Lamiran, S.Pd.I., S.H. merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap dakwah, pengembangan masyarakat, serta penguatan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat. Beliau berdomisili di Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.
Selain mengemban amanah sebagai Ketua Umum MUI Kecamatan Margomulyo, Lamiran juga dipercaya sebagai Ketua MWCNU Margomulyo. Di luar struktur organisasi formal, beliau aktif sebagai Pengasuh Komunitas SANDAL BAKIYA (Santri Ndalan Bareng Kiyai), sebuah komunitas yang menjadi salah satu ruang untuk mendekatkan kegiatan dakwah dan pembelajaran keagamaan dengan kehidupan masyarakat.
Dengan latar belakang dan pengalaman yang dimiliki, Lamiran memiliki keahlian di bidang web desain dan supranatural. Kemampuan di bidang web desain menjadi bagian dari upaya memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media informasi dan dakwah, sementara aktivitas lainnya menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang beliau jalani.
Filosofi “Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak”
Sebagai kader dakwah, Lamiran memiliki prinsip yang cukup unik dan sarat dengan makna pengabdian:
“Sebagai kader dakwah kita harus siap menjadi Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak.”
Tiga istilah tersebut bukan sekadar permainan kata, melainkan menggambarkan tiga karakter penting yang menurut beliau harus dimiliki oleh seorang kader dakwah: berani berada di depan dalam kebaikan, siap berkorban secara finansial, dan berani memulai kebaikan sekaligus menghadapi risiko perjuangan.
1. Ujung Tombak: Menjadi Pelopor Kebaikan
Ujung tombak menggambarkan seseorang yang berada di barisan paling depan. Dalam konteks dakwah, kader tidak cukup hanya menjadi penonton atau menunggu orang lain memulai. Seorang kader harus memiliki keberanian untuk menjadi pelopor kebaikan.
Menjadi ujung tombak berarti siap mengambil inisiatif ketika melihat persoalan di masyarakat. Ketika ada kegiatan keagamaan yang perlu digerakkan, ia hadir. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan, ia datang. Ketika ada generasi muda yang membutuhkan ruang belajar, ia berusaha membuka jalan.
Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa dakwah membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil peran aktif dalam mengajak kepada kebaikan. Karena itu, seorang kader dakwah harus memiliki keberanian untuk tampil di depan ketika kebaikan membutuhkan penggerak.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Menjadi pelopor kebaikan berarti membuka pintu pahala bagi diri sendiri sekaligus mengantarkan orang lain menuju kebaikan.
2. Ujung Tombok: Siap Berkorban Secara Finansial
Istilah ujung tombok dalam ungkapan ini menggambarkan kesediaan seorang kader untuk mengeluarkan biaya pribadi ketika perjuangan membutuhkan dukungan finansial.
Dakwah tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Ada kalanya sebuah kegiatan membutuhkan biaya, fasilitas, transportasi, konsumsi, perlengkapan, atau kebutuhan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, seorang kader hendaknya memiliki jiwa siap berkorban, tentu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Pengorbanan harta untuk kebaikan mendapatkan perhatian besar dalam Al-Qur'an:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan membutuhkan pengorbanan. Harta yang dimiliki tidak hanya menjadi sarana memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Dalam konteks pengabdian, “ujung tombok” bukan berarti seseorang harus memaksakan diri secara finansial. Maknanya adalah memiliki mental siap berkorban dan tidak selalu menghitung keuntungan pribadi ketika melihat ada kebaikan yang perlu diwujudkan.
Yang lebih utama adalah kemampuan menempatkan harta sebagai sarana khidmat, bukan sebagai tujuan utama kehidupan.
3. Ujung Tembak: Berani Memulai dan Menghadapi Risiko
Istilah ujung tembak menggambarkan keberanian untuk mengambil langkah pertama sekaligus kesiapan menghadapi konsekuensi dari perjuangan.
Dalam kehidupan dakwah, orang yang memulai sebuah kebaikan terkadang tidak langsung mendapatkan apresiasi. Bahkan, tidak jarang orang yang berada di garis depan menghadapi cacian, bullying, salah paham, tuduhan, atau fitnah.
Karena itu, kader dakwah harus memiliki mental yang kuat. Bukan berarti mencari konflik atau sengaja menempatkan diri dalam bahaya, tetapi memiliki keteguhan ketika kebaikan yang dilakukan menghadapi penolakan.
Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ
Seorang kader dakwah harus memahami bahwa jalan kebaikan tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Ada kalanya niat baik disalahpahami. Ada kalanya langkah yang dilakukan justru mendapatkan kritik. Di sinilah diperlukan kesabaran, kedewasaan, dan kemampuan untuk tetap berpegang pada prinsip.
Allah SWT juga berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Ayat tersebut memberikan optimisme bahwa kesungguhan dalam memperjuangkan kebaikan akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah SWT.
Dakwah Bukan Sekadar Kata, tetapi Keteladanan
Tiga prinsip tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: dakwah harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Seorang kader dakwah tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan. Ia juga harus bersedia menjadi orang pertama yang memberikan contoh. Tidak cukup mengajak orang lain bersedekah, tetapi juga memiliki kepedulian untuk berbagi. Tidak cukup mengajak masyarakat menjaga kerukunan, tetapi dirinya harus menjadi teladan dalam menjaga hubungan dengan sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
Pesan ini sangat relevan dengan prinsip “ujung tombak” dan “ujung tembak”: seseorang harus berani memulai kebaikan agar kebaikan tersebut memiliki jalan untuk berkembang.
Kalam Ulama: Ilmu Harus Melahirkan Amal
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal dan kemanfaatan.
Imam Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dikenal dengan ungkapan:
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ
“Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan engkau yang menjaga harta.”
Pesan tersebut dapat menjadi landasan bahwa kader dakwah harus membekali dirinya dengan ilmu, tetapi ilmu tersebut kemudian harus diwujudkan dalam amal nyata.
Sementara itu, Imam al-Ghazali mengingatkan tentang pentingnya keselarasan antara ilmu dan amal. Dalam tradisi pemikiran beliau, ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan tujuan utamanya, sementara amal tanpa ilmu berpotensi kehilangan arah.
Karena itu, kader dakwah idealnya memiliki tiga kekuatan sekaligus: ilmu yang benar, hati yang ikhlas, dan keberanian untuk beramal.
Makna Khidmat: Berjuang Tanpa Menunggu Pengakuan
Pada akhirnya, menjadi kader dakwah berarti belajar untuk memberi sebelum menerima, melayani sebelum dilayani, dan berbuat sebelum menuntut orang lain berbuat.
“Ujung tombak” mengajarkan keberanian menjadi pelopor.
“Ujung tombok” mengajarkan kesiapan berkorban.
“Ujung tembak” mengajarkan keberanian mengambil langkah dan keteguhan menghadapi risiko.
Ketiganya membutuhkan satu fondasi utama, yaitu keikhlasan. Tanpa keikhlasan, keberanian dapat berubah menjadi ambisi, pengorbanan dapat berubah menjadi tuntutan balasan, dan perjuangan dapat berubah menjadi keinginan mendapatkan pengakuan.
Allah SWT mengingatkan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Maka, filosofi “Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak” pada hakikatnya adalah ajakan untuk menjadi kader dakwah yang siap berada di depan, siap berkorban, dan siap menghadapi tantangan, tetapi tetap menjaga niat agar seluruh perjuangan bermuara pada ridha Allah SWT dan kemanfaatan bagi umat.
Identitas Singkat
- Nama: Lamiran, S.Pd.I., S.H.
- Alamat: Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo
- Jabatan di MUI: Ketua Umum
- Jabatan Sosial: Ketua MWCNU Margomulyo; Pengasuh Komunitas SANDAL BAKIYA (Santri Ndalan Bareng Kiyai)
- Bidang Keahlian: Web Desainer dan Supranatural
- Prinsip Dakwah: “Sebagai kader dakwah kita harus siap menjadi Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak.”
- Makna: Ujung Tombak — siap menjadi pelopor kebaikan. Ujung Tombok — siap berkorban secara finansial sesuai kemampuan. Ujung Tembak — siap memulai kebaikan dan menghadapi berbagai risiko perjuangan dengan sabar, ikhlas, dan bertanggung jawab.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar