Ngelo, Kamis 21 Desember 2023, menjadi saksi kehangatan dalam acara Ngaji Rutin di Mushola Baitul Makmur Dusun Tolu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro. Kegiatan ini, yang merupakan Kajian Rutin Malam Jum'at Pahing, diadakan oleh para bapak-bapak warga Dusun Tolu dengan tujuan memperdalam pemahaman agama dan meningkatkan kualitas ibadah.
Acara yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI dan Ketua MWCNU Margomulyo, sebagai Pengisi Kajian, menyentuh berbagai aspek kehidupan, dengan fokus pada penyempurnaan dalam pelaksanaan Wudhu'. Kiyai Badrun menekankan bahwa Wudhu' bukan hanya sebagai kewajiban sebelum sholat, tetapi juga sebagai sarana penyucian jiwa dan pembersih batin.
Dalam kajiannya, Kiyai Badrun Sulaiman mengajak para jama'ah untuk memahami setiap langkah dalam pelaksanaan Wudhu' secara mendalam. Ia menjelaskan bahwa kesempurnaan dalam Wudhu' dapat menciptakan konsentrasi yang lebih baik dalam melaksanakan sholat, sekaligus membersihkan hati dari berbagai ketegangan dan dosa.
Hadir dalam acara ini juga beberapa tokoh masyarakat, antara lain Bapak Sutrisno, perangkat desa Ngelo, dan Kasun Dusun Tolu, Bapak Suparji. Keberadaan mereka menambah kehangatan dan keberagaman pandangan dalam berbagai diskusi keagamaan yang dilakukan setelah kajian.
Para perangkat desa dan tokoh masyarakat menyambut baik kegiatan rutin ini, mengakui bahwa Ngaji Rutin di Mushola Baitul Makmur Dusun Tolu memiliki dampak positif pada kehidupan bermasyarakat di Dusun Tolu. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut untuk memberikan pemahaman agama yang lebih dalam kepada warga.
Kajian malam Jum'at Pahing ini, dengan suasana yang penuh keakraban dan kesungguhan, telah memperkaya spiritualitas masyarakat Dusun Tolu. Semoga kegiatan ini terus menjadi sumber inspirasi dan keberkahan bagi warga Dusun Tolu dan sekitarnya.
Margomulyo, 20 Desember 2023* - Malam itu, Masjid At-Tohir di Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Margomulyo, Bojonegoro, menjadi saksi keharuan dan semangat kebersamaan dalam acara "Syafari Dakwah Bersama". Acara ini dihelat pada hari Rabu, 20 Desember 2023, sebagai bagian dari tradisi Ngaji Rutin Malem Kamis Legi, yang dihadiri oleh seluruh komponen warga desa.
Sebagai tamu kehormatan, Ketua MUI Margomulyo, Kiyai Badrun Sulaiman, memimpin acara sebagai penceramah utama. Beliau didampingi oleh Kiyai Sareh, Ketua Tanfidziyah Ranting NU Sumberjo, dan Kiyai Darmaji, Pengurus MUI Sumberjo, serta beberapa kiyai lainnya. Mereka hadir untuk memberikan bimbingan rohaniah dan mengokohkan semangat istiqomah dalam melaksanakan amalan kebaikan.
Masjid yang penuh dengan lampu-lampu lembut dan aroma harum wangi kasturi menambah kekhidmatan acara. Warga desa berkumpul dengan hati yang penuh kekhusyukan, mengikuti tausyiah dari Kiyai Badrun Sulaiman yang dipenuhi dengan nasehat-nasehat berharga.
Dalam kajiannya, Kiyai Badrun Sulaiman menyampaikan banyak hal, namun salah satu pesan utama adalah tentang pentingnya menjaga agar amalan kebaikan tetap istiqomah. "Amalan kebaikan yang kita lakukan perlu dijaga agar tetap konsisten dan tidak mudah tergoyahkan. Istiqomah adalah kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan di dunia dan ahirat," ungkapnya dengan penuh kebijaksanaan.
Kiyai Sareh, dengan penuh kehangatan, menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan kewajiban keagamaan. "Ngaji rutin ini bukan hanya kegiatan individual, tetapi juga sebagai wujud kebersamaan kita sebagai umat Islam. Bersama-sama, kita saling menguatkan dan menjaga semangat beribadah," katanya.
Setelah tausyiah, suasana semakin haru saat seluruh hadirin melanjutkan dengan doa bersama yang di pimpin oleh Kiyai Darmaji. Doa-doa yang dipanjatkan mengandung harapan untuk keluarga, desa, dan umat Islam secara keseluruhan. Kebersamaan malam itu menjadi memori yang tak terlupakan bagi warga Desa Sumberjo.
"Syafari Dakwah Bersama" di Masjid At-Tohir menjadi bukti nyata bahwa kegiatan keagamaan tidak hanya memperdalam spiritualitas, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan komitmen untuk terus menjaga istiqomah dalam menjalani kehidupan beragama.
(Pembacaan Do'a Di Pimpin Oleh Ketua MUI Margomulyo)
Ngelo, 19 Oktober 2023 - Pagi itu, Dusun Jipangulu Desa Ngelo dipenuhi semangat dan do'a yang tulus. Di tengah hamparan alam yang indah, tepat di Titik Nol Bendungan Karang Nongko, Pemkab Bojonegoro bersama masyarakat menyelenggarakan do'a bersama sebagai langkah awal membangun proyek besar yang akan memberikan dampak positif untuk kesejahteraan bersama.
Titik Nol yang dahulu dikenal sebagai Jatirogo, merupakan hutan yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menggembala ternak. Namun, pada Hari Kamis, 19 Oktober 2023, titik ini menjadi saksi perubahan. Rangkaian acara dimulai dengan hadirnya Menteri PUPR, Bapak Basuki, dan Mensesneg Pratikno, yang memberikan makna lebih dalam terhadap acara tersebut.
Proyek pembangunan yang akan dimulai di titik ini menjadi harapan baru bagi masyarakat Bojonegoro. Pj Bupati Bojonegoro dan jajaran Forpimda Bojonegoro, Forpimcam Margomulyo, serta Forpimdes Ngelo turut hadir untuk memberikan dukungan penuh kepada perubahan positif yang akan terjadi.
Sebagai bagian dari acara, tokoh agama dan tokoh masyarakat turut meramaikan suasana. Mereka bersama-sama meresapi keindahan alam dan merenungkan makna kebersamaan dalam pembangunan. Titik Nol yang dulu menjadi hutan kini akan menjadi saksi bagi kemajuan yang akan diraih bersama.
Acara mencapai puncaknya saat Ketua MUI Kecamatan Margomulyo membacakan do'a bersama. Suara merdu dan khidmat mengalun di udara, menjadi ungkapan syukur dan harapan untuk kelancaran pembangunan yang akan dimulai. Do'a itu membawa pesan kebersamaan, keadilan, dan kesuksesan untuk seluruh masyarakat Bojonegoro.
Menteri PUPR, Bapak Basuki, dalam sambutannya menyampaikan, "Proyek ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tapi juga membangun hubungan emosional dengan masyarakat. Mari bersama-sama menjaga dan memanfaatkan hasil pembangunan ini untuk kebaikan bersama."
Do'a bersama di Titik Nol Bendungan Karang Nongko tidak hanya menjadi awal pembangunan fisik, tetapi juga membangun semangat gotong royong dan persatuan di kalangan masyarakat. Semoga proyek ini menjadi tonggak keberhasilan dan membawa kesejahteraan bagi seluruh warga Bojonegoro.
Setelah do'a bersama, atmosfer kebersamaan terus terasa di seluruh Dusun Jipangulu. Para hadirin bersama-sama mengamati peta proyek yang akan direalisasikan, sambil mendengarkan penjelasan dari Menteri PUPR dan tim teknis proyek. Mensesneg Pratikno juga menyampaikan pentingnya transparansi dan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap pembangunan.
Pj Bupati Bojonegoro, dengan penuh semangat, menekankan bahwa proyek ini tidak hanya mengubah wajah geografis, tetapi juga memberikan peluang ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat sekitar. "Mari bersama-sama memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya. Pembangunan ini adalah milik kita bersama, dan kita harus menjaganya dengan baik," ucapnya sambil tersenyum.
Setelah acara utama, masyarakat dan undangan berbaur dalam suasana santai. Makanan khas Jipangulu yang disajikan oleh kades Ngelo Tri Maryono sebagai bentuk keramahan dan keakraban. Diskusi dan tukar pikiran pun berlanjut di bawah rindangnya pepohonan di sekitar Titik Nol.
Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai penutup acara, mengajak semua peserta untuk terus berdoa dan bekerja sama demi keberhasilan proyek ini. "Mari jadikan pembangunan ini sebagai amal jariyah kita semua. Semoga hasilnya bermanfaat untuk generasi-generasi yang akan datang," ucapnya dengan penuh harap.
Do'a bersama di Titik Nol Bendungan Karang Nongko bukan hanya menjadi awal pembangunan fisik, melainkan juga simbolik kebersamaan dan harapan. Dengan semangat gotong royong dan do'a yang tulus, masyarakat Bojonegoro melangkah menuju masa depan yang lebih baik, penuh dengan kesejahteraan dan kemajuan.
Margomulyo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turba (Turun ke Bawah) rutin sebagai bentuk silaturahmi sekaligus pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Majelis Taklim Al-Amin Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad, 23 Agustus 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin Kaligede.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap pengurus dan anggota Majelis Taklim Al-Amin, jamaah Masjid Al-Amin, serta tokoh masyarakat setempat. Suasana kajian berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan. Kehadiran MUI Kecamatan Margomulyo melalui program Turba ini menjadi sarana penting untuk semakin mendekatkan ulama dengan umat, memperkuat tali silaturahmi, serta menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Abdul Ghofur selaku Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Mengangkat tema “Semangat Memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Doa untuk Korban Gempa NTT”, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memaknai momentum kemerdekaan dan kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan rasa syukur, memperkokoh persatuan, meneladani perjuangan Rasulullah SAW, serta menumbuhkan kepedulian terhadap saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.
Kemerdekaan sebagai Nikmat yang Wajib Disyukuri
Dalam kajiannya, Abdul Ghofur menyampaikan bahwa kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri dan diisi dengan berbagai amal kebajikan. Perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus berjuang, meskipun bentuk perjuangannya berbeda.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan jiwa, harta, tenaga dan air mata para pejuang harus dijaga dengan rasa syukur. Mensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan mengadakan perayaan, tetapi juga dengan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, kerja keras, menjaga persatuan, memelihara kerukunan, serta berperan aktif dalam membangun bangsa dan masyarakat.
Beliau juga mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan. Allah SWT berfirman:
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Karena itu, semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 harus menjadi momentum untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan, melainkan harus menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia yang damai, maju, dan bermartabat.
Meneladani Rasulullah SAW dalam Momentum Maulid Nabi
Tema berikutnya adalah semangat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut Abdul Ghofur, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan mengenal, menghayati, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk memperbarui tekad dalam mengikuti sunnah dan akhlak Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama.
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa salah satu bukti cinta kepada Rasulullah SAW adalah berusaha memperbaiki akhlak. Semangat Maulid tidak cukup hanya diwujudkan dalam ungkapan kecintaan melalui lisan, tetapi harus tercermin dalam sikap santun, jujur, amanah, gemar bersedekah, menghormati sesama, dan menjauhi perbuatan yang dapat merusak persaudaraan.
Sebagaimana kalam ulama ahli hikmah:
“Barang siapa mengaku mencintai seseorang, maka akan tampak tanda cintanya dengan mengikuti jalan dan perilaku orang yang dicintainya.”
Maka, mencintai Nabi Muhammad SAW berarti berusaha mengikuti jejak perjuangan dan meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kepedulian dan Doa untuk Korban Gempa NTT
Pada bagian akhir kajian, jamaah juga diajak untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian kepada saudara-saudara yang tertimpa musibah, khususnya korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Musibah yang menimpa saudara sebangsa hendaknya dirasakan sebagai duka bersama, sebab sesama orang beriman adalah saudara yang saling menguatkan.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Musibah mengajarkan manusia tentang keterbatasan dan pentingnya saling membantu. Di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian, umat Islam diajarkan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Bantuan dapat diwujudkan melalui doa, tenaga, harta, maupun bentuk kepedulian lainnya sesuai kemampuan.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Sebagaimana pesan para ahli hikmah, “Saudara yang baik bukan hanya hadir ketika kita bahagia, tetapi juga ikut merasakan kesedihan ketika kita sedang tertimpa musibah.” Karena itu, jamaah Majelis Taklim Al-Amin bersama MUI Kecamatan Margomulyo memanjatkan doa agar para korban gempa di NTT diberikan keselamatan, ketabahan, kekuatan, serta segera mendapatkan pertolongan dan kemudahan dalam menghadapi masa-masa sulit.
Melalui kegiatan Turba rutin ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap semangat keagamaan dan kebangsaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Kemerdekaan mengajarkan arti perjuangan dan rasa syukur, Maulid Nabi mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW, sedangkan musibah mengajarkan arti kepedulian dan persaudaraan.
Semoga semangat tersebut terus mengakar dalam kehidupan masyarakat Margomulyo, sehingga tercipta pribadi-pribadi yang kuat imannya, mulia akhlaknya, cinta tanah air, teguh dalam persatuan, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Dengan iman, ilmu, persatuan dan kepedulian, semoga Indonesia di usia kemerdekaannya yang ke-81 semakin maju, damai, sejahtera, dan senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Pak Haji Nur, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, merasa bangga dan bersemangat saat mendapat undangan untuk menghadiri acara Gelaran Deklarasi Pemilu Damai dan Bermartabat di Kantor MUI Bojonegoro. Ia ingin menunjukkan komitmen dan dukungannya terhadap penyelenggaraan pemilu yang adil, aman, dan demokratis. Ia juga ingin bertemu dan bersilaturahmi dengan para tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah yang hadir di acara tersebut.
(Ketua Umum MUI bersama Forpimda Bojonegoro)
Ia pun bersiap-siap dengan mengenakan pakaian terbaiknya, yaitu baju koko putih, sarung hitam, dan kopiah hitam. Ia juga membawa tas berisi buku-buku agama dan dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan tugasnya sebagai Ketua MUI. Ia lalu mengambil kunci sepeda motornya, yaitu Shogun 110 yang Mashur dengan "Shogun kebo" yg sudah tidak jelas warnanya, yang selalu ia rawat dengan baik selama beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: "Syafari Dakwah Bersama Gus Huda": Kebersamaan dalam Sedekah Bumi di Makam Mbah Citro, Desa Ngelo Margomulyo Bojonegoro
Ia berangkat dari rumahnya sekitar pukul 07.00 pagi, dengan harapan bisa sampai di Kantor MUI Bojonegoro sebelum acara dimulai pukul 09.00. Ia menempuh jarak sekitar 75 kilometer dengan melewati jalan-jalan desa yang masih sepi dan tenang. Ia menikmati pemandangan alam yang hijau dan segar, serta udara yang bersih dan sejuk. Ia juga sesekali menyapa dan mengucapkan salam kepada warga yang ia temui di sepanjang jalan.
Namun, nasib baiknya tidak berlangsung lama. Ketika ia sudah memasuki kawasan hutan Bojonegoro, ia merasakan ada yang aneh dengan sepeda motornya. Ia mendengar suara berisik yang berasal dari knalpotnya. Ia mencoba mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan, tetapi suara itu semakin keras dan mengganggu. Ia pun memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan dan memeriksa knalpotnya.
Baca Juga: "Syafari Dakwah Bersama Gus Huda": Kebersamaan dalam Sedekah Bumi di Makam Mbah Citro, Desa Ngelo Margomulyo Bojonegoro
Betapa kagetnya ia ketika melihat bahwa knalpotnya sudah patah dan terlepas dari sepeda motornya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu, apakah karena usia knalpot yang sudah tua, atau karena ia menabrak sesuatu tanpa sadar. Yang jelas, ia tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan sepeda motornya yang rusak itu.
Ia pun bingung dan panik. Ia mencoba mencari bengkel terdekat, tetapi tidak ada yang buka. Ia juga mencoba menelpon teman-temannya terdekat yang tinggal di sekitar lokasi itu, tetapi tidak ada yang mengangkat. Ia juga tidak bisa naik angkutan umum, karena ia tidak membawa uang yang cukup. Ia hanya membawa uang sebesar Rp. 50.000, yang sudah ia rencanakan untuk BBM dan parkir.
Ia merasa putus asa dan menyesal. Ia merasa gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua MUI. Ia merasa mengecewakan para undangan dan panitia yang sudah menunggunya di Kantor MUI. Ia merasa sia-sia telah bersiap-siap dengan pakaian terbaiknya, membawa tas berisi buku-buku agama dan dokumen-dokumen penting, serta mengendarai sepeda motornya yang ia rawat dengan baik. Ia merasa maksud hatinya memeluk gunung, tapi apalah daya gurung knalpotnya patah.
Ia pun hanya bisa pasrah dan berdoa. Ia meminta maaf kepada Allah atas kegagalannya. Ia juga meminta maaf kepada para undangan dan panitia atas ketidakhadirannya. Ia berharap mereka bisa memahami dan menerima alasan yang sebenarnya. Ia juga berharap sepeda motornya bisa segera diperbaiki dan ia bisa pulang dengan selamat.
Ia lalu duduk di pinggir jalanan hutan, sambil menunggu pertolongan datang. Ia memandang sepeda motornya yang rusak, sambil mengelus-elus knalpotnya yang patah. Ia berbisik, "Maafkan aku, sayang. Aku tidak sengaja menyakitimu. Aku akan mencarikanmu knalpot pengganti yang lebih baik. Aku masih mencintaimu."
Bojonegoro, 05 Desember 2023, MUIM Media - Sebuah langkah penting dalam memperkuat pemahaman ekonomi dan keuangan syariah di kalangan khotib di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro diwujudkan melalui acara pelatihan "Training of Trainers (ToT) Ekonomi dan Keuangan Syariah." Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Aston Bojonegoro pada hari Senin hingga Selasa, 04-05 Desember 2023.
Pemrakarsa kegiatan ini adalah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, yang bekerja sama erat dengan Bank Indonesia (BI). Para peserta mendapatkan ilmu dan wawasan dari pemateri yang merupakan tim dari DMI dan Takmir Masjid Jogokaryan, Yogyakarta.
Kegiatan ToT ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan syariah kepada khotib di kedua kabupaten. Para peserta tidak hanya diajak untuk memahami konsep dasar, tetapi juga diberikan keterampilan dalam menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat melalui khutbah Jumat.
Kiyai Badrun Ketua MUI Kecamatan Margomulyo turut hadir juga sebagai peserta perwakilan dari Masjid Al-Fajar Ngelo, hadir sebagai salah satu peserta yang antusias. Beliau mengungkapkan harapannya bahwa pelatihan ini akan menjadi bekal berharga dalam memberikan pemahaman yang lebih baik kepada jamaah masjid.
“Ekonomi dan keuangan syariah adalah bagian integral dari kehidupan umat Islam. Dengan pemahaman yang baik, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan,” ujar Kiyai Badrun dengan penuh semangat.
Kegiatan ToT ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, namun juga forum yang membangun jejaring dan sinergi antara khotib-khotib dari berbagai masjid di dua kabupaten tersebut. Diharapkan, ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan dampak positif dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Margomulyo, 2 November 2023 - Masyarakat Desa Sekecamatan Margomulyo bersatu dalam sebuah musyawarah yang monumental, dalam upaya membentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tingkat desa. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 30 Oktober hingga 2 November 2023 di enam desa yang ada di kecamatan tersebut, yaitu Desa Kalangan, Ngelo, Sumberjo, Margomulyo, Meduri, dan Geneng.
Musyawarah ini menjadi tonggak sejarah bagi warga setempat, sebagai wujud partisipasi aktif dalam merumuskan kebijakan keagamaan di tingkat desa. Ketua MUI Margomulyo, Kiyai Badrun, menjadi tokoh sentral yang memimpin musyawarah ini. Dukungan penuh juga terlihat dari para kepala desa di keenam desa yang termasuk dalam kecamatan ini, menunjukkan komitmen bersama untuk mengukuhkan keberadaan MUI di tingkat desa.
“Musyawarah ini merupakan bentuk kesepakatan bersama untuk memperkuat peran MUI dalam menyuarakan nilai-nilai keagamaan dan moral di masyarakat. Kami yakin dengan terbentuknya MUI Desa, akan semakin meningkatkan kesejahteraan dan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Kiyai Badrun dengan penuh semangat.
Selain dukungan dari ketua MUI setempat, musyawarah ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, HUDA AFRIANTO, S.Ag. Beliau memberikan apresiasi yang tinggi terhadap langkah-langkah konstruktif yang diambil oleh warga masyarakat dalam mendukung pembentukan MUI Desa. “Ini adalah bentuk kesadaran bersama untuk menjaga dan memperkokoh keberagaman serta menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan,” ujar Huda Afrianto.
Proses musyawarah ini tidak hanya melibatkan para tokoh agama, namun juga melibatkan perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat. Diskusi dan dialog yang terbuka menghasilkan berbagai ide konstruktif untuk menjadikan MUI Desa sebagai lembaga yang inklusif dan mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan penuh semangat dan semakin solidnya dukungan seluruh elemen masyarakat, MUI Desa Sekecamatan Margomulyo siap melangkah menjadi garda terdepan dalam membangun toleransi, kebersamaan, dan memperkokoh akidah keagamaan di tingkat desa. Musyawarah ini tidak hanya menciptakan sebuah lembaga keagamaan, tetapi juga memupuk semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kuat bagi kemajuan masyarakat.
Ramadhan hadir sebagai bulan yang sangat istimewa di antara sebelas bulan lainnya. Bulan ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbanyak amal kebajikan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender dalam kehidupan seorang muslim. Ia adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dunia, melakukan introspeksi, dan kembali menata hubungan kita dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Keistimewaan Ramadhan terlihat dari begitu banyaknya dorongan untuk memperbanyak ibadah. Setiap hari, bahkan setiap detik yang dilewati seorang muslim dalam bulan suci ini memiliki nilai yang sangat berharga.
Bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan, waktu bukan sekadar waktu. Tidurnya dapat bernilai ibadah, diamnya dapat menjadi tasbih, dan amal kebajikan mendapatkan ganjaran yang berlipat.
Karena itulah, tidak mengherankan apabila kedatangan Ramadhan disambut dengan penuh antusias oleh umat Islam.
Masjid mulai dipenuhi jamaah. Al-Qur'an semakin sering dibaca. Dzikir dan doa semakin banyak dilantunkan. Salat tarawih menjadi rutinitas malam. Hidangan berbuka dibagikan kepada sesama. Sedekah ditingkatkan dan berbagai amal sunnah lainnya mulai digalakkan.
Semua itu tentu merupakan pemandangan yang menggembirakan.
Ramadhan dan Semangat Memperbaiki Diri
Jamaah KUWALI hafidhakumullah,
Kita patut bersyukur ketika melihat perubahan positif yang terjadi di tengah masyarakat selama Ramadhan.
Orang yang biasanya jarang ke masjid mulai hadir. Orang yang jarang membaca Al-Qur'an mulai bertadarus. Orang yang biasanya kurang memperhatikan ibadah mulai berusaha memperbaiki diri.
Ramadhan seolah memberikan ruang kepada manusia untuk mengambil jarak sejenak dari kesibukan duniawi yang melelahkan.
Namun, ada satu hal yang harus kita renungkan bersama.
Apakah semua ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan otomatis bernilai sempurna di hadapan Allah?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Sebab, ibadah tidak hanya berkaitan dengan banyaknya aktivitas yang kita lakukan. Ibadah juga berkaitan dengan niat, keikhlasan, ketepatan pelaksanaan, serta bagaimana ibadah tersebut memberikan pengaruh terhadap perilaku kita.
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(Muttafaqun ‘alaih)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar apabila dijalankan dengan iman dan ihtisab, yakni penuh keyakinan kepada Allah serta mengharap pahala hanya dari-Nya.
Karena itu, meningkatkan intensitas ibadah adalah sesuatu yang sangat baik. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan beribadah justru membuat kita terjebak dalam kesalahan yang tidak kita sadari.
Ketika Orang yang Rajin Beribadah Justru Tertipu
Jamaah KUWALI rahimakumullah,
Mungkin kita bertanya:
Bagaimana mungkin seseorang yang rajin beribadah justru bisa tertipu oleh ibadahnya sendiri?
Inilah salah satu persoalan penting yang perlu kita renungkan.
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitab Al-Kasyfu wat Tabyin menyebut orang-orang seperti ini dengan istilah al-maghrurin, yaitu orang-orang yang tertipu atau terperdaya.
Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu bentuk ketertipuan itu terjadi ketika seseorang keliru dalam menentukan skala prioritas dalam beragama.
Ia sangat sibuk dengan suatu amal, tetapi pada saat yang sama melupakan kewajiban yang jauh lebih utama.
"Mereka mengabaikan hal-hal fardhu dan menyibukkan diri pada hal-hal sunnah. Kadang mereka tenggelam dalam kesibukan itu hingga sampai pada perilaku berlebih-lebihan dan permusuhan."
Pesan ini sangat penting.
Islam memang menganjurkan kita memperbanyak ibadah sunnah. Tetapi ibadah sunnah tidak boleh membuat kita meninggalkan kewajiban.
Jangan sampai kita mengejar sesuatu yang sunnah, tetapi kewajiban justru terbengkalai.
Rajin Tahajud tetapi Kehilangan Subuh
Jamaah KUWALI hafidhakumullah,
Mari kita mengambil contoh sederhana.
Seseorang begitu bersemangat melaksanakan salat tahajud. Ia bangun tengah malam, mengambil wudhu, kemudian melaksanakan salat hingga mendekati waktu subuh.
Secara lahiriah, ini merupakan amal yang sangat baik.
Namun, jika karena terlalu larut dalam tahajud kemudian ia tertidur dan meninggalkan salat Subuh, maka ada persoalan besar yang harus diperhatikan.
Tahajud adalah sunnah, sedangkan salat Subuh adalah kewajiban.
Jangan sampai semangat menjalankan ibadah sunnah justru menjadi sebab seseorang meninggalkan ibadah wajib.
Inilah yang disebut sebagai ketertipuan dalam beribadah.
Bukan berarti tahajudnya salah. Yang keliru adalah ketika seseorang tidak mampu menempatkan kewajiban pada posisi yang semestinya.
Mengajak Sahur tetapi Mengganggu Ketenteraman Orang Lain
Contoh lainnya adalah ketika seseorang bersemangat membangunkan masyarakat untuk sahur.
Niatnya tentu baik.
Tetapi apabila cara yang digunakan justru mengganggu ketenteraman orang lain, misalnya dengan membunyikan petasan, membuat suara yang sangat keras, atau melakukan tindakan lain yang mengusik masyarakat, maka niat baik tersebut perlu dievaluasi.
Mengajak orang lain untuk sahur adalah kebaikan. Tetapi menjaga kenyamanan dan ketenteraman sesama juga merupakan bagian dari akhlak Islam.
Jangan sampai sebuah amal yang diniatkan untuk memperoleh pahala justru melahirkan keresahan bagi orang lain.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa ibadah harus berjalan bersama akhlak.
Jangan Sampai Tarawih Menjadi Sumber Pertengkaran
Contoh berikutnya dapat kita lihat dalam pelaksanaan salat tarawih.
Tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan.
Namun terkadang persoalan jumlah rakaat tarawih justru menjadi sumber perdebatan panjang.
Seseorang merasa praktik yang dilakukannya paling benar, kemudian menyalahkan orang lain yang memiliki dasar atau praktik berbeda.
Perdebatan berkembang menjadi saling mencela, saling menghujat, bahkan memunculkan pertengkaran antarkelompok.
Padahal, salat tarawih adalah sunnah, sedangkan menjaga kerukunan, persaudaraan, dan persatuan umat merupakan perkara yang sangat penting.
Maka jangan sampai kita mempertahankan sebuah amalan sunnah dengan cara yang justru merusak persaudaraan.
Tarawih adalah perbuatan baik.
Tetapi akan sangat disayangkan apabila pelaksanaan sebuah kebaikan justru mengorbankan kebaikan yang lebih besar.
Jangan Hanya Mengejar Tampilan Luar Ibadah
Jamaah KUWALI hafidhakumullah,
Bentuk ketertipuan berikutnya adalah ketika seseorang terlalu sibuk memperhatikan tampilan luar ibadah, tetapi melupakan substansi dan tujuan dari ibadah tersebut.
Kita ambil contoh membaca Al-Qur'an.
Ada orang yang mampu membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat dan bahkan mampu mengkhatamkannya dalam waktu singkat.
Ia juga mampu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu.
Semua itu tentu merupakan keutamaan.
Namun, jika hati sama sekali tidak berusaha memahami pesan yang dibaca, pikirannya terus melayang kepada urusan dunia, dan bacaan tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap perilakunya, maka kita perlu melakukan introspeksi.
Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu substansi membaca Al-Qur'an adalah meresapi makna yang terkandung di dalamnya.
Sebab, kenikmatan membaca Al-Qur'an tidak hanya terletak pada keindahan suara dan lagu bacaan, tetapi juga pada kedalaman makna yang mampu menyentuh hati.
Al-Qur'an bukan sekadar untuk dilantunkan dengan suara merdu.
Al-Qur'an adalah petunjuk kehidupan.
Maka semakin sering kita membacanya, seharusnya semakin baik pula akhlak dan perilaku kita.
Jangan Sampai Teknis Mengalahkan Substansi
Persoalan semacam ini sebenarnya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk ibadah.
Dalam wudhu, misalnya, kita bisa saja sangat memperhatikan tata cara lahiriah, tetapi lupa bahwa wudhu seharusnya menjadi bagian dari persiapan untuk menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Dalam salat, kita dapat sangat memperhatikan gerakan, tetapi lupa menghadirkan kekhusyukan.
Dalam sedekah, kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, tetapi kemudian menceritakannya kepada banyak orang demi memperoleh pujian.
Dalam puasa, kita dapat menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap tidak mampu menahan lisan dari ghibah, fitnah, kebohongan, dan perkataan yang menyakiti.
Dalam zakat, haji, umrah, mengikuti pengajian, bahkan dalam aktivitas pendidikan, persoalan yang sama dapat terjadi.
Kita terlalu sibuk dengan aspek teknis dan tampilan luar, sementara tujuan utama dari ibadah justru terlupakan.
Padahal, setiap ibadah memiliki tujuan pendidikan bagi jiwa.
Salat mendidik kita agar dekat dengan Allah dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Puasa mendidik kita agar menjadi pribadi yang bertakwa.
Zakat mendidik kita agar memiliki kepedulian sosial.
Sedekah mengajarkan keikhlasan dan kasih sayang.
Haji mengajarkan kesetaraan, pengorbanan, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan ibadah bukan semata-mata terlihat dari banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga dari perubahan diri yang lahir setelah ibadah tersebut dilaksanakan.
Waspada terhadap Riya dan Ujub
Ada satu jebakan lain yang juga harus kita waspadai.
Ibadah yang awalnya dilakukan karena Allah dapat berubah menjadi sarana untuk mendapatkan perhatian manusia.
Seseorang bersedekah, kemudian berharap diketahui orang lain.
Seseorang membaca Al-Qur'an, lalu merasa bangga ketika dipuji karena suaranya.
Seseorang rajin hadir di masjid, tetapi hatinya ingin disebut sebagai orang saleh.
Seseorang aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi diam-diam berharap mendapatkan penghormatan.
Inilah pentingnya menjaga hati.
Sebab, amal yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya ketika niatnya tidak lagi semata-mata karena Allah SWT.
Karena itu, semakin banyak kita beribadah, seharusnya semakin sering pula kita melakukan muhasabah.
Bukan bertanya kepada orang lain, “Apakah saya sudah terlihat saleh?”
Tetapi bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah ibadah saya benar-benar membuat saya semakin dekat kepada Allah?”
“Apakah ibadah saya membuat saya semakin baik kepada keluarga?”
“Apakah saya semakin santun kepada tetangga?”
“Apakah saya semakin mampu menjaga lisan?”
“Apakah hati saya semakin rendah hati?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang penting kita ajukan kepada diri sendiri.
Ibadah Wajib dan Sunnah Harus Berjalan Bersama
Jamaah KUWALI hafidhakumullah,
Penjelasan tentang ghurur ini bukan berarti ibadah sunnah tidak penting.
Sama sekali bukan.
Ibadah sunnah tetap memiliki kedudukan yang sangat mulia. Salat tahajud, tarawih, tadarus Al-Qur'an, sedekah, dzikir, dan berbagai amal sunnah lainnya merupakan amalan yang sangat dianjurkan.
Demikian pula perkara-perkara teknis dalam ibadah tetap penting untuk diperhatikan.
Namun, pesan yang hendak kita ambil adalah bahwa jangan sampai urusan sekunder membuat kita melupakan urusan primer.
Jangan sampai ibadah sunnah membuat kita meninggalkan ibadah wajib.
Jangan sampai mengejar kesempurnaan teknis membuat kita melupakan tujuan utama ibadah.
Jangan sampai semangat beribadah membuat kita merendahkan orang lain.
Jangan sampai amal yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru membuat kita semakin sombong.
Yang ideal adalah kita mampu menjalankan keduanya secara seimbang: menunaikan seluruh kewajiban dengan baik sekaligus memperbanyak ibadah sunnah dengan penuh keikhlasan.
Menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Muhasabah
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ibadah yang berhasil kita lakukan.
Ramadhan adalah tentang seberapa jauh diri kita berubah menjadi lebih baik.
Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah, semoga setelah Ramadhan kita menjadi lebih sabar.
Jika sebelumnya kita mudah menggunjing, semoga setelah Ramadhan kita semakin mampu menjaga lisan.
Jika sebelumnya kita jarang membaca Al-Qur'an, semoga setelah Ramadhan hubungan kita dengan Al-Qur'an semakin dekat.
Jika sebelumnya kita kurang peduli kepada sesama, semoga setelah Ramadhan tumbuh kepedulian yang lebih kuat.
Dan jika selama Ramadhan kita telah memperbanyak ibadah, semoga seluruh amal tersebut benar-benar menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar rutinitas yang tampak indah dari luar.
Penutup
Jamaah KUWALI rahimakumullah,
Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan.
Mari kita terus meningkatkan ibadah, tetapi pada saat yang sama jangan lupa untuk meningkatkan kualitas hati dan akhlak.
Mari kita memperbanyak salat, tetapi jangan meninggalkan kewajiban.
Mari kita memperbanyak membaca Al-Qur'an, tetapi jangan lupa memahami dan mengamalkan pesannya.
Mari kita bersedekah, tetapi jagalah keikhlasan.
Mari kita berdzikir, tetapi jangan lupa menjaga lisan dari menyakiti orang lain.
Mari kita aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi jangan sampai aktivitas tersebut menjadi alasan untuk merendahkan atau menyalahkan sesama.
Dan yang paling penting, mari kita menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk menata kembali prioritas kehidupan kita sebagai seorang muslim.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, membersihkan hati kita dari riya dan ujub, serta menjadikan kita hamba yang mampu beribadah dengan benar, ikhlas, dan istiqamah.
Semoga penjelasan ini mampu menjadi bahan introspeksi bagi diri saya pribadi dan jamaah sekalian, sehingga kita dapat melewati hari-hari Ramadhan dengan ibadah yang lebih baik, hati yang lebih bersih, dan akhlak yang semakin mulia.
Majelis pengajian bukan sekadar tempat berkumpul dan mendengarkan tausiyah. Lebih dari itu, majelis pengajian merupakan ruang untuk menyegarkan kembali keimanan, memperluas pengetahuan agama, sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi di antara sesama umat.
Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo. Dalam kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan kajian dari Kitab Wasiyatul Mustofa, sebuah kitab yang sarat dengan nasihat dan tuntunan akhlak bagi umat Islam.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah tentang tanda-tanda kemuliaan seorang mukmin. Kemuliaan tersebut ternyata tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah seseorang secara pribadi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan keluarga dan hubungan sosialnya dengan masyarakat.
Dalam Wasiyatul Mustofa disebutkan sebuah nasihat kepada Sayyidina Ali:
"Wahai Sahabat Ali, termasuk kemuliaan seorang mukmin adalah memiliki istri yang patuh pada suami, senantiasa melaksanakan salat berjamaah, dan memiliki tetangga-tetangga yang mencintainya."
Nasihat tersebut mengandung pesan yang sangat luas. Kehidupan seorang mukmin idealnya tidak hanya baik dalam hubungannya dengan Allah SWT, tetapi juga baik dalam membangun hubungan dengan pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Keluarga yang Harmonis adalah Bagian dari Kemuliaan
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang belajar tentang agama, akhlak, kesabaran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Karena itu, terciptanya keluarga yang harmonis menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kehidupan seorang muslim.
Dalam konteks ini, ketaatan seorang istri kepada suami tentu harus dipahami dalam koridor kebaikan dan ajaran agama. Ketaatan bukan berarti menghilangkan hak, martabat, maupun ruang musyawarah dalam rumah tangga. Sebaliknya, hubungan suami dan istri semestinya dibangun di atas prinsip saling menghormati, saling menjaga, saling menguatkan, serta bersama-sama menjalankan tanggung jawab keluarga.
Dalam keterangan lain disebutkan bahwa seorang perempuan yang menjaga ibadahnya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri mendapatkan keutamaan yang besar.
"Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, 'Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka'."
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak hanya terletak pada perannya sebagai istri, tetapi juga pada kualitas ibadah, kehormatan diri, dan keteguhan menjalankan kewajiban kepada Allah SWT.
Begitu pula bagi seorang suami. Keharmonisan rumah tangga tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak saja. Suami memiliki tanggung jawab untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih sayang, memberikan keteladanan, memenuhi kewajiban keluarga, serta memperlakukan istri dan anak-anak dengan baik.
Dengan demikian, keluarga yang ideal adalah keluarga yang saling mengajak kepada kebaikan.
Salat Berjamaah dan Membangun Kebersamaan
Selain keluarga yang harmonis, nasihat tersebut juga menyebut salat berjamaah sebagai salah satu bagian dari kemuliaan seorang mukmin.
Salat berjamaah bukan hanya persoalan memperoleh pahala yang lebih besar. Di dalamnya terdapat pendidikan sosial yang luar biasa. Orang-orang dari berbagai latar belakang berdiri dalam satu saf, tidak membedakan kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, tua maupun muda.
Ketika salat berjamaah dilakukan secara istiqamah, hubungan antarsesama jamaah pun semakin dekat. Dari masjid, tumbuh kepedulian, persaudaraan, dan semangat untuk saling membantu.
Karena itu, masjid hendaknya tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta tempat mempererat ukhuwah Islamiyah.
Dicintai Tetangga karena Menjaga Lisan dan Perbuatan
Kemuliaan seorang mukmin berikutnya tercermin dari bagaimana ia hidup berdampingan dengan tetangga.
Seseorang yang dicintai tetangganya biasanya adalah orang yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram kepada lingkungan sekitarnya. Ia tidak mudah menyakiti hati orang lain, tidak gemar menyebarkan fitnah, tidak suka membuat keributan, dan mampu menjaga ucapan maupun perbuatannya.
Prinsip tersebut ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
Hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menjaga lisan tidak hanya berarti tidak berkata kasar secara langsung. Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan, komentar, pesan, unggahan, dan berbagai bentuk komunikasi digital.
Satu kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat menyakiti seseorang. Satu informasi yang belum jelas kebenarannya dapat menimbulkan fitnah. Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berpikir sebelum berbicara maupun menulis.
Prinsip sederhananya adalah: jangan sampai orang lain merasa tidak aman karena lisan dan tangan kita.
Bahkan hubungan baik dengan tetangga tidak hanya berlaku kepada sesama muslim. Sikap menjaga kedamaian, menghormati, dan tidak mengganggu juga merupakan bagian dari akhlak seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat.
Ramadan: Kesempatan Membersihkan Diri
Kajian kemudian berlanjut pada keutamaan bulan Ramadan. Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadan merupakan momentum pendidikan jiwa.
Seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu, menjaga ucapan, memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian kepada sesama, dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang Allah SWT.
"Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan, menjauhi perkara haram dan dusta di dalamnya, maka Tuhan Yang Maha Pengasih ridha padanya dan mewajibkan baginya surga-surga."
Pesan ini menunjukkan bahwa hakikat puasa tidak berhenti pada menahan makan dan minum.
Puasa juga merupakan latihan untuk mengendalikan diri dari kebohongan, fitnah, pertengkaran, perkataan yang menyakitkan, serta berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Ramadan seharusnya mampu mengubah perilaku seseorang. Jika sebelum Ramadan seseorang mudah marah, setelah Ramadan ia menjadi lebih sabar. Jika sebelumnya mudah berkata kasar, setelah Ramadan ia semakin mampu menjaga lisannya. Jika sebelumnya kurang peduli kepada sesama, setelah Ramadan ia semakin ringan tangan untuk membantu.
Itulah salah satu tanda bahwa pendidikan Ramadan memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Menyempurnakan Ramadan dengan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, umat Islam masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan amal dengan puasa enam hari pada bulan Syawal.
"Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang mengikuti Bulan Ramadhan dengan puasa 6 hari di Bulan Syawal, maka Allah mencatat baginya puasa setahun penuh."
Hal tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa enam hari setelah Ramadan. Amalan ini menjadi salah satu bentuk kesinambungan ibadah.
Pesan pentingnya adalah bahwa semangat beribadah jangan berhenti ketika Ramadan berakhir.
Ramadan memang telah meninggalkan kita, tetapi kebiasaan baik yang dibangun selama Ramadan seharusnya tetap dipelihara. Salat berjamaah tetap dijaga, membaca Al-Qur'an tetap dilanjutkan, bersedekah tetap dibiasakan, menjaga lisan tetap menjadi prinsip, dan hubungan baik dengan keluarga maupun tetangga harus terus dirawat.
Menjadikan Pengajian sebagai Jalan Perubahan
Ngaji rutin seperti yang dilaksanakan Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo memiliki makna yang sangat penting. Pengajian bukan hanya menjadi kegiatan rutin yang berlangsung dari waktu ke waktu, tetapi dapat menjadi ruang untuk memperbaiki diri secara bersama-sama.
Ilmu agama yang diperoleh dalam majelis hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata.
Memahami pentingnya menjaga lisan berarti mulai berhati-hati ketika berbicara.
Memahami pentingnya menjaga hubungan dengan tetangga berarti mulai membiasakan diri menyapa, membantu, dan menghormati mereka.
Memahami pentingnya keluarga berarti berusaha menciptakan rumah yang penuh kasih sayang.
Memahami keutamaan ibadah berarti berusaha meningkatkan kualitas dan keistiqamahan dalam beramal.
Dengan cara seperti itu, majelis pengajian akan benar-benar menjadi tempat lahirnya perubahan sosial yang positif.
Pada akhirnya, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terlihat dari seberapa banyak ia beribadah secara pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kehadirannya memberikan ketenteraman bagi orang-orang di sekitarnya.
Ia menjadi pribadi yang baik di dalam rumah, khusyuk dalam ibadah, santun kepada tetangga, mampu menjaga lisannya, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Semoga kegiatan Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo senantiasa istiqamah dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, guyub, dan penuh keberkahan.
Semoga ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat.