Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Moch. Iksan

profil-pengurus-mui-kecamatan_025111164

Moch. Iksan merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap penguatan dakwah, pembinaan umat, serta kehidupan keluarga yang harmonis. Berdomisili di Dusun Payung, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Moch. Iksan dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa. Amanah ini merupakan salah satu tugas penting dalam kehidupan keumatan, karena berkaitan dengan upaya memberikan pandangan dan bimbingan keagamaan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Komisi Fatwa memiliki peran dalam membantu umat memahami berbagai persoalan kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam menjalankan amanah tersebut, diperlukan keluasan wawasan keagamaan, ketelitian, sikap hati-hati, serta kemampuan melihat persoalan secara objektif agar nasihat dan pandangan yang diberikan benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat.

Berkhidmat melalui Dakwah dan Organisasi

Selain mengemban amanah di MUI, Moch. Iksan juga aktif sebagai Pengurus NU Ranting Desa Geneng. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian beliau dalam memperkuat kegiatan keagamaan dan sosial di tingkat masyarakat desa.

Organisasi menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi masyarakat dalam satu semangat kebersamaan. Melalui NU Ranting Desa Geneng, beliau turut berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan, pembinaan umat, serta kegiatan sosial yang bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kiprah tersebut sejalan dengan bidang keahlian beliau, yaitu dakwah dan pembinaan keluarga sakinah. Dakwah tidak hanya berkaitan dengan menyampaikan ilmu agama, tetapi juga bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah yang baik hendaknya mampu memberikan ketenangan, pencerahan, dan solusi bagi masyarakat. Dengan pendekatan yang bijaksana dan bahasa yang mudah dipahami, pesan agama dapat lebih dekat dengan kehidupan umat.

Keluarga Sakinah sebagai Fondasi Masyarakat

Perhatian Moch. Iksan terhadap pembinaan keluarga sakinah menunjukkan pentingnya membangun masyarakat dari lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar tentang agama, akhlak, kasih sayang, tanggung jawab, dan kehidupan sosial. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsinya dengan baik, akan tumbuh generasi yang memiliki karakter kuat dan kepedulian terhadap sesama.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan keluarga idealnya dibangun di atas sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketenangan, kasih sayang, dan rahmat menjadi unsur penting dalam membangun rumah tangga yang kokoh.

Pembinaan keluarga sakinah pada akhirnya bukan hanya bertujuan menciptakan rumah tangga yang harmonis, tetapi juga membangun generasi yang mampu membawa nilai-nilai kebaikan ke tengah masyarakat.

“Hādzā Min Faḍli Rabbī”

Pesan yang menjadi prinsip Moch. Iksan adalah:

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”

Ungkapan tersebut merupakan bentuk kesadaran dan rasa syukur bahwa segala nikmat, kemampuan, kesempatan, dan keberhasilan yang diperoleh manusia pada hakikatnya merupakan karunia Allah SWT.

Ungkapan ini terdapat dalam Al-Qur'an ketika Nabi Sulaiman AS menyaksikan karunia besar yang diberikan Allah kepadanya:

قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).’”
(QS. An-Naml: 40)

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa nikmat sekaligus merupakan ujian. Ketika seseorang memperoleh amanah, ilmu, kemampuan, maupun kedudukan, yang harus dilakukan bukan sekadar merasa bangga, tetapi bertanya kepada diri sendiri: untuk apa nikmat tersebut digunakan?

Bagi seorang pengurus organisasi keagamaan, kesadaran tersebut menjadi sangat penting. Jabatan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dari Nikmat Menuju Pengabdian

Makna هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي dapat diwujudkan melalui rasa syukur yang melahirkan pengabdian. Ilmu yang diberikan Allah dapat digunakan untuk membimbing umat. Waktu yang dimiliki dapat digunakan untuk melayani masyarakat. Kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk memperkuat organisasi dan membantu menyelesaikan persoalan umat.

Dalam konteks Moch. Iksan, amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa menjadi kesempatan untuk turut memberikan kontribusi dalam bidang keagamaan. Keahlian di bidang dakwah menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, sementara kemampuan dalam pembinaan keluarga sakinah menjadi jalan untuk memperkuat kehidupan rumah tangga masyarakat.

Dengan demikian, syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui amal, pelayanan, dan kemanfaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa rasa syukur juga perlu diwujudkan dalam hubungan sosial. Menghargai, membantu, dan memberikan manfaat kepada sesama merupakan bagian dari akhlak seorang muslim.

Fatwa, Dakwah, dan Kemashlahatan Umat

Amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa membutuhkan sikap yang bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan. Kehidupan masyarakat terus berkembang, sementara persoalan keagamaan dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Karena itu, dakwah dan pembinaan umat membutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan masyarakat. Prinsip utama yang harus dikedepankan adalah memberikan pemahaman yang benar sekaligus menjaga kemaslahatan dan persatuan umat.

Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya hikmah dan cara yang baik dalam berdakwah. Kebenaran perlu disampaikan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan akhlak yang baik agar dapat diterima dan memberikan manfaat.

Melalui amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Kecamatan Margomulyo, keterlibatan sebagai Pengurus NU Ranting Desa Geneng, serta keahlian dalam dakwah dan pembinaan keluarga sakinah, Moch. Iksan terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.

Pesan هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي — “Ini adalah karunia dari Tuhanku” menjadi pengingat bahwa setiap amanah dan kemampuan bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi, melainkan kesempatan untuk semakin banyak berbuat baik.

Sebab, ketika seseorang menyadari bahwa semua yang dimilikinya adalah karunia Allah, maka ilmu akan menjadi sarana membimbing, jabatan menjadi amanah, dan kemampuan menjadi jalan pengabdian kepada umat.

Identitas Singkat

  • Nama: Moch. Iksan
  • Alamat: Dusun Payung, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Fatwa
  • Jabatan Sosial: Pengurus NU Ranting Desa Geneng
  • Bidang Keahlian: Dakwah dan Pembinaan Keluarga Sakinah
  • Pesan: هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Hendra Pratama

profil-pengurus-mui-kecamatan_01482195187

Hendra Pratama merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap bidang komunikasi, digitalisasi informasi, serta pembinaan keluarga. Berdomisili di Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Hendra Pratama dipercaya sebagai Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi. Amanah ini memiliki peranan penting di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat. Informasi keagamaan dan sosial kini dapat disampaikan dengan lebih cepat dan menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui berbagai media digital.

Melalui bidang tersebut, Hendra turut mendukung upaya membangun komunikasi organisasi yang efektif, menyampaikan informasi secara tepat, serta mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana dakwah dan pelayanan kepada masyarakat. Di era ketika arus informasi begitu deras, kemampuan memilah, mengolah, dan menyampaikan informasi secara bijaksana menjadi bagian penting dari tanggung jawab sosial.

Berkhidmat melalui Literasi dan Informasi

Dalam kehidupan organisasi, hubungan masyarakat bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan yang baik dengan masyarakat. Informasi yang disampaikan dengan benar, santun, dan bertanggung jawab dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara lembaga keagamaan dengan umat.

Hendra juga aktif sebagai Anggota LTN NU Margomulyo. Keterlibatan dalam Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama tersebut menjadi bagian dari kiprah dalam bidang literasi, informasi, publikasi, dan penyebaran gagasan keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sinergi antara tugas di MUI dan aktivitas di LTN NU menjadi modal untuk turut mengembangkan dakwah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga dapat hadir melalui tulisan, dokumentasi, media digital, dan berbagai bentuk informasi yang mudah diterima masyarakat.

Fasilitator Keluarga Sakinah

Selain bidang komunikasi dan informasi, Hendra Pratama memiliki keahlian sebagai Fasilitator Keluarga Sakinah. Bidang ini menunjukkan perhatian beliau terhadap pentingnya membangun keluarga yang harmonis, saling menghargai, dan berlandaskan nilai-nilai agama.

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi setiap manusia. Dari keluarga, seseorang belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, kejujuran, dan bagaimana memperlakukan orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa keluarga idealnya menjadi tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah. Karena itu, pembinaan keluarga bukan hanya persoalan hubungan rumah tangga, tetapi juga merupakan bagian dari membangun kualitas generasi dan masyarakat.

Sebagai fasilitator, peran Hendra dapat menjadi bagian dari upaya mendampingi masyarakat dalam memahami pentingnya komunikasi, tanggung jawab, saling menghormati, dan penyelesaian persoalan keluarga secara bijaksana.

“Hādzā Min Faḍli Rabbī”

Pesan yang menjadi prinsip Hendra Pratama adalah:

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”

Ungkapan tersebut mengandung nilai syukur dan kesadaran bahwa setiap keberhasilan merupakan bagian dari karunia Allah SWT. Manusia memang berkewajiban untuk berusaha, belajar, dan bekerja keras. Namun, pada akhirnya segala kemampuan, kesempatan, dan hasil yang diperoleh tidak terlepas dari kehendak dan pertolongan Allah SWT.

Ungkapan tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an ketika Nabi Sulaiman AS menyadari besarnya nikmat yang diberikan Allah kepadanya:

قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).’”
(QS. An-Naml: 40)

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa nikmat bukan hanya sesuatu yang harus dinikmati, tetapi juga merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Ketika memperoleh keberhasilan, seseorang hendaknya tidak larut dalam kebanggaan, melainkan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.

Syukur yang Melahirkan Pengabdian

Makna هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي tidak berhenti pada ucapan syukur. Rasa syukur yang sebenarnya dapat diwujudkan dengan menggunakan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Kemampuan dalam bidang komunikasi dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang baik. Keahlian dalam pembinaan keluarga dapat digunakan untuk membantu masyarakat membangun rumah tangga yang harmonis. Sementara keterlibatan dalam organisasi menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan memperkuat kebersamaan.

Dengan demikian, syukur dan pengabdian memiliki hubungan yang erat. Semakin seseorang menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya merupakan karunia Allah, semakin besar pula dorongan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.

Dakwah di Era Digital

Perkembangan teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia dakwah. Informasi keagamaan kini dapat menjangkau masyarakat dengan cepat, tetapi pada saat yang sama masyarakat juga berhadapan dengan informasi yang tidak selalu benar.

Karena itu, dakwah di era digital membutuhkan kecermatan, etika, dan tanggung jawab. Informasi yang disampaikan hendaknya memiliki dasar yang jelas, menggunakan bahasa yang santun, serta mengutamakan kemaslahatan dan persatuan umat.

Di sinilah peran Humas dan Digitalisasi Informasi menjadi semakin penting. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas manfaat dakwah dan pelayanan kepada masyarakat.

Melalui amanah sebagai Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi MUI Kecamatan Margomulyo serta keterlibatannya di LTN NU Margomulyo, Hendra Pratama mengambil bagian dalam upaya menghadirkan informasi dan komunikasi yang positif.

Sementara melalui keahlian sebagai Fasilitator Keluarga Sakinah, beliau turut memberikan perhatian terhadap penguatan keluarga sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, pesan هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي — “Ini adalah karunia dari Tuhanku” menjadi pengingat bahwa setiap kemampuan, amanah, dan kesempatan untuk berbuat baik adalah nikmat yang patut disyukuri.

Berusaha dengan sungguh-sungguh, menerima hasil dengan lapang, mensyukuri setiap nikmat, dan menjadikan karunia Allah sebagai jalan untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Identitas Singkat

  • Nama: Hendra Pratama
  • Alamat: Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi
  • Jabatan Sosial: Anggota LTN NU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Fasilitator Keluarga Sakinah
  • Pesan: هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Drs. Moch. Thoyib

profil-pengurus-mui-kecamatan_02086446410

Drs. Moch. Thoyib merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap penguatan ukhuwah Islamiyah, kerukunan antarumat beragama, serta pembinaan kehidupan keluarga dan masyarakat. Berdomisili di Dusun Jeruk Gulung, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Drs. Moch. Thoyib dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Kerukunan Umat Beragama. Amanah ini memiliki posisi penting dalam menjaga persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.

Ukhuwah Islamiyah tidak hanya berbicara tentang hubungan antarsesama muslim, tetapi juga mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan seluruh masyarakat. Perbedaan latar belakang, pemikiran, maupun pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi menimbulkan permusuhan.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali 'Imran: 103)

Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa persatuan dan kebersamaan merupakan nilai yang harus terus dijaga. Dalam kehidupan bermasyarakat, kerukunan bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan mampu hidup berdampingan dengan saling menghormati.

Pengabdian melalui DMI dan Nahdlatul Ulama

Selain amanah di MUI, Drs. Moch. Thoyib juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) serta Pengurus MWCNU Margomulyo. Dua peran tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian beliau dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan.

Sebagai Ketua DMI, perhatian terhadap masjid menjadi bagian penting dalam pengabdian. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan, pembinaan umat, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ukhuwah.

Sementara keterlibatan dalam MWCNU menjadi ruang untuk turut memperkuat kegiatan keagamaan dan sosial di tingkat kecamatan. Sinergi antara MUI, DMI, NU, dan berbagai elemen masyarakat menjadi modal penting untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai dan memberikan manfaat luas.

Humas dan Pembinaan Keluarga Sakinah

Drs. Moch. Thoyib memiliki bidang keahlian dalam Humas dan Bina Sakinah. Kemampuan membangun komunikasi menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam.

Komunikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman, mempererat hubungan, dan menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan dengan cara yang bijaksana. Dalam konteks ukhuwah dan kerukunan, kemampuan mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain menjadi bagian penting dari membangun hubungan sosial yang sehat.

Sementara pembinaan keluarga sakinah menjadi bagian dari upaya memperkuat kehidupan keluarga sebagai fondasi masyarakat. Keluarga yang harmonis akan melahirkan lingkungan yang sehat bagi tumbuhnya generasi yang berakhlak, toleran, dan memiliki kepedulian sosial.

“Tetaplah Berbuat Baik di Saat Alam Tidak Baik-Baik”

Prinsip kehidupan yang menjadi pesan Drs. Moch. Thoyib adalah:

“Tetaplah berbuat baik di saat alam tidak baik-baik.”

Pesan tersebut mengandung ajaran tentang istiqamah dalam kebaikan. Berbuat baik ketika keadaan sedang baik mungkin terasa mudah. Namun, mempertahankan kebaikan ketika menghadapi keadaan yang sulit, tekanan, perbedaan, atau perlakuan yang kurang menyenangkan membutuhkan keteguhan hati.

Kebaikan tidak seharusnya bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. Justru ketika keadaan tidak ideal, karakter seseorang akan terlihat. Apakah ia tetap mampu bersikap santun, sabar, dan bijaksana, atau justru membalas keburukan dengan keburukan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fussilat: 34)

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa kebaikan justru memiliki kekuatan ketika berhadapan dengan keburukan. Sikap yang baik dapat menjadi jalan untuk meredakan permusuhan dan membuka kembali ruang persaudaraan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut mengajarkan tiga hal penting: menjaga ketakwaan, membalas keburukan dengan kebaikan, dan membangun hubungan dengan manusia melalui akhlak yang baik.

Menjaga Kebaikan di Tengah Perbedaan

Dalam kehidupan masyarakat, keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, persoalan sosial, bahkan situasi yang dapat memicu konflik.

Di sinilah pentingnya keteladanan dari para tokoh agama dan masyarakat. Ketika situasi sedang tidak baik, dibutuhkan orang-orang yang mampu menjadi penyejuk, bukan justru menambah panas keadaan.

Menjaga ukhuwah berarti bersedia menjadi jembatan ketika terjadi perbedaan. Menjaga kerukunan berarti mengutamakan dialog daripada pertengkaran. Dan menjaga kebaikan berarti tidak membiarkan keadaan yang buruk mengubah diri menjadi buruk pula.

Pesan “Tetaplah berbuat baik di saat alam tidak baik-baik” dengan demikian bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga menjadi prinsip penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Menjadi Penjaga Persaudaraan

Amanah Drs. Moch. Thoyib sebagai Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Kerukunan Umat Beragama MUI Kecamatan Margomulyo menjadi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Di tengah perubahan sosial yang cepat, persatuan dan kerukunan harus terus dirawat.

Melalui peran di MUI, DMI, dan MWCNU Margomulyo, beliau terus berupaya mengambil bagian dalam menjaga hubungan baik antarsesama, memperkuat kehidupan masjid, serta membangun keluarga dan masyarakat yang harmonis.

Pada akhirnya, kehidupan yang damai tidak lahir hanya dari banyaknya aturan, tetapi dari kesediaan setiap orang untuk menjaga akhlak, menghormati perbedaan, dan terus berbuat baik.

Sebab, ketika keadaan di sekitar kita tidak selalu baik-baik saja, justru saat itulah kebaikan kita paling dibutuhkan.

Identitas Singkat

  • Nama: Drs. Moch. Thoyib
  • Alamat: Dusun Jeruk Gulung, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Kerukunan Umat Beragama
  • Jabatan Sosial: Ketua DMI dan Pengurus MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Humas dan Bina Sakinah
  • Pesan: “Tetaplah berbuat baik di saat alam tidak baik-baik.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Atin

profil-pengurus-mui-kecamatan_0370103746

Atin merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap pembinaan umat, komunikasi sosial, serta penguatan kehidupan keluarga yang harmonis. Berdomisili di Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Atin dipercaya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan. Amanah tersebut menempatkan beliau sebagai salah satu bagian yang turut memberikan pandangan, pertimbangan, dan masukan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan.

