bersama.

Apakah semua ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan otomatis bernilai sempurna di hadapan Allah?

Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Sebab, ibadah tidak hanya berkaitan dengan banyaknya aktivitas yang kita lakukan. Ibadah juga berkaitan dengan niat, keikhlasan, ketepatan pelaksanaan, serta bagaimana ibadah tersebut memberikan pengaruh terhadap perilaku kita.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

(Muttafaqun ‘alaih)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar apabila dijalankan dengan iman dan ihtisab, yakni penuh keyakinan kepada Allah serta mengharap pahala hanya dari-Nya.

Karena itu, meningkatkan intensitas ibadah adalah sesuatu yang sangat baik. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan beribadah justru membuat kita terjebak dalam kesalahan yang tidak kita sadari.

Ketika Orang yang Rajin Beribadah Justru Tertipu

Jamaah KUWALI rahimakumullah,

Mungkin kita bertanya:

Bagaimana mungkin seseorang yang rajin beribadah justru bisa tertipu oleh ibadahnya sendiri?

Inilah salah satu persoalan penting yang perlu kita renungkan.

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitab Al-Kasyfu wat Tabyin menyebut orang-orang seperti ini dengan istilah al-maghrurin, yaitu orang-orang yang tertipu atau terperdaya.

Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu bentuk ketertipuan itu terjadi ketika seseorang keliru dalam menentukan skala prioritas dalam beragama.

Ia sangat sibuk dengan suatu amal, tetapi pada saat yang sama melupakan kewajiban yang jauh lebih utama.

Imam Al-Ghazali antara lain menjelaskan:

أَهْمَلُوْا الفَرَائِضَ وَاشْتَغَلُوا بِالنَّوَافِل، وَرُبَّمَا تَعَمَّقُوا فِيها حَتّى يَخْرُجُوْا إِلى السَّرَف والعدوان

"Mereka mengabaikan hal-hal fardhu dan menyibukkan diri pada hal-hal sunnah. Kadang mereka tenggelam dalam kesibukan itu hingga sampai pada perilaku berlebih-lebihan dan permusuhan."

Pesan ini sangat penting.

Islam memang menganjurkan kita memperbanyak ibadah sunnah. Tetapi ibadah sunnah tidak boleh membuat kita meninggalkan kewajiban.

Jangan sampai kita mengejar sesuatu yang sunnah, tetapi kewajiban justru terbengkalai.

Rajin Tahajud tetapi Kehilangan Subuh

Jamaah KUWALI hafidhakumullah,

Mari kita mengambil contoh sederhana.

Seseorang begitu bersemangat melaksanakan salat tahajud. Ia bangun tengah malam, mengambil wudhu, kemudian melaksanakan salat hingga mendekati waktu subuh.

Secara lahiriah, ini merupakan amal yang sangat baik.

Namun, jika karena terlalu larut dalam tahajud kemudian ia tertidur dan meninggalkan salat Subuh, maka ada persoalan besar yang harus diperhatikan.

Tahajud adalah sunnah, sedangkan salat Subuh adalah kewajiban.

Jangan sampai semangat menjalankan ibadah sunnah justru menjadi sebab seseorang meninggalkan ibadah wajib.

Inilah yang disebut sebagai ketertipuan dalam beribadah.

Bukan berarti tahajudnya salah. Yang keliru adalah ketika seseorang tidak mampu menempatkan kewajiban pada posisi yang semestinya.

Mengajak Sahur tetapi Mengganggu Ketenteraman Orang Lain

Contoh lainnya adalah ketika seseorang bersemangat membangunkan masyarakat untuk sahur.

Niatnya tentu baik.

Tetapi apabila cara yang digunakan justru mengganggu ketenteraman orang lain, misalnya dengan membunyikan petasan, membuat suara yang sangat keras, atau melakukan tindakan lain yang mengusik masyarakat, maka niat baik tersebut perlu dievaluasi.

Mengajak orang lain untuk sahur adalah kebaikan. Tetapi menjaga kenyamanan dan ketenteraman sesama juga merupakan bagian dari akhlak Islam.

Jangan sampai sebuah amal yang diniatkan untuk memperoleh pahala justru melahirkan keresahan bagi orang lain.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa ibadah harus berjalan bersama akhlak.

Jangan Sampai Tarawih Menjadi Sumber Pertengkaran

Contoh berikutnya dapat kita lihat dalam pelaksanaan salat tarawih.

Tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan.

Namun terkadang persoalan jumlah rakaat tarawih justru menjadi sumber perdebatan panjang.

Seseorang merasa praktik yang dilakukannya paling benar, kemudian menyalahkan orang lain yang memiliki dasar atau praktik berbeda.

Perdebatan berkembang menjadi saling mencela, saling menghujat, bahkan memunculkan pertengkaran antarkelompok.

Padahal, salat tarawih adalah sunnah, sedangkan menjaga kerukunan, persaudaraan, dan persatuan umat merupakan perkara yang sangat penting.

Maka jangan sampai kita mempertahankan sebuah amalan sunnah dengan cara yang justru merusak persaudaraan.

Tarawih adalah perbuatan baik.

Tetapi akan sangat disayangkan apabila pelaksanaan sebuah kebaikan justru mengorbankan kebaikan yang lebih besar.

Jangan Hanya Mengejar Tampilan Luar Ibadah

Jamaah KUWALI hafidhakumullah,

Bentuk ketertipuan berikutnya adalah ketika seseorang terlalu sibuk memperhatikan tampilan luar ibadah, tetapi melupakan substansi dan tujuan dari ibadah tersebut.

Kita ambil contoh membaca Al-Qur'an.

Ada orang yang mampu membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat dan bahkan mampu mengkhatamkannya dalam waktu singkat.

Ia juga mampu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu.

Semua itu tentu merupakan keutamaan.

Namun, jika hati sama sekali tidak berusaha memahami pesan yang dibaca, pikirannya terus melayang kepada urusan dunia, dan bacaan tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap perilakunya, maka kita perlu melakukan introspeksi.

Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu substansi membaca Al-Qur'an adalah meresapi makna yang terkandung di dalamnya.

Sebab, kenikmatan membaca Al-Qur'an tidak hanya terletak pada keindahan suara dan lagu bacaan, tetapi juga pada kedalaman makna yang mampu menyentuh hati.

Al-Qur'an bukan sekadar untuk dilantunkan dengan suara merdu.

Al-Qur'an adalah petunjuk kehidupan.

Maka semakin sering kita membacanya, seharusnya semakin baik pula akhlak dan perilaku kita.

Jangan Sampai Teknis Mengalahkan Substansi

Persoalan semacam ini sebenarnya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk ibadah.

Dalam wudhu, misalnya, kita bisa saja sangat memperhatikan tata cara lahiriah, tetapi lupa bahwa wudhu seharusnya menjadi bagian dari persiapan untuk menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Dalam salat, kita dapat sangat memperhatikan gerakan, tetapi lupa menghadirkan kekhusyukan.

Dalam sedekah, kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, tetapi kemudian menceritakannya kepada banyak orang demi memperoleh pujian.

Dalam puasa, kita dapat menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap tidak mampu menahan lisan dari ghibah, fitnah, kebohongan, dan perkataan yang menyakiti.

Dalam zakat, haji, umrah, mengikuti pengajian, bahkan dalam aktivitas pendidikan, persoalan yang sama dapat terjadi.

Kita terlalu sibuk dengan aspek teknis dan tampilan luar, sementara tujuan utama dari ibadah justru terlupakan.

Padahal, setiap ibadah memiliki tujuan pendidikan bagi jiwa.

Salat mendidik kita agar dekat dengan Allah dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Puasa mendidik kita agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Zakat mendidik kita agar memiliki kepedulian sosial.

Sedekah mengajarkan keikhlasan dan kasih sayang.

Haji mengajarkan kesetaraan, pengorbanan, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan ibadah bukan semata-mata terlihat dari banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga dari perubahan diri yang lahir setelah ibadah tersebut dilaksanakan.

Waspada terhadap Riya dan Ujub

Ada satu jebakan lain yang juga harus kita waspadai.

Ibadah yang awalnya dilakukan karena Allah dapat berubah menjadi sarana untuk mendapatkan perhatian manusia.

Seseorang bersedekah, kemudian berharap diketahui orang lain.

Seseorang membaca Al-Qur'an, lalu merasa bangga ketika dipuji karena suaranya.

Seseorang rajin hadir di masjid, tetapi hatinya ingin disebut sebagai orang saleh.

Seseorang aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi diam-diam berharap mendapatkan penghormatan.

Inilah pentingnya menjaga hati.

Sebab, amal yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya ketika niatnya tidak lagi semata-mata karena Allah SWT.

Karena itu, semakin banyak kita beribadah, seharusnya semakin sering pula kita melakukan muhasabah.

Bukan bertanya kepada orang lain, “Apakah saya sudah terlihat saleh?”

Tetapi bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah ibadah saya benar-benar membuat saya semakin dekat kepada Allah?”

“Apakah ibadah saya membuat saya semakin baik kepada keluarga?”

“Apakah saya semakin santun kepada tetangga?”

“Apakah saya semakin mampu menjaga lisan?”

“Apakah hati saya semakin rendah hati?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang penting kita ajukan kepada diri sendiri.

Ibadah Wajib dan Sunnah Harus Berjalan Bersama

Jamaah KUWALI hafidhakumullah,

Penjelasan tentang ghurur ini bukan berarti ibadah sunnah tidak penting.

Sama sekali bukan.

Ibadah sunnah tetap memiliki kedudukan yang sangat mulia. Salat tahajud, tarawih, tadarus Al-Qur'an, sedekah, dzikir, dan berbagai amal sunnah lainnya merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Demikian pula perkara-perkara teknis dalam ibadah tetap penting untuk diperhatikan.

Namun, pesan yang hendak kita ambil adalah bahwa jangan sampai urusan sekunder membuat kita melupakan urusan primer.

Jangan sampai ibadah sunnah membuat kita meninggalkan ibadah wajib.

Jangan sampai mengejar kesempurnaan teknis membuat kita melupakan tujuan utama ibadah.

Jangan sampai semangat beribadah membuat kita merendahkan orang lain.

Jangan sampai amal yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru membuat kita semakin sombong.

Yang ideal adalah kita mampu menjalankan keduanya secara seimbang: menunaikan seluruh kewajiban dengan baik sekaligus memperbanyak ibadah sunnah dengan penuh keikhlasan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah

Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ibadah yang berhasil kita lakukan.

Ramadhan adalah tentang seberapa jauh diri kita berubah menjadi lebih baik.

Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah, semoga setelah Ramadhan kita menjadi lebih sabar.

Jika sebelumnya kita mudah menggunjing, semoga setelah Ramadhan kita semakin mampu menjaga lisan.

Jika sebelumnya kita jarang membaca Al-Qur'an, semoga setelah Ramadhan hubungan kita dengan Al-Qur'an semakin dekat.

Jika sebelumnya kita kurang peduli kepada sesama, semoga setelah Ramadhan tumbuh kepedulian yang lebih kuat.

Dan jika selama Ramadhan kita telah memperbanyak ibadah, semoga seluruh amal tersebut benar-benar menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar rutinitas yang tampak indah dari luar.

Penutup

Jamaah KUWALI rahimakumullah,

Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan.

Mari kita terus meningkatkan ibadah, tetapi pada saat yang sama jangan lupa untuk meningkatkan kualitas hati dan akhlak.

Mari kita memperbanyak salat, tetapi jangan meninggalkan kewajiban.

Mari kita memperbanyak membaca Al-Qur'an, tetapi jangan lupa memahami dan mengamalkan pesannya.

Mari kita bersedekah, tetapi jagalah keikhlasan.

Mari kita berdzikir, tetapi jangan lupa menjaga lisan dari menyakiti orang lain.

Mari kita aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi jangan sampai aktivitas tersebut menjadi alasan untuk merendahkan atau menyalahkan sesama.

Dan yang paling penting, mari kita menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk menata kembali prioritas kehidupan kita sebagai seorang muslim.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, membersihkan hati kita dari riya dan ujub, serta menjadikan kita hamba yang mampu beribadah dengan benar, ikhlas, dan istiqamah.

Semoga penjelasan ini mampu menjadi bahan introspeksi bagi diri saya pribadi dan jamaah sekalian, sehingga kita dapat melewati hari-hari Ramadhan dengan ibadah yang lebih baik, hati yang lebih bersih, dan akhlak yang semakin mulia.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Pemateri:
De Badruns
(Ketua MUI Margomulyo)

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Arsip

Label