Margomulyo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turba (Turun ke Bawah) rutin sebagai bentuk silaturahmi sekaligus pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Majelis Taklim Al-Amin Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad, 23 Agustus 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin Kaligede.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap pengurus dan anggota Majelis Taklim Al-Amin, jamaah Masjid Al-Amin, serta tokoh masyarakat setempat. Suasana kajian berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan. Kehadiran MUI Kecamatan Margomulyo melalui program Turba ini menjadi sarana penting untuk semakin mendekatkan ulama dengan umat, memperkuat tali silaturahmi, serta menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Abdul Ghofur selaku Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Mengangkat tema “Semangat Memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Doa untuk Korban Gempa NTT”, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memaknai momentum kemerdekaan dan kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan rasa syukur, memperkokoh persatuan, meneladani perjuangan Rasulullah SAW, serta menumbuhkan kepedulian terhadap saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.
Kemerdekaan sebagai Nikmat yang Wajib Disyukuri
Dalam kajiannya, Abdul Ghofur menyampaikan bahwa kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri dan diisi dengan berbagai amal kebajikan. Perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus berjuang, meskipun bentuk perjuangannya berbeda.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan jiwa, harta, tenaga dan air mata para pejuang harus dijaga dengan rasa syukur. Mensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan mengadakan perayaan, tetapi juga dengan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, kerja keras, menjaga persatuan, memelihara kerukunan, serta berperan aktif dalam membangun bangsa dan masyarakat.
Beliau juga mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Karena itu, semangat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 harus menjadi momentum untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan, melainkan harus menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia yang damai, maju, dan bermartabat.
Meneladani Rasulullah SAW dalam Momentum Maulid Nabi
Tema berikutnya adalah semangat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut Abdul Ghofur, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan mengenal, menghayati, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk memperbarui tekad dalam mengikuti sunnah dan akhlak Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa salah satu bukti cinta kepada Rasulullah SAW adalah berusaha memperbaiki akhlak. Semangat Maulid tidak cukup hanya diwujudkan dalam ungkapan kecintaan melalui lisan, tetapi harus tercermin dalam sikap santun, jujur, amanah, gemar bersedekah, menghormati sesama, dan menjauhi perbuatan yang dapat merusak persaudaraan.
Sebagaimana kalam ulama ahli hikmah:
“Barang siapa mengaku mencintai seseorang, maka akan tampak tanda cintanya dengan mengikuti jalan dan perilaku orang yang dicintainya.”
Maka, mencintai Nabi Muhammad SAW berarti berusaha mengikuti jejak perjuangan dan meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kepedulian dan Doa untuk Korban Gempa NTT
Pada bagian akhir kajian, jamaah juga diajak untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian kepada saudara-saudara yang tertimpa musibah, khususnya korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Musibah yang menimpa saudara sebangsa hendaknya dirasakan sebagai duka bersama, sebab sesama orang beriman adalah saudara yang saling menguatkan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Musibah mengajarkan manusia tentang keterbatasan dan pentingnya saling membantu. Di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian, umat Islam diajarkan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Bantuan dapat diwujudkan melalui doa, tenaga, harta, maupun bentuk kepedulian lainnya sesuai kemampuan.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Sebagaimana pesan para ahli hikmah, “Saudara yang baik bukan hanya hadir ketika kita bahagia, tetapi juga ikut merasakan kesedihan ketika kita sedang tertimpa musibah.” Karena itu, jamaah Majelis Taklim Al-Amin bersama MUI Kecamatan Margomulyo memanjatkan doa agar para korban gempa di NTT diberikan keselamatan, ketabahan, kekuatan, serta segera mendapatkan pertolongan dan kemudahan dalam menghadapi masa-masa sulit.
Melalui kegiatan Turba rutin ini, MUI Kecamatan Margomulyo berharap semangat keagamaan dan kebangsaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Kemerdekaan mengajarkan arti perjuangan dan rasa syukur, Maulid Nabi mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW, sedangkan musibah mengajarkan arti kepedulian dan persaudaraan.
Semoga semangat tersebut terus mengakar dalam kehidupan masyarakat Margomulyo, sehingga tercipta pribadi-pribadi yang kuat imannya, mulia akhlaknya, cinta tanah air, teguh dalam persatuan, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Dengan iman, ilmu, persatuan dan kepedulian, semoga Indonesia di usia kemerdekaannya yang ke-81 semakin maju, damai, sejahtera, dan senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.