Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi

MUI Margomulyo Matangkan Persiapan Pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi

MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo terus mematangkan persiapan menuju pengukuhan pengurus komisi-komisi. Hal tersebut dibahas dalam rapat persiapan yang digelar pada Jumat, 2 Oktober 2026, bertempat di Sekretariat MUI Kecamatan Margomulyo.

Rapat berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 14.45 WIB dan dihadiri jajaran Pengurus Harian serta Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo. Pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi untuk memastikan seluruh rangkaian agenda pengukuhan dapat dipersiapkan secara matang, tertib, dan berjalan sesuai rencana.

Dalam rapat tersebut, peserta menyepakati sejumlah hal penting terkait pelaksanaan pengukuhan. Salah satunya adalah penetapan Tri Maryono, S.A.P. sebagai Ketua Panitia Pelaksana, sedangkan posisi sekretaris dipercayakan kepada Syaifuddin, S.H.

Selain itu, untuk memastikan kesiapan seluruh pihak yang terlibat, sebelum pelaksanaan pengukuhan akan digelar gladi bersih. Langkah tersebut diharapkan dapat mematangkan teknis pelaksanaan sekaligus meminimalkan kendala pada saat acara berlangsung.

Berdasarkan hasil kesepakatan rapat, pengukuhan pengurus komisi-komisi MUI Kecamatan Margomulyo dijadwalkan pada Senin, 12 Oktober 2026. Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mengoptimalkan peran masing-masing komisi dalam mendukung program dan khidmah MUI di tengah masyarakat.

Melalui persiapan yang dilakukan secara bersama-sama, MUI Kecamatan Margomulyo berkomitmen agar proses pengukuhan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi titik awal penguatan kerja organisasi dan sinergi antarunsur kepengurusan dalam menjalankan amanah umat.

Share:

Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir, Pesan Bu Nyai Sriani

amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-pesan-bu-nyai-sriani
Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan margomulyo

Ngelo, Margomulyo — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu, Ranting Ngelo, Kecamatan Margomulyo, yang dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan bertempat di kediaman Ibu Umiati, Jipangulu, Desa Ngelo.

Kajian rutin tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah, dan memperdalam pemahaman keagamaan bagi para jamaah. Kegiatan diikuti jajaran Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo beserta seluruh anggotanya. Turut hadir Ibu Kepala Desa Ngelo serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Yasin, Tahlil dan Shalawat Mengawali Kajian

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan shalawat Nabi ﷺ secara berjamaah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, kalimat thayyibah, dan shalawat menciptakan suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan melakukan muhasabah.

Majelis seperti ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam amal yang diharapkan memberikan manfaat jauh setelah pertemuan berakhir.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
(QS. Yasin: 12)

Ayat tersebut memberikan sebuah renungan mendalam: manusia tidak hanya meninggalkan amal yang ia kerjakan secara langsung, tetapi juga dapat meninggalkan atsar, yakni jejak dan pengaruh yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi berada di dunia.

Bu Nyai Sriani: Ada Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian dengan tema “Amalan yang Tak Pernah Putus.”

Tema ini mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya adalah kesempatan untuk menanam bekal bagi kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dunia, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa terdapat amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menjadi inti penting dari tema kajian. Ada tiga pintu keberlanjutan pahala yang disebutkan Rasulullah ﷺ.

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya terus diharapkan mengalir selama manfaat tersebut ada.

Bu Nyai Sriani mengajak jamaah untuk tidak hanya berpikir tentang sedekah yang manfaatnya selesai dalam satu waktu, tetapi juga mulai memikirkan amal yang manfaatnya dapat diwariskan kepada masyarakat.

Misalnya membantu pembangunan atau pemeliharaan masjid, menyediakan fasilitas air untuk masyarakat, mewakafkan tanah, menyediakan mushaf Al-Qur'an, mendukung lembaga pendidikan, atau bentuk wakaf lain yang manfaatnya terus dirasakan.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadis tersebut:

مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ عَمَلَ الْمَيِّتِ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِهِ، وَيَنْقَطِعُ تَجَدُّدُ الثَّوَابِ لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبَهَا، فَإِنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، وَكَذَلِكَ الْعِلْمُ الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيمٍ أَوْ تَصْنِيفٍ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ.

“Makna hadis ini adalah bahwa amal orang yang telah meninggal terputus dengan kematiannya dan terputus pula pembaruan pahala baginya, kecuali dalam tiga perkara tersebut, karena ia menjadi sebab adanya perkara-perkara itu. Anak merupakan hasil usahanya, demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran atau karya tulis, dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.”

Penjelasan Imam Nawawi tersebut memberikan pemahaman penting: amal yang terus mengalir biasanya lahir dari sesuatu yang sengaja kita tanam dan bangun selama masih hidup.

2. Ilmu yang Terus Dimanfaatkan

Amalan kedua adalah ilmu yang bermanfaat.

Seseorang mungkin telah meninggal puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi ketika ilmu yang pernah diajarkan masih dipelajari dan diamalkan, manfaat ilmu tersebut tetap hidup.

Seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya, seorang ustaz yang mengajarkan fikih, seorang ibu yang mengajari anaknya membaca doa, atau seseorang yang menulis dan menyebarkan ilmu yang benar, semuanya dapat meninggalkan jejak kebaikan.

Inilah relevansi yang sangat indah dengan kegiatan kajian Muslimat NU. Ilmu yang disampaikan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Jika ilmu itu dipahami, diamalkan, kemudian diajarkan kembali kepada keluarga dan masyarakat, maka manfaatnya dapat berkembang dari satu orang kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)

Karena itu, menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas berkumpul. Ia merupakan investasi akhirat.

3. Mendidik Anak Menjadi Generasi Saleh

Amalan ketiga yang disebut Rasulullah ﷺ adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga mempunyai dimensi akhirat yang sangat panjang.

Mendidik anak bukan hanya agar pandai membaca, mendapatkan pekerjaan, atau sukses secara duniawi. Lebih jauh, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan iman, akhlak, ibadah, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan kemudian mendoakan orang tuanya, hubungan kebaikan itu tidak berhenti pada kematian orang tua.

Doa seorang anak menjadi salah satu bentuk keberlanjutan manfaat dari pendidikan yang telah ditanamkan orang tua selama hidupnya.

Karena itu, tugas seorang ibu sesungguhnya sangat mulia. Rumah tangga dapat menjadi madrasah pertama, dan seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang akan meneruskan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mencari Amal yang Besar

Lebih jauh, Bu Nyai Sriani mengajak jamaah agar tidak terjebak pada anggapan bahwa amal yang bernilai harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

Kadang-kadang amal yang tampak sederhana justru menjadi sebab lahirnya manfaat yang panjang.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an, mengajarkan doa, membantu seseorang memahami ilmu agama, menyumbangkan mushaf, menyediakan air untuk jamaah, membantu pembangunan tempat ibadah, atau mendukung pendidikan anak-anak merupakan contoh bagaimana seseorang dapat menanam atsar kebaikan.

Allah SWT menggambarkan besarnya nilai infak:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat, sebagaimana satu benih dapat menghasilkan banyak bulir.

“Atsar” Kebaikan: Jangan Sampai yang Tertinggal Justru Keburukan

Ayat QS. Yasin: 12 juga mengandung peringatan yang tidak kalah penting. Allah tidak hanya mencatat apa yang kita kerjakan, tetapi juga آثَارَهُمْ — bekas-bekas yang mereka tinggalkan.

Karena itu, setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya:

Ketika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, apa yang akan tertinggal dari diri saya?

Apakah anak-anak yang saleh?

Apakah ilmu yang bermanfaat?

Apakah masjid yang pernah dibantu?

Apakah mushaf yang pernah diberikan?

Apakah seseorang yang pernah kita ajari membaca Al-Qur'an?

Apakah orang miskin yang pernah kita bantu?

Atau justru meninggalkan perkataan yang menyakiti, perselisihan, dan keburukan yang terus dikenang orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan tema kajian “Amalan yang Tak Pernah Putus” bukan hanya materi untuk didengarkan, tetapi juga ajakan untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing.

Menjadikan Majelis Taklim sebagai Ladang Amal

Kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo pada akhirnya memberikan pesan bahwa majelis taklim dapat menjadi salah satu tempat menanam amal yang manfaatnya melampaui waktu.

Ilmu yang disampaikan dapat diamalkan.

Amalan yang diamalkan dapat ditularkan.

Kebaikan yang ditularkan dapat menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan baik yang terus diwariskan dapat menjadi atsar yang tetap hidup meskipun orang yang memulainya telah tiada.

Di sinilah nilai penting kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU. Silaturahmi tidak hanya memperkuat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbanyak ilmu, memperkuat ibadah, dan membangun kepedulian sosial.

Sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah ﷺ, umur manusia boleh berhenti, tetapi manfaat dari kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus berlanjut.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah memperbanyak menanam kebaikan: bersedekah, mengajarkan ilmu, mendidik generasi, membantu sesama, dan membangun amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Sebab manusia mungkin akan meninggalkan dunia, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya dapat terus berjalan dari generasi ke generasi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. 

Share:

Bahaya HIV hingga Fenomena Perempuan Masuk Neraka, Jadi Sorotan TURBA MUI Margomulyo

bahaya-hiv-hingga-fenomena-perempuan-masuk-neraka-jadi-sorotan-turba-mui-margomulyo
Ngatini, S.Pd. Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo

MARGOMULYO – Majelis taklim Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo kembali menggelar kegiatan rutin yang dirangkai dengan TURBA (Turun ke Bawah) MUI Kecamatan Margomulyo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ibu Katin Jipangulu, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Ranting Muslimat NU Ngelo, Pengurus Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Margomulyo, Ibu Kepala Desa, serta anggota Majelis Taklim. Suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ngatini, S.Pd., Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah persoalan penting yang dekat dengan kehidupan masyarakat, di antaranya tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga kehormatan, kesehatan, dan ketahanan keluarga.

Bahaya HIV dan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri

Ngatini mengingatkan bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan yang harus dipahami secara benar dan tidak boleh disikapi dengan stigma terhadap penderitanya. HIV adalah persoalan medis yang membutuhkan pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Dalam konteks kehidupan keluarga, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk sikap bertanggung jawab, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan dan keturunan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Ayat tersebut, jelas Ngatini, tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan tersebut.

Karena itu, menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga keluarga, dan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang sehat secara jasmani sekaligus kuat secara moral.

Namun demikian, ia juga menekankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. Mereka tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan dukungan, pengobatan, serta pendampingan. Pencegahan penyakit harus berjalan bersama dengan sikap kasih sayang dan kemanusiaan.

“Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu”, Lalu Mengapa Banyak Perempuan Masuk Neraka?

Pada bagian lain, Ngatini mengajak jamaah merenungkan kedudukan perempuan, khususnya seorang ibu, dalam Islam.

“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi kenapa banyak wanita yang masuk neraka?” tegas Ngatini dalam tausiyahnya.

Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Seorang perempuan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, terlebih ketika menjadi seorang ibu. Namun kemuliaan tersebut harus diwujudkan melalui iman, ketaatan, akhlak, tanggung jawab, dan amal saleh.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan orang tua. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Bahkan Rasulullah SAW memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seorang ibu. Dalam sebuah hadis tentang seorang sahabat yang hendak berjihad, Rasulullah SAW bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika dijawab masih ada, Nabi SAW bersabda:

فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Maka tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”

Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat mengenai besarnya keutamaan berbakti kepada ibu. Adapun ungkapan populer “الجنة تحت أقدام الأمهات” (surga di bawah telapak kaki ibu) memiliki beberapa jalur riwayat dengan penilaian sanad yang berbeda; karena itu, yang paling aman adalah menyandarkan maknanya kepada hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu yang lebih kuat.

Mengapa Ada Perempuan yang Masuk Neraka?

Ngatini kemudian mengajak jamaah memahami hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dijelaskan salah satu sebab yang disebutkan Nabi SAW, yaitu banyak mencela dan mengingkari kebaikan pasangan. Karena itu, menurut Ngatini, hadis tersebut bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar kaum perempuan melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.

Perempuan yang menjadi ibu, lanjutnya, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tutur kata, kedisiplinan, agama, dan akhlak.

Karena itu, seorang ibu jangan sampai hanya sibuk mengurus kebutuhan lahiriah keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan spiritual keluarga.

Ibu sebagai Madrasah Pertama

Ngatini menegaskan bahwa rumah tangga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu mempunyai posisi penting dalam membentuk karakter generasi.

Seorang ibu yang menjaga salatnya akan memberikan contoh kepada anaknya. Ibu yang membiasakan membaca Al-Qur’an akan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Ibu yang menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan perkataan kasar akan mengajarkan anak tentang akhlak tanpa harus banyak memberikan teori.

Karena itu, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari statusnya sebagai ibu, tetapi juga dari iman, ilmu, akhlak, dan amalnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan semata-mata jenis kelamin, tetapi keimanan dan amal saleh.

Menjaga Lisan, Menjaga Keluarga

Lebih lanjut, Ngatini mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menjaga lisan. Banyak persoalan rumah tangga bermula dari perkataan yang dianggap sepele: mencela pasangan, membuka aib keluarga, membicarakan kekurangan orang lain, hingga membiasakan mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kaum perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar ketika menjelaskan sebab banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka: memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Ngatini kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan majelis taklim bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bermuhasabah, dan memperbaiki diri.

Sebab, lanjutnya, menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah selalu memiliki kemauan untuk belajar, mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki akhlak, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kaidah hikmah yang masyhur disebutkan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kaidah tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Mencegah kerusakan moral, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan diri, dan melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif merupakan bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan penuh keberkahan.

Menutup tausiyahnya, Ngatini mengajak seluruh jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo untuk terus menjaga kekompakan, meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menjadikan majelis taklim sebagai sarana membangun perempuan yang berilmu, berakhlak, sehat, dan mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA MUI Margomulyo tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diakhiri dengan doa bersama. Kehadiran MUI di tengah majelis taklim diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama, organisasi keagamaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di Kecamatan Margomulyo.

Share:

Dari MATA AIR Pluntu, Pesan Syukur dan Keagungan Al-Fatihah Menggema Bersama MUI Margomulyo

Dari-mata-air pluntu-pesan-syukur-dan-keagungan-al-fatihah-menggema-bersama-mui-margomulyo
Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo

MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.

Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah

Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.

Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”

Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.

Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 5–6)

Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.

Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.

Silaturahmi Setelah Kajian

Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.

Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.

Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Share:

MUI Margomulyo Koordinasi dengan Camat, Matangkan Persiapan Pengukuhan Komisi-Komisi

mui-margomulyo-koordinasi-camat-persiapan-pengukuhan-komisi
MUI Margomulyo koordinasi dengan Camat Joko Tri Cahyono terkait persiapan pengukuhan Komisi-Komisi MUI pada 12 Oktober 2026.

Margomulyo, 29 September 2026 — Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, jajaran MUI Kecamatan Margomulyo melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Margomulyo, Selasa (29/9/2026).

Koordinasi tersebut berlangsung di Ruang Camat Margomulyo pada pukul 10.30–11.15 WIB. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, bersama Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, Huda Afrianto, S.Ag. Keduanya diterima langsung oleh Camat Margomulyo, Joko Tri Cahyono, SSTP.

MUI Laporkan Persiapan Pengukuhan

Dalam pertemuan tersebut, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo menyampaikan laporan sekaligus koordinasi mengenai rencana pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo.

Disampaikan bahwa kegiatan pengukuhan dijadwalkan akan dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2026. Sebagai bagian dari persiapan, panitia terlebih dahulu akan menggelar rapat pada Jumat, 2 Oktober 2026. Rapat tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mematangkan berbagai kebutuhan teknis maupun administratif menjelang pelaksanaan pengukuhan.

Selain itu, panitia juga telah menjadwalkan geladi bersih peserta pengukuhan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Geladi bersih ini menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh rangkaian acara dapat berjalan tertib, khidmat, dan sesuai dengan susunan acara yang telah dipersiapkan.

Camat Siap Mendukung Penuh

Menanggapi laporan dan rencana tersebut, Camat Margomulyo Joko Tri Cahyono, SSTP. menyampaikan apresiasi terhadap berbagai persiapan yang telah dilakukan oleh MUI Kecamatan Margomulyo.

Pemerintah Kecamatan Margomulyo, menurut Camat, siap memberikan dukungan penuh demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo.

Tidak hanya dukungan secara moral dan kelembagaan, Camat Margomulyo juga menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pelaksanaan pengukuhan di Pendopo Kecamatan Margomulyo, termasuk menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan tersebut.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara MUI Kecamatan Margomulyo dengan Pemerintah Kecamatan. Kolaborasi antara lembaga keagamaan dan pemerintah di tingkat kecamatan diharapkan dapat terus diperkuat dalam rangka mendukung pembinaan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di wilayah Margomulyo.

Memperkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah

Koordinasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya komunikasi dan sinergi antara MUI Kecamatan Margomulyo, KUA Kecamatan Margomulyo, dan Pemerintah Kecamatan Margomulyo dalam menjalankan peran masing-masing di tengah masyarakat.

Dengan adanya dukungan dan fasilitasi dari Pemerintah Kecamatan Margomulyo, seluruh rangkaian persiapan pengukuhan diharapkan dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya, panitia akan melakukan pematangan persiapan melalui rapat pada 2 Oktober, dilanjutkan geladi bersih pada 8 Oktober, hingga pelaksanaan pengukuhan pada 12 Oktober 2026.

Semangat kebersamaan dan koordinasi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi kepengurusan Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo dalam menjalankan amanah, memperkuat pelayanan keumatan, serta berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat Margomulyo yang religius, harmonis, dan berkemajuan.

Share:

Turba Rutin MUI Margomulyo Hadir di Majelis Taklim Dusun Mojosari, Jamaah Diingatkan tentang Dahsyatnya Padang Mahsyar

turba-rutin-mui-margomulyo-hadir-di-majelis-taklim-dusun-mojosari-jamaah-diingatkan-tentang-dahsyatnya-padang-mahsyar
Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo

Margomulyo — Majelis taklim di Dusun Mojosari, Desa Sumberjo, menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Turba (turun ke bawah) rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo pada Ahad, 27 September 2026. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di kediaman Ibu Mini, dengan diikuti oleh segenap anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo.

Kegiatan Turba menjadi salah satu sarana MUI Kecamatan Margomulyo untuk membangun silaturahmi secara langsung dengan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang diharapkan dapat menambah wawasan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut Ibu Sunarmini, S.Pd., anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi yang mengajak jamaah untuk merenungkan kehidupan manusia setelah kematian, khususnya mengenai kondisi manusia ketika berada di Padang Mahsyar.

Mengingat Dahsyatnya Kehidupan di Padang Mahsyar

Dalam penyampaiannya, Ibu Sunarmini mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya merupakan tempat untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Salah satu fase yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di Padang Mahsyar, tempat manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan dari alam kubur.

Gambaran tentang Padang Mahsyar disampaikan sebagai sebuah kondisi yang sangat dahsyat. Pada saat itu, manusia akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia guna memperbaiki amal yang telah dilakukan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak terlena dengan kehidupan dunia. Kesibukan mencari rezeki, mengurus keluarga, menjalankan pekerjaan, maupun berbagai aktivitas kehidupan hendaknya tetap diiringi dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Karena itu, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, manusia perlu senantiasa melakukan muhasabah, memperbaiki diri, memperbanyak amal kebajikan, serta menjauhi berbagai perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri di kehidupan akhirat.

Turba sebagai Sarana Silaturahmi dan Penguatan Keagamaan

Selain menjadi forum penyampaian materi keagamaan, kegiatan Turba MUI Margomulyo di Dusun Mojosari juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara jajaran MUI dengan masyarakat.

Kehadiran anggota majelis taklim serta jajaran Muslimat dan Fatayat NU Sumberjo menunjukkan semangat bersama dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Forum seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat menambah pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan semangat berkhidmat.

Melalui kegiatan Turba yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo terus berupaya hadir di tengah masyarakat, mendengarkan berbagai dinamika yang berkembang sekaligus memberikan penguatan keagamaan.

Pesan tentang dahsyatnya Padang Mahsyar yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diharapkan menjadi bahan renungan bagi seluruh jamaah untuk semakin memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.

Dengan demikian, kegiatan Turba tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi semata, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun masyarakat yang semakin religius, peduli, dan memiliki kesadaran kuat terhadap tanggung jawab kehidupan dunia dan akhirat.

Share:

TURBA MUI Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin, Perkuat Semangat Syukur dalam Kehidupan

turba-mui-margomulyo-di-majelis-taklim-al-amin-perkuat-semangat-syukur-dalam-kehidupan
Syaifudin, S.H. Wakil Ketua MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) sebagai bagian dari ikhtiar mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan TURBA kali ini berlangsung dalam rutinan Majelis Taklim Al Amin, bertempat di Masjid Al Amin, Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WIB hingga selesai tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Hadir dalam kegiatan itu segenap jajaran Pengurus Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Margomulyo, serta Pengurus Ranting NU Margomulyo.

Kehadiran berbagai unsur organisasi keagamaan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat. Selain menjadi forum silaturahmi, kegiatan rutinan Majelis Taklim Al Amin juga menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman dan menguatkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Ustadz Syaifudin, S.H., hadir sekaligus menyampaikan tausiyah kepada para jamaah. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk memahami makna syukur secara lebih luas dan tidak berhenti hanya pada ucapan.

Menurut Ustadz Syaifudin, hakikat syukur setidaknya mencakup beberapa aspek penting. Pertama, Ma'rifatul Jinan atau syukur bil qalbi, yakni mengenali dan menyadari berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT melalui hati. Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk memahami bahwa setiap nikmat yang diterima pada hakikatnya merupakan karunia dari Allah SWT.

Kedua, Dzikrun bil lisan, yaitu mengungkapkan rasa syukur melalui lisan. Salah satunya dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah dan menyebut berbagai nikmat Allah dengan penuh kesadaran dan ketulusan.

Ketiga, Amalun bil arkan, yakni mewujudkan rasa syukur melalui perbuatan. Nikmat yang diberikan Allah hendaknya digunakan untuk melakukan kebaikan, beribadah, membantu sesama, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Syukur tidak cukup hanya dirasakan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi juga harus diwujudkan dalam amal perbuatan,” pesan Ustadz Syaifudin dalam tausiyahnya.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan jamaah bahwa salah satu bentuk syukur yang penting adalah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kehidupan dunia merupakan kesempatan bagi setiap manusia untuk mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar setiap nikmat yang diterima tidak hanya dinikmati untuk kepentingan duniawi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Amin diharapkan dapat terus memperkuat jalinan silaturahmi antara MUI, Nahdlatul Ulama, badan otonom, majelis taklim, dan masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, pembinaan keagamaan di tingkat masyarakat diharapkan semakin hidup dan mampu memberikan manfaat nyata bagi jamaah.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban hingga selesai. Semangat kebersamaan dan pesan tentang pentingnya bersyukur diharapkan dapat menjadi bekal bagi seluruh jamaah untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta senantiasa berorientasi pada kebaikan dan kehidupan akhirat.

Share:

TURBA Rutin MUI Margomulyo Digelar di Majelis Taklim Al Qodar, Ajak Jamaah Perbanyak Syukur

turba-rutin-mui-margomulyo-digelar-di-majelis-taklim-al-qodar-ajak-jamaah-perbanyak-syukur
M. Miran, QR., M.H.I. Anggota Dewan pertimbangan MUI Kec. Margomulyo

Margomulyo, 27 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi keagamaan bersama masyarakat. Kegiatan kali ini dilaksanakan di Majelis Taklim (MT) Al Qodar, Dusun Kalimojo RT 003 RW 001, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Ahad (27/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh seluruh anggota Majelis Taklim Al Qodar serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Kehadiran MUI Kecamatan Margomulyo mendapat sambutan hangat dari jamaah yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Bapak Miran, QR., M.H.I., selaku Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut beliau, nikmat Allah SWT tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang sering kali dianggap biasa, seperti kemampuan untuk tersenyum dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, juga merupakan bentuk nikmat yang patut disyukuri.

“Setiap senyum kita yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain, itu adalah nikmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri,” pesan Miran kepada jamaah.

Ia menambahkan, membiasakan diri untuk bersyukur dapat membentuk pribadi yang lebih positif dalam menjalani kehidupan. Rasa syukur juga menjadi salah satu cara untuk menyadari bahwa setiap keadaan yang dialami manusia selalu memiliki nilai dan hikmah yang patut direnungkan.

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Majelis Taklim Al Qodar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat. Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin, MUI dapat semakin dekat dengan jamaah dan masyarakat sekaligus mendengarkan berbagai dinamika kehidupan keagamaan di tingkat akar rumput.

Kegiatan kemudian berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan hingga selesai. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan dapat terus dipelihara sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam meningkatkan kehidupan keagamaan masyarakat Kecamatan Margomulyo.

Share:

Dari Masjid Al-Amin Kaligede, MUI Margomulyo Ajak Umat Tidak Menunda Taubat

dari-masjid-al-amin-kaligede-mui-margomulyo-ajak-umat-tidak-menunda-taubat
Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo Abdul Ghofur menyampaikan tausiyah dalam kegiatan TURBA rutin MUI Kecamatan Margomulyo di Masjid Al-Amin Kaligede, Ahad (20/9/2026).

MARGOMULYO, Ahad 20 September 2026.  — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan berlangsung pada Ahad (20/9/2026) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin, Kaligede, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut diikuti oleh segenap jamaah Masjid Al-Amin, pengurus majelis taklim, serta tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan TURBA menjadi salah satu ruang bagi MUI Kecamatan Margomulyo untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain sebagai sarana silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi forum penyampaian pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan umat sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Abdul Ghofur, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema “Memperbanyak Syukur dan Istighfar serta Taubat dari Semua Dosa.”

Syukur atas Nikmat Allah

Dalam penyampaiannya, Abdul Ghofur mengajak jamaah untuk memperbanyak rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT. Menurutnya, manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan daripada menyadari begitu banyak nikmat yang telah diterimanya.

Padahal, kesehatan, kesempatan, keluarga, rezeki, keamanan, ilmu, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan nikmat yang tidak ternilai.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)

Abdul Ghofur menjelaskan bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan.

Syukur dengan hati berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. Syukur dengan lisan diwujudkan melalui pujian dan pengakuan atas karunia-Nya. Sedangkan syukur dengan perbuatan diwujudkan dengan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan ketaatan.

“Jangan sampai kita baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat itu dicabut. Kesehatan baru terasa sangat berharga ketika kita sakit, waktu terasa mahal ketika usia semakin berkurang, dan kesempatan beribadah baru terasa penting ketika kesempatan itu sudah tidak ada,” tuturnya.

Istighfar sebagai Jalan Memohon Ampunan

Selain memperbanyak syukur, jamaah juga diajak untuk membiasakan diri memperbanyak istighfar.

Menurut Abdul Ghofur, istighfar tidak hanya dilakukan oleh seseorang yang merasa banyak dosa. Istighfar merupakan bentuk kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan...”
(QS. Hud: 3)

Istighfar juga merupakan amalan yang memiliki dimensi sosial dan spiritual. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat tersebut, istighfar dikaitkan dengan turunnya rahmat dan berbagai karunia Allah.

Karena itu, Abdul Ghofur mengingatkan agar istighfar tidak hanya dilafalkan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan. Istighfar hendaknya menjadi kebiasaan sehari-hari, baik ketika mendapatkan kesenangan maupun ketika menghadapi ujian.

“Orang yang banyak beristighfar bukan berarti orang yang paling banyak dosanya. Justru istighfar menunjukkan bahwa seseorang menyadari dirinya sebagai hamba yang penuh kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah,” jelasnya.

Taubat Tidak Boleh Ditunda

Pembahasan kemudian dilanjutkan mengenai pentingnya taubat. Manusia, menurutnya, tidak luput dari kesalahan. Namun, kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat tersebut memberikan harapan bahwa pintu ampunan Allah senantiasa terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Abdul Ghofur menjelaskan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan harus disertai kesungguhan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bertaubat harus meninggalkan dosa, menyesali perbuatan yang dilakukan, serta memiliki tekad untuk tidak mengulanginya.

Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka taubat juga harus disertai upaya menyelesaikan hak tersebut.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya...”
(QS. At-Tahrim: 8)

Muhasabah dan Memperbaiki Diri

Lebih lanjut, Abdul Ghofur mengajak jamaah menjadikan muhasabah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah nikmat Allah disyukuri? Sudahkah dosa-dosa dimintakan ampun? Sudahkah kesalahan kepada sesama diperbaiki? Dan sudahkah waktu yang diberikan Allah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat?

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama banyak menekankan pentingnya muhasabah. Evaluasi terhadap diri sendiri menjadi sarana agar seorang Muslim tidak terlena dengan kehidupan dunia dan tidak merasa dirinya telah sempurna.

Syukur membuat seseorang menyadari nikmat. Istighfar membuat seseorang menyadari kekurangan. Sementara taubat mendorong seseorang untuk memperbaiki kesalahan.

Ketiga hal tersebut menjadi rangkaian penting dalam membangun kehidupan seorang Muslim yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjadikan TURBA sebagai Ruang Pembinaan Umat

Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Masjid Al-Amin Kaligede berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Kehadiran jamaah, pengurus majelis taklim, dan tokoh masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi serta memperkuat hubungan antara ulama dan masyarakat.

Melalui kegiatan TURBA yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan secara langsung di tengah masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bersama bahwa kehidupan seorang Muslim hendaknya selalu diwarnai dengan syukur atas nikmat, istighfar atas kekurangan, dan taubat atas kesalahan.

Selama kesempatan hidup masih diberikan Allah SWT, selama itu pula pintu untuk memperbaiki diri tetap terbuka.

(Redaksi)

Share:

PENGURUS MUI KECAMATAN MARGOMULYO 2021-2026

pengurus-mui-kecamatan-margomulyo-2021-2026

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan wadah pengabdian para ulama, zu'ama', dan cendekiawan muslim yang berkomitmen membimbing dan melayani umat. Kepengurusan masa khidmat 2021–2026 ini terbentuk melalui musyawarah dan dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bojonegoro, KH. Alamul Huda, pada 1 Desember 2021.

Share:

Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan Se-Kabupaten Bojonegoro, Perkuat Peran Ulama dalam Membina Umat

pengukuhan-pengurus-mui-kecamatan-se-kabupaten-bojonegoro-perkuat-peran-ulama-dalam-membina-mat

Bojonegoro, 5 September 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bojonegoro melaksanakan kegiatan Pengambilan Sumpah dan Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Bojonegoro pada Sabtu (5/9/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Ruang Angling Dharma, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Acara pengukuhan dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bojonegoro, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, Kapolres Bojonegoro, Dandim Bojonegoro, para Camat se-Kabupaten Bojonegoro, Kepala KUA se-Kabupaten Bojonegoro, serta para peserta pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Bojonegoro.

pengukuhan-pengurus-mui-kecamatan-se-kabupaten-bojonegoro-perkuat-peran-ulama-dalam-membina-mat

Momentum pengukuhan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat konsolidasi kelembagaan MUI di tingkat kecamatan. Sebanyak 28 Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Bojonegoro mengikuti prosesi pengambilan sumpah dan pengukuhan sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan amanah organisasi sekaligus berkontribusi dalam pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.

Prosesi pengambilan sumpah dan pengukuhan/pelantikan dipimpin langsung oleh KH. Alamul Huda Masyhur, selaku Ketua MUI Kabupaten Bojonegoro. Dengan penuh khidmat, para pengurus mengikuti rangkaian prosesi sebagai ikrar kesanggupan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi dengan penuh amanah, keikhlasan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.

Pengukuhan 28 pengurus MUI Kecamatan ini diharapkan semakin memperkokoh sinergi antara ulama, umara, serta seluruh elemen masyarakat dalam membangun kehidupan umat yang religius, harmonis, dan berkemajuan. Keberadaan MUI di tingkat kecamatan memiliki posisi strategis sebagai wadah para ulama dan tokoh agama dalam memberikan bimbingan keagamaan, menjaga kemaslahatan umat, serta turut memberikan kontribusi pemikiran dalam menghadapi berbagai persoalan sosial keagamaan di tengah masyarakat.

pengukuhan-pengurus-mui-kecamatan-se-kabupaten-bojonegoro-perkuat-peran-ulama-dalam-membina-mat

Selain menjadi momentum penguatan struktur organisasi, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi awal bagi para pengurus MUI Kecamatan untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada umat. Dengan semangat khidmah, ukhuwah, dan kemaslahatan, MUI Kecamatan se-Kabupaten Bojonegoro diharapkan mampu hadir secara aktif di tengah masyarakat sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, religius, dan berkeadaban.

Pengukuhan tersebut sekaligus meneguhkan komitmen MUI Kabupaten Bojonegoro untuk terus memperkuat peran ulama dalam membimbing umat serta membangun sinergi kelembagaan hingga tingkat kecamatan demi terwujudnya kemaslahatan bersama di Kabupaten Bojonegoro.

pengukuhan-pengurus-mui-kecamatan-se-kabupaten-bojonegoro-perkuat-peran-ulama-dalam-membina-mat

Salah satu peserta yang hadir dalam kegiatan pengukuhan tersebut adalah Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo. Sebanyak 12 orang Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo mengikuti secara langsung prosesi pengambilan sumpah dan pengukuhan bersama pengurus MUI Kecamatan lainnya dari seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Kehadiran jajaran Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo dalam momentum tersebut menjadi wujud kesungguhan dalam menerima amanah organisasi serta memperkuat komitmen untuk menjalankan tugas MUI di tengah masyarakat. Dengan dikukuhkannya kepengurusan tersebut, diharapkan jajaran MUI Kecamatan Margomulyo semakin solid dalam melaksanakan program pembinaan umat, dakwah, pendidikan keagamaan, serta membangun sinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Entri yang Diunggulkan

MUI Margomulyo Matangkan Persiapan Pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi

MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo terus mematangkan persiapan menuju pengukuhan pengurus komisi-komisi. Hal t...