Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Turba MUI Margomulyo di Masjid Baiturrohman, Teguhkan Semangat Amal Kebaikan

turba-mui-margomulyo-di-masjid-baiturrohman-teguhkan-semangat-amal-kebaikan

MUI Margomulyo melaksanakan kegiatan turun ke bawah (turba) di Masjid Baiturrohman, Dusun Tepus, Desa Margomulyo, pada Jumat malam atau malam Sabtu Pahing. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00 hingga 22.30 WIB tersebut menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, serta penguatan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Acara dihadiri segenap jajaran takmir Masjid Baiturrohman, jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keilmuan, ibadah berjamaah, dan kepedulian sosial di lingkungan Desa Margomulyo.

Ketua MUI Margomulyo, Kiai Badrun, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Rahasia Allah dalam Setiap Amal Kebaikan”. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan amal baik, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, manusia tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab turunnya rida, rahmat, dan pertolongan Allah SWT.

Kiai Badrun mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Jika kamu menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah mengetahui kualitas amal, termasuk keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati. Amal yang tampak kecil secara lahiriah dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang baik, serta semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ramah.” (HR. Muslim).

Secara ilmiah, ajaran ini membentuk kepekaan sosial dan pengendalian diri. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, seperti memberi salam, tersenyum, membantu tetangga, menjaga kebersihan masjid, dan meringankan kesulitan orang lain, akan membangun ikatan sosial yang kuat serta menumbuhkan ketenangan batin.

Kiai Badrun juga mengutip kalam Sayyidina Ali Zainal Abidin:

إِنَّ اللَّهَ خَبَّأَ رِضَاهُ فِي طَاعَتِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا شَيْئًا مِنْ طَاعَتِهِ، فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyembunyikan rida-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Maka janganlah kalian meremehkan sedikit pun ketaatan, karena boleh jadi rida Allah terdapat di dalamnya.”

Kegiatan turba ditutup dengan ajakan agar jamaah membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keikhlasan, serta menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan persatuan umat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo, Kiai Rosyidi Ajak Jamaah Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah

turba-rutin-mui-margomulyo-kiai-rosyidi-ajak-jamaah-istiqamah-shalat-subuh-berjamah

SUMBERJO, MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan turun ke bawah (TURBA) rutin sebagai upaya memperkuat pembinaan keagamaan dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis malam Jumat, 15 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB, bertempat di Masjid At-Taqwa, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid At-Taqwa dan masyarakat sekitar. Suasana penuh kekhidmatan tampak dalam kegiatan yang menjadi sarana silaturahmi sekaligus pembelajaran keagamaan bagi masyarakat. Melalui program TURBA, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya hadir lebih dekat dengan umat, menyampaikan pesan-pesan keislaman, serta mendorong tumbuhnya kesadaran beragama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiai Ahmad Rosyidi. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema “Fadhilah Orang yang Menjaga Istiqamah Shalat Subuh Berjamaah”. Tema tersebut dipilih untuk mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga konsistensi ibadah, khususnya shalat Subuh yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

Kiai Ahmad Rosyidi menjelaskan bahwa istiqamah merupakan sikap teguh dan konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Menjaga shalat Subuh berjamaah bukan sekadar persoalan melaksanakan kewajiban, melainkan juga bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam mendahulukan perintah Allah di tengah berbagai kesibukan dan tantangan kehidupan.

Dalam ajaran Islam, shalat memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai tiang agama. Rasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap shalat berjamaah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Keutamaan tersebut menjadi motivasi bagi umat Islam untuk membiasakan diri melaksanakan shalat berjamaah, termasuk pada waktu Subuh.

Lebih lanjut, Kiai Ahmad Rosyidi mengajak jamaah agar membangun kebiasaan positif dengan mengatur waktu istirahat, membiasakan bangun lebih awal, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Menurutnya, istiqamah tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan TURBA ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap jamaah semakin termotivasi menjaga shalat Subuh berjamaah dan menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, serta pembinaan umat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ikhtiar mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun masyarakat yang religius, berakhlak mulia, serta istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.

Share:

Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir, Pesan Bu Nyai Sriani

amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-pesan-bu-nyai-sriani
Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan margomulyo

Ngelo, Margomulyo — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu, Ranting Ngelo, Kecamatan Margomulyo, yang dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan bertempat di kediaman Ibu Umiati, Jipangulu, Desa Ngelo.

Kajian rutin tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah, dan memperdalam pemahaman keagamaan bagi para jamaah. Kegiatan diikuti jajaran Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo beserta seluruh anggotanya. Turut hadir Ibu Kepala Desa Ngelo serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Yasin, Tahlil dan Shalawat Mengawali Kajian

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan shalawat Nabi ﷺ secara berjamaah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, kalimat thayyibah, dan shalawat menciptakan suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan melakukan muhasabah.

Majelis seperti ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam amal yang diharapkan memberikan manfaat jauh setelah pertemuan berakhir.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
(QS. Yasin: 12)

Ayat tersebut memberikan sebuah renungan mendalam: manusia tidak hanya meninggalkan amal yang ia kerjakan secara langsung, tetapi juga dapat meninggalkan atsar, yakni jejak dan pengaruh yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi berada di dunia.

Bu Nyai Sriani: Ada Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian dengan tema “Amalan yang Tak Pernah Putus.”

Tema ini mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya adalah kesempatan untuk menanam bekal bagi kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dunia, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa terdapat amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menjadi inti penting dari tema kajian. Ada tiga pintu keberlanjutan pahala yang disebutkan Rasulullah ﷺ.

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya terus diharapkan mengalir selama manfaat tersebut ada.

Bu Nyai Sriani mengajak jamaah untuk tidak hanya berpikir tentang sedekah yang manfaatnya selesai dalam satu waktu, tetapi juga mulai memikirkan amal yang manfaatnya dapat diwariskan kepada masyarakat.

Misalnya membantu pembangunan atau pemeliharaan masjid, menyediakan fasilitas air untuk masyarakat, mewakafkan tanah, menyediakan mushaf Al-Qur'an, mendukung lembaga pendidikan, atau bentuk wakaf lain yang manfaatnya terus dirasakan.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadis tersebut:

مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ عَمَلَ الْمَيِّتِ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِهِ، وَيَنْقَطِعُ تَجَدُّدُ الثَّوَابِ لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبَهَا، فَإِنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، وَكَذَلِكَ الْعِلْمُ الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيمٍ أَوْ تَصْنِيفٍ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ.

“Makna hadis ini adalah bahwa amal orang yang telah meninggal terputus dengan kematiannya dan terputus pula pembaruan pahala baginya, kecuali dalam tiga perkara tersebut, karena ia menjadi sebab adanya perkara-perkara itu. Anak merupakan hasil usahanya, demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran atau karya tulis, dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.”

Penjelasan Imam Nawawi tersebut memberikan pemahaman penting: amal yang terus mengalir biasanya lahir dari sesuatu yang sengaja kita tanam dan bangun selama masih hidup.

2. Ilmu yang Terus Dimanfaatkan

Amalan kedua adalah ilmu yang bermanfaat.

Seseorang mungkin telah meninggal puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi ketika ilmu yang pernah diajarkan masih dipelajari dan diamalkan, manfaat ilmu tersebut tetap hidup.

Seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya, seorang ustaz yang mengajarkan fikih, seorang ibu yang mengajari anaknya membaca doa, atau seseorang yang menulis dan menyebarkan ilmu yang benar, semuanya dapat meninggalkan jejak kebaikan.

Inilah relevansi yang sangat indah dengan kegiatan kajian Muslimat NU. Ilmu yang disampaikan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Jika ilmu itu dipahami, diamalkan, kemudian diajarkan kembali kepada keluarga dan masyarakat, maka manfaatnya dapat berkembang dari satu orang kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)

Karena itu, menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas berkumpul. Ia merupakan investasi akhirat.

3. Mendidik Anak Menjadi Generasi Saleh

Amalan ketiga yang disebut Rasulullah ﷺ adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga mempunyai dimensi akhirat yang sangat panjang.

Mendidik anak bukan hanya agar pandai membaca, mendapatkan pekerjaan, atau sukses secara duniawi. Lebih jauh, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan iman, akhlak, ibadah, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan kemudian mendoakan orang tuanya, hubungan kebaikan itu tidak berhenti pada kematian orang tua.

Doa seorang anak menjadi salah satu bentuk keberlanjutan manfaat dari pendidikan yang telah ditanamkan orang tua selama hidupnya.

Karena itu, tugas seorang ibu sesungguhnya sangat mulia. Rumah tangga dapat menjadi madrasah pertama, dan seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang akan meneruskan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mencari Amal yang Besar

Lebih jauh, Bu Nyai Sriani mengajak jamaah agar tidak terjebak pada anggapan bahwa amal yang bernilai harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

Kadang-kadang amal yang tampak sederhana justru menjadi sebab lahirnya manfaat yang panjang.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an, mengajarkan doa, membantu seseorang memahami ilmu agama, menyumbangkan mushaf, menyediakan air untuk jamaah, membantu pembangunan tempat ibadah, atau mendukung pendidikan anak-anak merupakan contoh bagaimana seseorang dapat menanam atsar kebaikan.

Allah SWT menggambarkan besarnya nilai infak:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat, sebagaimana satu benih dapat menghasilkan banyak bulir.

“Atsar” Kebaikan: Jangan Sampai yang Tertinggal Justru Keburukan

Ayat QS. Yasin: 12 juga mengandung peringatan yang tidak kalah penting. Allah tidak hanya mencatat apa yang kita kerjakan, tetapi juga آثَارَهُمْ — bekas-bekas yang mereka tinggalkan.

Karena itu, setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya:

Ketika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, apa yang akan tertinggal dari diri saya?

Apakah anak-anak yang saleh?

Apakah ilmu yang bermanfaat?

Apakah masjid yang pernah dibantu?

Apakah mushaf yang pernah diberikan?

Apakah seseorang yang pernah kita ajari membaca Al-Qur'an?

Apakah orang miskin yang pernah kita bantu?

Atau justru meninggalkan perkataan yang menyakiti, perselisihan, dan keburukan yang terus dikenang orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan tema kajian “Amalan yang Tak Pernah Putus” bukan hanya materi untuk didengarkan, tetapi juga ajakan untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing.

Menjadikan Majelis Taklim sebagai Ladang Amal

Kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo pada akhirnya memberikan pesan bahwa majelis taklim dapat menjadi salah satu tempat menanam amal yang manfaatnya melampaui waktu.

Ilmu yang disampaikan dapat diamalkan.

Amalan yang diamalkan dapat ditularkan.

Kebaikan yang ditularkan dapat menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan baik yang terus diwariskan dapat menjadi atsar yang tetap hidup meskipun orang yang memulainya telah tiada.

Di sinilah nilai penting kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU. Silaturahmi tidak hanya memperkuat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbanyak ilmu, memperkuat ibadah, dan membangun kepedulian sosial.

Sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah ﷺ, umur manusia boleh berhenti, tetapi manfaat dari kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus berlanjut.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah memperbanyak menanam kebaikan: bersedekah, mengajarkan ilmu, mendidik generasi, membantu sesama, dan membangun amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Sebab manusia mungkin akan meninggalkan dunia, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya dapat terus berjalan dari generasi ke generasi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. 

Share:

Bahaya HIV hingga Fenomena Perempuan Masuk Neraka, Jadi Sorotan TURBA MUI Margomulyo

bahaya-hiv-hingga-fenomena-perempuan-masuk-neraka-jadi-sorotan-turba-mui-margomulyo
Ngatini, S.Pd. Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo

MARGOMULYO – Majelis taklim Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo kembali menggelar kegiatan rutin yang dirangkai dengan TURBA (Turun ke Bawah) MUI Kecamatan Margomulyo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ibu Katin Jipangulu, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Ranting Muslimat NU Ngelo, Pengurus Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Margomulyo, Ibu Kepala Desa, serta anggota Majelis Taklim. Suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ngatini, S.Pd., Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah persoalan penting yang dekat dengan kehidupan masyarakat, di antaranya tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga kehormatan, kesehatan, dan ketahanan keluarga.

Bahaya HIV dan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri

Ngatini mengingatkan bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan yang harus dipahami secara benar dan tidak boleh disikapi dengan stigma terhadap penderitanya. HIV adalah persoalan medis yang membutuhkan pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Dalam konteks kehidupan keluarga, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk sikap bertanggung jawab, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan dan keturunan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Ayat tersebut, jelas Ngatini, tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan tersebut.

Karena itu, menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga keluarga, dan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang sehat secara jasmani sekaligus kuat secara moral.

Namun demikian, ia juga menekankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. Mereka tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan dukungan, pengobatan, serta pendampingan. Pencegahan penyakit harus berjalan bersama dengan sikap kasih sayang dan kemanusiaan.

“Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu”, Lalu Mengapa Banyak Perempuan Masuk Neraka?

Pada bagian lain, Ngatini mengajak jamaah merenungkan kedudukan perempuan, khususnya seorang ibu, dalam Islam.

“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi kenapa banyak wanita yang masuk neraka?” tegas Ngatini dalam tausiyahnya.

Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Seorang perempuan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, terlebih ketika menjadi seorang ibu. Namun kemuliaan tersebut harus diwujudkan melalui iman, ketaatan, akhlak, tanggung jawab, dan amal saleh.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan orang tua. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Bahkan Rasulullah SAW memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seorang ibu. Dalam sebuah hadis tentang seorang sahabat yang hendak berjihad, Rasulullah SAW bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika dijawab masih ada, Nabi SAW bersabda:

فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Maka tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”

Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat mengenai besarnya keutamaan berbakti kepada ibu. Adapun ungkapan populer “الجنة تحت أقدام الأمهات” (surga di bawah telapak kaki ibu) memiliki beberapa jalur riwayat dengan penilaian sanad yang berbeda; karena itu, yang paling aman adalah menyandarkan maknanya kepada hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu yang lebih kuat.

Mengapa Ada Perempuan yang Masuk Neraka?

Ngatini kemudian mengajak jamaah memahami hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dijelaskan salah satu sebab yang disebutkan Nabi SAW, yaitu banyak mencela dan mengingkari kebaikan pasangan. Karena itu, menurut Ngatini, hadis tersebut bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar kaum perempuan melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.

Perempuan yang menjadi ibu, lanjutnya, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tutur kata, kedisiplinan, agama, dan akhlak.

Karena itu, seorang ibu jangan sampai hanya sibuk mengurus kebutuhan lahiriah keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan spiritual keluarga.

Ibu sebagai Madrasah Pertama

Ngatini menegaskan bahwa rumah tangga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu mempunyai posisi penting dalam membentuk karakter generasi.

Seorang ibu yang menjaga salatnya akan memberikan contoh kepada anaknya. Ibu yang membiasakan membaca Al-Qur’an akan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Ibu yang menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan perkataan kasar akan mengajarkan anak tentang akhlak tanpa harus banyak memberikan teori.

Karena itu, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari statusnya sebagai ibu, tetapi juga dari iman, ilmu, akhlak, dan amalnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan semata-mata jenis kelamin, tetapi keimanan dan amal saleh.

Menjaga Lisan, Menjaga Keluarga

Lebih lanjut, Ngatini mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menjaga lisan. Banyak persoalan rumah tangga bermula dari perkataan yang dianggap sepele: mencela pasangan, membuka aib keluarga, membicarakan kekurangan orang lain, hingga membiasakan mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kaum perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar ketika menjelaskan sebab banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka: memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Ngatini kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan majelis taklim bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bermuhasabah, dan memperbaiki diri.

Sebab, lanjutnya, menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah selalu memiliki kemauan untuk belajar, mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki akhlak, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kaidah hikmah yang masyhur disebutkan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kaidah tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Mencegah kerusakan moral, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan diri, dan melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif merupakan bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan penuh keberkahan.

Menutup tausiyahnya, Ngatini mengajak seluruh jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo untuk terus menjaga kekompakan, meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menjadikan majelis taklim sebagai sarana membangun perempuan yang berilmu, berakhlak, sehat, dan mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA MUI Margomulyo tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diakhiri dengan doa bersama. Kehadiran MUI di tengah majelis taklim diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama, organisasi keagamaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di Kecamatan Margomulyo.

Share:

Dari MATA AIR Pluntu, Pesan Syukur dan Keagungan Al-Fatihah Menggema Bersama MUI Margomulyo

Dari-mata-air pluntu-pesan-syukur-dan-keagungan-al-fatihah-menggema-bersama-mui-margomulyo
Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo

MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.

Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah

Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.

Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”

Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.

Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 5–6)

Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.

Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.

Silaturahmi Setelah Kajian

Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.

Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.

Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman