Kajian Rutin Malam Sabtu Pahing di Masjid Baitur Rohman Teguhkan Nilai Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Margomulyo — Jumat, 23 April 2026. Kegiatan kajian rutin Malam Sabtu Pahing kembali dilaksanakan di Masjid Baitur Rohman, Desa Tepus, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat, 23 April 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh seluruh jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang secara konsisten melakukan pembinaan keagamaan melalui kunjungan langsung ke majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal dan tradisi masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan kontekstual.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Jumari selaku takmir Masjid Baitur Rohman. Suasana khidmat yang tercipta menjadi pengantar bagi jamaah dalam mempersiapkan diri mengikuti kajian inti.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjalin silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, serta menjauhi sifat dendam terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk membersihkan hati dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.

“Silaturahmi dan sikap saling memaafkan adalah kunci terciptanya kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Tidak ada tempat bagi dendam dalam hati seorang mukmin,” ungkap beliau di hadapan jamaah.

Melalui kegiatan kajian rutin ini, diharapkan nilai-nilai keislaman yang menyejukkan dapat terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat. Program MUI Margomulyo ini juga menjadi wujud nyata komitmen dalam mempererat ukhuwah Islamiyah serta membangun kehidupan sosial yang harmonis dan berlandaskan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

==============================

 Reaktualisasi Silaturahmi, Saling Ridha Memaafkan, dan Pengendalian Dendam pada Momentum Idul Fitri 1447 H

Abstrak
Artikel ini mengkaji tiga pilar etika sosial Islam—silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, dan pengendalian dendam—dalam konteks momentum Idul Fitri 1447 H. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, tulisan ini menegaskan bahwa ketiganya merupakan instrumen strategis untuk menghasilkan keberkahan hidup, baik pada ranah individual maupun sosial. Idul Fitri diposisikan sebagai fase recalibration spiritual yang menuntut transformasi dari simbolik menuju praksis berkelanjutan.

Kata Kunci: Silaturahmi, Ridha, Dendam, Idul Fitri, Keberkahan, Etika Sosial Islam


Pendahuluan

Idul Fitri bukan sekadar perayaan ritual pasca-Ramadhan, melainkan momentum rekonstruksi moral dan sosial. Dalam kerangka ini, tiga nilai utama—menyambung silaturahmi, saling ridha dalam memaafkan, dan meniadakan dendam—menjadi indikator keberhasilan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Problematika yang sering muncul adalah reduksi nilai-nilai tersebut menjadi formalitas tahunan tanpa internalisasi yang berkelanjutan.


Landasan Teologis

Perintah menjaga silaturahmi memiliki basis kuat dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Larangan memutus hubungan ditegaskan sebagai bentuk kerusakan sosial:

وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ 

(QS. Muhammad: 22)

Sementara itu, etika memaafkan dan berlapang dada ditegaskan:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS. An-Nur: 22)

Hadis Nabi ﷺ memperjelas korelasi silaturahmi dengan keberkahan hidup:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
(HR. Bukhari dan Muslim)


Silaturahmi: Infrastruktur Sosial Keberkahan

Silaturahmi berfungsi sebagai social infrastructure dalam Islam. Ia membangun jaringan kepercayaan (trust network) yang menopang solidaritas, distribusi bantuan, dan stabilitas komunitas. Keberkahan yang dihasilkan bersifat multidimensional:

  • Spiritual: memperkuat keimanan melalui amal sosial.
  • Psikologis: menumbuhkan ketenangan dan rasa keterhubungan.
  • Sosial-ekonomis: membuka akses kolaborasi dan saling tolong-menolong (ta’awun).

Ridha dalam Memaafkan: Transformasi Emosi ke Kebajikan

Konsep ridha dalam memaafkan melampaui sekadar ucapan verbal; ia menuntut penerimaan batin tanpa residu kebencian. Dalam perspektif etika Islam, memaafkan yang disertai ridha adalah bentuk ihsan—level kebajikan tertinggi yang mengubah luka menjadi nilai.

Praktik ini berdampak pada:

  • Reduksi konflik laten
  • Pemulihan relasi yang rusak
  • Penguatan integritas moral individu

Dendam sebagai Patologi Moral

Dendam (ghill) merupakan penyakit hati yang menghambat aliran keberkahan. Ia menciptakan siklus permusuhan dan menggerus kohesi sosial. Dalam perspektif tasawuf, dendam adalah penghalang utama menuju qalbun salim (hati yang selamat).

Dampak sistemiknya meliputi:

  • Polarisasi sosial
  • Hilangnya kepercayaan
  • Normalisasi perilaku balas dendam

Oleh karena itu, pengendalian dendam bukan sekadar pilihan etis, tetapi kebutuhan struktural bagi stabilitas masyarakat.


Idul Fitri 1447 H: Momentum Reaktualisasi

Idul Fitri 1447 H harus dimaknai sebagai titik balik (turning point) untuk mengintegrasikan ketiga nilai tersebut secara berkelanjutan. Tradisi saling bermaafan perlu ditransformasikan menjadi komitmen praksis:

  1. Proaktif menyambung relasi yang terputus
  2. Memaafkan secara total dengan ridha
  3. Mengeliminasi dendam melalui refleksi dan doa
  4. Memelihara komunikasi berkelanjutan pasca-Idul Fitri

Dengan demikian, Idul Fitri tidak berhenti sebagai ritus tahunan, tetapi menjadi mekanisme pembaruan sosial.


Kesimpulan

Menjalin silaturahmi, saling ridha memaafkan, dan tidak mendendam merupakan triadik etika Islam yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Ketiganya menjadi fondasi terciptanya keberkahan hidup, baik pada dimensi individual maupun kolektif. Momentum Idul Fitri 1447 H menghadirkan peluang strategis untuk mereaktualisasi nilai-nilai tersebut secara substantif. Implementasi konsisten dari ketiganya akan melahirkan masyarakat yang harmonis, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.


Rekomendasi
Diperlukan penguatan edukasi keagamaan berbasis komunitas yang menekankan internalisasi nilai silaturahmi dan pemaafan, serta pembinaan spiritual yang berkelanjutan agar transformasi moral tidak berhenti pada momentum seremonial, tetapi menjadi budaya hidup umat Islam.

Share:

Kajian Rutin Malam Rabu Wage di Musholla Nurul Hidayah Perkuat Nilai Silaturahmi dan Keikhlasan Umat


Margomulyo — Selasa, 21 April 2026. Kegiatan kajian rutin Malam Rabu Wage kembali digelar di Musholla Nurul Hidayah, Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Selasa, 21 April 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh seluruh jamaah musholla, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo dalam upaya memperkuat pembinaan keagamaan melalui kunjungan langsung ke majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan tradisi dan jadwal masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani yang dipimpin oleh Kiyai Jamin selaku takmir Musholla Nurul Hidayah. Suasana religius yang tercipta dari pembacaan manakib tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah pada kesiapan spiritual dalam mengikuti kajian inti.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi serta menjauhi sifat dendam terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah hendaknya dimaknai sebagai titik awal untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan membangun kembali hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

“Silaturahmi dan sikap saling memaafkan merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Tidak ada ruang bagi dendam dalam hati seorang mukmin,” tegas beliau di hadapan jamaah.

Melalui kegiatan kajian rutin ini, diharapkan nilai-nilai keislaman yang menyejukkan dan membangun dapat terus tertanam dalam kehidupan masyarakat. Program MUI Margomulyo ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah kehidupan umat.

======================================

Silaturahmi dan Pengendalian Dendam: Pilar Etika Sosial dalam Islam

Pendahuluan
Islam menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian integral dari kesempurnaan iman. Dua nilai kunci yang saling terkait dalam konteks ini adalah silaturahmi (menyambung hubungan) dan pengendalian dendam (ghill). Keduanya bukan sekadar norma sosial, melainkan mandat syariat yang berdampak langsung pada kualitas spiritual individu dan stabilitas sosial. Artikel ini mengurai urgensi menjalin silaturahmi serta meninggalkan dendam, dengan landasan nash dan implikasi praksisnya.


Landasan Normatif: Perintah Menyambung, Larangan Memutus

Al-Qur’an menegaskan kewajiban menjaga relasi kekerabatan dan melarang pemutusannya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Dalam ayat lain, Allah mencela pemutus silaturahmi sebagai bentuk kerusakan sosial:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Sementara itu, Islam secara tegas mendorong pembersihan hati dari dendam. Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS. An-Nur: 22)

Hadis Nabi ﷺ juga menegaskan dampak langsung silaturahmi terhadap keberkahan hidup:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Silaturahmi sebagai Instrumen Keberkahan

Secara teologis, silaturahmi adalah ibadah sosial yang menghasilkan barakah—peningkatan kualitas dan keberlanjutan kebaikan. Keberkahan ini termanifestasi dalam tiga ranah:

  1. Spiritual: hati lebih lapang, ibadah lebih khusyuk, dan terjaga dari penyakit hati.
  2. Psikologis: berkurangnya stres sosial, meningkatnya rasa memiliki (sense of belonging).
  3. Sosial-ekonomis: terbukanya jejaring tolong-menolong (ta’awun) yang memperlancar rezeki.

Dengan demikian, silaturahmi bukan aktivitas seremonial, tetapi mekanisme etis yang memperkuat ekosistem kebaikan.


Dendam sebagai Penyakit Hati dan Disfungsi Sosial

Dendam (ghill) adalah residu emosi negatif yang menggerogoti integritas batin. Dalam perspektif tasawuf, dendam menghalangi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karena memelihara kebencian dan keinginan membalas.

Dampaknya tidak hanya personal, tetapi juga sosial:

  • Eskalasi konflik: dendam memperpanjang siklus permusuhan.
  • Disintegrasi komunitas: melemahkan kepercayaan dan solidaritas.
  • Distorsi moral: membenarkan tindakan balasan yang melampaui batas.

Karena itu, Islam menempatkan ‘afw (memaafkan) dan shafh (berlapang dada) sebagai solusi kuratif sekaligus preventif.


Integrasi Nilai: Silaturahmi Tanpa Dendam

Silaturahmi yang otentik mensyaratkan pembersihan hati dari dendam. Tanpa itu, relasi hanya bersifat formal, tidak menghasilkan keberkahan. Integrasi keduanya tampak dalam beberapa prinsip operasional:

  1. Proaktif menyambung relasi: tidak menunggu pihak lain memulai.
  2. Memaafkan tanpa syarat: memutus siklus balas-membalas.
  3. Tabayyun dan dialog: menyelesaikan kesalahpahaman secara adil.
  4. Doa dan husnuzan: menjaga prasangka baik sebagai fondasi relasi.

Nabi ﷺ memberikan standar etika yang tinggi: bukan sekadar membalas kebaikan, tetapi tetap menyambung hubungan meski diputus oleh pihak lain.


Relevansi Kontekstual: Momentum Idul Fitri

Idul Fitri merupakan momen strategis untuk rekalibrasi relasi sosial. Tradisi saling bermaafan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus berlanjut pada komitmen konkret: menghapus dendam, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat jaringan silaturahmi secara berkelanjutan.


Penutup

Menjalin silaturahmi dan meninggalkan dendam adalah dua sisi dari satu etika Islam yang sama: membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Pada level individu, keduanya menyucikan jiwa dan menumbuhkan ketenangan. Pada level sosial, keduanya menjadi fondasi kohesi dan harmoni. Implementasi konsisten dari nilai-nilai ini bukan hanya ketaatan normatif, tetapi investasi jangka panjang bagi peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan.

Share:

Kajian Rutin Malam Sabtu Kliwon Perkuat Silaturahmi Umat di Masjid Baiturrohim Batang

Margomulyo — 17 April 2026. Suasana religius dan penuh kebersamaan terasa kental dalam kegiatan kajian rutin Malam Sabtu Kliwon yang diselenggarakan di Masjid Baiturrohim, Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat malam, 17 April 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB ini dihadiri oleh seluruh jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo dalam rangka menyapa dan menguatkan majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan jadwal dan tradisi masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih efektif dan kontekstual.

Acara diawali dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani yang dipimpin oleh Kiyai Suwardi selaku takmir Masjid Baiturrohim. Lantunan manakib yang khidmat tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah pada suasana spiritual sebelum memasuki sesi inti kajian.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menitikberatkan pada pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Islam. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperkuat ukhuwah, saling memaafkan, dan membangun kembali harmoni sosial di tengah masyarakat.

“Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi merupakan ajaran utama dalam Islam yang memiliki dampak besar terhadap keberkahan hidup, baik secara individu maupun sosial,” ujar beliau di hadapan jamaah.

Kegiatan kajian rutin ini diharapkan dapat terus menjadi sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan masyarakat, sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Dengan adanya program turun ke majelis taklim seperti ini, MUI Margomulyo berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai penguat nilai-nilai keislaman yang moderat dan membumi.

======================

Silaturahmi sebagai Ajaran Fundamental dalam Islam dan Implikasinya terhadap Keberkahan Hidup

Abstrak
Silaturahmi dalam Islam tidak sekadar dipahami sebagai tradisi sosial, melainkan sebagai ajaran normatif yang memiliki landasan teologis kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep silaturahmi sebagai instrumen pembentuk keberkahan hidup, baik pada dimensi individual maupun sosial. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, tulisan ini menegaskan bahwa silaturahmi memiliki implikasi luas dalam membangun harmoni sosial, memperpanjang umur dalam makna keberkahan, serta memperluas rezeki.

Kata Kunci: Silaturahmi, Keberkahan, Ukhuwah Islamiyah, Etika Sosial, Islam


Pendahuluan

Dalam khazanah ajaran Islam, hubungan antarmanusia (hablun minannas) memiliki posisi yang tidak kalah penting dibanding hubungan dengan Allah (hablun minallah). Salah satu manifestasi utama dari hablun minannas adalah silaturahmi. Namun, dalam praktik sosial, silaturahmi kerap direduksi menjadi sekadar aktivitas seremonial, khususnya pada momen-momen tertentu seperti Idul Fitri. Padahal, secara substansial, silaturahmi merupakan ajaran inti yang mengandung dimensi ibadah dan sosial sekaligus.


Landasan Teologis Silaturahmi

Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk menjaga hubungan kekerabatan dan melarang pemutusannya. Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.”
(QS. An-Nisa: 1)

Selain itu, dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ disebutkan:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa silaturahmi bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah syar’i yang memiliki konsekuensi spiritual.


Dimensi Individual: Silaturahmi dan Keberkahan Personal

Pada tataran individual, silaturahmi berimplikasi langsung terhadap kualitas kehidupan spiritual dan material seseorang. Keberkahan yang dimaksud dalam hadis tidak semata-mata bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif, yakni ketenangan batin, kemudahan dalam urusan, serta keberlanjutan kebaikan dalam hidup.

Silaturahmi juga berfungsi sebagai sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dengan menjalin hubungan baik, seseorang dilatih untuk menumbuhkan sikap rendah hati, empati, dan kemampuan memaafkan. Nilai-nilai ini merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter Muslim yang paripurna.


Dimensi Sosial: Silaturahmi sebagai Pilar Harmoni Masyarakat

Dalam konteks sosial, silaturahmi memiliki peran strategis dalam menciptakan kohesi sosial (social cohesion). Masyarakat yang dibangun atas dasar hubungan yang harmonis cenderung memiliki tingkat konflik yang rendah dan solidaritas yang tinggi.

Silaturahmi juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis kultural-religius. Tradisi saling mengunjungi, berdialog, dan memaafkan menjadi sarana efektif untuk meredam potensi disintegrasi sosial. Dalam perspektif sosiologi Islam, silaturahmi memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah secara simultan.


Reaktualisasi Silaturahmi di Era Modern

Di era digital dan individualistik saat ini, praktik silaturahmi menghadapi tantangan berupa menurunnya intensitas interaksi langsung dan meningkatnya relasi yang bersifat virtual. Oleh karena itu, diperlukan reaktualisasi makna silaturahmi agar tetap relevan tanpa kehilangan esensi.

Silaturahmi tidak harus selalu berbentuk pertemuan fisik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui komunikasi yang bermakna, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata terhadap kesejahteraan sesama. Namun demikian, interaksi langsung tetap memiliki nilai spiritual dan emosional yang tidak tergantikan.


Kesimpulan

Silaturahmi dalam Islam merupakan ajaran fundamental yang memiliki dimensi ibadah dan sosial sekaligus. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan instrumen strategis dalam mewujudkan keberkahan hidup. Pada level individual, silaturahmi meningkatkan kualitas spiritual dan kesejahteraan personal. Sementara pada level sosial, ia berperan sebagai perekat harmoni dan stabilitas masyarakat.

Oleh karena itu, menjadikan silaturahmi sebagai budaya hidup bukan hanya bentuk ketaatan kepada ajaran Islam, tetapi juga investasi jangka panjang bagi terciptanya kehidupan yang penuh keberkahan, kedamaian, dan keberlanjutan nilai-nilai kemanusiaan.

Share:

Pengajian Rutin Muslimat NU Kaligede: Meneguhkan Makna Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Seorang Muslim

 


Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kaligede kembali menggelar kegiatan pengajian rutin yang berlangsung khidmat dan penuh makna pada Ahad, 4 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin Kaligede, Desa Margomulyo.

Pengajian rutin tersebut diikuti oleh segenap jamaah Masjid Al-Amin serta para anggota Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede. Kehadiran jamaah yang cukup antusias menunjukkan besarnya semangat masyarakat dalam memperdalam pemahaman keislaman sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah di lingkungan desa.

Puncak acara pengajian diisi dengan kajian rutin yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema Urgensi Peringatan Isra’ Mi’raj dan Korelasinya dalam Kehidupan Seorang Muslim. Tema ini dipilih sebagai pengingat pentingnya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai tonggak spiritual dalam ajaran Islam.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan momentum untuk merefleksikan kualitas keimanan dan ketaatan seorang muslim, khususnya dalam menegakkan shalat sebagai ibadah utama yang langsung diperintahkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Menurut beliau, nilai-nilai Isra’ Mi’raj harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dalam hubungan sosial kemasyarakatan (hablum minannas).

Pengajian berlangsung dengan suasana yang tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak menyimak dengan seksama setiap pesan yang disampaikan, serta berharap agar nilai-nilai spiritual dari peringatan Isra’ Mi’raj dapat semakin menguatkan keimanan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pengajian rutin ini diharapkan terus menjadi sarana pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, sekaligus memperkokoh peran Majelis Taklim Muslimat NU sebagai wadah dakwah dan pemberdayaan umat di Desa Margomulyo.

Share:

“Menghidupkan Isra’ Mi’raj di Musholla Nurul Hidayah: Sholat sebagai Jalan Spiritualitas dan Kesalehan Sosial”


Musholla Nurul Hidayah Dusun Batang, Desa Margomulyo, kembali menggelar kegiatan rutin keagamaan pada Selasa malam, 06 Januari 2026, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap malam Rabu Wage ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme jamaah.

Acara diikuti oleh jamaah Musholla Nurul Hidayah serta dihadiri tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan ini mencerminkan kuatnya semangat ukhuwah Islamiyah serta kepedulian terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan di lingkungan Dusun Batang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat Isya’ berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani. Suasana religius semakin terasa dengan lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW yang menggema di dalam musholla. Puncak acara diisi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo.

Dalam mauidhohnya, Kiyai Badrun menyampaikan pesan-pesan moral dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Beliau menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj tidak hanya membawa perintah ibadah mahdhah berupa kewajiban sholat lima waktu, tetapi juga mengandung pesan kuat tentang pentingnya ibadah sosial. Menurutnya, sholat yang benar harus mampu membentuk pribadi yang peduli, berakhlak mulia, serta memiliki kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Rutinan malam Rabu Wage kali ini secara khusus dirangkai dengan peringatan Isra’ Mi’raj, sebagai momentum refleksi bersama bagi jamaah untuk memperkuat kualitas ibadah sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Diharapkan melalui kegiatan ini, nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung dalam ajaran Islam dapat semakin terinternalisasi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan rutinan ini, Musholla Nurul Hidayah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Tradisi keagamaan yang terus dijaga secara konsisten menjadi sarana efektif dalam menanamkan pemahaman agama yang moderat, menyejukkan, serta relevan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Para jamaah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap agar rutinan malam Rabu Wage terus istiqamah dilaksanakan. Selain sebagai wahana peningkatan keimanan dan ketakwaan, kegiatan ini juga menjadi media silaturahmi yang mempererat hubungan antarjamaah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat.

Dengan adanya peringatan Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam kegiatan rutinan, jamaah diajak untuk semakin menyadari bahwa ajaran Islam tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga menuntut pengamalan nilai-nilai sosial seperti kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Dusun Batang, Desa Margomulyo.

Share:

Kajian Rutin MATA AIR di Masjid At-Thohir, Perkuat Spirit Ibadah Ritual dan Sosial dalam Momentum Isra’ Mi’raj

 


Majelis Taklim At-Thohir (MATA AIR) kembali menggelar kajian rutin yang berlangsung khidmat pada Rabu malam, 24 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, mulai pukul 20.00 hingga 23.30 WIB.

Kajian rutin tersebut dihadiri oleh segenap jamaah, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini mencerminkan kuatnya antusiasme dan kepedulian umat dalam mengikuti kegiatan keagamaan yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil yang berlangsung khusyuk, dilanjutkan dengan lantunan sholawat Al-Barzanji yang menambah suasana religius dan penuh ketenangan. Puncak acara diisi dengan kajian rutin yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun memaparkan makna mendalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, khususnya terkait turunnya perintah sholat. Beliau menegaskan bahwa sholat tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga mengandung konsekuensi ibadah sosial. Menurutnya, sholat seharusnya mampu membentuk pribadi yang berakhlak, peduli terhadap sesama, serta berperan aktif dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Kandungan utama dari perintah sholat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bagaimana sholat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta mendorong pelakunya untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya di hadapan jamaah.

Kegiatan ini selain merupakan kajian rutin Majelis Taklim At-Thohir yang dilaksanakan setiap malam Kamis Kliwon, juga diniatkan sebagai peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah semakin memahami esensi ibadah secara utuh, baik dalam dimensi ritual maupun sosial, serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Kajian Rutin Musholla Nurul Hidayah Batang Kulon Berlangsung Khidmat dan Penuh Keberkahan

Kegiatan Kajian Rutin di Musholla Nurul Hidayah Batang Kulon, Desa Margomulyo kembali digelar dengan penuh kekhidmatan pada Selasa, 02 Desember 2025. Acara yang dimulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB ini diikuti oleh segenap jamaah musholla, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar yang antusias hadir untuk menyimak rangkaian agenda keagamaan tersebut.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma’ânî yang dipimpin langsung oleh Kiyai Jamin, selaku takmir Musholla Nurul Hidayah. Suasana malam semakin syahdu ketika lantunan manakib menggema, membawa para jamaah pada ketenangan hati dan kekhusyukan dalam mengingat keteladanan para wali Allah.

Memasuki sesi inti, acara dilanjutkan dengan kajian Kitab Manakib yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam penyampaiannya, beliau menguraikan nilai-nilai luhur dari sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, khususnya tentang keteguhan beliau dalam menjaga amal ibadah secara konsisten. Kiyai Badrun menekankan bahwa komitmen Syekh Abdul Qadir dalam ketakwaan dan kedisiplinan beribadah menjadi teladan yang relevan untuk dijadikan pegangan hidup umat Islam masa kini.

Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keteguhan iman bagi seluruh jamaah. Acara berlangsung hangat hingga sesi ramah tamah, sebagai wujud mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga dan jamaah musholla.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semakin memperkokoh semangat keagamaan serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap majelis ilmu dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga Musholla Nurul Hidayah terus menjadi pusat kegiatan spiritual yang membawa keberkahan bagi Desa Margomulyo dan sekitarnya.

Share:

TURBA Kajian Rutin Majelis Taklim Baiturrohim: Meneguhkan Rasa Syukur di Tengah Ujian Bangsa


Margomulyo – Tradisi keagamaan masyarakat Dusun Batang kembali hidup dengan penuh kekhidmatan melalui kegiatan TURBA Kajian Rutin yang digelar pada Jumat malam Sabtu, 28 November 2025. Bertempat di Masjid Baiturrohim, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 20.30 hingga 22.00 WIB ini menjadi bagian dari agenda selapanan warga, yang dikenal dengan sebutan Lapanan Malam Setu Kliwon. Tradisi ini telah menjadi ruang spiritual warga untuk memperdalam pemahaman agama setiap 35 hari sekali.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani yang dipimpin oleh Kiai Suwardi, salah satu tokoh agama setempat yang dihormati. Lantunan doa dan pujian yang dibacakan bersama jamaah menghadirkan suasana religius yang menyejukkan. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiai Jamin, takmir Masjid Baiturrohman, sebagai bentuk doa bersama untuk para leluhur dan kesejahteraan umat.

Memasuki acara inti, suasana masjid semakin khidmat ketika Kiai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan mauidlah hasanah. Dalam kajiannya, beliau menekankan pentingnya mensyukuri nikmat Allah di tengah maraknya bencana yang sedang melanda berbagai wilayah di Indonesia.

“Kita hidup di zaman yang penuh ujian. Musibah datang silih berganti, namun jangan sampai membuat kita lalai dari nikmat yang tetap Allah limpahkan,” ujar Kiai Badrun di hadapan jamaah. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur bukan hanya diwujudkan lewat ucapan, tetapi juga melalui kepedulian, persatuan, dan peningkatan kualitas ibadah.

Beliau menekankan bahwa musibah seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas sosial. “Di balik setiap ujian, selalu ada hikmah yang perlu kita renungkan. Maka menjaga syukur adalah kunci agar hati tetap lapang dan iman tetap kokoh,” tambahnya.

Setelah acara selesai, Kiai Badrun meluangkan waktu untuk beramah tamah bersama para tokoh masyarakat dan jamaah. Momen ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat, mempererat hubungan antara ulama dan masyarakat, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan.

Kegiatan TURBA selapanan di Majelis Taklim Baiturrohim ini kembali menjadi wahana penyegaran spiritual bagi warga Dusun Batang. Dengan perpaduan antara tradisi, ilmu, dan kebersamaan, kegiatan ini diharapkan terus menjadi pilar keagamaan yang memperkokoh iman dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

Share:

Kyai Badrun Sulaiman: “Wakaf Adalah Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial”

 

Jum'at legi, 2 Mei 2025 – Dusun Tepus, Margomulyo, Bojonegoro

Dalam suasana penuh kekhidmatan pasca Idul Fitri, Majlis Dzikir dan Sholawat Jama’ah Sabtu Pahing kembali menggelar kegiatan rutin bertempat di Dusun Tepus, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jumat malam Sabtu Pahing (02/05/2025). Tampak hadir para jama’ah dengan balutan busana muslim sederhana dan bersahaja, duduk khusyuk menyimak tausiyah utama dari Kyai Badrun Sulaiman yang menyampaikan materi bertema “Wakaf sebagai Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial.”

Dalam backdrop bertuliskan “Ngaji Bareng Kyai Badrun Sulaiman – Jama’ah Sabtu Pahing”, Kyai Badrun memulai dengan mengingatkan makna Idul Fitri sebagai titik balik penyucian diri, baik secara spiritual maupun sosial. Menurut beliau, “Kembali ke fitrah itu bukan hanya soal bersih dari dosa pribadi, tetapi juga kembali kepada sifat peduli terhadap sesama, menumbuhkan keadilan, dan membangun solidaritas di tengah umat.”

Kyai Badrun menegaskan bahwa wakaf adalah salah satu instrumen penting yang mampu menjembatani nilai ibadah dan fungsi sosial. “Wakaf bukan sekadar sedekah yang habis dikonsumsi, tapi ia membangun peradaban. Ia bisa menjadi sekolah, klinik, kios usaha, sawah produktif, bahkan koperasi umat,” ungkap beliau dengan penuh semangat.

Beliau juga mengajak para jama’ah untuk mulai melihat potensi lokal yang bisa diwakafkan, tidak harus besar, tapi bermanfaat. “Kalau tidak bisa mewakafkan tanah, wakafkan pikiran dan keahlianmu. Wakafkan tenagamu untuk membangun ekonomi umat,” ajaknya, disambut anggukan jama’ah yang terinspirasi.

Kegiatan ditutup dengan dzikir dan sholawat bersama, serta komitmen membentuk tim kecil pengelola wakaf produktif berbasis jama’ah Sabtu Pahing.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: “Wakaf sebagai Jalan Pulang Menuju Fitrah Sosial”

Disampaikan oleh: Kyai Badrun Sulaiman
Waktu: Jumat Malam Sabtu Pahing, 2 Mei 2025
Tempat: Majlis Jama’ah Sabtu Pahing – Dusun Tepus, Margomulyo


1. Pembukaan

  • Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tapi momentum penyucian diri dan jiwa sosial.

  • Fitrah spiritual → kembali kepada Allah.
    Fitrah sosial → kembali pada kepedulian dan keadilan.


2. Wakaf: Ibadah Berbasis Sosial

  • Wakaf bukan ibadah tertutup, melainkan solusi terbuka bagi persoalan umat.

  • Wakaf adalah investasi abadi — pahalanya terus mengalir selama manfaatnya ada.

  • QS. Ali Imran: 92 “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…”


3. Peran Wakaf dalam Memulihkan Fitrah Sosial

  • Wakaf dapat mengatasi ketimpangan ekonomi.

  • Wakaf bisa memberdayakan UMKM, pondok pesantren, dan masyarakat pinggiran.

  • Wakaf membuka ruang partisipasi umat, tidak hanya dermawan.


4. Wujud Konkret Wakaf Sosial

  • Tanah wakaf untuk pertanian bersama → hasil panen untuk dhuafa.

  • Wakaf alat produksi bagi pemuda → untuk membuka lapangan kerja.

  • Wakaf pendidikan: Beasiswa, madrasah, pengadaan kitab.


5. Ajakan dan Aksi Nyata

  • Mulai dari yang kecil: Wakaf Al-Qur’an, tikar masjid, alat pengeras suara.

  • Bentuk Tim Nazir Masjid atau Jama’ah Sabtu Pahing untuk wakaf produktif.

  • Libatkan generasi muda dalam pengelolaan wakaf.


“Fitrah bukan hanya tentang baju baru dan ampunan, tapi tentang bangkitnya nurani sosial. Wakaf adalah jalannya.” – Kyai Badrun Sulaiman

Share:

Kajian Rutin MT Baiturrohim Batang Margomulyo: Mengupas Pemberdayaan Wakaf


Margomulyo – Jumat, 13 Desember 2024, Majelis Taklim (MT) Baiturrohim Batang Margomulyo kembali menggelar kajian rutin yang berlangsung pada Jumat, 13 Desember 2024. Bertempat di Masjid Baiturrohim Batang Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, kegiatan ini dimulai pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh anggota majelis taklim dengan antusiasme tinggi.

Dalam kajian kali ini, puncak acara diisi dengan tausiyah bertemakan “Pemberdayaan Wakaf” yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, Kiai Badrun. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya wakaf sebagai instrumen ekonomi umat yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesejahteraan sosial.

“Kita harus memahami bahwa wakaf bukan sekadar amal jariyah, tetapi juga aset produktif yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi pilar ekonomi umat Islam,” ujar Kiai Badrun dalam ceramahnya.

Beliau juga menyoroti perlunya edukasi dan strategi pengelolaan wakaf agar aset yang telah diwakafkan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi.

Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti kajian ini, dengan sesi diskusi yang interaktif dan penuh semangat. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan seputar regulasi pengelolaan wakaf serta bagaimana optimalisasi aset wakaf di tingkat lokal agar lebih bermanfaat bagi masyarakat Margomulyo.

Kegiatan kajian rutin MT Baiturrohim Batang Margomulyo ini menjadi momentum penting dalam memperkaya wawasan keislaman serta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan wakaf yang profesional dan berdaya guna bagi umat. Kajian ini ditutup dengan doa bersama, berharap agar ilmu yang diperoleh dapat membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh peserta serta masyarakat luas.

Share:

Lailatul Ijtima' Mujahadah di Margomulyo: Memperkuat Spirit Perjuangan Nahdlatul Ulama



Margomulyo – Ahad 09 februari 2025. Semangat kebersamaan dan perjuangan dalam mengembangkan Nahdlatul Ulama (NU) kembali diteguhkan dalam kegiatan Lailatul Ijtima’ Mujahadah yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo. Acara yang berlangsung pada Ahad malam (9/2/2025) atau bertepatan dengan 11 Sya’ban 1446 H ini digelar di Aula Gedung MWCNU, Dusun Jerukgulung, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.


Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus MWCNU Margomulyo beserta pengurus ranting NU dari berbagai desa di wilayah Margomulyo. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi serta konsolidasi bagi para kader NU dalam memperkuat perjuangan organisasi di tingkat akar rumput.


Refleksi Perjuangan NU di Margomulyo


Dalam tausiah yang disampaikan oleh K. Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo, berbagai hal penting terkait perjalanan dan progres perjuangan Nahdlatul Ulama di wilayah Margomulyo menjadi sorotan utama.


“NU di Margomulyo terus berkembang berkat kebersamaan, keikhlasan, dan komitmen seluruh pengurus serta warga Nahdliyin. Kita harus memastikan perjuangan ini tetap berjalan di jalur yang benar dan memberi manfaat bagi umat,” ujar K. Badrun Sulaiman dalam ceramahnya.


Beliau juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan serta memperkuat peran NU dalam berbagai bidang, baik dalam pendidikan, dakwah, maupun sosial kemasyarakatan. Dengan berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks, NU di tingkat lokal diharapkan terus adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.


Para peserta yang hadir tampak antusias menyimak tausiah tersebut, mengingat perjuangan NU di daerah memang membutuhkan sinergi yang kuat antara ulama, pengurus, dan masyarakat.


Doa Bersama untuk Keberkahan Perjuangan

Sebagai penutup acara, K. Rosyidi selaku Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo memimpin doa bersama, memohon keberkahan serta kekuatan bagi para pengurus dan warga NU dalam menjalankan amanah perjuangan. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan terasa saat lantunan doa dipanjatkan, mencerminkan kebersatuan hati dalam meneguhkan langkah ke depan.


Kegiatan Lailatul Ijtima’ Mujahadah ini menjadi bukti nyata bahwa NU di Margomulyo terus berkomitmen menjaga nilai-nilai perjuangan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kekompakan yang terjaga, diharapkan peran NU di masyarakat semakin kuat dan memberikan manfaat yang lebih luas.


Memperkokoh Peran NU di Masyarakat

Selain membahas perkembangan dan tantangan NU di Margomulyo, K. Badrun Sulaiman juga menyoroti peran penting organisasi dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Ia menekankan bahwa NU tidak hanya menjadi wadah keislaman, tetapi juga pilar utama dalam membangun solidaritas dan kesejahteraan umat.


“NU harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam urusan keagamaan, tetapi juga dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kita harus bisa memberikan manfaat nyata bagi umat, sesuai dengan prinsip khidmah Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.


Dalam kesempatan tersebut, K. Badrun Sulaiman juga mengajak seluruh pengurus ranting NU untuk terus menghidupkan kegiatan keagamaan di wilayah masing-masing. Pengajian rutin, mujahadah, serta pembinaan keislaman bagi generasi muda menjadi agenda prioritas yang harus terus diperkuat.


Sinergi dan Konsolidasi Antar Pengurus

Kegiatan Lailatul Ijtima’ Mujahadah kali ini juga menjadi momentum untuk mempererat sinergi antar pengurus MWCNU dan ranting-ranting di bawahnya. Melalui forum ini, berbagai program dan rencana ke depan dibahas untuk memastikan NU di Margomulyo tetap berkembang dan memberikan kontribusi maksimal bagi masyarakat.


Beberapa hal yang menjadi pembahasan dalam pertemuan ini antara lain penguatan kaderisasi, pengembangan lembaga pendidikan NU, serta optimalisasi peran sosial dalam membantu warga yang membutuhkan. Dengan adanya koordinasi yang baik antar pengurus, diharapkan NU di Margomulyo semakin solid dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.


Harapan dan Komitmen Bersama

Ketua Panitia Lailatul Ijtima’, Sholeh, mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi tradisi yang semakin kuat.


“Kami berharap semangat kebersamaan ini tetap terjaga, dan seluruh pengurus bisa terus berkontribusi sesuai dengan bidang masing-masing. NU bukan hanya organisasi, tetapi juga wadah perjuangan yang harus kita rawat bersama,” ujarnya.


Sementara itu, beberapa pengurus ranting yang hadir juga mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. K. Sareh, salah satu peserta dari ranting NU Desa Sumberjo, menyampaikan bahwa pertemuan seperti ini sangat penting untuk menjaga kekompakan dan memperjelas arah perjuangan NU di tingkat desa.


“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, karena selain mendapatkan ilmu dan motivasi, kita juga bisa bertukar pikiran mengenai tantangan yang dihadapi di masing-masing ranting,” tuturnya.


Dengan semangat kebersamaan yang semakin erat, NU di Margomulyo diharapkan semakin berkembang dan mampu menghadirkan manfaat yang luas bagi umat. Konsistensi dalam menggelar forum-forum keagamaan seperti Lailatul Ijtima’ Mujahadah menjadi bukti bahwa NU tetap berpegang teguh pada prinsip perjuangan dalam menjaga keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.


Share:

Pengajian Rutin Malam Kamis Kliwon di Masjid At-Thohir Pluntu Bahas Keutamaan Bulan Sya’ban


Margomulyo – Tradisi pengajian rutin malam Kamis Kliwon terus dijaga oleh masyarakat Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Pada Rabu malam (12/2/2025), puluhan jamaah memadati Masjid At-Thohir Pluntu untuk mengikuti majelis ilmu yang digelar mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai.


Kegiatan ini dihadiri oleh jamaah masjid dan warga sekitar yang antusias menyimak tausiah yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, K. Badrun Sulaiman. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai momentum meningkatkan ibadah dan persiapan menuju bulan suci Ramadan.


“Bulan Sya’ban adalah waktu yang mulia, di mana amalan kita diangkat kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya kita memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan sesama,” tutur K. Badrun dalam tausiah yang disampaikan dengan penuh hikmah.


Para jamaah tampak khusyuk menyimak setiap pesan yang disampaikan, mencerminkan betapa pengajian ini tidak sekadar tradisi, tetapi juga sarana memperdalam ilmu agama dan mempererat ukhuwah Islamiyah.


Acara pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Margomulyo. Suasana haru dan kekhusyukan begitu terasa ketika doa-doa dipanjatkan, mengharap keberkahan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.


Pengajian rutin ini menjadi salah satu wujud nyata semangat kebersamaan dan kecintaan masyarakat terhadap ilmu agama. Dengan konsistensi dalam menggelar kegiatan keagamaan seperti ini, diharapkan nilai-nilai Islam semakin tertanam dalam kehidupan sehari-hari warga Sumberjo.

Pengajian rutin malam Kamis Kliwon di Masjid At-Thohir Pluntu bukan sekadar acara seremonial, tetapi telah menjadi tradisi turun-temurun yang diwarisi oleh masyarakat Desa Sumberjo. Kegiatan ini selalu mendapat sambutan hangat dari warga sekitar, terbukti dari antusiasme jamaah yang hadir setiap penyelenggaraan.


Menurut salah satu jamaah, Mbah Nari (52), pengajian ini menjadi sarana penting bagi warga untuk terus mendapatkan pencerahan ilmu agama.


“Kami merasa sangat terbantu dengan pengajian ini. Tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga. Terlebih dengan pembahasan bulan Sya’ban tadi malam, kami jadi lebih paham bagaimana mempersiapkan diri menyambut Ramadan,” ujarnya.


Selain itu, pengajian ini juga memberikan dampak positif bagi generasi muda. Banyak remaja dan pemuda desa yang ikut hadir, menunjukkan minat mereka dalam mendalami ilmu agama. Hal ini sejalan dengan harapan para tokoh agama agar nilai-nilai Islam tetap terjaga dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.


K. Badrun Sulaiman dalam tausiah malam itu juga menekankan bahwa bulan Sya’ban merupakan kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak istighfar, serta meningkatkan ibadah puasa sunnah.


"Banyak hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ini adalah bentuk persiapan rohani sebelum memasuki Ramadan," terang beliau.


Harapan ke Depan

Dengan semakin besarnya animo masyarakat terhadap kegiatan pengajian ini, panitia berharap agar tradisi ini tetap lestari dan semakin berkembang. Ketua Takmir Masjid At-Thohir Pluntu, Sigit, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan kualitas kegiatan dengan menghadirkan pemateri-pemateri yang kompeten.


"Kami ingin pengajian ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Insya Allah, ke depan akan ada pembahasan tematik yang lebih mendalam, sesuai kebutuhan jamaah," ungkapnya.


Semangat menjaga tradisi keislaman ini mencerminkan kuatnya rasa kebersamaan dan kecintaan masyarakat terhadap ilmu agama. Dengan pengajian yang terus berjalan, diharapkan Desa Sumberjo semakin berkah, penuh kedamaian, serta masyarakatnya semakin bertakwa.

Share:

Rakord & Evaluasi Pengurus Dewan Daerah MUI Kecamatan Margomulyo Bahas Persiapan Ramadan


Margomulyo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pengurus pada Senin, 3 Februari 2025, bertempat di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Margomulyo. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 14.30 WIB ini dihadiri oleh para pengurus MUI serta tokoh agama setempat.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris MUI Kecamatan Margomulyo, Syaifudin, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC). Dalam suasana yang khidmat, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi program kerja MUI serta membahas berbagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala KUA Margomulyo, Huda Afrianto, S.Ag. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya pembekalan bagi umat Islam dalam menyambut Ramadan agar dapat menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Beliau juga mengingatkan para peserta mengenai empat golongan yang dicintai oleh surga, yaitu:

  1. Orang yang membaca Al-Qur'an.

  2. Orang yang menjaga lisan.

  3. Orang yang memberi makan kepada orang yang lapar.

  4. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan.

Pesan ini disampaikan sebagai pengingat akan pentingnya memperkuat ibadah dan akhlak mulia, khususnya dalam menyambut bulan yang penuh berkah ini.

Selain itu, dalam pertemuan ini juga dibahas berbagai agenda keagamaan yang akan dilaksanakan oleh MUI Kecamatan Margomulyo selama bulan Ramadan, termasuk program dakwah, kajian keislaman, serta kegiatan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun Sulaiman. Dalam kesempatan ini, beliau memaparkan beberapa progres kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan oleh MUI Kecamatan Margomulyo, antara lain:

  1. Penyerahan SK MUI Desa, Enam Desa Di Margomulyo.

  2. Pemasangan papan nama MUI Kecamatan Margomulyo.

  3. Pembuatan papan nama MUI di enam desa.

  4. Persiapan menyambut bulan Ramadan.

  5. Pembuatan akun resmi MUI Margomulyo di TikTok.

  6. Persiapan konten dakwah digital.

  7. Program Tadarus Ramadan via TikTok.

Selain pembahasan tersebut, rapat juga mencermati tantangan yang dihadapi dalam penyebaran dakwah digital, termasuk strategi untuk meningkatkan jangkauan dan efektivitas konten dakwah di media sosial. Para pengurus menyepakati perlunya pelatihan bagi tim media untuk memastikan kualitas dan relevansi materi yang disampaikan kepada masyarakat luas.

Di penghujung acara, para peserta rapat menyatakan komitmen untuk terus bersinergi dalam memajukan syiar Islam di Kecamatan Margomulyo. Dengan adanya langkah-langkah konkret yang telah direncanakan, diharapkan Ramadan tahun ini dapat menjadi momentum peningkatan kualitas ibadah, pemahaman keislaman, serta kepedulian sosial bagi seluruh umat Islam di wilayah tersebut.

Share:

Kajian Rutin di MT Baiturrohim: Mengupas Tanda-Tanda Orang yang Tidak Merugi di Akhirat


Margomulyo, Bojonegoro — Dalam suasana penuh khidmat, Kajian Rutin yang digelar di Masjid Baiturrohim, Dusun Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat (13/12/2024) malam, berlangsung sukses. Acara yang dimulai pukul 19.30 hingga 20.45 WIB ini dihadiri oleh segenap jamaah masjid, warga sekitar, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Puncak kajian diisi tausiyah inspiratif oleh Ketua MWCNU sekaligus Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiai Badrun Sulaiman. Dalam ceramahnya, Kiai Badrun mengupas tema mendalam "Tanda Orang yang Tidak Merugi di Akhirat Kelak", mengacu pada pesan Al-Qur'an dalam Surah Al-'Asr.

“Pada dasarnya, semua manusia akan mengalami kerugian. Namun, ada tiga golongan yang tidak merugi, yakni mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling berwasiat untuk tetap berada dalam kebenaran dan kesabaran,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Selain mengulas tema utama, Kiai Badrun juga menyampaikan apresiasi atas suasana kondusif pasca-Pilkada Bojonegoro yang baru saja berlangsung. Beliau mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan persatuan demi kebaikan bersama.

"Ketenteraman yang tercipta ini adalah anugerah besar yang harus kita syukuri dan rawat bersama. Mari jadikan momentum ini sebagai pijakan untuk membangun daerah kita lebih baik lagi," tambahnya.

Kajian rutin di MT Baiturrohim ini menjadi salah satu momen penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat Margomulyo. Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak tausiyah dan berharap acara serupa terus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Respon Jamaah dan Harapan ke Depan

Di akhir kajian, sejumlah jamaah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Salah satu tokoh masyarakat, mengungkapkan bahwa kajian semacam ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga memberikan pencerahan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Kiai Badrun yang telah memberikan tausiyah penuh hikmah. Tema yang diangkat sangat relevan, terutama untuk memperkuat iman dan amal di tengah tantangan zaman,” ujarnya.


Upaya Merawat Kebersamaan Pasca Pilkada

Selain tausiyah, momen ini juga menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan warga, terutama dalam menjaga kedamaian pasca Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bojonegoro. Pesan-pesan kebersamaan yang disampaikan Kiai Badrun diharapkan mampu mencegah potensi konflik dan mendorong masyarakat untuk terus bersinergi demi kemajuan wilayah.

Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Badrun, memohon keberkahan bagi masyarakat Dusun Batang dan Kecamatan Margomulyo pada umumnya. Dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, jamaah pun meninggalkan masjid dengan semangat baru untuk terus mengamalkan nilai-nilai kebenaran dan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian rutin di MT Baiturrohim ini kembali membuktikan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pengembangan ilmu dan kebersamaan. Dengan dukungan semua pihak, kegiatan serupa diharapkan dapat terus menjadi pilar yang kokoh dalam membangun masyarakat yang beriman dan bermartabat.

Share:

MUIM TV

Jumlah Pengunjung

Popular Posts

Label