Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi
Tampilkan postingan dengan label Silaturrohim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silaturrohim. Tampilkan semua postingan

Turba MUI Margomulyo di Masjid Baiturrohman, Teguhkan Semangat Amal Kebaikan

turba-mui-margomulyo-di-masjid-baiturrohman-teguhkan-semangat-amal-kebaikan

MUI Margomulyo melaksanakan kegiatan turun ke bawah (turba) di Masjid Baiturrohman, Dusun Tepus, Desa Margomulyo, pada Jumat malam atau malam Sabtu Pahing. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00 hingga 22.30 WIB tersebut menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, serta penguatan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Acara dihadiri segenap jajaran takmir Masjid Baiturrohman, jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keilmuan, ibadah berjamaah, dan kepedulian sosial di lingkungan Desa Margomulyo.

Ketua MUI Margomulyo, Kiai Badrun, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Rahasia Allah dalam Setiap Amal Kebaikan”. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan amal baik, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, manusia tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab turunnya rida, rahmat, dan pertolongan Allah SWT.

Kiai Badrun mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Jika kamu menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah mengetahui kualitas amal, termasuk keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati. Amal yang tampak kecil secara lahiriah dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang baik, serta semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ramah.” (HR. Muslim).

Secara ilmiah, ajaran ini membentuk kepekaan sosial dan pengendalian diri. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, seperti memberi salam, tersenyum, membantu tetangga, menjaga kebersihan masjid, dan meringankan kesulitan orang lain, akan membangun ikatan sosial yang kuat serta menumbuhkan ketenangan batin.

Kiai Badrun juga mengutip kalam Sayyidina Ali Zainal Abidin:

إِنَّ اللَّهَ خَبَّأَ رِضَاهُ فِي طَاعَتِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا شَيْئًا مِنْ طَاعَتِهِ، فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyembunyikan rida-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Maka janganlah kalian meremehkan sedikit pun ketaatan, karena boleh jadi rida Allah terdapat di dalamnya.”

Kegiatan turba ditutup dengan ajakan agar jamaah membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keikhlasan, serta menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan persatuan umat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo, Kiai Rosyidi Ajak Jamaah Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah

turba-rutin-mui-margomulyo-kiai-rosyidi-ajak-jamaah-istiqamah-shalat-subuh-berjamah

SUMBERJO, MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan turun ke bawah (TURBA) rutin sebagai upaya memperkuat pembinaan keagamaan dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis malam Jumat, 15 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB, bertempat di Masjid At-Taqwa, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid At-Taqwa dan masyarakat sekitar. Suasana penuh kekhidmatan tampak dalam kegiatan yang menjadi sarana silaturahmi sekaligus pembelajaran keagamaan bagi masyarakat. Melalui program TURBA, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya hadir lebih dekat dengan umat, menyampaikan pesan-pesan keislaman, serta mendorong tumbuhnya kesadaran beragama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiai Ahmad Rosyidi. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema “Fadhilah Orang yang Menjaga Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah”. Tema tersebut dipilih untuk mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga konsistensi ibadah, khususnya shalat Subuh yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

Kiai Ahmad Rosyidi menjelaskan bahwa istiqamah merupakan sikap teguh dan konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Menjaga shalat Subuh berjamaah bukan sekadar persoalan melaksanakan kewajiban, melainkan juga bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam mendahulukan perintah Allah di tengah berbagai kesibukan dan tantangan kehidupan.

Dalam ajaran Islam, shalat memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai tiang agama. Rasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap shalat berjamaah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Keutamaan tersebut menjadi motivasi bagi umat Islam untuk membiasakan diri melaksanakan shalat berjamaah, termasuk pada waktu Subuh.

Lebih lanjut, Kiai Ahmad Rosyidi mengajak jamaah agar membangun kebiasaan positif dengan mengatur waktu istirahat, membiasakan bangun lebih awal, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Menurutnya, istiqamah tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan TURBA ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap jamaah semakin termotivasi menjaga shalat Subuh berjamaah dan menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, serta pembinaan umat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ikhtiar mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun masyarakat yang religius, berakhlak mulia, serta istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.

Share:

Menjemput Nasihat Ulama, Pengurus MUI Margomulyo Sowan kepada Gus Huda

menjemput-nasihat-ulama-pengurus-mui-margomulyo-sowan-kepada-gus-huda

MARGOMULYO —  Sabtu 03 Oktober 2026. Pagi belum terlalu tinggi ketika rombongan Pengurus Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo mulai meninggalkan Margomulyo, Sabtu (3/10/2026). Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tujuan mereka bukan sekadar sebuah tempat, melainkan ndalem seorang ulama yang hendak mereka temui untuk menyambung silaturahim sekaligus meminta nasihat dan doa.

Adalah KH. Alamul Huda Masyhur, atau yang akrab disapa Gus Huda, Ketua MUI Kabupaten Bojonegoro dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Rosyid, yang menjadi tujuan sowan rombongan pagi itu.

Perjalanan menuju kediaman Gus Huda ditempuh melalui jalur selatan, yakni Ngraho–Dander via Ngasem. Pilihan rute tersebut dilakukan dengan pertimbangan sederhana: kelancaran perjalanan. Jalur utara saat itu terdapat sedikitnya empat titik yang berpotensi mengalami kemacetan karena adanya pembangunan jalan.

Bagi rombongan, ketepatan waktu menjadi bagian penting dari adab bertamu. Karena itu, jalur selatan dipilih agar perjalanan dapat berlangsung lebih lancar.

Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan tiba di Kecamatan Dander. Namun, masih ada waktu sekitar satu jam sebelum jadwal pertemuan dengan Gus Huda. Rombongan pun tidak ingin sekadar menunggu waktu.

Mereka memilih berhenti sejenak di Masjid Al-Birru Dander.

Masjid yang pernah viral dan menjadi perhatian publik pada masanya itu menjadi tempat rombongan mengambil jeda. Di sana, perjalanan sejenak dihentikan untuk rihlah dan tadabbur. Setelah menempuh perjalanan sejak pagi, suasana masjid menjadi ruang untuk menenangkan pikiran sekaligus mempersiapkan hati sebelum melanjutkan agenda utama.

menjemput-nasihat-ulama-pengurus-mui-margomulyo-sowan-kepada-gus-huda

Waktu terus bergerak.

Sekitar pukul 09.40 WIB, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Pondok Pesantren Al-Rosyid, tempat kediaman Gus Huda. Lima belas menit kemudian, tepat sekitar pukul 09.55 WIB, rombongan tiba di ndalem.

Saat itu Gus Huda baru saja selesai mengajar di Madrasah Pondok Pesantren Al-Rosyid. Rombongan kemudian dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Suasana berlangsung sederhana dan hangat. Setelah basa-basi secukupnya, rombongan mulai menyampaikan maksud kedatangan.

Sowan kali ini membawa satu agenda penting. Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo ingin menyampaikan progres persiapan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026.

Selain menyampaikan perkembangan tersebut, rombongan juga membawa sebuah harapan. Mereka berharap Gus Huda berkenan hadir dalam momentum pengukuhan tersebut sekaligus memberikan pembinaan dan pengarahan kepada seluruh jajaran Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo.

Gayung bersambut.

Gus Huda menyambut baik apa yang disampaikan rombongan. Beliau memberikan apresiasi terhadap progres yang telah dilakukan MUI Kecamatan Margomulyo. Bahkan, Gus Huda menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam acara pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo pada 12 Oktober 2026.

Kabar tersebut tentu menjadi energi tersendiri bagi rombongan. Sebab, kehadiran seorang ulama dalam sebuah agenda organisasi keumatan tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran secara fisik, tetapi juga sebagai penguat moral dan spiritual bagi para pengurus dalam menjalankan amanah.

Namun, pertemuan pagi itu ternyata belum selesai.

Setelah pembicaraan mengenai agenda utama berakhir, Gus Huda mengajak rombongan berbincang mengenai berbagai persoalan kekinian yang berkembang di tengah masyarakat.

Obrolan pun mengalir.

Dari satu persoalan menuju persoalan lainnya. Dari cerita keseharian masyarakat hingga berbagai hal yang membutuhkan perhatian bersama. Suasana yang semula bersifat formal perlahan berubah menjadi percakapan yang cair dan penuh keakraban.

Ada nasihat yang terselip di antara obrolan. Ada pengalaman yang dibagikan. Ada pula berbagai persoalan masyarakat yang menjadi bahan renungan bersama.

Menariknya, keasyikan berbincang membuat waktu seolah berjalan lebih cepat.

Tanpa terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 11.00 WIB.

Hampir dua jam rombongan berada di ndalem Gus Huda. Pertemuan yang pada awalnya hanya diniatkan untuk menyampaikan progres dan mengundang kehadiran beliau pada acara pengukuhan, justru berkembang menjadi ruang silaturahim yang hangat dan penuh makna.

Rombongan kemudian memohon izin untuk berpamitan.

Sebelum meninggalkan ndalem, mereka juga memohon doa dan barokah dari Gus Huda. Doa tersebut menjadi bekal batin bagi para pengurus untuk melanjutkan ikhtiar mengabdi melalui MUI Kecamatan Margomulyo.

Perjalanan pagi itu akhirnya bukan hanya tentang menempuh jarak dari Margomulyo menuju Pondok Pesantren Al-Rosyid.

Ada ikhtiar yang dibawa dalam perjalanan. Ada silaturahim yang disambung. Ada amanah organisasi yang disampaikan. Ada nasihat yang didapatkan. Dan ada doa yang dibawa pulang.

Sowan kepada ulama menjadi bagian dari tradisi yang terus dirawat: mendekat untuk belajar, datang untuk meminta arahan, dan pulang dengan membawa semangat baru dalam menjalankan amanah keumatan.

Bagi Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo, perjalanan itu barangkali telah berakhir ketika kendaraan kembali meninggalkan ndalem Gus Huda.

Tetapi pesan dan keberkahan dari perjumpaan tersebut diharapkan terus berjalan—menyertai langkah menuju 12 Oktober 2026, ketika Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo akan dikukuhkan dan siap melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat.

Share:

Bahaya HIV hingga Fenomena Perempuan Masuk Neraka, Jadi Sorotan TURBA MUI Margomulyo

bahaya-hiv-hingga-fenomena-perempuan-masuk-neraka-jadi-sorotan-turba-mui-margomulyo
Ngatini, S.Pd. Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo

MARGOMULYO – Majelis taklim Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo kembali menggelar kegiatan rutin yang dirangkai dengan TURBA (Turun ke Bawah) MUI Kecamatan Margomulyo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ibu Katin Jipangulu, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Ranting Muslimat NU Ngelo, Pengurus Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Margomulyo, Ibu Kepala Desa, serta anggota Majelis Taklim. Suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ngatini, S.Pd., Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah persoalan penting yang dekat dengan kehidupan masyarakat, di antaranya tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga kehormatan, kesehatan, dan ketahanan keluarga.

Bahaya HIV dan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri

Ngatini mengingatkan bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan yang harus dipahami secara benar dan tidak boleh disikapi dengan stigma terhadap penderitanya. HIV adalah persoalan medis yang membutuhkan pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Dalam konteks kehidupan keluarga, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk sikap bertanggung jawab, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan dan keturunan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Ayat tersebut, jelas Ngatini, tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan tersebut.

Karena itu, menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga keluarga, dan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang sehat secara jasmani sekaligus kuat secara moral.

Namun demikian, ia juga menekankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. Mereka tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan dukungan, pengobatan, serta pendampingan. Pencegahan penyakit harus berjalan bersama dengan sikap kasih sayang dan kemanusiaan.

“Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu”, Lalu Mengapa Banyak Perempuan Masuk Neraka?

Pada bagian lain, Ngatini mengajak jamaah merenungkan kedudukan perempuan, khususnya seorang ibu, dalam Islam.

“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi kenapa banyak wanita yang masuk neraka?” tegas Ngatini dalam tausiyahnya.

Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Seorang perempuan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, terlebih ketika menjadi seorang ibu. Namun kemuliaan tersebut harus diwujudkan melalui iman, ketaatan, akhlak, tanggung jawab, dan amal saleh.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan orang tua. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Bahkan Rasulullah SAW memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seorang ibu. Dalam sebuah hadis tentang seorang sahabat yang hendak berjihad, Rasulullah SAW bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika dijawab masih ada, Nabi SAW bersabda:

فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Maka tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”

Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat mengenai besarnya keutamaan berbakti kepada ibu. Adapun ungkapan populer “الجنة تحت أقدام الأمهات” (surga di bawah telapak kaki ibu) memiliki beberapa jalur riwayat dengan penilaian sanad yang berbeda; karena itu, yang paling aman adalah menyandarkan maknanya kepada hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu yang lebih kuat.

Mengapa Ada Perempuan yang Masuk Neraka?

Ngatini kemudian mengajak jamaah memahami hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dijelaskan salah satu sebab yang disebutkan Nabi SAW, yaitu banyak mencela dan mengingkari kebaikan pasangan. Karena itu, menurut Ngatini, hadis tersebut bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar kaum perempuan melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.

Perempuan yang menjadi ibu, lanjutnya, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tutur kata, kedisiplinan, agama, dan akhlak.

Karena itu, seorang ibu jangan sampai hanya sibuk mengurus kebutuhan lahiriah keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan spiritual keluarga.

Ibu sebagai Madrasah Pertama

Ngatini menegaskan bahwa rumah tangga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu mempunyai posisi penting dalam membentuk karakter generasi.

Seorang ibu yang menjaga salatnya akan memberikan contoh kepada anaknya. Ibu yang membiasakan membaca Al-Qur’an akan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Ibu yang menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan perkataan kasar akan mengajarkan anak tentang akhlak tanpa harus banyak memberikan teori.

Karena itu, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari statusnya sebagai ibu, tetapi juga dari iman, ilmu, akhlak, dan amalnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan semata-mata jenis kelamin, tetapi keimanan dan amal saleh.

Menjaga Lisan, Menjaga Keluarga

Lebih lanjut, Ngatini mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menjaga lisan. Banyak persoalan rumah tangga bermula dari perkataan yang dianggap sepele: mencela pasangan, membuka aib keluarga, membicarakan kekurangan orang lain, hingga membiasakan mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kaum perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar ketika menjelaskan sebab banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka: memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Ngatini kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan majelis taklim bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bermuhasabah, dan memperbaiki diri.

Sebab, lanjutnya, menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah selalu memiliki kemauan untuk belajar, mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki akhlak, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kaidah hikmah yang masyhur disebutkan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kaidah tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Mencegah kerusakan moral, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan diri, dan melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif merupakan bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan penuh keberkahan.

Menutup tausiyahnya, Ngatini mengajak seluruh jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo untuk terus menjaga kekompakan, meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menjadikan majelis taklim sebagai sarana membangun perempuan yang berilmu, berakhlak, sehat, dan mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA MUI Margomulyo tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diakhiri dengan doa bersama. Kehadiran MUI di tengah majelis taklim diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama, organisasi keagamaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di Kecamatan Margomulyo.

Share:

Dari MATA AIR Pluntu, Pesan Syukur dan Keagungan Al-Fatihah Menggema Bersama MUI Margomulyo

Dari-mata-air pluntu-pesan-syukur-dan-keagungan-al-fatihah-menggema-bersama-mui-margomulyo
Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo

MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.

Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah

Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.

Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”

Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.

Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 5–6)

Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.

Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.

Silaturahmi Setelah Kajian

Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.

Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.

Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Share:

MUI Margomulyo Koordinasi dengan Camat, Matangkan Persiapan Pengukuhan Komisi-Komisi

mui-margomulyo-koordinasi-camat-persiapan-pengukuhan-komisi
MUI Margomulyo koordinasi dengan Camat Joko Tri Cahyono terkait persiapan pengukuhan Komisi-Komisi MUI pada 12 Oktober 2026.

Margomulyo, 29 September 2026 — Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, jajaran MUI Kecamatan Margomulyo melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Margomulyo, Selasa (29/9/2026).

Koordinasi tersebut berlangsung di Ruang Camat Margomulyo pada pukul 10.30–11.15 WIB. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, bersama Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, Huda Afrianto, S.Ag. Keduanya diterima langsung oleh Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, SSTP.

MUI Laporkan Persiapan Pengukuhan

Dalam pertemuan tersebut, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo menyampaikan laporan sekaligus koordinasi mengenai rencana pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo.

Disampaikan bahwa kegiatan pengukuhan dijadwalkan akan dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2026. Sebagai bagian dari persiapan, panitia terlebih dahulu akan menggelar rapat pada Jumat, 2 Oktober 2026. Rapat tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mematangkan berbagai kebutuhan teknis maupun administratif menjelang pelaksanaan pengukuhan.

Selain itu, panitia juga telah menjadwalkan geladi bersih peserta pengukuhan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Geladi bersih ini menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh rangkaian acara dapat berjalan tertib, khidmat, dan sesuai dengan susunan acara yang telah dipersiapkan.

Camat Siap Mendukung Penuh

Menanggapi laporan dan rencana tersebut, Camat Margomulyo Joko Tri Cahyono, SSTP. menyampaikan apresiasi terhadap berbagai persiapan yang telah dilakukan oleh MUI Kecamatan Margomulyo.

Pemerintah Kecamatan Margomulyo, menurut Camat, siap memberikan dukungan penuh demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo.

Tidak hanya dukungan secara moral dan kelembagaan, Camat Margomulyo juga menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pelaksanaan pengukuhan di Pendopo Kecamatan Margomulyo, termasuk menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan tersebut.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara MUI Kecamatan Margomulyo dengan Pemerintah Kecamatan. Kolaborasi antara lembaga keagamaan dan pemerintah di tingkat kecamatan diharapkan dapat terus diperkuat dalam rangka mendukung pembinaan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di wilayah Margomulyo.

Memperkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah

Koordinasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya komunikasi dan sinergi antara MUI Kecamatan Margomulyo, KUA Kecamatan Margomulyo, dan Pemerintah Kecamatan Margomulyo dalam menjalankan peran masing-masing di tengah masyarakat.

Dengan adanya dukungan dan fasilitasi dari Pemerintah Kecamatan Margomulyo, seluruh rangkaian persiapan pengukuhan diharapkan dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya, panitia akan melakukan pematangan persiapan melalui rapat pada 2 Oktober, dilanjutkan geladi bersih pada 8 Oktober, hingga pelaksanaan pengukuhan pada 12 Oktober 2026.

Semangat kebersamaan dan koordinasi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi kepengurusan Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo dalam menjalankan amanah, memperkuat pelayanan keumatan, serta berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat Margomulyo yang religius, harmonis, dan berkemajuan.

Share:

Turba Rutin MUI Margomulyo Hadir di Majelis Taklim Dusun Mojosari, Jamaah Diingatkan tentang Dahsyatnya Padang Mahsyar

turba-rutin-mui-margomulyo-hadir-di-majelis-taklim-dusun-mojosari-jamaah-diingatkan-tentang-dahsyatnya-padang-mahsyar
Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo

Margomulyo — Majelis taklim di Dusun Mojosari, Desa Sumberjo, menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Turba (turun ke bawah) rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo pada Ahad, 27 September 2026. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di kediaman Ibu Mini, dengan diikuti oleh segenap anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo.

Kegiatan Turba menjadi salah satu sarana MUI Kecamatan Margomulyo untuk membangun silaturahmi secara langsung dengan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang diharapkan dapat menambah wawasan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi yang mengajak jamaah untuk merenungkan kehidupan manusia setelah kematian, khususnya mengenai kondisi manusia ketika berada di Padang Mahsyar.

Mengingat Dahsyatnya Kehidupan di Padang Mahsyar

Dalam penyampaiannya, Ibu Sunarmini mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya merupakan tempat untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Salah satu fase yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di Padang Mahsyar, tempat manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan dari alam kubur.

Gambaran tentang Padang Mahsyar disampaikan sebagai sebuah kondisi yang sangat dahsyat. Pada saat itu, manusia akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia guna memperbaiki amal yang telah dilakukan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak terlena dengan kehidupan dunia. Kesibukan mencari rezeki, mengurus keluarga, menjalankan pekerjaan, maupun berbagai aktivitas kehidupan hendaknya tetap diiringi dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Karena itu, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, manusia perlu senantiasa melakukan muhasabah, memperbaiki diri, memperbanyak amal kebajikan, serta menjauhi berbagai perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri di kehidupan akhirat.

Turba sebagai Sarana Silaturahmi dan Penguatan Keagamaan

Selain menjadi forum penyampaian materi keagamaan, kegiatan Turba MUI Margomulyo di Dusun Mojosari juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara jajaran MUI dengan masyarakat.

Kehadiran anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo menunjukkan semangat bersama dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Forum seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat menambah pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan semangat berkhidmat.

Melalui kegiatan Turba yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo terus berupaya hadir di tengah masyarakat, mendengarkan berbagai dinamika yang berkembang sekaligus memberikan penguatan keagamaan.

Pesan tentang dahsyatnya Padang Mahsyar yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diharapkan menjadi bahan renungan bagi seluruh jamaah untuk semakin memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.

Dengan demikian, kegiatan Turba tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi semata, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun masyarakat yang semakin religius, peduli, dan memiliki kesadaran kuat terhadap tanggung jawab kehidupan dunia dan akhirat.

Share:

TURBA MUI Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin, Perkuat Semangat Syukur dalam Kehidupan

turba-mui-margomulyo-di-majelis-taklim-al-amin-perkuat-semangat-syukur-dalam-kehidupan
Syaifudin, S.H. Wakil Ketua MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) sebagai bagian dari ikhtiar mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan TURBA kali ini berlangsung dalam rutinan Majelis Taklim Al Amin, bertempat di Masjid Al Amin, Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WIB hingga selesai tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Hadir dalam kegiatan itu segenap jajaran Pengurus Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Margomulyo, serta Pengurus Ranting NU Margomulyo.

Kehadiran berbagai unsur organisasi keagamaan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat. Selain menjadi forum silaturahmi, kegiatan rutinan Majelis Taklim Al Amin juga menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman dan menguatkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Ustadz Syaifudin, S.H., hadir sekaligus menyampaikan tausiyah kepada para jamaah. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk memahami makna syukur secara lebih luas dan tidak berhenti hanya pada ucapan.

Menurut Ustadz Syaifudin, hakikat syukur setidaknya mencakup beberapa aspek penting. Pertama, Ma'rifatul Jinan atau syukur bil qalbi, yakni mengenali dan menyadari berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT melalui hati. Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk memahami bahwa setiap nikmat yang diterima pada hakikatnya merupakan karunia dari Allah SWT.

Kedua, Dzikrun bil lisan, yaitu mengungkapkan rasa syukur melalui lisan. Salah satunya dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah dan menyebut berbagai nikmat Allah dengan penuh kesadaran dan ketulusan.

Ketiga, Amalun bil arkan, yakni mewujudkan rasa syukur melalui perbuatan. Nikmat yang diberikan Allah hendaknya digunakan untuk melakukan kebaikan, beribadah, membantu sesama, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Syukur tidak cukup hanya dirasakan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi juga harus diwujudkan dalam amal perbuatan,” pesan Ustadz Syaifudin dalam tausiyahnya.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan jamaah bahwa salah satu bentuk syukur yang penting adalah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kehidupan dunia merupakan kesempatan bagi setiap manusia untuk mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar setiap nikmat yang diterima tidak hanya dinikmati untuk kepentingan duniawi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin diharapkan dapat terus memperkuat jalinan silaturahmi antara MUI, Nahdlatul Ulama, badan otonom, majelis taklim, dan masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, pembinaan keagamaan di tingkat masyarakat diharapkan semakin hidup dan mampu memberikan manfaat nyata bagi jamaah.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban hingga selesai. Semangat kebersamaan dan pesan tentang pentingnya bersyukur diharapkan dapat menjadi bekal bagi seluruh jamaah untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta senantiasa berorientasi pada kebaikan dan kehidupan akhirat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo Digelar di Majelis Taklim Al Qodar, Ajak Jamaah Perbanyak Syukur

turba-rutin-mui-margomulyo-digelar-di-majelis-taklim-al-qodar-ajak-jamaah-perbanyak-syukur
M. Miran, QR., M.H.I. Anggota Dewan pertimbangan MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi keagamaan bersama masyarakat. Kegiatan kali ini dilaksanakan di Majelis Taklim (MT) Al Qodar, Dusun Kalimojo RT 003 RW 001, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh seluruh anggota Majelis Taklim Al Qodar serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Kehadiran MUI Kecamatan Margomulyo mendapat sambutan hangat dari jamaah yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Bapak Miran, QR., M.H.I., selaku Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut beliau, nikmat Allah SWT tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang sering kali dianggap biasa, seperti kemampuan untuk tersenyum dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, juga merupakan bentuk nikmat yang patut disyukuri.

“Setiap senyum kita yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain, itu adalah nikmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri,” pesan Miran kepada jamaah.

Ia menambahkan, membiasakan diri untuk bersyukur dapat membentuk pribadi yang lebih positif dalam menjalani kehidupan. Rasa syukur juga menjadi salah satu cara untuk menyadari bahwa setiap keadaan yang dialami manusia selalu memiliki nilai dan hikmah yang patut direnungkan.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Qodar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat. Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin, MUI dapat semakin dekat dengan jamaah dan masyarakat sekaligus mendengarkan berbagai dinamika kehidupan keagamaan di tingkat akar rumput.

Kegiatan kemudian berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan hingga selesai. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan dapat terus dipelihara sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam meningkatkan kehidupan keagamaan masyarakat Kecamatan Margomulyo.

Share:

Pentingnya Pemberdayaan Ekonomi Umat dalam Menangkal Radikalisme dan Aliran Sempalan

 Margomulyo, Ahad, 09 Juni 2024 - Dalam acara Lailatul Ijtima' yang digelar oleh NU Ranting Meduri Kecamatan Margomulyo, Ustadz Syaifuddin yang lebih dikenal dengan panggilan akrabnya, Mbah Jenggot, memberikan materi yang mendalam mengenai pentingnya pemberdayaan ekonomi umat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Turun ke Bawah (TURBA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Margomulyo yang bertujuan untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat serta menangkal radikalisme dan aliran sempalan di masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut, Mbah Jenggot, yang membidangi Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Margomulyo, menyampaikan betapa krusialnya peran ekonomi dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan sosial. Menurutnya, dengan meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat, potensi munculnya radikalisme dan aliran sempalan dapat diminimalisir. "Ketika masyarakat memiliki kesejahteraan yang baik, mereka cenderung lebih fokus pada hal-hal positif dan tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang menyimpang," ujarnya.


Lebih lanjut, Mbah Jenggot menjelaskan berbagai strategi pemberdayaan ekonomi yang dapat diterapkan di tingkat akar rumput. Ia menekankan pentingnya pengembangan keterampilan usaha, akses permodalan, dan pembentukan koperasi-koperasi kecil yang dapat menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. "Kita harus membangun sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan," tambahnya.


Acara Lailatul Ijtima' yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat ini berlangsung dengan penuh antusiasme. Para peserta terlihat aktif berpartisipasi dalam sesi diskusi, menunjukkan betapa relevannya tema yang diangkat dengan kondisi masyarakat saat ini. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan ukhuwah Islamiyah antar warga NU Ranting Meduri.


Mbah Jenggot menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun ekonomi umat yang tangguh. "Dengan ekonomi yang kuat, kita dapat menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk radikalisme dan aliran sempalan. Mari kita berdayakan diri kita, keluarga kita, dan komunitas kita untuk masa depan yang lebih baik," pungkasnya.


Kegiatan TURBA MUI Margomulyo ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat dan penanggulangan radikalisme serta aliran sempalan. Dengan semangat gotong-royong dan kebersamaan, cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai bukanlah hal yang mustahil.

Share:

“Sinergi Ulama dan Umara Menguat: MUSDA MUI Margomulyo ke-IV Dimajukan, Persiapan Kian di Matangkan”



Margomulyo - Senin, 4 Mei 2026. Koordinasi pelaksanaan Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kecamatan Margomulyo berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pertemuan tersebut dilaksanakan di ruang kerja Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, S.STP., MM, sebagai bentuk sinergi antara pemerintah kecamatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Hadir dalam kegiatan ini tim pengurus MUI Kecamatan Margomulyo yang dipimpin langsung oleh Kiai Badrun Sulaiman, didampingi oleh Sekretaris dan Bendahara MUI. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, dengan fokus utama pada pematangan rencana pelaksanaan MUSDA MUI ke-IV di Kecamatan Margomulyo.

Dalam agenda pembahasan, disampaikan bahwa jadwal pelaksanaan MUSDA yang semula direncanakan pada tanggal 27 Mei 2026 bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1447 H (Bertepatan dengan Idul Adha), perlu ditinjau kembali. Selain itu, dibahas pula berbagai aspek teknis, termasuk fasilitasi pelaksanaan kegiatan agar dapat berjalan dengan lancar dan optimal.

Hasil dari koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama antara Camat Margomulyo dan tim MUI untuk memajukan jadwal pelaksanaan MUSDA menjadi tanggal 18 Mei 2026, Jam 09.00 bertempat di pendopo kecamatan margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, Camat Margomulyo menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh serta siap memfasilitasi seluruh kebutuhan demi suksesnya pelaksanaan MUSDA MUI ke-IV di wilayah Kecamatan Margomulyo.

Usai pertemuan, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo segera melakukan koordinasi lanjutan dengan tim MUI tingkat kabupaten serta Koordinator Lapangan (Korlab) MUI Bojonegoro Barat guna memastikan kesiapan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan sesuai dengan hasil kesepakatan.

Koordinasi yang telah terjalin ini diharapkan tidak hanya memastikan kelancaran pelaksanaan MUSDA, tetapi juga mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang bermanfaat bagi penguatan peran MUI di tengah masyarakat. Dengan dimajukannya jadwal pelaksanaan, seluruh pihak terkait diharapkan dapat segera melakukan penyesuaian dan percepatan persiapan, baik dari sisi administratif, teknis, maupun substansi acara.

Lebih lanjut, dukungan penuh dari Pemerintah Kecamatan Margomulyo menjadi faktor penting dalam menciptakan pelaksanaan MUSDA yang tertib, lancar, dan berkualitas. Sinergi antara ulama dan umara ini diharapkan dapat terus terjaga, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan di wilayah Kecamatan Margomulyo.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi antara MUI dan pemerintah kecamatan, sekaligus menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung kelancaran agenda organisasi keagamaan di tingkat daerah.

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman