Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Aris Taufik Rofi’i

profil-pengurus-mui-kecamatan_0784475939

Aris Taufik Rofi’i merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang organisasi, kepemudaan, dan teknologi. Berdomisili di Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat melalui organisasi keagamaan dan sosial.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Aris Taufik Rofi’i dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris II. Posisi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran administrasi, komunikasi, dan koordinasi organisasi. Melalui amanah tersebut, beliau turut membantu memastikan berbagai kegiatan dan program MUI dapat berjalan secara tertib, terarah, dan efektif.

Di lingkungan kepemudaan Nahdlatul Ulama, beliau dipercaya sebagai Ketua Ranting Ansor Ngelo. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk menggerakkan generasi muda agar aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

Sebagai organisasi kepemudaan, Ansor memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki semangat pengabdian, kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Melalui perannya tersebut, Aris turut mendorong anak-anak muda untuk tidak hanya menjadi pengguna perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari penggerak perubahan yang positif.

Teknologi sebagai Sarana Pengabdian

Aris Taufik Rofi’i memiliki bidang keahlian dalam teknis komputer. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam mendukung berbagai kebutuhan administrasi dan kegiatan organisasi di era digital.

Perkembangan teknologi membuat kemampuan di bidang komputer semakin dibutuhkan dalam berbagai aktivitas. Pengelolaan dokumen, administrasi, komunikasi, publikasi, hingga penyelesaian berbagai persoalan teknis membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami dan memanfaatkan teknologi dengan baik.

Bagi seorang kader organisasi, kemampuan teknologi bukan hanya menjadi keterampilan pribadi, tetapi juga dapat menjadi sarana pengabdian. Keahlian tersebut dapat digunakan untuk membantu organisasi bekerja lebih efektif, mempercepat penyampaian informasi, serta mendukung berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“From Zero to Hero”

Prinsip yang menjadi pesan Aris Taufik Rofi’i adalah:

“From Zero to Hero.”

Ungkapan tersebut menggambarkan semangat perjalanan dari ketiadaan menuju keberhasilan, dari kondisi sederhana menuju pencapaian yang lebih baik melalui proses, perjuangan, dan ketekunan.

“From Zero” bukan berarti seseorang tidak memiliki potensi. Justru titik awal yang sederhana dapat menjadi tempat tumbuhnya sebuah perjuangan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, memperbaiki diri, dan meningkatkan kemampuan.

Sementara “To Hero” menggambarkan sebuah pencapaian ketika seseorang berhasil melewati berbagai proses dan akhirnya mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Ada kegagalan, keterbatasan, kesalahan, dan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Seseorang tidak menjadi hebat hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena ketangguhan yang dibangun selama perjalanan.

Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa usaha merupakan bagian penting dalam perjalanan kehidupan. Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa proses dan ikhtiar.

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan kemauan dari dalam diri. Jika ingin menuju keadaan yang lebih baik, seseorang harus berani memulai perubahan, meningkatkan kemampuan, dan terus berusaha.

Dari Belajar Menjadi Berkarya

Semangat “From Zero to Hero” juga dapat dimaknai sebagai ajakan kepada generasi muda untuk tidak takut memulai dari bawah. Kemampuan tidak selalu muncul secara instan. Ia dibentuk melalui proses belajar, pengalaman, latihan, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba kembali.

Hal tersebut sangat relevan dengan dunia teknologi. Perkembangan komputer dan teknologi informasi berlangsung begitu cepat. Karena itu, seseorang yang ingin tetap berkembang harus memiliki kemauan untuk terus belajar.

Bagi Aris, kemampuan teknis komputer dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dari keterampilan yang dipelajari, kemudian dikembangkan menjadi kemampuan yang dapat digunakan untuk membantu organisasi dan masyarakat.

Pada akhirnya, menjadi “hero” bukan berarti harus terkenal atau mendapatkan banyak penghargaan. Seorang pahlawan dalam kehidupan sehari-hari bisa saja adalah seseorang yang diam-diam membantu, menyelesaikan masalah, memberikan waktunya, dan menggunakan keahliannya untuk kemanfaatan orang lain.

Melalui amanah sebagai Sekretaris II MUI Kecamatan Margomulyo dan Ketua Ranting Ansor Ngelo, Aris Taufik Rofi’i terus berupaya mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat. Dengan kemampuan di bidang teknis komputer dan semangat kepemudaan, beliau menjadi bagian dari generasi yang terus belajar untuk berkembang dan memberikan manfaat.

“From Zero to Hero” pada akhirnya bukan sekadar slogan, tetapi sebuah perjalanan: berani memulai, tekun menjalani proses, terus belajar, tidak mudah menyerah, dan menjadikan setiap kemampuan sebagai jalan untuk memberikan manfaat.

Identitas Singkat

  • Nama: Aris Taufik Rofi’i
  • Alamat: Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Sekretaris II
  • Jabatan Sosial: Ketua Ranting Ansor Ngelo
  • Bidang Keahlian: Teknis Komputer
  • Pesan: “From Zero to Hero.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd.

profil-pengurus-mui-kecamatan_01403130535

Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap komunikasi publik, perkembangan teknologi informasi, serta kreativitas generasi muda. Berdomisili di Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian sosial dan keagamaan melalui organisasi.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sofia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi. Amanah ini memiliki peran strategis di tengah perkembangan era digital, ketika informasi bergerak begitu cepat dan masyarakat membutuhkan sumber informasi keagamaan yang terpercaya, edukatif, dan mudah diakses.

Melalui bidang hubungan masyarakat dan digitalisasi informasi, beliau turut berperan dalam membangun komunikasi antara MUI dengan masyarakat. Pemanfaatan media digital menjadi salah satu sarana penting untuk menyampaikan informasi kegiatan, edukasi keagamaan, serta berbagai pesan positif kepada masyarakat secara lebih luas.

Di lingkungan organisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama, Sofia juga aktif sebagai Pengurus PC IPPNU Bojonegoro. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian sekaligus ruang untuk mengembangkan potensi generasi muda perempuan agar semakin aktif, kreatif, berdaya, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial serta keagamaan.

Selain aktivitas organisasi, Sofia memiliki keahlian dalam membuat produk handmade. Keterampilan tersebut menunjukkan sisi kreatif dan produktif yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi sekaligus menjadi sarana mengekspresikan ide dan inovasi. Produk handmade tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga ketekunan, ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar.

“Doakan Usahamu, Usahakan Doamu”

Prinsip yang menjadi pesan Sofia adalah:

“Doakan usahamu, usahakan doamu.”

Kalimat singkat tersebut menyimpan pesan yang mendalam tentang keseimbangan antara doa dan ikhtiar. Doa merupakan bentuk ketundukan dan pengharapan kepada Allah SWT, sedangkan usaha merupakan wujud kesungguhan manusia dalam menjalankan tanggung jawab dan mengejar tujuan yang baik.

Doa tanpa usaha dapat menjadikan harapan berhenti sebagai keinginan. Sebaliknya, usaha tanpa doa dapat membuat seseorang mudah lupa bahwa hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, keduanya perlu berjalan beriringan.

Allah SWT berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berusaha. Setiap cita-cita membutuhkan ikhtiar, proses, kesabaran, dan ketekunan.

Namun, setelah berusaha, seorang muslim tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali 'Imran: 159)

Dengan demikian, “doakan usahamu” mengajarkan agar setiap langkah senantiasa disertai permohonan kepada Allah. Sementara “usahakan doamu” mengingatkan bahwa doa juga harus diiringi tindakan nyata.

Kreativitas, Dakwah, dan Generasi Digital

Peran Sofia dalam bidang hubungan masyarakat dan digitalisasi informasi menjadi semakin relevan dengan karakter masyarakat saat ini. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media digital. Karena itu, dakwah dan penyebaran informasi positif juga perlu mampu hadir di ruang digital dengan bahasa yang komunikatif dan pendekatan yang kreatif.

Digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menyebarkan manfaat. Informasi yang benar dapat memberikan pengetahuan, konten yang positif dapat memberikan inspirasi, dan komunikasi yang baik dapat mempererat hubungan antara organisasi dengan masyarakat.

Kemampuan kreatif dalam membuat produk handmade juga menjadi bagian dari semangat tersebut. Kreativitas mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai ketika dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.

Perpaduan antara organisasi, komunikasi digital, kreativitas, dan semangat pengabdian menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Melalui amanah sebagai Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi MUI Kecamatan Margomulyo serta kiprahnya di PC IPPNU Bojonegoro, Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd. terus berupaya memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Pesan “Doakan usahamu, usahakan doamu” menjadi pengingat bahwa setiap cita-cita membutuhkan dua sayap: doa yang menguatkan hati dan usaha yang menggerakkan langkah. Dengan keduanya, setiap ikhtiar diharapkan menjadi jalan menuju keberhasilan yang tidak hanya bernilai secara duniawi, tetapi juga membawa keberkahan dan kemanfaatan.

Identitas Singkat

  • Nama: Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd.
  • Alamat: Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi
  • Jabatan Sosial: Pengurus PC IPPNU Bojonegoro
  • Bidang Keahlian: Membuat Produk Handmade
  • Pesan: “Doakan usahamu, usahakan doamu.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Maslachah, S.Ag.

profil-pengurus-mui-kecamatan_01989863476

Maslachah, S.Ag. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, serta pendidikan anak. Berdomisili di RT 02/RW 05, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Maslachah, S.Ag. dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk turut memperkuat peran perempuan, memberikan perhatian terhadap perkembangan remaja, serta membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berakhlak.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dipercaya sebagai Dewan Penasihat PAC Muslimat NU Margomulyo. Pengalaman dan keterlibatannya dalam organisasi menjadi bagian dari kiprah beliau dalam mendampingi kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan di tengah masyarakat.

Sesuai dengan bidang keahliannya, Maslachah memiliki kompetensi dalam penyuluhan keluarga sakinah dan pendidikan anak usia dini. Dua bidang tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Keluarga yang harmonis menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan, keteladanan, kasih sayang, serta pembentukan karakter.

Melalui penyuluhan keluarga sakinah, beliau turut memberikan perhatian terhadap pentingnya komunikasi, tanggung jawab, saling menghormati, dan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan rumah tangga. Sementara melalui pendidikan anak usia dini, beliau turut mendorong terbentuknya generasi yang memiliki karakter positif sejak masa pertumbuhan.

Pengabdian sebagai Jalan Menuju Kemanfaatan

Bagi Maslachah, waktu merupakan amanah yang sangat berharga. Karena itu, waktu sebaiknya tidak dibiarkan berlalu tanpa makna, tetapi dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Pesan yang beliau sampaikan adalah:

“Jangan sia-siakan waktumu untuk pengabdian kepada masyarakat, guna menggapai kebahagiaan dunia akhirat.”

Pesan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan juga dapat menjadi bagian dari amal kebaikan. Setiap waktu, tenaga, ilmu, dan perhatian yang diberikan untuk membantu sesama memiliki nilai ketika dilakukan dengan niat yang tulus.

Pengabdian tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Memberikan ilmu, mendampingi keluarga, membantu pendidikan anak, memberikan nasihat, atau hadir ketika masyarakat membutuhkan juga merupakan bentuk kontribusi yang memiliki arti.

Semangat tersebut semakin ditegaskan melalui ungkapan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Ungkapan tersebut sangat sesuai dengan semangat pengabdian yang beliau jalankan. Menjadi pribadi yang bermanfaat berarti menjadikan ilmu, waktu, kemampuan, dan pengalaman sebagai sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Membangun Keluarga, Mendidik Generasi

Perhatian Maslachah terhadap keluarga sakinah dan pendidikan anak menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat sesungguhnya dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.

Keluarga yang harmonis akan memberikan ruang yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Dari keluarga pula anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, sopan santun, kejujuran, agama, dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, pembinaan keluarga tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara suami dan istri, tetapi juga menyangkut bagaimana orang tua mempersiapkan generasi penerus. Pendidikan anak usia dini menjadi bagian penting dari proses tersebut karena karakter dan kebiasaan baik perlu ditanamkan sejak awal.

Melalui amanah di MUI dan peran sosialnya di Muslimat NU, Maslachah terus berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut. Pengabdian kepada perempuan, remaja, dan keluarga menjadi investasi sosial yang diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan pengabdian Maslachah, S.Ag. merupakan ikhtiar untuk menjadikan waktu dan ilmu yang dimiliki sebagai sesuatu yang bernilai. Dengan membina keluarga, mendampingi anak, memberdayakan perempuan, dan hadir di tengah masyarakat, beliau berupaya mewujudkan prinsip menjadi insan yang memberikan manfaat bagi insan lainnya.

Identitas Singkat

  • Nama: Maslachah, S.Ag.
  • Alamat: RT 02/RW 05, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga
  • Jabatan Sosial: Dewan Penasihat PAC Muslimat NU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Penyuluhan Keluarga Sakinah dan Pendidikan Anak Usia Dini
  • Pesan: “Jangan sia-siakan waktumu untuk pengabdian kepada masyarakat, guna menggapai kebahagiaan dunia akhirat.”
  • Prinsip: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sigit

profil-pengurus-mui-kecamatan0397888074

Sigit merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang organisasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Berdomisili di Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam mendukung kegiatan keagamaan, sosial, serta pemberdayaan ekonomi di tengah masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sigit dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara I. Jabatan tersebut membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab dalam membantu mengelola administrasi serta keuangan organisasi. Melalui amanah tersebut, beliau turut mendukung agar berbagai program dan kegiatan MUI dapat terlaksana dengan tertib dan terencana.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Sigit juga dipercaya sebagai Bendahara MWCNU Margomulyo. Peran ini menjadi bagian dari pengabdian beliau dalam mendukung tata kelola organisasi, khususnya dalam pengelolaan keuangan yang transparan, tertib, dan bertanggung jawab.

Selain aktivitas organisasi, Sigit memiliki keahlian di bidang bisnis UMKM. Keahlian tersebut menjadi modal untuk turut mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. UMKM memiliki peran penting dalam membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mengembangkan potensi ekonomi yang ada di lingkungan masyarakat.

Semangat dan prinsip yang menjadi pegangan Sigit dalam menjalani kehidupan tercermin dalam pesan:

“Disiplin adalah kunci keberhasilan dunia akhirat.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dan kesempatan, tetapi juga oleh kedisiplinan dalam menjalankan setiap tanggung jawab. Disiplin berarti mampu menghargai waktu, menepati kewajiban, konsisten dalam berusaha, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Dalam kehidupan beragama, kedisiplinan juga memiliki peran penting. Menjaga ibadah, melaksanakan kewajiban, serta membiasakan diri melakukan kebaikan membutuhkan konsistensi. Begitu pula dalam pekerjaan dan organisasi, kedisiplinan menjadi salah satu fondasi agar setiap amanah dapat dijalankan dengan baik.

Kedisiplinan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari pada akhirnya dapat membentuk karakter yang bertanggung jawab. Ketika kedisiplinan dipadukan dengan niat yang baik dan keikhlasan, usaha untuk mencapai keberhasilan duniawi dapat berjalan seiring dengan ikhtiar mempersiapkan kehidupan akhirat.

Melalui amanah di MUI dan MWCNU Margomulyo, serta kiprahnya dalam bidang UMKM, Sigit terus berupaya memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Semangat untuk bekerja secara disiplin, tertib, dan bertanggung jawab menjadi bagian dari ikhtiar beliau dalam mewujudkan keberhasilan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Identitas Singkat

  • Nama: Sigit
  • Alamat: Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Bendahara I
  • Jabatan Sosial: Bendahara MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Bisnis UMKM
  • Pesan: “Disiplin adalah kunci keberhasilan dunia akhirat.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sumiatun

profil-pengurus-mui-kecamatan_02074639840

Sumiatun merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, serta pengembangan ekonomi masyarakat. Berdomisili di Dusun Jatiroto, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sumiatun dipercaya sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Amanah tersebut menjadi ruang bagi beliau untuk turut mendorong peningkatan peran perempuan, pembinaan generasi muda, serta penguatan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang baik dan harmonis.

Pemberdayaan perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian akan lebih mampu memberikan kontribusi positif bagi keluarga sekaligus menjadi bagian dari penggerak perubahan di lingkungan sekitarnya.

Di bidang sosial dan organisasi, Sumiatun aktif sebagai Pengurus Fatayat PCNU Bojonegoro. Melalui organisasi tersebut, beliau turut berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Kiprah tersebut menjadi bagian dari semangat berkhidmat dan membangun kepedulian terhadap masyarakat.

Selain aktivitas organisasi, Sumiatun memiliki keahlian dalam bisnis UMKM. Bidang ini menjadi salah satu sarana untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat. Pengembangan UMKM dapat membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas, serta membantu masyarakat memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Semangat perjuangan Sumiatun tercermin dalam pesan yang beliau sampaikan:

“Berjuang saat ini untuk kemaslahatan dunia akhirat.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan hari ini hendaknya tidak hanya berorientasi pada kepentingan duniawi, tetapi juga memiliki nilai kebaikan untuk kehidupan akhirat. Setiap pekerjaan, aktivitas organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi amal apabila dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang sesuai dengan tuntunan agama.

