Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi
Tampilkan postingan dengan label Turba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turba. Tampilkan semua postingan

Turba MUI Margomulyo di Masjid Baiturrohman, Teguhkan Semangat Amal Kebaikan

turba-mui-margomulyo-di-masjid-baiturrohman-teguhkan-semangat-amal-kebaikan

MUI Margomulyo melaksanakan kegiatan turun ke bawah (turba) di Masjid Baiturrohman, Dusun Tepus, Desa Margomulyo, pada Jumat malam atau malam Sabtu Pahing. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00 hingga 22.30 WIB tersebut menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, serta penguatan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Acara dihadiri segenap jajaran takmir Masjid Baiturrohman, jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keilmuan, ibadah berjamaah, dan kepedulian sosial di lingkungan Desa Margomulyo.

Ketua MUI Margomulyo, Kiai Badrun, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Rahasia Allah dalam Setiap Amal Kebaikan”. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan amal baik, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, manusia tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab turunnya rida, rahmat, dan pertolongan Allah SWT.

Kiai Badrun mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Jika kamu menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah mengetahui kualitas amal, termasuk keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati. Amal yang tampak kecil secara lahiriah dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang baik, serta semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ramah.” (HR. Muslim).

Secara ilmiah, ajaran ini membentuk kepekaan sosial dan pengendalian diri. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, seperti memberi salam, tersenyum, membantu tetangga, menjaga kebersihan masjid, dan meringankan kesulitan orang lain, akan membangun ikatan sosial yang kuat serta menumbuhkan ketenangan batin.

Kiai Badrun juga mengutip kalam Sayyidina Ali Zainal Abidin:

إِنَّ اللَّهَ خَبَّأَ رِضَاهُ فِي طَاعَتِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا شَيْئًا مِنْ طَاعَتِهِ، فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyembunyikan rida-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Maka janganlah kalian meremehkan sedikit pun ketaatan, karena boleh jadi rida Allah terdapat di dalamnya.”

Kegiatan turba ditutup dengan ajakan agar jamaah membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keikhlasan, serta menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan persatuan umat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo, Kiai Rosyidi Ajak Jamaah Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah

turba-rutin-mui-margomulyo-kiai-rosyidi-ajak-jamaah-istiqamah-shalat-subuh-berjamah

SUMBERJO, MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan turun ke bawah (TURBA) rutin sebagai upaya memperkuat pembinaan keagamaan dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis malam Jumat, 15 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB, bertempat di Masjid At-Taqwa, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid At-Taqwa dan masyarakat sekitar. Suasana penuh kekhidmatan tampak dalam kegiatan yang menjadi sarana silaturahmi sekaligus pembelajaran keagamaan bagi masyarakat. Melalui program TURBA, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya hadir lebih dekat dengan umat, menyampaikan pesan-pesan keislaman, serta mendorong tumbuhnya kesadaran beragama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiai Ahmad Rosyidi. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema “Fadhilah Orang yang Menjaga Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah”. Tema tersebut dipilih untuk mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga konsistensi ibadah, khususnya shalat Subuh yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

Kiai Ahmad Rosyidi menjelaskan bahwa istiqamah merupakan sikap teguh dan konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Menjaga shalat Subuh berjamaah bukan sekadar persoalan melaksanakan kewajiban, melainkan juga bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam mendahulukan perintah Allah di tengah berbagai kesibukan dan tantangan kehidupan.

Dalam ajaran Islam, shalat memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai tiang agama. Rasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap shalat berjamaah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Keutamaan tersebut menjadi motivasi bagi umat Islam untuk membiasakan diri melaksanakan shalat berjamaah, termasuk pada waktu Subuh.

Lebih lanjut, Kiai Ahmad Rosyidi mengajak jamaah agar membangun kebiasaan positif dengan mengatur waktu istirahat, membiasakan bangun lebih awal, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Menurutnya, istiqamah tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan TURBA ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap jamaah semakin termotivasi menjaga shalat Subuh berjamaah dan menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, serta pembinaan umat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ikhtiar mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun masyarakat yang religius, berakhlak mulia, serta istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.

Share:

Dari MATA AIR Pluntu, Pesan Syukur dan Keagungan Al-Fatihah Menggema Bersama MUI Margomulyo

Dari-mata-air pluntu-pesan-syukur-dan-keagungan-al-fatihah-menggema-bersama-mui-margomulyo
Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo

MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.

Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah

Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.

Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”

Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.

Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 5–6)

Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.

Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.

Silaturahmi Setelah Kajian

Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.

Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.

Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Share:

Turba Rutin MUI Margomulyo Hadir di Majelis Taklim Dusun Mojosari, Jamaah Diingatkan tentang Dahsyatnya Padang Mahsyar

turba-rutin-mui-margomulyo-hadir-di-majelis-taklim-dusun-mojosari-jamaah-diingatkan-tentang-dahsyatnya-padang-mahsyar
Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo

Margomulyo — Majelis taklim di Dusun Mojosari, Desa Sumberjo, menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Turba (turun ke bawah) rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo pada Ahad, 27 September 2026. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di kediaman Ibu Mini, dengan diikuti oleh segenap anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo.

Kegiatan Turba menjadi salah satu sarana MUI Kecamatan Margomulyo untuk membangun silaturahmi secara langsung dengan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang diharapkan dapat menambah wawasan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi yang mengajak jamaah untuk merenungkan kehidupan manusia setelah kematian, khususnya mengenai kondisi manusia ketika berada di Padang Mahsyar.

Mengingat Dahsyatnya Kehidupan di Padang Mahsyar

Dalam penyampaiannya, Ibu Sunarmini mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya merupakan tempat untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Salah satu fase yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di Padang Mahsyar, tempat manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan dari alam kubur.

Gambaran tentang Padang Mahsyar disampaikan sebagai sebuah kondisi yang sangat dahsyat. Pada saat itu, manusia akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia guna memperbaiki amal yang telah dilakukan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak terlena dengan kehidupan dunia. Kesibukan mencari rezeki, mengurus keluarga, menjalankan pekerjaan, maupun berbagai aktivitas kehidupan hendaknya tetap diiringi dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Karena itu, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, manusia perlu senantiasa melakukan muhasabah, memperbaiki diri, memperbanyak amal kebajikan, serta menjauhi berbagai perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri di kehidupan akhirat.

Turba sebagai Sarana Silaturahmi dan Penguatan Keagamaan

Selain menjadi forum penyampaian materi keagamaan, kegiatan Turba MUI Margomulyo di Dusun Mojosari juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara jajaran MUI dengan masyarakat.

Kehadiran anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo menunjukkan semangat bersama dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Forum seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat menambah pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan semangat berkhidmat.

Melalui kegiatan Turba yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo terus berupaya hadir di tengah masyarakat, mendengarkan berbagai dinamika yang berkembang sekaligus memberikan penguatan keagamaan.

Pesan tentang dahsyatnya Padang Mahsyar yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diharapkan menjadi bahan renungan bagi seluruh jamaah untuk semakin memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.

Dengan demikian, kegiatan Turba tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi semata, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun masyarakat yang semakin religius, peduli, dan memiliki kesadaran kuat terhadap tanggung jawab kehidupan dunia dan akhirat.

Share:

TURBA MUI Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin, Perkuat Semangat Syukur dalam Kehidupan

turba-mui-margomulyo-di-majelis-taklim-al-amin-perkuat-semangat-syukur-dalam-kehidupan
Syaifudin, S.H. Wakil Ketua MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) sebagai bagian dari ikhtiar mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan TURBA kali ini berlangsung dalam rutinan Majelis Taklim Al Amin, bertempat di Masjid Al Amin, Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WIB hingga selesai tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Hadir dalam kegiatan itu segenap jajaran Pengurus Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Margomulyo, serta Pengurus Ranting NU Margomulyo.

Kehadiran berbagai unsur organisasi keagamaan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat. Selain menjadi forum silaturahmi, kegiatan rutinan Majelis Taklim Al Amin juga menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman dan menguatkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Ustadz Syaifudin, S.H., hadir sekaligus menyampaikan tausiyah kepada para jamaah. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk memahami makna syukur secara lebih luas dan tidak berhenti hanya pada ucapan.

Menurut Ustadz Syaifudin, hakikat syukur setidaknya mencakup beberapa aspek penting. Pertama, Ma'rifatul Jinan atau syukur bil qalbi, yakni mengenali dan menyadari berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT melalui hati. Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk memahami bahwa setiap nikmat yang diterima pada hakikatnya merupakan karunia dari Allah SWT.

Kedua, Dzikrun bil lisan, yaitu mengungkapkan rasa syukur melalui lisan. Salah satunya dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah dan menyebut berbagai nikmat Allah dengan penuh kesadaran dan ketulusan.

Ketiga, Amalun bil arkan, yakni mewujudkan rasa syukur melalui perbuatan. Nikmat yang diberikan Allah hendaknya digunakan untuk melakukan kebaikan, beribadah, membantu sesama, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Syukur tidak cukup hanya dirasakan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi juga harus diwujudkan dalam amal perbuatan,” pesan Ustadz Syaifudin dalam tausiyahnya.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan jamaah bahwa salah satu bentuk syukur yang penting adalah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kehidupan dunia merupakan kesempatan bagi setiap manusia untuk mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar setiap nikmat yang diterima tidak hanya dinikmati untuk kepentingan duniawi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin diharapkan dapat terus memperkuat jalinan silaturahmi antara MUI, Nahdlatul Ulama, badan otonom, majelis taklim, dan masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, pembinaan keagamaan di tingkat masyarakat diharapkan semakin hidup dan mampu memberikan manfaat nyata bagi jamaah.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban hingga selesai. Semangat kebersamaan dan pesan tentang pentingnya bersyukur diharapkan dapat menjadi bekal bagi seluruh jamaah untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta senantiasa berorientasi pada kebaikan dan kehidupan akhirat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo Digelar di Majelis Taklim Al Qodar, Ajak Jamaah Perbanyak Syukur

turba-rutin-mui-margomulyo-digelar-di-majelis-taklim-al-qodar-ajak-jamaah-perbanyak-syukur
M. Miran, QR., M.H.I. Anggota Dewan pertimbangan MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi keagamaan bersama masyarakat. Kegiatan kali ini dilaksanakan di Majelis Taklim (MT) Al Qodar, Dusun Kalimojo RT 003 RW 001, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh seluruh anggota Majelis Taklim Al Qodar serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Kehadiran MUI Kecamatan Margomulyo mendapat sambutan hangat dari jamaah yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Bapak Miran, QR., M.H.I., selaku Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut beliau, nikmat Allah SWT tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang sering kali dianggap biasa, seperti kemampuan untuk tersenyum dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, juga merupakan bentuk nikmat yang patut disyukuri.

“Setiap senyum kita yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain, itu adalah nikmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri,” pesan Miran kepada jamaah.

Ia menambahkan, membiasakan diri untuk bersyukur dapat membentuk pribadi yang lebih positif dalam menjalani kehidupan. Rasa syukur juga menjadi salah satu cara untuk menyadari bahwa setiap keadaan yang dialami manusia selalu memiliki nilai dan hikmah yang patut direnungkan.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Qodar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat. Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin, MUI dapat semakin dekat dengan jamaah dan masyarakat sekaligus mendengarkan berbagai dinamika kehidupan keagamaan di tingkat akar rumput.

Kegiatan kemudian berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan hingga selesai. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan dapat terus dipelihara sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam meningkatkan kehidupan keagamaan masyarakat Kecamatan Margomulyo.

Share:

Dari Masjid Al-Amin Kaligede, MUI Margomulyo Ajak Umat Tidak Menunda Taubat

dari-masjid-al-amin-kaligede-mui-margomulyo-ajak-umat-tidak-menunda-taubat
Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo Abdul Ghofur menyampaikan tausiyah dalam kegiatan TURBA rutin MUI Kecamatan Margomulyo di Masjid Al-Amin Kaligede, Ahad (20/9/2026).

MARGOMULYO, Ahad 20 September 2026.  — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan berlangsung pada Ahad (20/9/2026) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin, Kaligede, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut diikuti oleh segenap jamaah Masjid Al-Amin, pengurus majelis taklim, serta tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan TURBA menjadi salah satu ruang bagi MUI Kecamatan Margomulyo untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain sebagai sarana silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi forum penyampaian pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan umat sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Abdul Ghofur, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema “Memperbanyak Syukur dan Istighfar serta Taubat dari Semua Dosa.”

Syukur atas Nikmat Allah

Dalam penyampaiannya, Abdul Ghofur mengajak jamaah untuk memperbanyak rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT. Menurutnya, manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan daripada menyadari begitu banyak nikmat yang telah diterimanya.

