MARGOMULYO — Sabtu 03 Oktober 2026. Pagi belum terlalu tinggi ketika rombongan Pengurus Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo mulai meninggalkan Margomulyo, Sabtu (3/10/2026). Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tujuan mereka bukan sekadar sebuah tempat, melainkan ndalem seorang ulama yang hendak mereka temui untuk menyambung silaturahim sekaligus meminta nasihat dan doa.
Adalah KH. Alamul Huda Masyhur, atau yang akrab disapa Gus Huda, Ketua MUI Kabupaten Bojonegoro dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Rosyid, yang menjadi tujuan sowan rombongan pagi itu.
Perjalanan menuju kediaman Gus Huda ditempuh melalui jalur selatan, yakni Ngraho–Dander via Ngasem. Pilihan rute tersebut dilakukan dengan pertimbangan sederhana: kelancaran perjalanan. Jalur utara saat itu terdapat sedikitnya empat titik yang berpotensi mengalami kemacetan karena adanya pembangunan jalan.
Bagi rombongan, ketepatan waktu menjadi bagian penting dari adab bertamu. Karena itu, jalur selatan dipilih agar perjalanan dapat berlangsung lebih lancar.
Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan tiba di Kecamatan Dander. Namun, masih ada waktu sekitar satu jam sebelum jadwal pertemuan dengan Gus Huda. Rombongan pun tidak ingin sekadar menunggu waktu.
Mereka memilih berhenti sejenak di Masjid Al-Birru Dander.
Masjid yang pernah viral dan menjadi perhatian publik pada masanya itu menjadi tempat rombongan mengambil jeda. Di sana, perjalanan sejenak dihentikan untuk rihlah dan tadabbur. Setelah menempuh perjalanan sejak pagi, suasana masjid menjadi ruang untuk menenangkan pikiran sekaligus mempersiapkan hati sebelum melanjutkan agenda utama.
Waktu terus bergerak.
Sekitar pukul 09.40 WIB, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Pondok Pesantren Al-Rosyid, tempat kediaman Gus Huda. Lima belas menit kemudian, tepat sekitar pukul 09.55 WIB, rombongan tiba di ndalem.
Saat itu Gus Huda baru saja selesai mengajar di Madrasah Pondok Pesantren Al-Rosyid. Rombongan kemudian dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Suasana berlangsung sederhana dan hangat. Setelah basa-basi secukupnya, rombongan mulai menyampaikan maksud kedatangan.
Sowan kali ini membawa satu agenda penting. Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo ingin menyampaikan progres persiapan pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026.
Selain menyampaikan perkembangan tersebut, rombongan juga membawa sebuah harapan. Mereka berharap Gus Huda berkenan hadir dalam momentum pengukuhan tersebut sekaligus memberikan pembinaan dan pengarahan kepada seluruh jajaran Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo.
Gayung bersambut.
Gus Huda menyambut baik apa yang disampaikan rombongan. Beliau memberikan apresiasi terhadap progres yang telah dilakukan MUI Kecamatan Margomulyo. Bahkan, Gus Huda menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam acara pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo pada 12 Oktober 2026.
Kabar tersebut tentu menjadi energi tersendiri bagi rombongan. Sebab, kehadiran seorang ulama dalam sebuah agenda organisasi keumatan tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran secara fisik, tetapi juga sebagai penguat moral dan spiritual bagi para pengurus dalam menjalankan amanah.
Namun, pertemuan pagi itu ternyata belum selesai.
Setelah pembicaraan mengenai agenda utama berakhir, Gus Huda mengajak rombongan berbincang mengenai berbagai persoalan kekinian yang berkembang di tengah masyarakat.
Obrolan pun mengalir.
Dari satu persoalan menuju persoalan lainnya. Dari cerita keseharian masyarakat hingga berbagai hal yang membutuhkan perhatian bersama. Suasana yang semula bersifat formal perlahan berubah menjadi percakapan yang cair dan penuh keakraban.
Ada nasihat yang terselip di antara obrolan. Ada pengalaman yang dibagikan. Ada pula berbagai persoalan masyarakat yang menjadi bahan renungan bersama.
Menariknya, keasyikan berbincang membuat waktu seolah berjalan lebih cepat.
Tanpa terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 11.00 WIB.
Hampir dua jam rombongan berada di ndalem Gus Huda. Pertemuan yang pada awalnya hanya diniatkan untuk menyampaikan progres dan mengundang kehadiran beliau pada acara pengukuhan, justru berkembang menjadi ruang silaturahim yang hangat dan penuh makna.
Rombongan kemudian memohon izin untuk berpamitan.
Sebelum meninggalkan ndalem, mereka juga memohon doa dan barokah dari Gus Huda. Doa tersebut menjadi bekal batin bagi para pengurus untuk melanjutkan ikhtiar mengabdi melalui MUI Kecamatan Margomulyo.
Perjalanan pagi itu akhirnya bukan hanya tentang menempuh jarak dari Margomulyo menuju Pondok Pesantren Al-Rosyid.
Ada ikhtiar yang dibawa dalam perjalanan. Ada silaturahim yang disambung. Ada amanah organisasi yang disampaikan. Ada nasihat yang didapatkan. Dan ada doa yang dibawa pulang.
Sowan kepada ulama menjadi bagian dari tradisi yang terus dirawat: mendekat untuk belajar, datang untuk meminta arahan, dan pulang dengan membawa semangat baru dalam menjalankan amanah keumatan.
Bagi Pengurus Harian MUI Kecamatan Margomulyo, perjalanan itu barangkali telah berakhir ketika kendaraan kembali meninggalkan ndalem Gus Huda.
Tetapi pesan dan keberkahan dari perjumpaan tersebut diharapkan terus berjalan—menyertai langkah menuju 12 Oktober 2026, ketika Pengurus Komisi-Komisi MUI Kecamatan Margomulyo akan dikukuhkan dan siap melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat.



















.png)








