Selamat Datang Di Website Resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Menjaga Hati, Menjemput Qalbun Salim: Pesan Menyentuh Ketua MUI Margomulyo dalam Kajian Rutin Masjid At-Thohir

Kajian Rutin Masjid Baiturrohman Tepus Bahas Pentingnya Ridha terhadap Qadha dan Qadar Allah SWT

Margomulyo – Jum'at, 07 Agustus 2026. Dalam rangka meningkatkan pemahaman keagamaan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat, Masjid Baiturrohman Dusun Tepus, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, kembali menyelenggarakan kajian rutin malam Jum'at Legi pada Jum'at Legi malam Sabtu Pahing, 07 Agustus 2026, mulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini dihadiri oleh segenap jamaah masjid, para tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perangkat Dusun Tepus yang bersama-sama mengikuti rangkaian kajian hingga selesai.

Hadir sebagai pemateri utama, Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, menyampaikan kajian bertema "Ridha terhadap Ketetapan (Qadha dan Qadar) Allah SWT." Tema tersebut dipilih sebagai pengingat bagi umat Islam agar senantiasa memiliki hati yang lapang dalam menerima seluruh ketentuan Allah, baik yang sesuai dengan harapan maupun yang terasa berat dalam kehidupan.

Dalam pemaparannya, Kiyai Badrun Sulaiman menjelaskan bahwa qadha dan qadar merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah berada dalam ilmu dan kehendak Allah SWT. Namun demikian, keimanan kepada qadha dan qadar bukan berarti seseorang berpangku tangan tanpa usaha, melainkan tetap diwajibkan berikhtiar secara maksimal kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT dengan penuh keridhaan.

Allah SWT berfirman:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya."
(QS. At-Taghabun: 11).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap peristiwa yang dialami manusia terjadi atas izin Allah SWT. Orang yang benar-benar beriman akan diberikan ketenangan hati sehingga mampu menerima setiap ketetapan-Nya dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa di balik setiap kejadian terdapat hikmah yang terbaik.

Beliau juga mengutip firman Allah SWT:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini menjadi pelajaran bahwa keterbatasan manusia sering kali membuatnya belum mampu memahami hikmah di balik suatu ketetapan. Oleh karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk tetap berprasangka baik kepada Allah SWT (husnuzan billah) dalam setiap keadaan.

Sebagai penguat, beliau menyampaikan sabda Rasulullah SAW:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa orang beriman tidak pernah merugi. Nikmat menjadi jalan menuju syukur, sedangkan ujian menjadi sarana memperoleh pahala melalui kesabaran. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Lebih lanjut, Kiyai Badrun Sulaiman mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mengeluh ataupun menyalahkan takdir ketika menghadapi cobaan hidup. Sikap ridha terhadap ketetapan Allah bukan berarti menyerah kepada keadaan, tetapi menerima hasil yang telah Allah tetapkan setelah melakukan usaha terbaik, disertai keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang paling baik bagi hamba-Nya.

Dalam kesempatan tersebut beliau juga menyampaikan hikmah dari para ulama. Imam Al-Ghazali rahimahullah menuturkan bahwa keridhaan kepada ketetapan Allah merupakan salah satu derajat tertinggi orang-orang yang dekat kepada-Nya, sebab hati yang ridha akan senantiasa tenang dan tidak dikuasai kegelisahan dunia.

Sementara itu, Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam Al-Hikam berpesan:

"Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan yang telah diatur Allah untukmu. Apa yang telah Allah selesaikan untukmu, janganlah engkau sibuk mengaturnya kembali."

Pesan hikmah tersebut mengajarkan bahwa seorang hamba tetap diwajibkan berikhtiar, namun tidak diperkenankan menggantungkan ketenangan hidup pada hasil usahanya semata. Setelah berusaha, hati hendaknya berserah diri dan ridha terhadap keputusan Allah SWT.

Kajian berlangsung dengan suasana yang hangat, interaktif, dan penuh kekhidmatan. Jamaah mengikuti setiap penjelasan dengan antusias hingga sesi tanya jawab. Diharapkan melalui kajian rutin ini, masyarakat semakin memahami hakikat keimanan kepada qadha dan qadar sehingga mampu menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, rasa syukur, tawakal, serta ridha terhadap segala ketetapan Allah SWT. Semoga kegiatan majelis ilmu seperti ini senantiasa menjadi sarana memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Dusun Tepus serta umat Islam pada umumnya.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUIM TV

Jumlah Pengunjung

Popular Posts

Label