Padahal, kesehatan, kesempatan, keluarga, rezeki, keamanan, ilmu, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan nikmat yang tidak ternilai.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)

Abdul Ghofur menjelaskan bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan.

Syukur dengan hati berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. Syukur dengan lisan diwujudkan melalui pujian dan pengakuan atas karunia-Nya. Sedangkan syukur dengan perbuatan diwujudkan dengan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan ketaatan.

“Jangan sampai kita baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat itu dicabut. Kesehatan baru terasa sangat berharga ketika kita sakit, waktu terasa mahal ketika usia semakin berkurang, dan kesempatan beribadah baru terasa penting ketika kesempatan itu sudah tidak ada,” tuturnya.

Istighfar sebagai Jalan Memohon Ampunan

Selain memperbanyak syukur, jamaah juga diajak untuk membiasakan diri memperbanyak istighfar.

Menurut Abdul Ghofur, istighfar tidak hanya dilakukan oleh seseorang yang merasa banyak dosa. Istighfar merupakan bentuk kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan...”
(QS. Hud: 3)

Istighfar juga merupakan amalan yang memiliki dimensi sosial dan spiritual. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat tersebut, istighfar dikaitkan dengan turunnya rahmat dan berbagai karunia Allah.

Karena itu, Abdul Ghofur mengingatkan agar istighfar tidak hanya dilafalkan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan. Istighfar hendaknya menjadi kebiasaan sehari-hari, baik ketika mendapatkan kesenangan maupun ketika menghadapi ujian.

“Orang yang banyak beristighfar bukan berarti orang yang paling banyak dosanya. Justru istighfar menunjukkan bahwa seseorang menyadari dirinya sebagai hamba yang penuh kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah,” jelasnya.

Taubat Tidak Boleh Ditunda

Pembahasan kemudian dilanjutkan mengenai pentingnya taubat. Manusia, menurutnya, tidak luput dari kesalahan. Namun, kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat tersebut memberikan harapan bahwa pintu ampunan Allah senantiasa terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Abdul Ghofur menjelaskan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan harus disertai kesungguhan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bertaubat harus meninggalkan dosa, menyesali perbuatan yang dilakukan, serta memiliki tekad untuk tidak mengulanginya.

Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka taubat juga harus disertai upaya menyelesaikan hak tersebut.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya...”
(QS. At-Tahrim: 8)

Muhasabah dan Memperbaiki Diri

Lebih lanjut, Abdul Ghofur mengajak jamaah menjadikan muhasabah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah nikmat Allah disyukuri? Sudahkah dosa-dosa dimintakan ampun? Sudahkah kesalahan kepada sesama diperbaiki? Dan sudahkah waktu yang diberikan Allah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat?

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama banyak menekankan pentingnya muhasabah. Evaluasi terhadap diri sendiri menjadi sarana agar seorang Muslim tidak terlena dengan kehidupan dunia dan tidak merasa dirinya telah sempurna.

Syukur membuat seseorang menyadari nikmat. Istighfar membuat seseorang menyadari kekurangan. Sementara taubat mendorong seseorang untuk memperbaiki kesalahan.

Ketiga hal tersebut menjadi rangkaian penting dalam membangun kehidupan seorang Muslim yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjadikan TURBA sebagai Ruang Pembinaan Umat

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Masjid Al-Amin Kaligede berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Kehadiran jamaah, pengurus majelis taklim, dan tokoh masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi serta memperkuat hubungan antara ulama dan masyarakat.

Melalui kegiatan TURBA yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan secara langsung di tengah masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bersama bahwa kehidupan seorang Muslim hendaknya selalu diwarnai dengan syukur atas nikmat, istighfar atas kekurangan, dan taubat atas kesalahan.

Selama kesempatan hidup masih diberikan Allah SWT, selama itu pula pintu untuk memperbaiki diri tetap terbuka.

(Redaksi)

Share:

TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Mengupas Urgensi Wakaf di Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede

(Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo)

Pada hari Ahad Legi, 28 Juli 2024, Majelis Taklim Muslimat NU Dusun Kaligede Desa Margomulyo menjadi pusat perhatian dengan dilaksanakannya kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Acara yang berlangsung di Masjid Al-Amin Kaligede dari pukul 12.30 hingga 14.00 ini dihadiri oleh jamaah ibu-ibu Muslimat NU dari Kaligede dan Jepang, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Tema kajian yang diangkat dalam TURBA kali ini adalah "Urgensi Wakaf dalam Menopang Pergerakan Dakwah Islam," yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menguraikan pentingnya wakaf sebagai salah satu instrumen penting dalam mendukung keberlanjutan dakwah Islam. Ia menjelaskan bahwa wakaf bukan hanya sekadar pemberian harta benda, tetapi juga bentuk komitmen dan kontribusi nyata umat Islam dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial.

Kiyai Badrun juga menekankan bahwa melalui wakaf, umat Islam dapat menciptakan berbagai fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat luas, seperti masjid, madrasah, dan pusat-pusat dakwah. "Dengan mengoptimalkan potensi wakaf, kita dapat memastikan kelangsungan program-program keagamaan dan sosial yang berdampak positif bagi umat," ujarnya.

Selain membahas tentang wakaf, Kiyai Badrun juga memaparkan tiga hal yang menjadi tanda seseorang mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat. Pertama, Qutun Halalun (makanan yang halal), yang mengingatkan jamaah akan pentingnya menjaga kehalalan rezeki yang diperoleh dan dikonsumsi. Kedua, Mujalasatul Ulama (hadir di kajian ilmu ulama), yang menekankan pentingnya mencari ilmu dari para ulama sebagai sumber pencerahan dan petunjuk hidup. Ketiga, Sholat Ma'al Imam (shalat berjamaah), yang mengajak jamaah untuk selalu menjaga kebersamaan dalam melaksanakan ibadah shalat.

Acara TURBA di Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede ini tidak hanya memberikan pencerahan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antarjamaah dan tokoh masyarakat. Kehadiran ibu-ibu Muslimat NU dari Kaligede dan Jepang, serta tokoh masyarakat dan agama setempat, menunjukkan betapa besar antusiasme dan dukungan terhadap kegiatan keagamaan ini.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dengan kerjasama dan dukungan semua pihak, dakwah Islam dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya di masa mendatang.

Share:

TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Menggali Hikmah dan Memberdayakan Umat

 Pada hari Ahad Legi, 28 Juli 2024, Masjid Ar-Rohman Jatiroto di Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, menjadi saksi pelaksanaan kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.30 ini merupakan hasil inisiasi Pengurus NU Ranting Margomulyo dan mendapat dukungan penuh dari seluruh Badan Otonom (BANOM) NU Ranting Margomulyo.


Hadir dalam acara tersebut jajaran pengurus ranting NU dan BANOM, serta perwakilan dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU, PAC Fatayat NU, dan PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)/Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Kehadiran mereka menambah semarak dan kekhidmatan acara yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan tersebut.


Acara TURBA kali ini memiliki puncak yang istimewa dengan kehadiran Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai pembicara utama dalam sesi Mauidzoh Hasanah. Dalam ceramahnya, Kiyai Badrun menyoroti bahaya judi online dan narkoba dari perspektif keilmuan agama. Ia mengingatkan para jamaah akan dampak negatif yang ditimbulkan oleh kedua hal tersebut, baik dari segi moral, sosial, maupun ekonomi.


Selain itu, Kiyai Badrun juga menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan Aset BMTNU Margomulyo. Ia menjelaskan bahwa dengan memperkuat basis ekonomi umat, NU dapat lebih mandiri dan berdaya saing di masa mendatang. Kiyai Badrun juga memaparkan urgensi rekonstruksi Kaleng KOIN (Kotak Infaq) NU sebagai salah satu langkah konkret untuk mencapai kemandirian tersebut.


Menurut Kiyai Badrun, Kaleng KOIN NU bukan hanya sekadar alat untuk mengumpulkan infaq, tetapi juga simbol solidaritas dan kepedulian antarumat. "Dengan memperkuat sistem Kaleng KOIN, kita dapat memastikan keberlanjutan program-program sosial dan dakwah NU, serta mengurangi ketergantungan pada sumber dana eksternal," ungkapnya.


Kegiatan TURBA ini tidak hanya menjadi ajang untuk menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga NU dan memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi tantangan zaman. Dukungan dari seluruh BANOM NU Ranting Margomulyo menunjukkan betapa solidnya organisasi ini dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.


TURBA MUI Kecamatan Margomulyo kali ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kebersamaan dan semangat gotong-royong, kita dapat menghadapi berbagai tantangan dan mencapai kemandirian umat. Semoga kegiatan semacam ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.  

Share:

"Majelis Taklim Muslimat NU Sumberjo: Sedekah dan Upaya Menjaga Keluarga dari Judi Online dan Narkoba"


Margomulyo, 8 Juli 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) pada Hari Sabtu, 8 Juli 2024. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.30 ini bertempat di Dusun Becok, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo.

Mengangkat tema "Urgensi Sedekah sebagai Media Perekat Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama," kajian kali ini menekankan pentingnya sedekah sebagai sarana mempererat hubungan antar umat Islam serta menjalin kerukunan dengan umat beragama lainnya. Pemateri dalam tausiyah ini adalah Ibu Robi'atul Adawiyah, pengurus MUI Desa Sumberjo yang membidangi Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama.

Dalam penyampaiannya, Ibu Robi'atul Adawiyah menguraikan berbagai keutamaan sedekah. Beliau menjelaskan bahwa sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya tetapi juga dapat memperkuat ukhuwah islamiyah dan menciptakan keharmonisan dengan umat beragama lainnya. "Sedekah adalah salah satu amalan yang sangat mulia. Selain membantu sesama, kita juga bisa mempererat hubungan antar sesama umat Islam dan menciptakan kedamaian dengan umat lain," ungkap beliau.

Selain membahas tema utama, Ibu Robi'atul Adawiyah juga menghimbau jama'ah untuk menjaga keluarga masing-masing dari bahaya judi online dan peredaran narkoba. Beliau menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah penyebaran dua hal negatif tersebut yang bisa merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.


Kegiatan ini diinisiasi oleh pengurus Majelis Taklim Muslimat NU Sumberjo dan diikuti oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga Desa Sumberjo. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif mengikuti kajian hingga akhir.

TURBA ini bukan hanya sekedar kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat kebersamaan antar warga. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 8 setiap bulan, memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendalami ilmu agama secara konsisten serta menjalin silaturahmi yang berkelanjutan.

“Acara ini sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan agama, kami juga dapat mempererat tali silaturahmi antar warga,” ujar salah satu peserta dengan penuh semangat.

MUI Kecamatan Margomulyo berharap melalui kegiatan rutin ini, dapat terus berkontribusi dalam membina umat serta menciptakan kerukunan antar umat beragama di wilayah tersebut. Ajakan untuk terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan semakin digaungkan agar semangat kebersamaan dan toleransi tetap terjaga.

 

Share:

"MUI Kecamatan Margomulyo: Membaca Al-Qur'an sebagai Penguat Ukhuwah Islamiyah"

 Margomulyo, 21 Juli 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) pada Hari Minggu, 21 Juli 2024. Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 14.30 ini bertempat di Dusun Mojosari, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo.

Mengangkat tema "Urgensi Membaca Al-Qur'an sebagai Media Perekat Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama demi Mencapai Keutamaan Dunia dan Akhirat," kajian kali ini menekankan pentingnya membaca Al-Qur'an sebagai sarana mempererat hubungan antar umat Islam serta menjalin kerukunan dengan umat beragama lainnya. Pemateri dalam tausiyah ini adalah Ibu Robi'atul Adawiyah, pengurus MUI Desa Sumberjo yang membidangi Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama.

Dalam penyampaiannya, Ibu Robi'atul Adawiyah menguraikan berbagai keutamaan membaca Al-Qur'an. Beliau menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an tidak hanya memberikan ketenangan batin dan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga menjadi media untuk memperkokoh ukhuwah islamiyah dan menciptakan keharmonisan dengan umat beragama lainnya. "Membaca Al-Qur'an adalah amalan yang sangat mulia. Selain mendapatkan pahala, kita juga bisa memperkuat hubungan antar sesama umat Islam dan menciptakan kedamaian dengan umat lain," ungkap beliau.

Kegiatan ini diinisiasi oleh pengurus Majelis Taklim Muslimat NU Sumberjo dan diikuti oleh warga Desa Sumberjo. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif mengikuti kajian hingga akhir. Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh agama setempat serta masyarakat sekitar yang antusias mengikuti kajian hingga akhir.

TURBA ini bukan hanya sekedar kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat kebersamaan antar warga. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 21 setiap bulan, memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendalami ilmu agama secara konsisten serta menjalin silaturahmi yang berkelanjutan.

"Acara ini sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan agama, kami juga dapat mempererat tali silaturahmi antar warga," ujar salah satu peserta dengan penuh semangat.

MUI Kecamatan Margomulyo berharap melalui kegiatan rutin ini, dapat terus berkontribusi dalam membina umat serta menciptakan kerukunan antar umat beragama di wilayah tersebut. Ajakan untuk terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan semakin digaungkan agar semangat kebersamaan dan toleransi tetap terjaga.


Share:

Tausiyah Rutin Bersama MUI Kecamatan Margomulyo: Menguatkan Ukhuwah di Bulan Muharram

 Margomulyo, 14 Juli 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) pada Hari Minggu, 14 Juli 2024. Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 14.30 ini bertempat di Masjid Al-Amin, Dusun Kaligede, Desa Margomulyo.

Dengan tema "Urgensi Amalan dan Kesunahan di Bulan Muharram sebagai Media Perekat Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama," kajian kali ini menekankan pentingnya bulan Muharram sebagai momentum memperkuat hubungan antar umat Islam serta menjalin kerukunan dengan umat beragama lainnya. Pemateri pada kesempatan ini adalah Ibu Robi'atul Adawiyah, pengurus MUI Desa Sumberjo yang membidangi Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama.

Dalam tausiyahnya, Ibu Robi'atul Adawiyah menguraikan berbagai amalan dan kesunahan yang dianjurkan di bulan Muharram. Beliau menjelaskan bahwa selain menjalankan amalan-amalan tersebut, umat Islam juga diharapkan dapat memperkokoh ukhuwah islamiyah dan menjalin hubungan baik dengan sesama, termasuk dengan umat beragama lainnya. "Bulan Muharram adalah saat yang tepat untuk introspeksi diri dan memperbanyak amal ibadah. Namun, lebih dari itu, ini juga waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat kebersamaan antar umat," tutur beliau.


Kegiatan ini diinisiasi oleh pengurus Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede dan dihadiri oleh warga Muslimat NU Kaligede dan Jepang. Turut hadir dalam acara ini adalah tokoh-tokoh agama setempat serta masyarakat sekitar yang antusias mengikuti kajian hingga akhir. Keberadaan acara seperti ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada jamaah untuk lebih mendalami dan mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.

Tidak hanya itu, kegiatan TURBA ini juga memiliki jadwal rutin yang dilaksanakan pada Minggu kedua setiap bulan. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam mendalami ilmu agama secara kontinyu serta menjalin silaturahmi secara berkelanjutan.

“Acara ini sangat bermanfaat bagi kami, selain menambah pengetahuan agama, kami juga dapat mempererat tali silaturahmi antar warga,” ujar salah satu peserta.

Dengan adanya kegiatan rutin ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap dapat terus berkontribusi dalam membina umat serta menciptakan kerukunan antar umat beragama di wilayah tersebut. Ajakan untuk terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan pun semakin digaungkan agar semangat kebersamaan dan toleransi tetap terjaga.

Share:

Menggali Urgensi Wakaf dan Pemberdayaan Ekonomi Umat dalam Tausiyah Rutin Bersama MUI Kecamatan Margomulyo

 (Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo) 

Margomulyo, 26 Juli 2024 – Suasana Masjid Baiturrohim di Dusun Batang Desa Margomulyo pada Jumat malam, 26 Juli 2024, tampak berbeda dari biasanya. Dari pukul 20.30 hingga 22.30, para jama'ah dari berbagai kalangan, termasuk warga Majelis Taklim Baiturrohim, warga NU, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, berkumpul untuk mengikuti kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo.

Acara ini menghadirkan Bapak Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri utama. Dengan tema "Urgensi Wakaf dan Pemberdayaan Ekonomi Umat sebagai Wasilah Penanggulangan Dampak Judi Online dan Bahaya Narkoba," Kiyai Badrun memberikan pemaparan yang mendalam dan penuh inspirasi.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya wakaf sebagai salah satu pilar ekonomi Islam yang memiliki potensi besar dalam pemberdayaan umat. "Wakaf bukan hanya tentang memberikan sebagian harta untuk kepentingan umum, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan umat, khususnya dalam menghadapi tantangan zaman seperti maraknya judi online dan penyalahgunaan narkoba," ujarnya.

Beliau juga menguraikan tiga tanda kebahagiaan dunia dan akhirat berdasarkan pesan Nabi Muhammad kepada Sayidina Ali Karomallohu Wajhah. Pertama, Qutun Halalun (makanan yang halal), yang menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal dan berkah. Kedua, Mujalasatul Ulama' (hadir dalam majelis ilmunya ulama'), yang menggarisbawahi nilai-nilai positif dari berinteraksi dan belajar langsung dari para ulama. Ketiga, Sholat Ma'al Imam (sholat berjamaah), yang menggambarkan kekuatan spiritual dan sosial dari sholat berjamaah.

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari pengurus Majelis Taklim Baiturrohim yang berkomitmen untuk terus memberikan pencerahan dan pendidikan agama kepada masyarakat. Menurut salah satu pengurus, acara ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memajukan ekonomi umat melalui wakaf.

Para jamaah yang hadir tampak antusias dan penuh semangat mengikuti tausiyah dari awal hingga akhir. Salah satu warga, Bapak Ahmad, mengungkapkan rasa syukurnya bisa mengikuti kegiatan ini. "Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Dengan terselenggaranya TURBA ini, diharapkan masyarakat Margomulyo semakin sadar akan pentingnya wakaf dan peran strategisnya dalam pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus menjadi benteng kuat dalam menghadapi dampak negatif judi online dan bahaya narkoba. Kegiatan ini juga diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi majelis taklim lainnya untuk mengadakan acara serupa.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT agar masyarakat Margomulyo selalu berada dalam lindungan dan rahmat-Nya.

Share:

MUI Kecamatan Margomulyo Gelar Tausiyah Rutin Bersama di Desa Kalangan: Membahas Urgensi Wakaf dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

 (Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo)

Pada hari Jumat, 26 Juli 2024, Desa Kalangan menjadi tuan rumah kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Acara ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.30 dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk warga desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan yang penuh makna ini menghadirkan Bapak Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri utama. Beliau menyampaikan tausiyah dengan tema "Urgensi Wakaf dan Pemberdayaan Ekonomi Umat sebagai Wasilah Penanggulangan Dampak Judi Online dan Bahaya NARKOBA."

Dalam pemaparannya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya wakaf sebagai instrumen keuangan Islam yang tidak hanya memiliki dimensi ibadah tetapi juga sosial-ekonomi. "Wakaf dapat menjadi solusi strategis dalam memberdayakan ekonomi umat," ungkap Kiyai Badrun. Ia menjelaskan bahwa dengan pengelolaan wakaf yang tepat, dana wakaf bisa digunakan untuk membangun fasilitas pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Selain itu, Kiyai Badrun juga menyoroti dampak negatif judi online yang semakin meresahkan masyarakat, terutama dalam konteks rumah tangga. "Judi online bukan hanya merusak perekonomian keluarga, tetapi juga mengancam keutuhan rumah tangga," ujarnya. Beliau mengajak masyarakat untuk menjauhi segala bentuk judi online dan narkoba yang bisa menghancurkan masa depan generasi muda.

Tak hanya itu, Kiyai Badrun juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memerangi narkoba yang kian marak. "Bahaya narkoba tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga merusak moral dan masa depan anak-anak kita," tegasnya. Ia menekankan pentingnya peran serta semua elemen masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba.

Kegiatan TURBA ini diinisiasi oleh pengurus NU ranting Kalangan, yang dengan penuh semangat berupaya menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berkah bagi masyarakatnya. Mereka berharap dengan adanya kegiatan ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat semakin meningkat, serta mampu menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi bahaya judi online dan narkoba.

Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat. Para peserta yang hadir tampak antusias dan terinspirasi oleh tausiyah yang disampaikan. Semangat kebersamaan dan komitmen untuk membangun ekonomi umat yang lebih baik tampak jelas dalam setiap wajah yang hadir.

Dengan diadakannya kegiatan seperti ini, diharapkan Desa Kalangan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam upaya memanfaatkan potensi wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat sebagai solusi untuk berbagai permasalahan sosial yang ada. Semoga semangat dan kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi kita semua.

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman