Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi
Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan

Turba MUI Margomulyo di Masjid Baiturrohman, Teguhkan Semangat Amal Kebaikan

turba-mui-margomulyo-di-masjid-baiturrohman-teguhkan-semangat-amal-kebaikan

MUI Margomulyo melaksanakan kegiatan turun ke bawah (turba) di Masjid Baiturrohman, Dusun Tepus, Desa Margomulyo, pada Jumat malam atau malam Sabtu Pahing. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00 hingga 22.30 WIB tersebut menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, serta penguatan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Acara dihadiri segenap jajaran takmir Masjid Baiturrohman, jamaah masjid, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keilmuan, ibadah berjamaah, dan kepedulian sosial di lingkungan Desa Margomulyo.

Ketua MUI Margomulyo, Kiai Badrun, hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Rahasia Allah dalam Setiap Amal Kebaikan”. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan amal baik, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, manusia tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab turunnya rida, rahmat, dan pertolongan Allah SWT.

Kiai Badrun mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Jika kamu menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah mengetahui kualitas amal, termasuk keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati. Amal yang tampak kecil secara lahiriah dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang baik, serta semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ramah.” (HR. Muslim).

Secara ilmiah, ajaran ini membentuk kepekaan sosial dan pengendalian diri. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, seperti memberi salam, tersenyum, membantu tetangga, menjaga kebersihan masjid, dan meringankan kesulitan orang lain, akan membangun ikatan sosial yang kuat serta menumbuhkan ketenangan batin.

Kiai Badrun juga mengutip kalam Sayyidina Ali Zainal Abidin:

إِنَّ اللَّهَ خَبَّأَ رِضَاهُ فِي طَاعَتِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا شَيْئًا مِنْ طَاعَتِهِ، فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyembunyikan rida-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Maka janganlah kalian meremehkan sedikit pun ketaatan, karena boleh jadi rida Allah terdapat di dalamnya.”

Kegiatan turba ditutup dengan ajakan agar jamaah membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keikhlasan, serta menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan persatuan umat.

Share:

MUI Margomulyo Matangkan Persiapan Pengukuhan Pengurus Komisi-Komisi

MARGOMULYO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo terus mematangkan persiapan menuju pengukuhan pengurus komisi-komisi. Hal tersebut dibahas dalam rapat persiapan yang digelar pada Jumat, 2 Oktober 2026, bertempat di Sekretariat MUI Kecamatan Margomulyo.

Rapat berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 14.45 WIB dan dihadiri jajaran Pengurus Harian serta Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo. Pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi untuk memastikan seluruh rangkaian agenda pengukuhan dapat dipersiapkan secara matang, tertib, dan berjalan sesuai rencana.

Dalam rapat tersebut, peserta menyepakati sejumlah hal penting terkait pelaksanaan pengukuhan. Salah satunya adalah penetapan Tri Maryono, S.A.P. sebagai Ketua Panitia Pelaksana, sedangkan posisi sekretaris dipercayakan kepada Syaifuddin, S.H.

Selain itu, untuk memastikan kesiapan seluruh pihak yang terlibat, sebelum pelaksanaan pengukuhan akan digelar gladi bersih. Langkah tersebut diharapkan dapat mematangkan teknis pelaksanaan sekaligus meminimalkan kendala pada saat acara berlangsung.

Berdasarkan hasil kesepakatan rapat, pengukuhan pengurus komisi-komisi MUI Kecamatan Margomulyo dijadwalkan pada Senin, 12 Oktober 2026. Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mengoptimalkan peran masing-masing komisi dalam mendukung program dan khidmah MUI di tengah masyarakat.

Melalui persiapan yang dilakukan secara bersama-sama, MUI Kecamatan Margomulyo berkomitmen agar proses pengukuhan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi titik awal penguatan kerja organisasi dan sinergi antarunsur kepengurusan dalam menjalankan amanah umat.

Share:

Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir, Pesan Bu Nyai Sriani

amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-pesan-bu-nyai-sriani
Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan margomulyo

Ngelo, Margomulyo — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu, Ranting Ngelo, Kecamatan Margomulyo, yang dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan bertempat di kediaman Ibu Umiati, Jipangulu, Desa Ngelo.

