MUSDA MUI Margomulyo Tegaskan Peran Strategis Ulama dalam Menjaga Harmoni Masyarakat

Margomulyo – Senin, 18 Mei 2026. Musyawarah Daerah (MUSDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo masa khidmah 2021–2026 sukses dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Pendopo Kecamatan Margomulyo. Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan sebagai forum evaluasi, pertanggungjawaban, sekaligus penyusunan arah perjuangan MUI Kecamatan Margomulyo ke depan.


Kegiatan tersebut dihadiri segenap jajaran Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo, unsur Forpimcam Margomulyo, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, perwakilan pondok pesantren, perwakilan Pengurus MUI Desa dari enam desa se-Kecamatan Margomulyo, serta sekitar 10 orang delegasi Pengurus MUI Kabupaten Bojonegoro.


Acara dipandu oleh Sekretaris MUI Kecamatan Margomulyo, Syaifudin, S.H., selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ahmad Rifa’i, kemudian dilanjutkan sambutan panitia oleh Tri Maryono yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya MUSDA dengan lancar serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, terkhusus kepada Camat Margomulyo yang telah memberikan fasilititas dan mendukung secara penuh pendanaan kegiatan MUSDA MUI Kecamatan Margomulyo kali ini.

Memasuki agenda inti, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Lamiran, S.Pd.I., S.H., menyampaikan sambutan sekaligus laporan pertanggungjawaban (SPJ) kepengurusan masa khidmah 2021–2026. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa MUI merupakan rumah besar umat Islam yang menjadi wadah para ulama, zu’ama, dan cendekiawan muslim dalam menjaga ukhuwah serta membimbing umat menuju Islam yang rahmatan lil ‘alamin.


Beliau juga memaparkan berbagai capaian program kerja selama satu periode kepengurusan, di antaranya berhasil mewujudkan kepengurusan MUI tingkat desa di enam desa se-Kecamatan Margomulyo, aktif melaksanakan safari dakwah di puluhan majelis taklim, penyebaran dakwah digital melalui website dan kanal media sosial MUI, sosialisasi sertifikasi halal bagi pelaku UMKM, hingga program pembinaan keluarga sakinah dan penyuluhan pencegahan stunting serta pernikahan dini.


Selain itu, Ketua MUI juga menyampaikan bahwa selama masa kepengurusan, sinergitas dengan unsur pemerintah dan Forkopimcam terus terjalin dengan baik. MUI Kecamatan Margomulyo secara aktif hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial, maupun koordinasi lintas sektor sebagai bentuk pengabdian kepada umat dan bangsa.


Dalam laporan penutupnya, Ketua MUI menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama menjalankan amanah organisasi serta berharap kepengurusan yang akan datang mampu membawa MUI Kecamatan Margomulyo menjadi lebih baik, lebih solid, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sementara itu, Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta MUSDA dan tim MUI Kabupaten Bojonegoro. Beliau memberikan apresiasi positif atas berbagai capaian dan kontribusi MUI Kecamatan Margomulyo selama satu periode terakhir.


Menurut beliau, MUI telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat, serta membangun harmonisasi di tengah kehidupan bermasyarakat. Camat Margomulyo juga berharap agar pada periode mendatang, MUI Kecamatan Margomulyo dapat semakin maju, inovatif, dan terus memperkuat sinergi antara ulama, umara, serta seluruh elemen masyarakat demi terciptanya kehidupan yang aman, damai, religius, dan harmonis.

Acara selanjutnya adalah pembinaan yang disampaikan oleh Ketua MUI Kabupaten Bojonegoro, KH. Alamul Huda Musyhur. Dalam arahannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi atas berbagai capaian dan kiprah Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo selama masa khidmah 2021–2026.


Menurut beliau, MUI Kecamatan Margomulyo telah menunjukkan peran aktif dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat, memperkuat sinergitas dengan pemerintah, serta menjaga kondusifitas umat di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Berbagai program dakwah, pembinaan umat, pemberdayaan keluarga, hingga penguatan kelembagaan MUI desa dinilai sebagai langkah positif yang perlu terus dikembangkan.


KH. Alamul Huda Musyhur yang akrab disapa Gus Huda juga berharap agar pada periode mendatang MUI Kecamatan Margomulyo mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas program kerja, baik dalam bidang dakwah, pendidikan umat, penguatan ekonomi syariah, maupun pembinaan generasi muda Islam. Beliau menegaskan bahwa siapapun nantinya yang terpilih sebagai Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, diharapkan mampu menjaga amanah organisasi, memperkuat kebersamaan lintas ormas Islam, serta terus menjadi perekat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut, Gus Huda secara resmi membuka jalannya Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kecamatan Margomulyo. Suasana forum berlangsung penuh khidmat dan semangat musyawarah untuk mufakat sebagai bagian dari proses regenerasi kepemimpinan organisasi ulama di tingkat kecamatan.


Sebagai penutup rangkaian kegiatan pembukaan, Gus Huda juga berkenan memimpin doa bersama. Dengan penuh khusyuk, seluruh peserta MUSDA menengadahkan tangan, memohon keberkahan, kelancaran, serta hasil terbaik bagi perjalanan MUI Kecamatan Margomulyo ke depan agar senantiasa mampu menjadi pelayan umat, penjaga moral bangsa, dan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang religius, damai, dan harmonis.


Seusai rangkaian ceremonial opening MUSDA, kendali jalannya persidangan selanjutnya diambil alih oleh Tim MUI Kabupaten Bojonegoro untuk memimpin agenda inti Musyawarah Daerah secara resmi dan terstruktur sesuai mekanisme organisasi.


Agenda pertama dalam sidang MUSDA adalah pembacaan keputusan demisioner terhadap jajaran Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo masa khidmah 2021–2026, sekaligus pembahasan dan pengambilan keputusan terkait diterima atau tidaknya laporan pertanggungjawaban kepengurusan yang telah disampaikan sebelumnya oleh Ketua MUI Kecamatan Margomulyo.


Setelah melalui forum musyawarah, seluruh peserta MUSDA secara aklamasi menyatakan menerima laporan pertanggungjawaban pengurus MUI Kecamatan Margomulyo periode 2021–2026. Keputusan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi, pengabdian, dan capaian program kerja yang telah dijalankan selama satu periode kepengurusan.

Tim Formatur Terpilih

Agenda berikutnya adalah pembentukan Tim Formatur sebanyak sembilan orang yang berasal dari berbagai unsur organisasi dan tokoh masyarakat sebagai representasi kebersamaan serta keterwakilan seluruh elemen umat Islam di Kecamatan Margomulyo. Tim Formatur tersebut terdiri dari unsur pengurus sebelumnya, dewan pertimbangan, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan ormas Islam, unsur perempuan, dan perwakilan pondok pesantren.


Adapun susunan Tim Formatur yang telah ditetapkan dalam forum MUSDA yaitu:


1. Nuryanto

2. Lamiran, S.Pd.I., S.H.

3. Syaifudin, S.H.

4. Eko Sunarno

5. Tri Maryono, S.A.P.

6. Kuslan, S.H.

7. Huda Afrianto, S.Ag.

8. Rukmiati

9. Risy’af Muafi, M.Pd.I.


Setelah ditetapkan, sembilan orang Tim Formatur tersebut melaksanakan sidang tertutup yang bertempat di lantai dua ruang PKK Kecamatan Margomulyo guna menentukan Ketua dan Sekretaris Formatur. Dalam sidang internal tersebut akhirnya disepakati dan ditetapkan Huda Afrianto sebagai Ketua Formatur dan Tri Maryono, S.A.P. sebagai Sekretaris Formatur.


Ketua dan Sekretaris Formatur selanjutnya bertugas memimpin jalannya sidang pemilihan Ketua Dewan Pertimbangan dan Ketua Umum Harian MUI Kecamatan Margomulyo untuk masa khidmah berikutnya.

Ketua dan Sekretaris Formatur

Dalam sidang yang dipimpin oleh Pak Huda — sapaan akrab Huda Afrianto, S.Ag. — proses pemilihan berlangsung penuh kekeluargaan, musyawarah, dan semangat persatuan. Setelah melalui berbagai pertimbangan serta masukan dari anggota formatur, forum akhirnya secara aklamasi kembali memilih Lamiran, S.Pd.I., S.H. sebagai Ketua Umum Harian MUI Kecamatan Margomulyo, sedangkan Imam Suparji ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo.


Keputusan tersebut disambut positif oleh seluruh peserta MUSDA sebagai bentuk kesinambungan kepemimpinan dan harapan agar MUI Kecamatan Margomulyo semakin solid, progresif, dan mampu menjawab tantangan umat di masa mendatang.


Dengan berakhirnya seluruh rangkaian Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kecamatan Margomulyo Tahun 2026, diharapkan kepengurusan baru yang telah terbentuk mampu melanjutkan estafet perjuangan organisasi dengan semangat pengabdian, keikhlasan, dan kebersamaan. Sinergi antara ulama, umara, tokoh masyarakat, pondok pesantren, serta seluruh elemen umat Islam menjadi modal penting dalam menjaga kerukunan, memperkuat dakwah, dan membangun kehidupan masyarakat yang religius serta harmonis di Kecamatan Margomulyo.


MUSDA ini bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan, melainkan momentum memperkuat ukhuwah dan konsolidasi umat demi terwujudnya MUI yang semakin responsif, adaptif, dan hadir di tengah masyarakat sebagai pelayan umat serta mitra strategis pemerintah. Dengan semangat musyawarah dan persatuan yang telah ditunjukkan selama forum berlangsung, MUI Kecamatan Margomulyo diharapkan terus menjadi rumah besar umat Islam yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Share:

Menghidupkan Semangat Keislaman, Kajian Rutin Al-Amin Kaligede Disambut Antusias Jamaah

Margomulyo – Ahad, 17 Mei 2026. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin yang dilaksanakan di Masjid Al-Amin Kaligede, Desa Margomulyo, pada Ahad, 17 Mei 2026 mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat setempat.

Kajian rutin tersebut dihadiri oleh segenap jamaah Muslimat NU, tokoh masyarakat, serta tokoh agama di lingkungan Desa Margomulyo. Kehadiran para jamaah menunjukkan antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi keilmuan dan majelis dzikir yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga Nahdliyin.

Hadir sebagai penceramah, Syaifudin, S.H. selaku Sekretaris MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema “Pentingnya Mensyukuri Nikmat Iman dan Islam.” Tema tersebut disampaikan dengan bahasa yang ringan namun sarat makna, sehingga mudah dipahami oleh seluruh jamaah yang hadir.

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa nikmat iman dan Islam merupakan karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa menjaga keimanan dengan memperbanyak ibadah, memperkuat akhlak, serta menjaga persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat.

Beliau juga mengingatkan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, namun harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah SWT, kepedulian sosial, dan semangat menjaga tradisi keagamaan yang baik. Menurutnya, majelis ilmu seperti kajian rutin ini menjadi salah satu bentuk nyata dalam merawat iman sekaligus memperkuat hubungan antarwarga.

Kegiatan berlangsung dengan tertib, hangat, dan penuh kekeluargaan. Para jamaah tampak mengikuti rangkaian acara dengan penuh perhatian hingga kegiatan selesai. Diharapkan, melalui kajian rutin semacam ini, semangat keagamaan masyarakat semakin tumbuh serta mampu memperkuat nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah kehidupan bermasyarakat.

Di akhir kegiatan, para jamaah bersama-sama memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa, keberkahan masyarakat Desa Margomulyo, serta kemajuan umat Islam agar senantiasa diberikan kekuatan dalam menjaga persatuan dan nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Momentum kajian rutin tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarjamaah dan tokoh masyarakat. Suasana kebersamaan yang terbangun di lingkungan Masjid Al-Amin Kaligede diharapkan mampu memperkokoh semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan.

Pengurus kegiatan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jamaah, tokoh agama, serta masyarakat yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya acara dengan lancar dan penuh kekhidmatan. Mereka berharap kajian rutin ini dapat terus istiqamah dilaksanakan sebagai sarana menebar ilmu, memperkuat iman, dan menjaga tradisi keislaman yang moderat dan menyejukkan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Masjid Al-Amin Kaligede kembali menunjukkan perannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai pusat pembinaan umat, penguatan akhlak, serta ruang membangun persaudaraan dan harmoni di tengah masyarakat.

Share:

“Sinergi Ulama dan Umara Menguat: MUSDA MUI Margomulyo ke-IV Dimajukan, Persiapan Kian di Matangkan”

Margomulyo - Senin, 4 Mei 2026. Koordinasi pelaksanaan Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kecamatan Margomulyo berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pertemuan tersebut dilaksanakan di ruang kerja Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, S.STP., MM, sebagai bentuk sinergi antara pemerintah kecamatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Hadir dalam kegiatan ini tim pengurus MUI Kecamatan Margomulyo yang dipimpin langsung oleh Kiai Badrun Sulaiman, didampingi oleh Sekretaris dan Bendahara MUI. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, dengan fokus utama pada pematangan rencana pelaksanaan MUSDA MUI ke-IV di Kecamatan Margomulyo.

Dalam agenda pembahasan, disampaikan bahwa jadwal pelaksanaan MUSDA yang semula direncanakan pada tanggal 27 Mei 2026 bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1447 H (Bertepatan dengan Idul Adha), perlu ditinjau kembali. Selain itu, dibahas pula berbagai aspek teknis, termasuk fasilitasi pelaksanaan kegiatan agar dapat berjalan dengan lancar dan optimal.

Hasil dari koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama antara Camat Margomulyo dan tim MUI untuk memajukan jadwal pelaksanaan MUSDA menjadi tanggal 18 Mei 2026, Jam 09.00 bertempat di pendopo kecamatan margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, Camat Margomulyo menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh serta siap memfasilitasi seluruh kebutuhan demi suksesnya pelaksanaan MUSDA MUI ke-IV di wilayah Kecamatan Margomulyo.

Usai pertemuan, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo segera melakukan koordinasi lanjutan dengan tim MUI tingkat kabupaten serta Koordinator Lapangan (Korlab) MUI Bojonegoro Barat guna memastikan kesiapan dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan sesuai dengan hasil kesepakatan.

Koordinasi yang telah terjalin ini diharapkan tidak hanya memastikan kelancaran pelaksanaan MUSDA, tetapi juga mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang bermanfaat bagi penguatan peran MUI di tengah masyarakat. Dengan dimajukannya jadwal pelaksanaan, seluruh pihak terkait diharapkan dapat segera melakukan penyesuaian dan percepatan persiapan, baik dari sisi administratif, teknis, maupun substansi acara.

Lebih lanjut, dukungan penuh dari Pemerintah Kecamatan Margomulyo menjadi faktor penting dalam menciptakan pelaksanaan MUSDA yang tertib, lancar, dan berkualitas. Sinergi antara ulama dan umara ini diharapkan dapat terus terjaga, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan di wilayah Kecamatan Margomulyo.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi antara MUI dan pemerintah kecamatan, sekaligus menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung kelancaran agenda organisasi keagamaan di tingkat daerah.

Share:

Kajian Rutin Malam Sabtu Pahing di Masjid Baitur Rohman Teguhkan Nilai Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Margomulyo — Jumat, 23 April 2026. Kegiatan kajian rutin Malam Sabtu Pahing kembali dilaksanakan di Masjid Baitur Rohman, Desa Tepus, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat, 23 April 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh seluruh jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang secara konsisten melakukan pembinaan keagamaan melalui kunjungan langsung ke majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal dan tradisi masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan kontekstual.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Jumari selaku takmir Masjid Baitur Rohman. Suasana khidmat yang tercipta menjadi pengantar bagi jamaah dalam mempersiapkan diri mengikuti kajian inti.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjalin silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, serta menjauhi sifat dendam terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk membersihkan hati dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.

“Silaturahmi dan sikap saling memaafkan adalah kunci terciptanya kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Tidak ada tempat bagi dendam dalam hati seorang mukmin,” ungkap beliau di hadapan jamaah.

Melalui kegiatan kajian rutin ini, diharapkan nilai-nilai keislaman yang menyejukkan dapat terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat. Program MUI Margomulyo ini juga menjadi wujud nyata komitmen dalam mempererat ukhuwah Islamiyah serta membangun kehidupan sosial yang harmonis dan berlandaskan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

==============================

 Reaktualisasi Silaturahmi, Saling Ridha Memaafkan, dan Pengendalian Dendam pada Momentum Idul Fitri 1447 H

Abstrak
Artikel ini mengkaji tiga pilar etika sosial Islam—silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, dan pengendalian dendam—dalam konteks momentum Idul Fitri 1447 H. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, tulisan ini menegaskan bahwa ketiganya merupakan instrumen strategis untuk menghasilkan keberkahan hidup, baik pada ranah individual maupun sosial. Idul Fitri diposisikan sebagai fase recalibration spiritual yang menuntut transformasi dari simbolik menuju praksis berkelanjutan.

Kata Kunci: Silaturahmi, Ridha, Dendam, Idul Fitri, Keberkahan, Etika Sosial Islam


Pendahuluan

Idul Fitri bukan sekadar perayaan ritual pasca-Ramadhan, melainkan momentum rekonstruksi moral dan sosial. Dalam kerangka ini, tiga nilai utama—menyambung silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, dan meniadakan dendam—menjadi indikator keberhasilan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Problematika yang sering muncul adalah reduksi nilai-nilai tersebut menjadi formalitas tahunan tanpa internalisasi yang berkelanjutan.


Landasan Teologis

Perintah menjaga silaturahmi memiliki basis kuat dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Larangan memutus hubungan ditegaskan sebagai bentuk kerusakan sosial:

وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ 

(QS. Muhammad: 22)

Sementara itu, etika memaafkan dan berlapang dada ditegaskan:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS. An-Nur: 22)

Hadis Nabi ﷺ memperjelas korelasi silaturahmi dengan keberkahan hidup:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
(HR. Bukhari dan Muslim)


Silaturahmi: Infrastruktur Sosial Keberkahan

Silaturahmi berfungsi sebagai social infrastructure dalam Islam. Ia membangun jaringan kepercayaan (trust network) yang menopang solidaritas, distribusi bantuan, dan stabilitas komunitas. Keberkahan yang dihasilkan bersifat multidimensional:

  • Spiritual: memperkuat keimanan melalui amal sosial.
  • Psikologis: menumbuhkan ketenangan dan rasa keterhubungan.
  • Sosial-ekonomis: membuka akses kolaborasi dan saling tolong-menolong (ta’awun).

Ridha dalam Memaafkan: Transformasi Emosi ke Kebajikan

Konsep ridha dalam memaafkan melampaui sekadar ucapan verbal; ia menuntut penerimaan batin tanpa residu kebencian. Dalam perspektif etika Islam, memaafkan yang disertai ridha adalah bentuk ihsan—level kebajikan tertinggi yang mengubah luka menjadi nilai.

Praktik ini berdampak pada:

  • Reduksi konflik laten
  • Pemulihan relasi yang rusak
  • Penguatan integritas moral individu

Dendam sebagai Patologi Moral

Dendam (ghill) merupakan penyakit hati yang menghambat aliran keberkahan. Ia menciptakan siklus permusuhan dan menggerus kohesi sosial. Dalam perspektif tasawuf, dendam adalah penghalang utama menuju qalbun salim (hati yang selamat).

Dampak sistemiknya meliputi:

  • Polarisasi sosial
  • Hilangnya kepercayaan
  • Normalisasi perilaku balas dendam

Oleh karena itu, pengendalian dendam bukan sekadar pilihan etis, tetapi kebutuhan struktural bagi stabilitas masyarakat.


Idul Fitri 1447 H: Momentum Reaktualisasi

Idul Fitri 1447 H harus dimaknai sebagai titik balik (turning point) untuk mengintegrasikan ketiga nilai tersebut secara berkelanjutan. Tradisi saling bermaafan perlu ditransformasikan menjadi komitmen praksis:

  1. Proaktif menyambung relasi yang terputus
  2. Memaafkan secara total dengan ridha
  3. Mengeliminasi dendam melalui refleksi dan doa
  4. Memelihara komunikasi berkelanjutan pasca-Idul Fitri

Dengan demikian, Idul Fitri tidak berhenti sebagai ritus tahunan, tetapi menjadi mekanisme pembaruan sosial.


Kesimpulan

Menjalin silaturahmi, saling ridha memaafkan, dan tidak mendendam merupakan triadik etika Islam yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Ketiganya menjadi fondasi terciptanya keberkahan hidup, baik pada dimensi individual maupun kolektif. Momentum Idul Fitri 1447 H menghadirkan peluang strategis untuk mereaktualisasi nilai-nilai tersebut secara substantif. Implementasi konsisten dari ketiganya akan melahirkan masyarakat yang harmonis, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.


Rekomendasi
Diperlukan penguatan edukasi keagamaan berbasis komunitas yang menekankan internalisasi nilai silaturahmi dan pemaafan, serta pembinaan spiritual yang berkelanjutan agar transformasi moral tidak berhenti pada momentum seremonial, tetapi menjadi budaya hidup umat Islam.

Share:

Kajian Rutin Malam Rabu Wage di Musholla Nurul Hidayah Perkuat Nilai Silaturahmi dan Keikhlasan Umat


Margomulyo — Selasa, 21 April 2026. Kegiatan kajian rutin Malam Rabu Wage kembali digelar di Musholla Nurul Hidayah, Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Selasa, 21 April 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh seluruh jamaah musholla, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo dalam upaya memperkuat pembinaan keagamaan melalui kunjungan langsung ke majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan tradisi dan jadwal masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani yang dipimpin oleh Kiyai Jamin selaku takmir Musholla Nurul Hidayah. Suasana religius yang tercipta dari pembacaan manakib tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah pada kesiapan spiritual dalam mengikuti kajian inti.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi serta menjauhi sifat dendam terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah hendaknya dimaknai sebagai titik awal untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan membangun kembali hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

“Silaturahmi dan sikap saling memaafkan merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Tidak ada ruang bagi dendam dalam hati seorang mukmin,” tegas beliau di hadapan jamaah.

Melalui kegiatan kajian rutin ini, diharapkan nilai-nilai keislaman yang menyejukkan dan membangun dapat terus tertanam dalam kehidupan masyarakat. Program MUI Margomulyo ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah kehidupan umat.

======================================

Silaturahmi dan Pengendalian Dendam: Pilar Etika Sosial dalam Islam

Pendahuluan
Islam menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian integral dari kesempurnaan iman. Dua nilai kunci yang saling terkait dalam konteks ini adalah silaturahmi (menyambung hubungan) dan pengendalian dendam (ghill). Keduanya bukan sekadar norma sosial, melainkan mandat syariat yang berdampak langsung pada kualitas spiritual individu dan stabilitas sosial. Artikel ini mengurai urgensi menjalin silaturahmi serta meninggalkan dendam, dengan landasan nash dan implikasi praksisnya.


Landasan Normatif: Perintah Menyambung, Larangan Memutus

Al-Qur’an menegaskan kewajiban menjaga relasi kekerabatan dan melarang pemutusannya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Dalam ayat lain, Allah mencela pemutus silaturahmi sebagai bentuk kerusakan sosial:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Sementara itu, Islam secara tegas mendorong pembersihan hati dari dendam. Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS. An-Nur: 22)

Hadis Nabi ﷺ juga menegaskan dampak langsung silaturahmi terhadap keberkahan hidup:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Silaturahmi sebagai Instrumen Keberkahan

Secara teologis, silaturahmi adalah ibadah sosial yang menghasilkan barakah—peningkatan kualitas dan keberlanjutan kebaikan. Keberkahan ini termanifestasi dalam tiga ranah:

  1. Spiritual: hati lebih lapang, ibadah lebih khusyuk, dan terjaga dari penyakit hati.
  2. Psikologis: berkurangnya stres sosial, meningkatnya rasa memiliki (sense of belonging).
  3. Sosial-ekonomis: terbukanya jejaring tolong-menolong (ta’awun) yang memperlancar rezeki.

Dengan demikian, silaturahmi bukan aktivitas seremonial, tetapi mekanisme etis yang memperkuat ekosistem kebaikan.


Dendam sebagai Penyakit Hati dan Disfungsi Sosial

Dendam (ghill) adalah residu emosi negatif yang menggerogoti integritas batin. Dalam perspektif tasawuf, dendam menghalangi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karena memelihara kebencian dan keinginan membalas.

Dampaknya tidak hanya personal, tetapi juga sosial:

  • Eskalasi konflik: dendam memperpanjang siklus permusuhan.
  • Disintegrasi komunitas: melemahkan kepercayaan dan solidaritas.
  • Distorsi moral: membenarkan tindakan balasan yang melampaui batas.

Karena itu, Islam menempatkan ‘afw (memaafkan) dan shafh (berlapang dada) sebagai solusi kuratif sekaligus preventif.


Integrasi Nilai: Silaturahmi Tanpa Dendam

Silaturahmi yang otentik mensyaratkan pembersihan hati dari dendam. Tanpa itu, relasi hanya bersifat formal, tidak menghasilkan keberkahan. Integrasi keduanya tampak dalam beberapa prinsip operasional:

  1. Proaktif menyambung relasi: tidak menunggu pihak lain memulai.
  2. Memaafkan tanpa syarat: memutus siklus balas-membalas.
  3. Tabayyun dan dialog: menyelesaikan kesalahpahaman secara adil.
  4. Doa dan husnuzan: menjaga prasangka baik sebagai fondasi relasi.

Nabi ﷺ memberikan standar etika yang tinggi: bukan sekadar membalas kebaikan, tetapi tetap menyambung hubungan meski diputus oleh pihak lain.


Relevansi Kontekstual: Momentum Idul Fitri

Idul Fitri merupakan momen strategis untuk rekalibrasi relasi sosial. Tradisi saling bermaafan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus berlanjut pada komitmen konkret: menghapus dendam, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat jaringan silaturahmi secara berkelanjutan.


Penutup

Menjalin silaturahmi dan meninggalkan dendam adalah dua sisi dari satu etika Islam yang sama: membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Pada level individu, keduanya menyucikan jiwa dan menumbuhkan ketenangan. Pada level sosial, keduanya menjadi fondasi kohesi dan harmoni. Implementasi konsisten dari nilai-nilai ini bukan hanya ketaatan normatif, tetapi investasi jangka panjang bagi peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan.

Share:

Kajian Rutin Malam Sabtu Kliwon Perkuat Silaturahmi Umat di Masjid Baiturrohim Batang

Margomulyo — 17 April 2026. Suasana religius dan penuh kebersamaan terasa kental dalam kegiatan kajian rutin Malam Sabtu Kliwon yang diselenggarakan di Masjid Baiturrohim, Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat malam, 17 April 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB ini dihadiri oleh seluruh jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo dalam rangka menyapa dan menguatkan majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan jadwal dan tradisi masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih efektif dan kontekstual.

Acara diawali dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani yang dipimpin oleh Kiyai Suwardi selaku takmir Masjid Baiturrohim. Lantunan manakib yang khidmat tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah pada suasana spiritual sebelum memasuki sesi inti kajian.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menitikberatkan pada pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Islam. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperkuat ukhuwah, saling memaafkan, dan membangun kembali harmoni sosial di tengah masyarakat.

“Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi merupakan ajaran utama dalam Islam yang memiliki dampak besar terhadap keberkahan hidup, baik secara individu maupun sosial,” ujar beliau di hadapan jamaah.

Kegiatan kajian rutin ini diharapkan dapat terus menjadi sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan masyarakat, sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Dengan adanya program turun ke majelis taklim seperti ini, MUI Margomulyo berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai penguat nilai-nilai keislaman yang moderat dan membumi.

======================

Silaturahmi sebagai Ajaran Fundamental dalam Islam dan Implikasinya terhadap Keberkahan Hidup

Abstrak
Silaturahmi dalam Islam tidak sekadar dipahami sebagai tradisi sosial, melainkan sebagai ajaran normatif yang memiliki landasan teologis kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep silaturahmi sebagai instrumen pembentuk keberkahan hidup, baik pada dimensi individual maupun sosial. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, tulisan ini menegaskan bahwa silaturahmi memiliki implikasi luas dalam membangun harmoni sosial, memperpanjang umur dalam makna keberkahan, serta memperluas rezeki.

Kata Kunci: Silaturahmi, Keberkahan, Ukhuwah Islamiyah, Etika Sosial, Islam


Pendahuluan

Dalam khazanah ajaran Islam, hubungan antarmanusia (hablun minannas) memiliki posisi yang tidak kalah penting dibanding hubungan dengan Allah (hablun minallah). Salah satu manifestasi utama dari hablun minannas adalah silaturahmi. Namun, dalam praktik sosial, silaturahmi kerap direduksi menjadi sekadar aktivitas seremonial, khususnya pada momen-momen tertentu seperti Idul Fitri. Padahal, secara substansial, silaturahmi merupakan ajaran inti yang mengandung dimensi ibadah dan sosial sekaligus.


Landasan Teologis Silaturahmi

Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk menjaga hubungan kekerabatan dan melarang pemutusannya. Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.”
(QS. An-Nisa: 1)

Selain itu, dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ disebutkan:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa silaturahmi bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah syar’i yang memiliki konsekuensi spiritual.


Dimensi Individual: Silaturahmi dan Keberkahan Personal

Pada tataran individual, silaturahmi berimplikasi langsung terhadap kualitas kehidupan spiritual dan material seseorang. Keberkahan yang dimaksud dalam hadis tidak semata-mata bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif, yakni ketenangan batin, kemudahan dalam urusan, serta keberlanjutan kebaikan dalam hidup.

Silaturahmi juga berfungsi sebagai sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dengan menjalin hubungan baik, seseorang dilatih untuk menumbuhkan sikap rendah hati, empati, dan kemampuan memaafkan. Nilai-nilai ini merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter Muslim yang paripurna.


Dimensi Sosial: Silaturahmi sebagai Pilar Harmoni Masyarakat

Dalam konteks sosial, silaturahmi memiliki peran strategis dalam menciptakan kohesi sosial (social cohesion). Masyarakat yang dibangun atas dasar hubungan yang harmonis cenderung memiliki tingkat konflik yang rendah dan solidaritas yang tinggi.

Silaturahmi juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis kultural-religius. Tradisi saling mengunjungi, berdialog, dan memaafkan menjadi sarana efektif untuk meredam potensi disintegrasi sosial. Dalam perspektif sosiologi Islam, silaturahmi memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah secara simultan.


Reaktualisasi Silaturahmi di Era Modern

Di era digital dan individualistik saat ini, praktik silaturahmi menghadapi tantangan berupa menurunnya intensitas interaksi langsung dan meningkatnya relasi yang bersifat virtual. Oleh karena itu, diperlukan reaktualisasi makna silaturahmi agar tetap relevan tanpa kehilangan esensi.

Silaturahmi tidak harus selalu berbentuk pertemuan fisik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui komunikasi yang bermakna, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata terhadap kesejahteraan sesama. Namun demikian, interaksi langsung tetap memiliki nilai spiritual dan emosional yang tidak tergantikan.


Kesimpulan

Silaturahmi dalam Islam merupakan ajaran fundamental yang memiliki dimensi ibadah dan sosial sekaligus. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan instrumen strategis dalam mewujudkan keberkahan hidup. Pada level individual, silaturahmi meningkatkan kualitas spiritual dan kesejahteraan personal. Sementara pada level sosial, ia berperan sebagai perekat harmoni dan stabilitas masyarakat.

Oleh karena itu, menjadikan silaturahmi sebagai budaya hidup bukan hanya bentuk ketaatan kepada ajaran Islam, tetapi juga investasi jangka panjang bagi terciptanya kehidupan yang penuh keberkahan, kedamaian, dan keberlanjutan nilai-nilai kemanusiaan.

Share:

Pengajian Rutin Muslimat NU Kaligede: Meneguhkan Makna Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Seorang Muslim

 


Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kaligede kembali menggelar kegiatan pengajian rutin yang berlangsung khidmat dan penuh makna pada Ahad, 4 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin Kaligede, Desa Margomulyo.

Pengajian rutin tersebut diikuti oleh segenap jamaah Masjid Al-Amin serta para anggota Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede. Kehadiran jamaah yang cukup antusias menunjukkan besarnya semangat masyarakat dalam memperdalam pemahaman keislaman sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah di lingkungan desa.

Puncak acara pengajian diisi dengan kajian rutin yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema Urgensi Peringatan Isra’ Mi’raj dan Korelasinya dalam Kehidupan Seorang Muslim. Tema ini dipilih sebagai pengingat pentingnya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai tonggak spiritual dalam ajaran Islam.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan momentum untuk merefleksikan kualitas keimanan dan ketaatan seorang muslim, khususnya dalam menegakkan shalat sebagai ibadah utama yang langsung diperintahkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Menurut beliau, nilai-nilai Isra’ Mi’raj harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dalam hubungan sosial kemasyarakatan (hablum minannas).

Pengajian berlangsung dengan suasana yang tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak menyimak dengan seksama setiap pesan yang disampaikan, serta berharap agar nilai-nilai spiritual dari peringatan Isra’ Mi’raj dapat semakin menguatkan keimanan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pengajian rutin ini diharapkan terus menjadi sarana pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, sekaligus memperkokoh peran Majelis Taklim Muslimat NU sebagai wadah dakwah dan pemberdayaan umat di Desa Margomulyo.

Share:

“Menghidupkan Isra’ Mi’raj di Musholla Nurul Hidayah: Sholat sebagai Jalan Spiritualitas dan Kesalehan Sosial”


Musholla Nurul Hidayah Dusun Batang, Desa Margomulyo, kembali menggelar kegiatan rutin keagamaan pada Selasa malam, 06 Januari 2026, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap malam Rabu Wage ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme jamaah.

Acara diikuti oleh jamaah Musholla Nurul Hidayah serta dihadiri tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan ini mencerminkan kuatnya semangat ukhuwah Islamiyah serta kepedulian terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan di lingkungan Dusun Batang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat Isya’ berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani. Suasana religius semakin terasa dengan lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW yang menggema di dalam musholla. Puncak acara diisi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo.

Dalam mauidhohnya, Kiyai Badrun menyampaikan pesan-pesan moral dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Beliau menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj tidak hanya membawa perintah ibadah mahdhah berupa kewajiban sholat lima waktu, tetapi juga mengandung pesan kuat tentang pentingnya ibadah sosial. Menurutnya, sholat yang benar harus mampu membentuk pribadi yang peduli, berakhlak mulia, serta memiliki kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Rutinan malam Rabu Wage kali ini secara khusus dirangkai dengan peringatan Isra’ Mi’raj, sebagai momentum refleksi bersama bagi jamaah untuk memperkuat kualitas ibadah sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Diharapkan melalui kegiatan ini, nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung dalam ajaran Islam dapat semakin terinternalisasi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan rutinan ini, Musholla Nurul Hidayah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Tradisi keagamaan yang terus dijaga secara konsisten menjadi sarana efektif dalam menanamkan pemahaman agama yang moderat, menyejukkan, serta relevan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Para jamaah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap agar rutinan malam Rabu Wage terus istiqamah dilaksanakan. Selain sebagai wahana peningkatan keimanan dan ketakwaan, kegiatan ini juga menjadi media silaturahmi yang mempererat hubungan antarjamaah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat.

Dengan adanya peringatan Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam kegiatan rutinan, jamaah diajak untuk semakin menyadari bahwa ajaran Islam tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga menuntut pengamalan nilai-nilai sosial seperti kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Dusun Batang, Desa Margomulyo.

Share:

Kajian Rutin MATA AIR di Masjid At-Thohir, Perkuat Spirit Ibadah Ritual dan Sosial dalam Momentum Isra’ Mi’raj

 


Majelis Taklim At-Thohir (MATA AIR) kembali menggelar kajian rutin yang berlangsung khidmat pada Rabu malam, 24 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, mulai pukul 20.00 hingga 23.30 WIB.

Kajian rutin tersebut dihadiri oleh segenap jamaah, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini mencerminkan kuatnya antusiasme dan kepedulian umat dalam mengikuti kegiatan keagamaan yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil yang berlangsung khusyuk, dilanjutkan dengan lantunan sholawat Al-Barzanji yang menambah suasana religius dan penuh ketenangan. Puncak acara diisi dengan kajian rutin yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun memaparkan makna mendalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, khususnya terkait turunnya perintah sholat. Beliau menegaskan bahwa sholat tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga mengandung konsekuensi ibadah sosial. Menurutnya, sholat seharusnya mampu membentuk pribadi yang berakhlak, peduli terhadap sesama, serta berperan aktif dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Kandungan utama dari perintah sholat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bagaimana sholat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta mendorong pelakunya untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya di hadapan jamaah.

Kegiatan ini selain merupakan kajian rutin Majelis Taklim At-Thohir yang dilaksanakan setiap malam Kamis Kliwon, juga diniatkan sebagai peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah semakin memahami esensi ibadah secara utuh, baik dalam dimensi ritual maupun sosial, serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Kajian Rutin Musholla Nurul Hidayah Batang Kulon Berlangsung Khidmat dan Penuh Keberkahan

Kegiatan Kajian Rutin di Musholla Nurul Hidayah Batang Kulon, Desa Margomulyo kembali digelar dengan penuh kekhidmatan pada Selasa, 02 Desember 2025. Acara yang dimulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB ini diikuti oleh segenap jamaah musholla, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar yang antusias hadir untuk menyimak rangkaian agenda keagamaan tersebut.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma’ânî yang dipimpin langsung oleh Kiyai Jamin, selaku takmir Musholla Nurul Hidayah. Suasana malam semakin syahdu ketika lantunan manakib menggema, membawa para jamaah pada ketenangan hati dan kekhusyukan dalam mengingat keteladanan para wali Allah.

Memasuki sesi inti, acara dilanjutkan dengan kajian Kitab Manakib yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam penyampaiannya, beliau menguraikan nilai-nilai luhur dari sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, khususnya tentang keteguhan beliau dalam menjaga amal ibadah secara konsisten. Kiyai Badrun menekankan bahwa komitmen Syekh Abdul Qadir dalam ketakwaan dan kedisiplinan beribadah menjadi teladan yang relevan untuk dijadikan pegangan hidup umat Islam masa kini.

Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keteguhan iman bagi seluruh jamaah. Acara berlangsung hangat hingga sesi ramah tamah, sebagai wujud mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga dan jamaah musholla.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semakin memperkokoh semangat keagamaan serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap majelis ilmu dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga Musholla Nurul Hidayah terus menjadi pusat kegiatan spiritual yang membawa keberkahan bagi Desa Margomulyo dan sekitarnya.

Share:

TURBA Kajian Rutin Majelis Taklim Baiturrohim: Meneguhkan Rasa Syukur di Tengah Ujian Bangsa


Margomulyo – Tradisi keagamaan masyarakat Dusun Batang kembali hidup dengan penuh kekhidmatan melalui kegiatan TURBA Kajian Rutin yang digelar pada Jumat malam Sabtu, 28 November 2025. Bertempat di Masjid Baiturrohim, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 20.30 hingga 22.00 WIB ini menjadi bagian dari agenda selapanan warga, yang dikenal dengan sebutan Lapanan Malam Setu Kliwon. Tradisi ini telah menjadi ruang spiritual warga untuk memperdalam pemahaman agama setiap 35 hari sekali.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani yang dipimpin oleh Kiai Suwardi, salah satu tokoh agama setempat yang dihormati. Lantunan doa dan pujian yang dibacakan bersama jamaah menghadirkan suasana religius yang menyejukkan. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiai Jamin, takmir Masjid Baiturrohman, sebagai bentuk doa bersama untuk para leluhur dan kesejahteraan umat.

Memasuki acara inti, suasana masjid semakin khidmat ketika Kiai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan mauidlah hasanah. Dalam kajiannya, beliau menekankan pentingnya mensyukuri nikmat Allah di tengah maraknya bencana yang sedang melanda berbagai wilayah di Indonesia.

“Kita hidup di zaman yang penuh ujian. Musibah datang silih berganti, namun jangan sampai membuat kita lalai dari nikmat yang tetap Allah limpahkan,” ujar Kiai Badrun di hadapan jamaah. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur bukan hanya diwujudkan lewat ucapan, tetapi juga melalui kepedulian, persatuan, dan peningkatan kualitas ibadah.

Beliau menekankan bahwa musibah seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas sosial. “Di balik setiap ujian, selalu ada hikmah yang perlu kita renungkan. Maka menjaga syukur adalah kunci agar hati tetap lapang dan iman tetap kokoh,” tambahnya.

Setelah acara selesai, Kiai Badrun meluangkan waktu untuk beramah tamah bersama para tokoh masyarakat dan jamaah. Momen ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat, mempererat hubungan antara ulama dan masyarakat, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan.

Kegiatan TURBA selapanan di Majelis Taklim Baiturrohim ini kembali menjadi wahana penyegaran spiritual bagi warga Dusun Batang. Dengan perpaduan antara tradisi, ilmu, dan kebersamaan, kegiatan ini diharapkan terus menjadi pilar keagamaan yang memperkokoh iman dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

Share:

Kyai Badrun Sulaiman: “Wakaf Adalah Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial”

 

Jum'at legi, 2 Mei 2025 – Dusun Tepus, Margomulyo, Bojonegoro

Dalam suasana penuh kekhidmatan pasca Idul Fitri, Majlis Dzikir dan Sholawat Jama’ah Sabtu Pahing kembali menggelar kegiatan rutin bertempat di Dusun Tepus, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jumat malam Sabtu Pahing (02/05/2025). Tampak hadir para jama’ah dengan balutan busana muslim sederhana dan bersahaja, duduk khusyuk menyimak tausiyah utama dari Kyai Badrun Sulaiman yang menyampaikan materi bertema “Wakaf sebagai Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial.”

Dalam backdrop bertuliskan “Ngaji Bareng Kyai Badrun Sulaiman – Jama’ah Sabtu Pahing”, Kyai Badrun memulai dengan mengingatkan makna Idul Fitri sebagai titik balik penyucian diri, baik secara spiritual maupun sosial. Menurut beliau, “Kembali ke fitrah itu bukan hanya soal bersih dari dosa pribadi, tetapi juga kembali kepada sifat peduli terhadap sesama, menumbuhkan keadilan, dan membangun solidaritas di tengah umat.”

Kyai Badrun menegaskan bahwa wakaf adalah salah satu instrumen penting yang mampu menjembatani nilai ibadah dan fungsi sosial. “Wakaf bukan sekadar sedekah yang habis dikonsumsi, tapi ia membangun peradaban. Ia bisa menjadi sekolah, klinik, kios usaha, sawah produktif, bahkan koperasi umat,” ungkap beliau dengan penuh semangat.

Beliau juga mengajak para jama’ah untuk mulai melihat potensi lokal yang bisa diwakafkan, tidak harus besar, tapi bermanfaat. “Kalau tidak bisa mewakafkan tanah, wakafkan pikiran dan keahlianmu. Wakafkan tenagamu untuk membangun ekonomi umat,” ajaknya, disambut anggukan jama’ah yang terinspirasi.

Kegiatan ditutup dengan dzikir dan sholawat bersama, serta komitmen membentuk tim kecil pengelola wakaf produktif berbasis jama’ah Sabtu Pahing.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: “Wakaf sebagai Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial”

Disampaikan oleh: Kyai Badrun Sulaiman
Waktu: Jumat Malam Sabtu Pahing, 2 Mei 2025
Tempat: Majlis Jama’ah Sabtu Pahing – Dusun Tepus, Margomulyo


1. Pembukaan

  • Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tapi momentum penyucian diri dan jiwa sosial.

  • Fitrah spiritual → kembali kepada Allah.
    Fitrah sosial → kembali pada kepedulian dan keadilan.


2. Wakaf: Ibadah Berbasis Sosial

  • Wakaf bukan ibadah tertutup, melainkan solusi terbuka bagi persoalan umat.

  • Wakaf adalah investasi abadi — pahalanya terus mengalir selama manfaatnya ada.

  • QS. Ali Imran: 92 “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…”


3. Peran Wakaf dalam Memulihkan Fitrah Sosial

  • Wakaf dapat mengatasi ketimpangan ekonomi.

  • Wakaf bisa memberdayakan UMKM, pondok pesantren, dan masyarakat pinggiran.

  • Wakaf membuka ruang partisipasi umat, tidak hanya dermawan.


4. Wujud Konkret Wakaf Sosial

  • Tanah wakaf untuk pertanian bersama → hasil panen untuk dhuafa.

  • Wakaf alat produksi bagi pemuda → untuk membuka lapangan kerja.

  • Wakaf pendidikan: Beasiswa, madrasah, pengadaan kitab.


5. Ajakan dan Aksi Nyata

  • Mulai dari yang kecil: Wakaf Al-Qur’an, tikar masjid, alat pengeras suara.

  • Bentuk Tim Nazir Masjid atau Jama’ah Sabtu Pahing untuk wakaf produktif.

  • Libatkan generasi muda dalam pengelolaan wakaf.


“Fitrah bukan hanya tentang baju baru dan ampunan, tapi tentang bangkitnya nurani sosial. Wakaf adalah jalannya.” – Kyai Badrun Sulaiman

Share:

MUIM TV

Jumlah Pengunjung

Popular Posts

Label