Perjuangan juga membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tidak semua kebaikan dapat langsung terlihat hasilnya. Ada kalanya seseorang harus melewati proses panjang, menghadapi berbagai tantangan, dan terus berusaha meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Namun, ketika perjuangan dilakukan untuk kemaslahatan dan dilandasi keikhlasan, setiap proses memiliki nilai yang berarti.

Bagi Sumiatun, pemberdayaan perempuan, penguatan keluarga, pengembangan UMKM, dan aktivitas organisasi merupakan bagian dari satu rangkaian pengabdian. Semua itu diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi bekal kebaikan untuk kehidupan akhirat.

Melalui amanah di MUI dan kiprahnya di Fatayat NU, Sumiatun terus berupaya berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Semangat untuk berjuang sejak hari ini demi kemaslahatan dunia dan akhirat menjadi prinsip yang mengiringi setiap langkah pengabdiannya.

Identitas Singkat

  • Nama: Sumiatun
  • Alamat: Dusun Jatiroto, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga
  • Jabatan Sosial: Pengurus Fatayat PCNU Bojonegoro
  • Bidang Keahlian: Bisnis UMKM
  • Pesan: “Berjuang saat ini untuk kemaslahatan dunia akhirat.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Lestari

profil-pengurus-mui-kecamatan_0460494123

Lestari merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan perempuan, pembinaan remaja, keluarga, serta pengembangan ekonomi masyarakat. Berdomisili di Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Lestari dipercaya sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Amanah tersebut menjadi ruang bagi beliau untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan peran perempuan, membangun kualitas generasi muda, serta memperkuat ketahanan keluarga sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga dan masyarakat. Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keterampilan dan kemandirian, tetapi juga bagaimana perempuan dapat menjadi sumber inspirasi, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai kebaikan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Lestari juga aktif sebagai Pengurus Fatayat NU Sumberjo. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kiprah beliau dalam organisasi perempuan muda NU, khususnya dalam kegiatan sosial, keagamaan, pendidikan, serta pemberdayaan perempuan. Melalui organisasi, beliau turut membangun semangat kebersamaan dan kepedulian di tengah masyarakat.

Selain aktif dalam kegiatan organisasi, Lestari memiliki keahlian di bidang bisnis UMKM. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. UMKM tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarga, tetapi juga dapat membuka peluang usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di tingkat lokal.

Semangat pengabdian dan perjuangan beliau tercermin dalam pesan yang disampaikan:

“Bekerja dan berjuang bersinergi untuk kemaslahatan dunia akhirat.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa pekerjaan dan perjuangan hendaknya tidak dilakukan secara sendiri-sendiri. Sinergi menjadi kunci untuk menghadirkan hasil yang lebih besar dan memberikan manfaat yang lebih luas. Ketika kemampuan, tenaga, pikiran, dan pengalaman berbagai pihak dipadukan dalam tujuan yang baik, maka akan lahir kekuatan yang mampu memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar mengejar keberhasilan duniawi, perjuangan juga perlu diarahkan pada tujuan akhirat. Aktivitas ekonomi, organisasi, maupun pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik, cara yang benar, serta memberikan manfaat bagi sesama.

Prinsip tersebut menjadikan kerja dan pengabdian sebagai dua hal yang saling melengkapi. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan kehidupan, berjuang untuk memberikan manfaat, dan bersinergi agar kebaikan dapat dirasakan lebih banyak orang. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar.

Melalui amanah di MUI, kiprah di Fatayat NU, serta keterlibatannya dalam pengembangan UMKM, Lestari terus berupaya mengambil bagian dalam pemberdayaan masyarakat. Semangat bekerja, berjuang, dan bersinergi menjadi landasan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri, harmonis, dan penuh kemanfaatan, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Identitas Singkat

  • Nama: Lestari
  • Alamat: Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga
  • Jabatan Sosial: Pengurus Fatayat NU Sumberjo
  • Bidang Keahlian: Bisnis UMKM
  • Pesan: “Bekerja dan berjuang bersinergi untuk kemaslahatan dunia akhirat.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Lamiran, S.Pd.I., S.H.

profil-pengurus-mui-kecamatan02122433330

Lamiran, S.Pd.I., S.H. merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap dakwah, pengembangan masyarakat, serta penguatan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat. Beliau berdomisili di Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.

Selain mengemban amanah sebagai Ketua Umum MUI Kecamatan Margomulyo, Lamiran juga dipercaya sebagai Ketua MWCNU Margomulyo. Di luar struktur organisasi formal, beliau aktif sebagai Pengasuh Komunitas SANDAL BAKIYA (Santri Ndalan Bareng Kiyai), sebuah komunitas yang menjadi salah satu ruang untuk mendekatkan kegiatan dakwah dan pembelajaran keagamaan dengan kehidupan masyarakat.

Dengan latar belakang dan pengalaman yang dimiliki, Lamiran memiliki keahlian di bidang web desain dan supranatural. Kemampuan di bidang web desain menjadi bagian dari upaya memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media informasi dan dakwah, sementara aktivitas lainnya menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang beliau jalani.

Filosofi “Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak”

Sebagai kader dakwah, Lamiran memiliki prinsip yang cukup unik dan sarat dengan makna pengabdian:

“Sebagai kader dakwah kita harus siap menjadi Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak.”

Tiga istilah tersebut bukan sekadar permainan kata, melainkan menggambarkan tiga karakter penting yang menurut beliau harus dimiliki oleh seorang kader dakwah: berani berada di depan dalam kebaikan, siap berkorban secara finansial, dan berani memulai kebaikan sekaligus menghadapi risiko perjuangan.

1. Ujung Tombak: Menjadi Pelopor Kebaikan

Ujung tombak menggambarkan seseorang yang berada di barisan paling depan. Dalam konteks dakwah, kader tidak cukup hanya menjadi penonton atau menunggu orang lain memulai. Seorang kader harus memiliki keberanian untuk menjadi pelopor kebaikan.

Menjadi ujung tombak berarti siap mengambil inisiatif ketika melihat persoalan di masyarakat. Ketika ada kegiatan keagamaan yang perlu digerakkan, ia hadir. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan, ia datang. Ketika ada generasi muda yang membutuhkan ruang belajar, ia berusaha membuka jalan.

Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali 'Imran: 104)

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa dakwah membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil peran aktif dalam mengajak kepada kebaikan. Karena itu, seorang kader dakwah harus memiliki keberanian untuk tampil di depan ketika kebaikan membutuhkan penggerak.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)

Menjadi pelopor kebaikan berarti membuka pintu pahala bagi diri sendiri sekaligus mengantarkan orang lain menuju kebaikan.

2. Ujung Tombok: Siap Berkorban Secara Finansial

Istilah ujung tombok dalam ungkapan ini menggambarkan kesediaan seorang kader untuk mengeluarkan biaya pribadi ketika perjuangan membutuhkan dukungan finansial.

Dakwah tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Ada kalanya sebuah kegiatan membutuhkan biaya, fasilitas, transportasi, konsumsi, perlengkapan, atau kebutuhan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, seorang kader hendaknya memiliki jiwa siap berkorban, tentu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Pengorbanan harta untuk kebaikan mendapatkan perhatian besar dalam Al-Qur'an:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”
(QS. Ali 'Imran: 92)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan membutuhkan pengorbanan. Harta yang dimiliki tidak hanya menjadi sarana memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Dalam konteks pengabdian, “ujung tombok” bukan berarti seseorang harus memaksakan diri secara finansial. Maknanya adalah memiliki mental siap berkorban dan tidak selalu menghitung keuntungan pribadi ketika melihat ada kebaikan yang perlu diwujudkan.

Yang lebih utama adalah kemampuan menempatkan harta sebagai sarana khidmat, bukan sebagai tujuan utama kehidupan.

3. Ujung Tembak: Berani Memulai dan Menghadapi Risiko

Istilah ujung tembak menggambarkan keberanian untuk mengambil langkah pertama sekaligus kesiapan menghadapi konsekuensi dari perjuangan.

Dalam kehidupan dakwah, orang yang memulai sebuah kebaikan terkadang tidak langsung mendapatkan apresiasi. Bahkan, tidak jarang orang yang berada di garis depan menghadapi cacian, bullying, salah paham, tuduhan, atau fitnah.

Karena itu, kader dakwah harus memiliki mental yang kuat. Bukan berarti mencari konflik atau sengaja menempatkan diri dalam bahaya, tetapi memiliki keteguhan ketika kebaikan yang dilakukan menghadapi penolakan.

Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah, dan janganlah engkau bersedih terhadap mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”
(QS. An-Nahl: 127)

Seorang kader dakwah harus memahami bahwa jalan kebaikan tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Ada kalanya niat baik disalahpahami. Ada kalanya langkah yang dilakukan justru mendapatkan kritik. Di sinilah diperlukan kesabaran, kedewasaan, dan kemampuan untuk tetap berpegang pada prinsip.

Allah SWT juga berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-'Ankabut: 69)

Ayat tersebut memberikan optimisme bahwa kesungguhan dalam memperjuangkan kebaikan akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah SWT.

Dakwah Bukan Sekadar Kata, tetapi Keteladanan

Tiga prinsip tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: dakwah harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Seorang kader dakwah tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan. Ia juga harus bersedia menjadi orang pertama yang memberikan contoh. Tidak cukup mengajak orang lain bersedekah, tetapi juga memiliki kepedulian untuk berbagi. Tidak cukup mengajak masyarakat menjaga kerukunan, tetapi dirinya harus menjadi teladan dalam menjaga hubungan dengan sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

“Barang siapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala atas amal tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu.”
(HR. Muslim)

Pesan ini sangat relevan dengan prinsip “ujung tombak” dan “ujung tembak”: seseorang harus berani memulai kebaikan agar kebaikan tersebut memiliki jalan untuk berkembang.

Kalam Ulama: Ilmu Harus Melahirkan Amal

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal dan kemanfaatan.

Imam Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dikenal dengan ungkapan:

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ

“Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan engkau yang menjaga harta.”

Pesan tersebut dapat menjadi landasan bahwa kader dakwah harus membekali dirinya dengan ilmu, tetapi ilmu tersebut kemudian harus diwujudkan dalam amal nyata.

Sementara itu, Imam al-Ghazali mengingatkan tentang pentingnya keselarasan antara ilmu dan amal. Dalam tradisi pemikiran beliau, ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan tujuan utamanya, sementara amal tanpa ilmu berpotensi kehilangan arah.

Karena itu, kader dakwah idealnya memiliki tiga kekuatan sekaligus: ilmu yang benar, hati yang ikhlas, dan keberanian untuk beramal.

Makna Khidmat: Berjuang Tanpa Menunggu Pengakuan

Pada akhirnya, menjadi kader dakwah berarti belajar untuk memberi sebelum menerima, melayani sebelum dilayani, dan berbuat sebelum menuntut orang lain berbuat.

“Ujung tombak” mengajarkan keberanian menjadi pelopor.

“Ujung tombok” mengajarkan kesiapan berkorban.

“Ujung tembak” mengajarkan keberanian mengambil langkah dan keteguhan menghadapi risiko.

Ketiganya membutuhkan satu fondasi utama, yaitu keikhlasan. Tanpa keikhlasan, keberanian dapat berubah menjadi ambisi, pengorbanan dapat berubah menjadi tuntutan balasan, dan perjuangan dapat berubah menjadi keinginan mendapatkan pengakuan.

Allah SWT mengingatkan:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Maka, filosofi “Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak” pada hakikatnya adalah ajakan untuk menjadi kader dakwah yang siap berada di depan, siap berkorban, dan siap menghadapi tantangan, tetapi tetap menjaga niat agar seluruh perjuangan bermuara pada ridha Allah SWT dan kemanfaatan bagi umat.

Identitas Singkat

  • Nama: Lamiran, S.Pd.I., S.H.
  • Alamat: Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Ketua Umum
  • Jabatan Sosial: Ketua MWCNU Margomulyo; Pengasuh Komunitas SANDAL BAKIYA (Santri Ndalan Bareng Kiyai)
  • Bidang Keahlian: Web Desainer dan Supranatural
  • Prinsip Dakwah: “Sebagai kader dakwah kita harus siap menjadi Ujung Tombak, Ujung Tombok, dan Ujung Tembak.”
  • Makna: Ujung Tombak — siap menjadi pelopor kebaikan. Ujung Tombok — siap berkorban secara finansial sesuai kemampuan. Ujung Tembak — siap memulai kebaikan dan menghadapi berbagai risiko perjuangan dengan sabar, ikhlas, dan bertanggung jawab.
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sriani, S.Pd.

profil-pengurus-mui-kecamatan0924648448

Sriani, S.Pd. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat, pendidikan anak, serta kehidupan sosial keagamaan. Berdomisili di Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sriani, S.Pd. dipercaya sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal. Amanah tersebut menjadi ruang bagi beliau untuk turut mendukung upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat serta meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya produk yang halal, baik dalam aspek konsumsi maupun aktivitas ekonomi sehari-hari.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Sriani juga aktif sebagai Pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kiprah beliau dalam organisasi perempuan Nahdlatul Ulama, khususnya dalam mendukung kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sesuai dengan bidang keahliannya, Sriani memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan pada masa awal pertumbuhan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Melalui pendidikan yang tepat, anak tidak hanya dikenalkan pada pengetahuan dasar, tetapi juga nilai-nilai agama, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama.

Bagi Sriani, pendidikan anak merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang untuk masa depan. Anak-anak yang mendapatkan pendampingan dan pendidikan dengan baik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki ilmu, akhlak, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Semangat pengabdian beliau tercermin dalam pesan yang disampaikan: “Mengedepankan berkhidmat, semoga manfaat bagi umat.” Kalimat tersebut menggambarkan sebuah prinsip bahwa setiap amanah dan aktivitas organisasi hendaknya diarahkan pada kemanfaatan, bukan sekadar pada kedudukan atau kepentingan pribadi.

Berkhidmat berarti memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan untuk kepentingan agama dan masyarakat dengan penuh ketulusan. Ketika sebuah pengabdian mampu memberikan manfaat kepada orang lain, sekecil apa pun bentuknya, maka di situlah nilai sebuah khidmat menemukan maknanya.

Melalui amanah di MUI, kiprahnya di Muslimat NU, serta pengabdiannya dalam dunia pendidikan anak usia dini, Sriani, S.Pd. terus berupaya mengambil bagian dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Semangat untuk berkhidmat dan memberikan manfaat bagi umat menjadi landasan dalam menjalankan setiap amanah yang dipercayakan kepadanya.

Identitas Singkat

  • Nama: Sriani, S.Pd.
  • Alamat: Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal
  • Jabatan Sosial: Pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Pendidikan Anak Usia Dini
  • Pesan: “Mengedepankan berkhidmat, semoga manfaat bagi umat.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Jamin

profil-pengurus-mui-kecamatan_0352424899
Jamin merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap pengabdian masyarakat dan pengembangan dakwah, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses. Berdomisili di Dusun Batang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Jamin dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk turut merancang, mengembangkan, dan menggerakkan kegiatan dakwah yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Perhatian beliau tidak hanya tertuju pada kegiatan dakwah di lingkungan yang mudah dijangkau, tetapi juga pada pengembangan dakwah di daerah-daerah terpencil. Bagi beliau, setiap masyarakat memiliki hak yang sama untuk memperoleh pembinaan dan pemahaman keagamaan. Karena itu, dakwah perlu hadir secara nyata, menyentuh kebutuhan masyarakat, serta dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana dan penuh keteladanan.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Jamin juga aktif sebagai Pengurus Ranting NU Margomulyo. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan khidmat beliau dalam menguatkan kegiatan keagamaan dan sosial di tengah masyarakat. Melalui organisasi, beliau turut membangun semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga.

Bidang keahlian beliau meliputi pengabdian masyarakat dan pengembangan dakwah daerah terpencil. Keahlian tersebut menunjukkan bahwa dakwah bagi beliau bukan hanya tentang menyampaikan pesan melalui kata-kata, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat secara langsung. Kehadiran seorang pendakwah di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan solusi, keteladanan, dan semangat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Prinsip pengabdian tersebut tercermin dalam pesan yang beliau sampaikan:

“Daripada berjuta kata yang muluk-muluk, lebih baik sekelumit perbuatan yang terbaik.”

Pesan sederhana ini mengandung makna yang mendalam. Kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui kata-kata yang panjang dan indah. Sering kali, sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus justru memiliki dampak yang lebih besar daripada banyaknya nasihat yang tidak diwujudkan dalam perbuatan.

Bagi Jamin, keteladanan adalah bagian penting dari dakwah. Apa yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi pesan yang hidup dan mudah dirasakan oleh masyarakat. Karena itu, pengabdian hendaknya tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.

Melalui amanah sebagai Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI serta kiprahnya di Ranting NU Margomulyo, Jamin terus berupaya menghadirkan dakwah yang membumi, menyentuh masyarakat, dan berorientasi pada kemaslahatan. Baginya, sebaik-baiknya pengabdian adalah ketika ilmu, tenaga, dan waktu dapat diwujudkan menjadi perbuatan nyata yang bermanfaat bagi umat.

Identitas Singkat

  • Nama: Jamin
  • Alamat: RT 02/RW 08, Dusun Batang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat
  • Jabatan Sosial: Pengurus Ranting NU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Dakwah Daerah Terpencil
  • Pesan: “Daripada berjuta kata yang muluk-muluk, lebih baik sekelumit perbuatan yang terbaik.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Paniran

profil-pengurus-mui-kecamatan_01997704349

Paniran merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam pengabdian keagamaan dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Berdomisili di Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam memberikan kontribusi bagi pembinaan umat dan penguatan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Paniran dipercaya sebagai Anggota Komisi Fatwa. Amanah tersebut memiliki peran penting dalam memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan keagamaan yang berkembang di masyarakat. Komisi Fatwa menjadi salah satu bagian penting dalam memberikan pandangan dan rujukan keagamaan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam serta mempertimbangkan kemaslahatan umat.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Paniran juga dipercaya sebagai Pengurus Ranting NU dengan amanah sebagai Rais Syuriyah. Peran tersebut menjadi bagian dari pengabdian beliau dalam memberikan bimbingan keagamaan, menjaga tradisi keislaman, serta memperkuat kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat di tingkat desa.

Bidang yang menjadi perhatian dan keahlian beliau meliputi pengabdian masyarakat dan pembinaan keluarga sakinah. Menurut pandangan beliau, keluarga merupakan salah satu fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang baik. Keluarga yang dibangun dengan iman, ketulusan, kasih sayang, dan tanggung jawab akan menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki akhlak dan karakter yang kuat.

Semangat pengabdian Paniran berlandaskan pada prinsip ikhlas dan mengharap ridha Allah SWT. Pesan yang beliau sampaikan menjadi refleksi tentang hakikat berkhidmat dalam kehidupan beragama:

“Berkhidmat di dalam agama Islam jangan berharap apa pun selain ridha Allah SWT. Kita harus bergerak dan maju dengan hati yang tulus dan ikhlas.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa pengabdian kepada agama hendaknya tidak didasari oleh keinginan memperoleh pujian, kedudukan, maupun keuntungan pribadi. Ketulusan menjadi dasar utama agar setiap langkah perjuangan tetap memiliki nilai ibadah dan memberikan manfaat bagi umat.

“Bergerak dan maju” juga menjadi ajakan untuk tidak berhenti dalam berbuat kebaikan. Tantangan zaman terus berkembang, sehingga umat perlu memiliki semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun, kemajuan tersebut tetap harus dibangun di atas hati yang tulus dan niat yang ikhlas.

Melalui amanah di Komisi Fatwa MUI dan kiprahnya sebagai Rais Syuriyah Ranting NU, Paniran terus berupaya memberikan pengabdian dengan menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan utama. Pengabdian kepada agama, pembinaan keluarga, dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik, harmonis, dan penuh keberkahan.

Identitas Singkat

  • Nama: Paniran
  • Alamat: Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Fatwa
  • Jabatan Sosial: Pengurus Ranting NU (Rais Syuriyah)
  • Bidang Keahlian: Pengabdian Masyarakat dan Pembinaan Keluarga Sakinah
  • Pesan: “Berkhidmat di dalam agama Islam jangan berharap apa pun selain ridha Allah SWT. Kita harus bergerak dan maju dengan hati yang tulus dan ikhlas.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Kuslan, S.H.

profil-pengurus-mui-kecamatan_0628684335
Kuslan, S.H. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam pengabdian kepada masyarakat serta pembinaan kehidupan keluarga. Berdomisili di Dusun Wates, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Kuslan, S.H. dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum. Amanah tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab beliau dalam mendukung arah organisasi, memperkuat koordinasi antarpengurus, serta ikut mendorong terlaksananya berbagai program MUI yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga aktif sebagai Pengurus MWCNU Margomulyo dengan amanah sebagai Rais Syuriyah. Peran tersebut menunjukkan kepercayaan yang diberikan kepada beliau dalam bidang keagamaan sekaligus menjadi ruang pengabdian untuk memberikan bimbingan, nasihat, dan perhatian terhadap kehidupan keagamaan serta sosial masyarakat.

Sesuai dengan bidang keahliannya, Kuslan memiliki perhatian terhadap pengabdian masyarakat dan pembinaan keluarga sakinah. Dua bidang tersebut memiliki keterkaitan yang erat dalam membangun masyarakat yang kuat. Keluarga yang harmonis, berlandaskan nilai agama dan penuh kasih sayang, akan menjadi fondasi penting bagi terbentuknya masyarakat yang rukun dan berkarakter.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pengabdian menurut beliau bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga tentang menanam kebaikan sebanyak mungkin. Prinsip tersebut tercermin dalam pesan yang beliau sampaikan:

“Dunia tempat menanam, tanamlah yang baik-baik, besuk akan membuahkan hasil yang baik-baik.”

Pesan tersebut mengandung filosofi bahwa kehidupan di dunia merupakan kesempatan bagi manusia untuk menanam berbagai amal dan kebaikan. Setiap perkataan, perbuatan, kepedulian, dan pengabdian yang dilakukan pada hari ini pada hakikatnya merupakan bagian dari “benih” yang kelak akan dipetik hasilnya.

Karena itu, manusia diajak untuk senantiasa menanam kebaikan, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam kehidupan berorganisasi. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus mungkin tidak selalu langsung terlihat hasilnya, tetapi akan meninggalkan manfaat dan menjadi bekal berharga di kemudian hari.

Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian Kuslan, S.H. melalui MUI dan Nahdlatul Ulama. Dengan perhatian terhadap masyarakat dan keluarga sakinah, beliau terus berupaya menanam nilai-nilai kebaikan agar tumbuh menjadi kehidupan yang lebih harmonis, damai, dan penuh keberkahan.

Identitas Singkat

  • Nama: Kuslan, S.H.
  • Alamat: Dusun Wates, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Wakil Ketua Umum
  • Jabatan Sosial: Pengurus MWCNU Margomulyo (Rais Syuriyah)
  • Bidang Keahlian: Pengabdian Masyarakat dan Pembinaan Keluarga Sakinah
  • Pesan: “Dunia tempat menanam, tanamlah yang baik-baik, besuk akan membuahkan hasil yang baik-baik.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Syaifuddin, S.H.

profil-pengurus-mui-kecamatan_0493839006
Syaifuddin, S.H. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap penguatan organisasi, pembinaan umat, serta upaya menjaga kehidupan beragama yang damai dan harmonis. Beliau berdomisili di Dusun Bandung RT 02/RW 02, Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Syaifuddin, S.H. dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum. Jabatan tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran roda organisasi, khususnya dalam bidang administrasi, koordinasi, komunikasi, serta penyusunan dan pelaksanaan berbagai program MUI.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga aktif sebagai Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Amanah tersebut menjadi bagian dari kiprah beliau dalam memperkuat organisasi dan memberikan kontribusi dalam kehidupan keagamaan serta sosial kemasyarakatan. Melalui peran tersebut, beliau turut mendorong terciptanya kehidupan umat yang rukun, damai, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang moderat.

Salah satu bidang keahlian yang menjadi perhatian beliau adalah pembinaan anti-radikalisme dan aliran sempalan. Bidang ini memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman keagamaan yang benar, bijaksana, dan kontekstual kepada masyarakat. Pembinaan tersebut diarahkan untuk membangun sikap keberagamaan yang seimbang, menjunjung persaudaraan, serta mampu menyikapi perbedaan dengan cara yang dewasa dan penuh hikmah.

Dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya, Syaifuddin memegang sebuah pesan yang singkat tetapi memiliki kedalaman spiritual: “Berjalan, bernapas bersama Ilahi.” Pesan tersebut menggambarkan sebuah pandangan bahwa setiap langkah kehidupan hendaknya senantiasa dekat dengan Allah SWT.

“Berjalan” dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup yang terus bergerak, menghadapi berbagai keadaan dan tantangan. Sementara “bernapas bersama Ilahi” menjadi pengingat bahwa dalam setiap langkah dan aktivitas, manusia hendaknya tidak pernah melupakan Allah sebagai sumber kekuatan dan tempat bersandar.

Nilai tersebut mengajarkan bahwa pengabdian tidak hanya membutuhkan kemampuan dan tanggung jawab, tetapi juga kesadaran spiritual. Ketika setiap langkah diniatkan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah, maka pekerjaan organisasi, pelayanan kepada umat, maupun aktivitas sosial dapat memiliki nilai yang lebih bermakna.

Melalui amanah sebagai Sekretaris Umum MUI, kiprah sebagai Wakil Ketua MWCNU Margomulyo, serta perhatiannya terhadap pembinaan umat dan pencegahan radikalisme, Syaifuddin, S.H. terus berupaya mengambil bagian dalam menjaga kehidupan keagamaan yang damai, moderat, dan penuh persaudaraan.

Identitas Singkat

  • Nama: Syaifuddin, S.H.
  • Alamat: Dusun Bandung RT 02/RW 02, Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Sekretaris Umum
  • Jabatan Sosial: Wakil Ketua MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Pembinaan Anti-Radikalisme dan Aliran Sempalan
  • Pesan: “Berjalan, bernapas bersama Ilahi.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Eko Sunarno

profil-pengurus-mui-kecamatan_0535838497
Eko Sunarno merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam pengabdian keagamaan dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Berdomisili di Dusun Meduri RT 02/RW 08, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Eko Sunarno dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum. Amanah tersebut menjadi tanggung jawab yang tidak hanya berkaitan dengan organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendukung berbagai program MUI dalam memberikan pelayanan, pembinaan, dan kemanfaatan bagi umat.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Ranting NU Meduri. Melalui peran tersebut, Eko Sunarno aktif dalam menggerakkan kegiatan keagamaan dan sosial di tingkat masyarakat. Kiprahnya menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan, menjaga tradisi keagamaan, serta membangun komunikasi dan kepedulian di antara warga.

Salah satu bidang keahlian yang menjadi perhatian beliau adalah pembinaan keluarga sakinah. Baginya, keluarga merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang baik. Keluarga yang dibangun dengan nilai agama, kasih sayang, komunikasi, dan tanggung jawab akan menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki akhlak serta kepribadian yang kuat.

Pembinaan keluarga sakinah juga menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern. Di tengah perubahan zaman dan beragam pengaruh dari lingkungan, keluarga membutuhkan ketahanan moral dan spiritual agar tetap menjadi tempat yang nyaman untuk saling belajar, menguatkan, dan menjalankan kehidupan sesuai tuntunan agama.

Dalam menjalani kehidupan, Eko Sunarno memiliki pesan yang sederhana namun penuh makna: “Jangan tinggalkan yang baik demi sesuatu yang menarik.” Pesan ini mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam menentukan pilihan. Sesuatu yang terlihat menarik belum tentu lebih baik, sementara sesuatu yang sudah terbukti membawa kebaikan hendaknya tidak mudah ditinggalkan hanya karena tergoda oleh hal baru.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap keputusan dipertimbangkan dengan matang, tidak hanya berdasarkan penampilan atau daya tarik sesaat, tetapi juga berdasarkan manfaat, nilai kebaikan, dan keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Melalui amanah di MUI, kiprah di Nahdlatul Ulama, serta perhatian terhadap pembinaan keluarga sakinah, Eko Sunarno terus berupaya memberikan kontribusi bagi masyarakat. Pengabdian tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan keluarga yang harmonis, masyarakat yang rukun, dan kehidupan keagamaan yang semakin kuat di Kecamatan Margomulyo.

Identitas Singkat

  • Nama: Eko Sunarno
  • Alamat: Dusun Meduri RT 02/RW 08, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Wakil Ketua Umum
  • Jabatan Sosial: Ketua Ranting NU Meduri
  • Bidang Keahlian: Pembinaan Keluarga Sakinah
  • Pesan: “Jangan tinggalkan yang baik demi sesuatu yang menarik.”

 

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Arsip

Label