Kajian rutin tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah, dan memperdalam pemahaman keagamaan bagi para jamaah. Kegiatan diikuti jajaran Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo beserta seluruh anggotanya. Turut hadir Ibu Kepala Desa Ngelo serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Yasin, Tahlil dan Shalawat Mengawali Kajian

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan shalawat Nabi ﷺ secara berjamaah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, kalimat thayyibah, dan shalawat menciptakan suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan melakukan muhasabah.

Majelis seperti ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam amal yang diharapkan memberikan manfaat jauh setelah pertemuan berakhir.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
(QS. Yasin: 12)

Ayat tersebut memberikan sebuah renungan mendalam: manusia tidak hanya meninggalkan amal yang ia kerjakan secara langsung, tetapi juga dapat meninggalkan atsar, yakni jejak dan pengaruh yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi berada di dunia.

Bu Nyai Sriani: Ada Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian dengan tema “Amalan yang Tak Pernah Putus.”

Tema ini mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya adalah kesempatan untuk menanam bekal bagi kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dunia, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa terdapat amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menjadi inti penting dari tema kajian. Ada tiga pintu keberlanjutan pahala yang disebutkan Rasulullah ﷺ.

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya terus diharapkan mengalir selama manfaat tersebut ada.

Bu Nyai Sriani mengajak jamaah untuk tidak hanya berpikir tentang sedekah yang manfaatnya selesai dalam satu waktu, tetapi juga mulai memikirkan amal yang manfaatnya dapat diwariskan kepada masyarakat.

Misalnya membantu pembangunan atau pemeliharaan masjid, menyediakan fasilitas air untuk masyarakat, mewakafkan tanah, menyediakan mushaf Al-Qur'an, mendukung lembaga pendidikan, atau bentuk wakaf lain yang manfaatnya terus dirasakan.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadis tersebut:

مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ عَمَلَ الْمَيِّتِ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِهِ، وَيَنْقَطِعُ تَجَدُّدُ الثَّوَابِ لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبَهَا، فَإِنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، وَكَذَلِكَ الْعِلْمُ الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيمٍ أَوْ تَصْنِيفٍ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ.

“Makna hadis ini adalah bahwa amal orang yang telah meninggal terputus dengan kematiannya dan terputus pula pembaruan pahala baginya, kecuali dalam tiga perkara tersebut, karena ia menjadi sebab adanya perkara-perkara itu. Anak merupakan hasil usahanya, demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran atau karya tulis, dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.”

Penjelasan Imam Nawawi tersebut memberikan pemahaman penting: amal yang terus mengalir biasanya lahir dari sesuatu yang sengaja kita tanam dan bangun selama masih hidup.

2. Ilmu yang Terus Dimanfaatkan

Amalan kedua adalah ilmu yang bermanfaat.

Seseorang mungkin telah meninggal puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi ketika ilmu yang pernah diajarkan masih dipelajari dan diamalkan, manfaat ilmu tersebut tetap hidup.

Seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya, seorang ustaz yang mengajarkan fikih, seorang ibu yang mengajari anaknya membaca doa, atau seseorang yang menulis dan menyebarkan ilmu yang benar, semuanya dapat meninggalkan jejak kebaikan.

Inilah relevansi yang sangat indah dengan kegiatan kajian Muslimat NU. Ilmu yang disampaikan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Jika ilmu itu dipahami, diamalkan, kemudian diajarkan kembali kepada keluarga dan masyarakat, maka manfaatnya dapat berkembang dari satu orang kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)

Karena itu, menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas berkumpul. Ia merupakan investasi akhirat.

3. Mendidik Anak Menjadi Generasi Saleh

Amalan ketiga yang disebut Rasulullah ﷺ adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga mempunyai dimensi akhirat yang sangat panjang.

Mendidik anak bukan hanya agar pandai membaca, mendapatkan pekerjaan, atau sukses secara duniawi. Lebih jauh, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan iman, akhlak, ibadah, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan kemudian mendoakan orang tuanya, hubungan kebaikan itu tidak berhenti pada kematian orang tua.

Doa seorang anak menjadi salah satu bentuk keberlanjutan manfaat dari pendidikan yang telah ditanamkan orang tua selama hidupnya.

Karena itu, tugas seorang ibu sesungguhnya sangat mulia. Rumah tangga dapat menjadi madrasah pertama, dan seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang akan meneruskan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mencari Amal yang Besar

Lebih jauh, Bu Nyai Sriani mengajak jamaah agar tidak terjebak pada anggapan bahwa amal yang bernilai harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

Kadang-kadang amal yang tampak sederhana justru menjadi sebab lahirnya manfaat yang panjang.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an, mengajarkan doa, membantu seseorang memahami ilmu agama, menyumbangkan mushaf, menyediakan air untuk jamaah, membantu pembangunan tempat ibadah, atau mendukung pendidikan anak-anak merupakan contoh bagaimana seseorang dapat menanam atsar kebaikan.

Allah SWT menggambarkan besarnya nilai infak:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat, sebagaimana satu benih dapat menghasilkan banyak bulir.

“Atsar” Kebaikan: Jangan Sampai yang Tertinggal Justru Keburukan

Ayat QS. Yasin: 12 juga mengandung peringatan yang tidak kalah penting. Allah tidak hanya mencatat apa yang kita kerjakan, tetapi juga آثَارَهُمْ — bekas-bekas yang mereka tinggalkan.

Karena itu, setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya:

Ketika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, apa yang akan tertinggal dari diri saya?

Apakah anak-anak yang saleh?

Apakah ilmu yang bermanfaat?

Apakah masjid yang pernah dibantu?

Apakah mushaf yang pernah diberikan?

Apakah seseorang yang pernah kita ajari membaca Al-Qur'an?

Apakah orang miskin yang pernah kita bantu?

Atau justru meninggalkan perkataan yang menyakiti, perselisihan, dan keburukan yang terus dikenang orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan tema kajian “Amalan yang Tak Pernah Putus” bukan hanya materi untuk didengarkan, tetapi juga ajakan untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing.

Menjadikan Majelis Taklim sebagai Ladang Amal

Kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo pada akhirnya memberikan pesan bahwa majelis taklim dapat menjadi salah satu tempat menanam amal yang manfaatnya melampaui waktu.

Ilmu yang disampaikan dapat diamalkan.

Amalan yang diamalkan dapat ditularkan.

Kebaikan yang ditularkan dapat menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan baik yang terus diwariskan dapat menjadi atsar yang tetap hidup meskipun orang yang memulainya telah tiada.

Di sinilah nilai penting kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU. Silaturahmi tidak hanya memperkuat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbanyak ilmu, memperkuat ibadah, dan membangun kepedulian sosial.

Sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah ﷺ, umur manusia boleh berhenti, tetapi manfaat dari kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus berlanjut.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah memperbanyak menanam kebaikan: bersedekah, mengajarkan ilmu, mendidik generasi, membantu sesama, dan membangun amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Sebab manusia mungkin akan meninggalkan dunia, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya dapat terus berjalan dari generasi ke generasi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. 

Share:

Dari MATA AIR Pluntu, Pesan Syukur dan Keagungan Al-Fatihah Menggema Bersama MUI Margomulyo

Dari-mata-air pluntu-pesan-syukur-dan-keagungan-al-fatihah-menggema-bersama-mui-margomulyo
Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo

MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.

Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah

Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.

Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.

Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:

الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”

Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.

Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah

Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 5–6)

Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.

Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.

Silaturahmi Setelah Kajian

Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.

Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.

Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.

Share:

PENGURUS MUI KECAMATAN MARGOMULYO 2021-2026

pengurus-mui-kecamatan-margomulyo-2021-2026

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan wadah pengabdian para ulama, zu'ama', dan cendekiawan muslim yang berkomitmen membimbing dan melayani umat. Kepengurusan masa khidmat 2021–2026 ini terbentuk melalui musyawarah dan dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bojonegoro, KH. Alamul Huda, pada 1 Desember 2021.

Share:

Struktur Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo Masa Khidmat 2026–2031

profile-margomulyo-2026-2031

Struktur Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo Masa Khidmat 2026–2031 merupakan representasi kepemimpinan kolektif para ulama, cendekiawan muslim, tokoh masyarakat, dan unsur profesional yang diberikan amanah untuk mengemban tugas-tugas keumatan di wilayah Kecamatan Margomulyo. Susunan kepengurusan ini merupakan hasil Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kecamatan Margomulyo yang dilaksanakan pada 18 Mei 2026, dengan semangat musyawarah, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam memperkuat peran MUI sebagai khadimul ummah (pelayan umat) sekaligus shadiqul hukumah (mitra strategis pemerintah) dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan harmonis. 

Melalui halaman ini, masyarakat dapat mengenal susunan lengkap Dewan Pertimbangan, Pengurus Harian, Komisi-Komisi, serta lembaga-lembaga pendukung di lingkungan MUI Kecamatan Margomulyo. Besar harapan kami, kepengurusan yang baru ini mampu menjadi motor penggerak dakwah Islam yang moderat (wasathiyah), memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah, serta menghadirkan pelayanan keagamaan yang semakin profesional, responsif, dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, MUI Kecamatan Margomulyo berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, dan seluruh elemen bangsa demi terwujudnya masyarakat yang beriman, berakhlak mulia, serta berkeadaban.
Share:

"Meningkatkan Pemahaman Ibadah: Bimbingan dan Penyuluhan di Muslimat NU Anak Ranting Jeruk"


Ngelo - Ahad, 27 Oktober 2024, Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo menjadi saksi atas terlaksananya kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang diselenggarakan oleh Jamaah Muslimat NU Anak Ranting Jeruk. Acara ini dihadiri oleh anggota jamaah Muslimat NU dan tokoh masyarakat setempat, yang bersama-sama berpartisipasi dalam rangka memperkuat pemahaman keagamaan dan mempererat silaturahmi antarwarga.

Puncak kegiatan ini diisi dengan tausiyah yang penuh makna dari Kiyai Paniran, Ketua MUI Ngelo. Dalam ceramahnya, Kiyai Paniran menyampaikan keutamaan ibadah haji bagi seorang muslim dan muslimah, yang bukan hanya menjadi bentuk penghambaan kepada Allah tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri secara spiritual. Ia mengajak para jamaah untuk memahami esensi dari ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam yang agung dan menginspirasi semua yang hadir untuk senantiasa menjaga keikhlasan serta istiqamah dalam beribadah.


Kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini berjalan lancar dan penuh khidmat. Para peserta antusias menyimak setiap materi yang disampaikan, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menambah wawasan keagamaan.


Suasana keakraban sangat terasa selama kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab juga mewarnai acara ini, memberi kesempatan bagi jamaah untuk mengajukan pertanyaan seputar ibadah dan kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan tutunan agama. Dukungan dari tokoh masyarakat setempat turut memperkuat nuansa kebersamaan di antara warga.


Kiyai Paniran dalam tausiyahnya menekankan pentingnya niat yang ikhlas dalam menjalankan setiap ibadah. Ia menjelaskan bahwa niat yang tulus menjadi landasan utama yang akan membawa keberkahan serta ketenangan dalam hidup. Selain itu, beliau juga mengingatkan jamaah untuk selalu bersyukur dan menjaga amalan-amalan sunnah di samping ibadah wajib, sebagai bentuk pengabdian yang paripurna kepada Allah SWT.


Di akhir acara, para jamaah Muslimat NU Anak Ranting Jeruk mengucapkan terima kasih kepada Kiyai Paniran dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Mereka berharap kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini dapat terus berlanjut secara berkala, menjadi sarana belajar dan berbagi ilmu yang bermanfaat, serta mempererat persaudaraan di lingkungan Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.

Share:

SELAMAT HARI SANTRI 2024 : Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, kami dari Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Margomulyo mengucapkan Selamat Hari Santri 2024 kepada seluruh santri di Indonesia. Tema tahun ini, "Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan", menggambarkan semangat juang para santri yang tak pernah pudar dari masa ke masa, dari perjuangan fisik hingga perjuangan pemikiran dan moral.

Santri adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan agama, bangsa, dan negara. Dengan keteguhan hati, ilmu yang mumpuni, dan akhlak yang mulia, santri tidak hanya mewarisi semangat juang para pendahulu, tetapi juga menjadi pionir dalam membangun masa depan yang gemilang untuk umat, bangsa, dan peradaban dunia.