Di luar kepengurusan MUI, Atin aktif sebagai Dai Polres Bojonegoro sekaligus Pengurus MWCNU Margomulyo. Peran sebagai dai menjadi bagian dari pengabdian dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat dengan pendekatan yang komunikatif dan menyejukkan. Sementara keterlibatan di MWCNU menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan serta mendukung kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Humas dan Pembinaan Keluarga Sakinah

Atin memiliki bidang keahlian dalam Humas dan Bina Sakinah. Dua bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat.

Humas membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, menjalin hubungan yang baik, serta menyampaikan pesan secara tepat kepada berbagai lapisan masyarakat. Dalam kehidupan sosial, komunikasi yang baik dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan, menyelesaikan perbedaan, dan menjaga kerukunan.

Sementara Bina Sakinah berkaitan dengan upaya membangun keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, saling menghormati, dan berlandaskan nilai-nilai agama. Keluarga yang kokoh menjadi salah satu fondasi penting bagi terbentuknya masyarakat yang sehat dan berkarakter.

Keluarga bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga tempat pertama bagi seseorang belajar tentang nilai, akhlak, tanggung jawab, dan kepedulian. Karena itu, pembinaan keluarga memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar kehidupan rumah tangga.

“Kebaikanmu Sekarang Akan Menjadi Jejakmu di Masa Akan Datang”

Prinsip yang menjadi pesan Atin adalah:

“Kebaikanmu sekarang akan menjadi jejakmu di masa akan datang.”

Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia akan meninggalkan jejak. Apa yang dilakukan hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi dapat memberikan pengaruh bagi kehidupan di masa mendatang.

Sebuah perkataan yang baik dapat dikenang. Sebuah bantuan dapat mengubah kehidupan seseorang. Sebuah nasihat dapat menjadi pegangan bagi orang lain. Bahkan sebuah keteladanan sederhana dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia. Sekecil apa pun amal yang dilakukan dengan niat yang baik akan memiliki nilai di hadapan Allah SWT.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(Muttafaq ‘alaih)

Pesan tersebut mengajarkan pentingnya menebarkan kasih sayang dalam kehidupan. Kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada hakikatnya merupakan investasi moral dan spiritual yang akan meninggalkan jejak dalam kehidupan.

Membangun Jejak Kebaikan

Menjadi seorang dai dan pengurus organisasi keagamaan berarti memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan yang lebih luas. Setiap kegiatan dakwah, nasihat, pendampingan, dan pelayanan kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari amal yang manfaatnya terus berkembang.

Jejak kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Terkadang ia hadir melalui hal-hal sederhana: menyapa dengan ramah, mendengarkan keluhan seseorang, memberikan nasihat dengan bijaksana, membantu keluarga yang membutuhkan, atau menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks pembinaan keluarga sakinah, jejak kebaikan juga dapat dimulai dari rumah. Orang tua yang memberikan keteladanan kepada anak sedang menanamkan nilai yang mungkin akan dibawa oleh anak tersebut sepanjang hidupnya.

Karena itu, membangun keluarga sakinah sesungguhnya juga merupakan upaya membangun jejak kebaikan lintas generasi.

Dakwah yang Meninggalkan Manfaat

Kiprah Atin sebagai Dai Polres Bojonegoro, Pengurus MWCNU Margomulyo, dan Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo menunjukkan bahwa dakwah dapat hadir di berbagai ruang kehidupan.

Dakwah tidak hanya berlangsung di masjid atau majelis pengajian. Dakwah juga dapat hadir melalui komunikasi yang baik, keteladanan, pembinaan keluarga, pelayanan masyarakat, serta kemampuan menciptakan suasana yang damai dan harmonis.

Pada akhirnya, pesan “Kebaikanmu sekarang akan menjadi jejakmu di masa akan datang” menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang baik.

Ketika usia, jabatan, dan berbagai pencapaian duniawi akhirnya berlalu, yang akan tetap dikenang adalah manfaat yang pernah diberikan dan kebaikan yang pernah ditanamkan.

Melalui amanah di MUI, kiprah sebagai Dai Polres Bojonegoro, serta pengabdian di MWCNU Margomulyo, Atin terus berupaya menanam jejak kebaikan melalui dakwah, komunikasi, dan pembinaan keluarga. Sebab, setiap kebaikan yang dilakukan hari ini adalah bagian dari warisan nilai yang dapat terus hidup di masa yang akan datang.

Identitas Singkat

  • Nama: Atin
  • Alamat: Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Anggota Dewan Pertimbangan
  • Jabatan Sosial: Dai Polres Bojonegoro dan Pengurus MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Humas dan Bina Sakinah
  • Pesan: “Kebaikanmu sekarang akan menjadi jejakmu di masa akan datang.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Diyono

profil-pengurus-mui-kecamatan0341899866
Diyono merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap bidang komunikasi, keamanan informasi, serta penguatan organisasi di tengah perkembangan era digital. Berdomisili di Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Diyono dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum. Amanah tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab beliau dalam mendukung arah organisasi, memperkuat koordinasi antarpengurus, serta turut memastikan berbagai program MUI dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Diyono juga dipercaya sebagai Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Peran tersebut menjadi ruang pengabdian untuk ikut memperkuat organisasi, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta mendukung berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang dilaksanakan oleh Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan.

Humas dan Cyber Police: Mengawal Informasi di Era Digital

Diyono memiliki bidang keahlian dalam Hubungan Masyarakat (Humas) dan Cyber Police. Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, kemampuan tersebut memiliki relevansi yang semakin penting.

Ruang digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, baik informasi yang benar maupun informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi tersebut membutuhkan kecermatan, literasi digital, serta kemampuan untuk menyikapi informasi secara bijaksana.

Dalam konteks organisasi dan dakwah, Humas memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antara lembaga dengan masyarakat. Sementara perhatian terhadap keamanan dan aktivitas di ruang siber diperlukan agar masyarakat semakin sadar terhadap pentingnya menjaga etika, keamanan, dan kebenaran informasi.

Keahlian tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menciptakan ruang komunikasi yang sehat, mencegah penyebaran informasi yang merugikan, serta membantu masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

“Perbaikilah Perahumu karena Samudra Ombaknya Besar”

Prinsip kehidupan yang menjadi pesan Diyono adalah sebuah ungkapan penuh filosofi:

“Perbaikilah perahumu karena samudra ombaknya besar.”

Perahu dalam ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai diri, keluarga, organisasi, maupun kehidupan seseorang, sedangkan samudra menggambarkan dunia yang penuh dengan tantangan dan perubahan. Ombak yang besar merupakan simbol berbagai persoalan, ujian, godaan, dan dinamika kehidupan yang harus dihadapi.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh menunggu datangnya badai untuk memperbaiki perahunya. Persiapan harus dilakukan sebelum menghadapi gelombang.

Dalam kehidupan, memperbaiki “perahu” berarti memperbaiki ilmu, akhlak, iman, keterampilan, hubungan dengan sesama, serta kesiapan mental dalam menghadapi perubahan. Begitu pula dalam organisasi, diperlukan tata kelola yang baik, sumber daya manusia yang berkualitas, komunikasi yang sehat, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut mengandung pesan penting tentang perlunya mempersiapkan dan menjaga diri serta keluarga. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan duniawi, tetapi juga menyangkut iman, pendidikan, akhlak, dan tanggung jawab spiritual.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.”
(HR. Muslim)

Kekuatan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kekuatan iman, mental, ilmu, kemampuan, dan kesiapan menghadapi kehidupan.

Jangan Menunggu Ombak Membesar

Ungkapan Diyono mengajarkan pentingnya antisipasi dan kesiapan. Dalam kehidupan modern, perubahan datang begitu cepat. Teknologi berkembang, pola komunikasi berubah, tantangan sosial semakin kompleks, dan arus informasi semakin deras.

Karena itu, masyarakat perlu memperkuat “perahu” masing-masing. Keluarga perlu memperkuat pendidikan dan komunikasi. Generasi muda perlu memperkuat ilmu dan karakter. Organisasi perlu memperkuat tata kelola dan sumber daya manusia. Sementara masyarakat perlu memperkuat ukhuwah dan kepedulian sosial.

Terlebih dalam ruang digital, “ombak” informasi dapat datang tanpa mengenal batas. Berita palsu, provokasi, penipuan digital, ujaran kebencian, hingga berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi dapat menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan kecerdasan dan kehati-hatian.

Karena itu, kemampuan Humas dan Cyber Police menjadi salah satu bentuk kesiapan menghadapi “samudra digital”. Bukan untuk menciptakan ketakutan, tetapi untuk membangun kesadaran, kewaspadaan, dan kecakapan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pengabdian yang Berorientasi pada Kemaslahatan

Amanah Diyono sebagai Wakil Ketua Umum MUI Kecamatan Margomulyo dan Wakil Ketua MWCNU Margomulyo menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang membutuhkan kesiapan menghadapi berbagai dinamika.

Setiap organisasi tentu memiliki tantangan. Namun, tantangan tersebut dapat dihadapi apabila fondasi organisasi terus diperbaiki. Sebagaimana sebuah perahu yang harus diperiksa sebelum berlayar, organisasi juga perlu terus melakukan evaluasi, memperkuat komunikasi, dan memperbaiki kekurangan.

Pada akhirnya, pesan “Perbaikilah perahumu karena samudra ombaknya besar” merupakan ajakan untuk tidak terlena dengan keadaan. Kehidupan akan terus bergerak dan tantangan akan terus datang. Yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin, memperbaiki apa yang masih kurang, serta memperkuat fondasi agar mampu melewati setiap gelombang.

Melalui amanah di MUI dan Nahdlatul Ulama, Diyono terus berupaya memberikan kontribusi sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Dengan perhatian terhadap Humas dan keamanan ruang siber, beliau turut mengambil bagian dalam membangun komunikasi organisasi yang sehat serta masyarakat yang lebih bijak dan tangguh menghadapi perkembangan zaman.

Identitas Singkat

  • Nama: Diyono
  • Alamat: Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Wakil Ketua Umum
  • Jabatan Sosial: Wakil Ketua MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Humas dan Cyber Police
  • Pesan: “Perbaikilah perahumu karena samudra ombaknya besar.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Aris Taufik Rofi’i

profil-pengurus-mui-kecamatan_0784475939

Aris Taufik Rofi’i merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang organisasi, kepemudaan, dan teknologi. Berdomisili di Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat melalui organisasi keagamaan dan sosial.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Aris Taufik Rofi’i dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris II. Posisi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran administrasi, komunikasi, dan koordinasi organisasi. Melalui amanah tersebut, beliau turut membantu memastikan berbagai kegiatan dan program MUI dapat berjalan secara tertib, terarah, dan efektif.

Di lingkungan kepemudaan Nahdlatul Ulama, beliau dipercaya sebagai Ketua Ranting Ansor Ngelo. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk menggerakkan generasi muda agar aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

Sebagai organisasi kepemudaan, Ansor memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki semangat pengabdian, kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Melalui perannya tersebut, Aris turut mendorong anak-anak muda untuk tidak hanya menjadi pengguna perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari penggerak perubahan yang positif.

Teknologi sebagai Sarana Pengabdian

Aris Taufik Rofi’i memiliki bidang keahlian dalam teknis komputer. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam mendukung berbagai kebutuhan administrasi dan kegiatan organisasi di era digital.

Perkembangan teknologi membuat kemampuan di bidang komputer semakin dibutuhkan dalam berbagai aktivitas. Pengelolaan dokumen, administrasi, komunikasi, publikasi, hingga penyelesaian berbagai persoalan teknis membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami dan memanfaatkan teknologi dengan baik.

Bagi seorang kader organisasi, kemampuan teknologi bukan hanya menjadi keterampilan pribadi, tetapi juga dapat menjadi sarana pengabdian. Keahlian tersebut dapat digunakan untuk membantu organisasi bekerja lebih efektif, mempercepat penyampaian informasi, serta mendukung berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“From Zero to Hero”

Prinsip yang menjadi pesan Aris Taufik Rofi’i adalah:

“From Zero to Hero.”

Ungkapan tersebut menggambarkan semangat perjalanan dari ketiadaan menuju keberhasilan, dari kondisi sederhana menuju pencapaian yang lebih baik melalui proses, perjuangan, dan ketekunan.

“From Zero” bukan berarti seseorang tidak memiliki potensi. Justru titik awal yang sederhana dapat menjadi tempat tumbuhnya sebuah perjuangan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, memperbaiki diri, dan meningkatkan kemampuan.

Sementara “To Hero” menggambarkan sebuah pencapaian ketika seseorang berhasil melewati berbagai proses dan akhirnya mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Ada kegagalan, keterbatasan, kesalahan, dan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Seseorang tidak menjadi hebat hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena ketangguhan yang dibangun selama perjalanan.

Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa usaha merupakan bagian penting dalam perjalanan kehidupan. Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa proses dan ikhtiar.

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan kemauan dari dalam diri. Jika ingin menuju keadaan yang lebih baik, seseorang harus berani memulai perubahan, meningkatkan kemampuan, dan terus berusaha.

Dari Belajar Menjadi Berkarya

Semangat “From Zero to Hero” juga dapat dimaknai sebagai ajakan kepada generasi muda untuk tidak takut memulai dari bawah. Kemampuan tidak selalu muncul secara instan. Ia dibentuk melalui proses belajar, pengalaman, latihan, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba kembali.

Hal tersebut sangat relevan dengan dunia teknologi. Perkembangan komputer dan teknologi informasi berlangsung begitu cepat. Karena itu, seseorang yang ingin tetap berkembang harus memiliki kemauan untuk terus belajar.

Bagi Aris, kemampuan teknis komputer dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dari keterampilan yang dipelajari, kemudian dikembangkan menjadi kemampuan yang dapat digunakan untuk membantu organisasi dan masyarakat.

Pada akhirnya, menjadi “hero” bukan berarti harus terkenal atau mendapatkan banyak penghargaan. Seorang pahlawan dalam kehidupan sehari-hari bisa saja adalah seseorang yang diam-diam membantu, menyelesaikan masalah, memberikan waktunya, dan menggunakan keahliannya untuk kemanfaatan orang lain.

Melalui amanah sebagai Sekretaris II MUI Kecamatan Margomulyo dan Ketua Ranting Ansor Ngelo, Aris Taufik Rofi’i terus berupaya mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat. Dengan kemampuan di bidang teknis komputer dan semangat kepemudaan, beliau menjadi bagian dari generasi yang terus belajar untuk berkembang dan memberikan manfaat.

“From Zero to Hero” pada akhirnya bukan sekadar slogan, tetapi sebuah perjalanan: berani memulai, tekun menjalani proses, terus belajar, tidak mudah menyerah, dan menjadikan setiap kemampuan sebagai jalan untuk memberikan manfaat.

Identitas Singkat

  • Nama: Aris Taufik Rofi’i
  • Alamat: Dusun Jipangulu RT 001/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Sekretaris II
  • Jabatan Sosial: Ketua Ranting Ansor Ngelo
  • Bidang Keahlian: Teknis Komputer
  • Pesan: “From Zero to Hero.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd.

profil-pengurus-mui-kecamatan_01403130535

Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap komunikasi publik, perkembangan teknologi informasi, serta kreativitas generasi muda. Berdomisili di Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian sosial dan keagamaan melalui organisasi.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sofia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi. Amanah ini memiliki peran strategis di tengah perkembangan era digital, ketika informasi bergerak begitu cepat dan masyarakat membutuhkan sumber informasi keagamaan yang terpercaya, edukatif, dan mudah diakses.

Melalui bidang hubungan masyarakat dan digitalisasi informasi, beliau turut berperan dalam membangun komunikasi antara MUI dengan masyarakat. Pemanfaatan media digital menjadi salah satu sarana penting untuk menyampaikan informasi kegiatan, edukasi keagamaan, serta berbagai pesan positif kepada masyarakat secara lebih luas.

Di lingkungan organisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama, Sofia juga aktif sebagai Pengurus PC IPPNU Bojonegoro. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian sekaligus ruang untuk mengembangkan potensi generasi muda perempuan agar semakin aktif, kreatif, berdaya, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial serta keagamaan.

Selain aktivitas organisasi, Sofia memiliki keahlian dalam membuat produk handmade. Keterampilan tersebut menunjukkan sisi kreatif dan produktif yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi sekaligus menjadi sarana mengekspresikan ide dan inovasi. Produk handmade tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga ketekunan, ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar.

“Doakan Usahamu, Usahakan Doamu”

Prinsip yang menjadi pesan Sofia adalah:

“Doakan usahamu, usahakan doamu.”

Kalimat singkat tersebut menyimpan pesan yang mendalam tentang keseimbangan antara doa dan ikhtiar. Doa merupakan bentuk ketundukan dan pengharapan kepada Allah SWT, sedangkan usaha merupakan wujud kesungguhan manusia dalam menjalankan tanggung jawab dan mengejar tujuan yang baik.

Doa tanpa usaha dapat menjadikan harapan berhenti sebagai keinginan. Sebaliknya, usaha tanpa doa dapat membuat seseorang mudah lupa bahwa hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, keduanya perlu berjalan beriringan.

Allah SWT berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berusaha. Setiap cita-cita membutuhkan ikhtiar, proses, kesabaran, dan ketekunan.

Namun, setelah berusaha, seorang muslim tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali 'Imran: 159)

Dengan demikian, “doakan usahamu” mengajarkan agar setiap langkah senantiasa disertai permohonan kepada Allah. Sementara “usahakan doamu” mengingatkan bahwa doa juga harus diiringi tindakan nyata.

Kreativitas, Dakwah, dan Generasi Digital

Peran Sofia dalam bidang hubungan masyarakat dan digitalisasi informasi menjadi semakin relevan dengan karakter masyarakat saat ini. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media digital. Karena itu, dakwah dan penyebaran informasi positif juga perlu mampu hadir di ruang digital dengan bahasa yang komunikatif dan pendekatan yang kreatif.

Digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menyebarkan manfaat. Informasi yang benar dapat memberikan pengetahuan, konten yang positif dapat memberikan inspirasi, dan komunikasi yang baik dapat mempererat hubungan antara organisasi dengan masyarakat.

Kemampuan kreatif dalam membuat produk handmade juga menjadi bagian dari semangat tersebut. Kreativitas mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai ketika dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.

Perpaduan antara organisasi, komunikasi digital, kreativitas, dan semangat pengabdian menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Melalui amanah sebagai Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi MUI Kecamatan Margomulyo serta kiprahnya di PC IPPNU Bojonegoro, Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd. terus berupaya memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Pesan “Doakan usahamu, usahakan doamu” menjadi pengingat bahwa setiap cita-cita membutuhkan dua sayap: doa yang menguatkan hati dan usaha yang menggerakkan langkah. Dengan keduanya, setiap ikhtiar diharapkan menjadi jalan menuju keberhasilan yang tidak hanya bernilai secara duniawi, tetapi juga membawa keberkahan dan kemanfaatan.

Identitas Singkat

  • Nama: Sofia Deliana Putri Wulandari, S.Pd.
  • Alamat: Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi
  • Jabatan Sosial: Pengurus PC IPPNU Bojonegoro
  • Bidang Keahlian: Membuat Produk Handmade
  • Pesan: “Doakan usahamu, usahakan doamu.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Maslachah, S.Ag.

profil-pengurus-mui-kecamatan_01989863476

Maslachah, S.Ag. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, serta pendidikan anak. Berdomisili di RT 02/RW 05, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau aktif mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Maslachah, S.Ag. dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk turut memperkuat peran perempuan, memberikan perhatian terhadap perkembangan remaja, serta membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berakhlak.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dipercaya sebagai Dewan Penasihat PAC Muslimat NU Margomulyo. Pengalaman dan keterlibatannya dalam organisasi menjadi bagian dari kiprah beliau dalam mendampingi kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan di tengah masyarakat.

Sesuai dengan bidang keahliannya, Maslachah memiliki kompetensi dalam penyuluhan keluarga sakinah dan pendidikan anak usia dini. Dua bidang tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Keluarga yang harmonis menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan, keteladanan, kasih sayang, serta pembentukan karakter.

Melalui penyuluhan keluarga sakinah, beliau turut memberikan perhatian terhadap pentingnya komunikasi, tanggung jawab, saling menghormati, dan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan rumah tangga. Sementara melalui pendidikan anak usia dini, beliau turut mendorong terbentuknya generasi yang memiliki karakter positif sejak masa pertumbuhan.

Pengabdian sebagai Jalan Menuju Kemanfaatan

Bagi Maslachah, waktu merupakan amanah yang sangat berharga. Karena itu, waktu sebaiknya tidak dibiarkan berlalu tanpa makna, tetapi dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Pesan yang beliau sampaikan adalah:

“Jangan sia-siakan waktumu untuk pengabdian kepada masyarakat, guna menggapai kebahagiaan dunia akhirat.”

Pesan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan juga dapat menjadi bagian dari amal kebaikan. Setiap waktu, tenaga, ilmu, dan perhatian yang diberikan untuk membantu sesama memiliki nilai ketika dilakukan dengan niat yang tulus.

Pengabdian tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Memberikan ilmu, mendampingi keluarga, membantu pendidikan anak, memberikan nasihat, atau hadir ketika masyarakat membutuhkan juga merupakan bentuk kontribusi yang memiliki arti.

Semangat tersebut semakin ditegaskan melalui ungkapan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Ungkapan tersebut sangat sesuai dengan semangat pengabdian yang beliau jalankan. Menjadi pribadi yang bermanfaat berarti menjadikan ilmu, waktu, kemampuan, dan pengalaman sebagai sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Membangun Keluarga, Mendidik Generasi

Perhatian Maslachah terhadap keluarga sakinah dan pendidikan anak menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat sesungguhnya dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.

Keluarga yang harmonis akan memberikan ruang yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Dari keluarga pula anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, sopan santun, kejujuran, agama, dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, pembinaan keluarga tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara suami dan istri, tetapi juga menyangkut bagaimana orang tua mempersiapkan generasi penerus. Pendidikan anak usia dini menjadi bagian penting dari proses tersebut karena karakter dan kebiasaan baik perlu ditanamkan sejak awal.

Melalui amanah di MUI dan peran sosialnya di Muslimat NU, Maslachah terus berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut. Pengabdian kepada perempuan, remaja, dan keluarga menjadi investasi sosial yang diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan pengabdian Maslachah, S.Ag. merupakan ikhtiar untuk menjadikan waktu dan ilmu yang dimiliki sebagai sesuatu yang bernilai. Dengan membina keluarga, mendampingi anak, memberdayakan perempuan, dan hadir di tengah masyarakat, beliau berupaya mewujudkan prinsip menjadi insan yang memberikan manfaat bagi insan lainnya.

Identitas Singkat

  • Nama: Maslachah, S.Ag.
  • Alamat: RT 02/RW 05, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga
  • Jabatan Sosial: Dewan Penasihat PAC Muslimat NU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Penyuluhan Keluarga Sakinah dan Pendidikan Anak Usia Dini
  • Pesan: “Jangan sia-siakan waktumu untuk pengabdian kepada masyarakat, guna menggapai kebahagiaan dunia akhirat.”
  • Prinsip: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sigit

profil-pengurus-mui-kecamatan0397888074

Sigit merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang organisasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Berdomisili di Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam mendukung kegiatan keagamaan, sosial, serta pemberdayaan ekonomi di tengah masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sigit dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara I. Jabatan tersebut membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab dalam membantu mengelola administrasi serta keuangan organisasi. Melalui amanah tersebut, beliau turut mendukung agar berbagai program dan kegiatan MUI dapat terlaksana dengan tertib dan terencana.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Sigit juga dipercaya sebagai Bendahara MWCNU Margomulyo. Peran ini menjadi bagian dari pengabdian beliau dalam mendukung tata kelola organisasi, khususnya dalam pengelolaan keuangan yang transparan, tertib, dan bertanggung jawab.

Selain aktivitas organisasi, Sigit memiliki keahlian di bidang bisnis UMKM. Keahlian tersebut menjadi modal untuk turut mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. UMKM memiliki peran penting dalam membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mengembangkan potensi ekonomi yang ada di lingkungan masyarakat.

Semangat dan prinsip yang menjadi pegangan Sigit dalam menjalani kehidupan tercermin dalam pesan:

“Disiplin adalah kunci keberhasilan dunia akhirat.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dan kesempatan, tetapi juga oleh kedisiplinan dalam menjalankan setiap tanggung jawab. Disiplin berarti mampu menghargai waktu, menepati kewajiban, konsisten dalam berusaha, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Dalam kehidupan beragama, kedisiplinan juga memiliki peran penting. Menjaga ibadah, melaksanakan kewajiban, serta membiasakan diri melakukan kebaikan membutuhkan konsistensi. Begitu pula dalam pekerjaan dan organisasi, kedisiplinan menjadi salah satu fondasi agar setiap amanah dapat dijalankan dengan baik.

Kedisiplinan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari pada akhirnya dapat membentuk karakter yang bertanggung jawab. Ketika kedisiplinan dipadukan dengan niat yang baik dan keikhlasan, usaha untuk mencapai keberhasilan duniawi dapat berjalan seiring dengan ikhtiar mempersiapkan kehidupan akhirat.

Melalui amanah di MUI dan MWCNU Margomulyo, serta kiprahnya dalam bidang UMKM, Sigit terus berupaya memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Semangat untuk bekerja secara disiplin, tertib, dan bertanggung jawab menjadi bagian dari ikhtiar beliau dalam mewujudkan keberhasilan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Identitas Singkat

  • Nama: Sigit
  • Alamat: Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Bendahara I
  • Jabatan Sosial: Bendahara MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Bisnis UMKM
  • Pesan: “Disiplin adalah kunci keberhasilan dunia akhirat.”
Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Sumiatun

profil-pengurus-mui-kecamatan_02074639840

Sumiatun merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, serta pengembangan ekonomi masyarakat. Berdomisili di Dusun Jatiroto, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, beliau turut mengambil bagian dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Sumiatun dipercaya sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Amanah tersebut menjadi ruang bagi beliau untuk turut mendorong peningkatan peran perempuan, pembinaan generasi muda, serta penguatan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang baik dan harmonis.

Pemberdayaan perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian akan lebih mampu memberikan kontribusi positif bagi keluarga sekaligus menjadi bagian dari penggerak perubahan di lingkungan sekitarnya.

Di bidang sosial dan organisasi, Sumiatun aktif sebagai Pengurus Fatayat PCNU Bojonegoro. Melalui organisasi tersebut, beliau turut berkontribusi dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Kiprah tersebut menjadi bagian dari semangat berkhidmat dan membangun kepedulian terhadap masyarakat.

Selain aktivitas organisasi, Sumiatun memiliki keahlian dalam bisnis UMKM. Bidang ini menjadi salah satu sarana untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat. Pengembangan UMKM dapat membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas, serta membantu masyarakat memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Semangat perjuangan Sumiatun tercermin dalam pesan yang beliau sampaikan:

“Berjuang saat ini untuk kemaslahatan dunia akhirat.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan hari ini hendaknya tidak hanya berorientasi pada kepentingan duniawi, tetapi juga memiliki nilai kebaikan untuk kehidupan akhirat. Setiap pekerjaan, aktivitas organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi amal apabila dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang sesuai dengan tuntunan agama.

Perjuangan juga membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tidak semua kebaikan dapat langsung terlihat hasilnya. Ada kalanya seseorang harus melewati proses panjang, menghadapi berbagai tantangan, dan terus berusaha meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Namun, ketika perjuangan dilakukan untuk kemaslahatan dan dilandasi keikhlasan, setiap proses memiliki nilai yang berarti.

Bagi Sumiatun, pemberdayaan perempuan, penguatan keluarga, pengembangan UMKM, dan aktivitas organisasi merupakan bagian dari satu rangkaian pengabdian. Semua itu diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi bekal kebaikan untuk kehidupan akhirat.

Melalui amanah di MUI dan kiprahnya di Fatayat NU, Sumiatun terus berupaya berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Semangat untuk berjuang sejak hari ini demi kemaslahatan dunia dan akhirat menjadi prinsip yang mengiringi setiap langkah pengabdiannya.

Identitas Singkat

  • Nama: Sumiatun
  • Alamat: Dusun Jatiroto, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga
  • Jabatan Sosial: Pengurus Fatayat PCNU Bojonegoro
  • Bidang Keahlian: Bisnis UMKM
  • Pesan: “Berjuang saat ini untuk kemaslahatan dunia akhirat.”
Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Arsip

Label