Mari kita terus perkuat komitmen kita untuk menyatukan langkah, mewujudkan cita-cita bangsa yang berlandaskan ajaran Islam rahmatan lil 'alamin. Semoga para santri semakin berperan dalam menjaga dan merawat keberagaman, serta menjadi motor penggerak dalam mencapai kejayaan Islam di masa depan.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa santri telah memainkan peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Dari masa kolonial hingga era modern, santri selalu hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan spiritual. Kini, di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi, peran santri semakin relevan dalam menghadapi perubahan zaman tanpa melupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para ulama.

Pada momen Hari Santri ini, mari kita mantapkan tekad untuk selalu istiqomah dalam menuntut ilmu, mengamalkan ajaran agama, dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Santri Masa Kini, Pemimpin Masa Depan—itulah cita-cita besar yang harus terus kita pegang dan perjuangkan.

Dengan semangat Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan, kita yakin bahwa para santri mampu menjawab tantangan zaman dan menjadi pelopor kebaikan, inovasi, dan kemajuan bagi umat Islam, bangsa, dan dunia.

Sekali lagi, Selamat Hari Santri 2024. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk-Nya kepada kita semua dalam menegakkan agama dan memperjuangkan kemaslahatan umat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ketua MUI Kecamatan Margomulyo.

Badrun

Share:

"Syukur di Tengah Rimba: Merayakan Kemerdekaan dengan Doa dan Tumpeng di Proyek Bendungan Karangnongko"

www.muimargomulyo.or.id || Pada Sabtu, 17 Agustus 2024, di tengah keheningan rimba yang memayungi Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko, Desa Ngelo, suasana bergemuruh dengan semangat kemerdekaan yang tak kunjung padam. PT Waskita, sebagai penggerak utama proyek ini, menyelenggarakan Upacara Bendera memperingati HUT ke-79 Republik Indonesia, sebuah momen sakral yang dihadiri oleh para pekerja, pemimpin proyek, dan undangan terhormat, termasuk Kiai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo.


Langit pagi yang cerah seolah menyambut antusiasme para peserta upacara yang berdiri tegak di bawah kibaran sang Merah Putih. Upacara ini bukan sekadar seremonial rutin, melainkan sebuah manifestasi dari rasa syukur yang mendalam atas nikmat kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan air mata para pahlawan bangsa. Walaupun diadakan di tengah belantara, semangat kebangsaan membara dalam setiap jiwa yang hadir.


Setelah rangkaian upacara selesai, momen khidmat dilanjutkan dengan sesi doa tasyakuran. Kiai Badrun Sulaiman, didaulat oleh pimpinan proyek untuk memimpin doa. Dalam lantunan doa yang mengalun merdu, Kiai Badrun memohonkan berkah untuk negeri ini, mengingatkan setiap hati yang hadir tentang betapa berharganya kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.


Rangkaian acara ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah simbol nyata dari syukur yang tulus atas anugerah kemerdekaan. Di tengah-tengah hutan belantara, jauh dari gemerlap kota, para peserta upacara tetap menggelorakan semangat kemerdekaan dengan penuh kegairahan. Mereka menyadari bahwa merdeka bukanlah sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk terus mengisi kemerdekaan ini dengan karya dan pengabdian, di mana pun mereka berada.

Ketika gema doa tasyakuran bergema di tengah rimba, suasana menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berdesir lembut, seakan turut mengaminkan setiap kata yang terucap. Kiai Badrun dengan penuh khidmat menutup mata, mengisyaratkan mengangkat tangan ke langit, dan memimpin doa dengan hati yang tulus. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bangsa ini selalu dilindungi, diberikan keberkahan dalam setiap langkah, dan diberikan kekuatan untuk terus menjaga persatuan serta kesatuan yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.


Setelah doa selesai, seluruh peserta upacara merasakan kedamaian yang mendalam, seolah seluruh alam turut bersyukur bersama mereka. Pimpinan proyek kemudian mengajak semua yang hadir untuk menikmati hidangan sederhana sebagai simbol tasyakuran atas kemerdekaan. Di tengah hutan yang biasanya sunyi, suasana menjadi hangat dengan canda tawa dan kebersamaan, mempererat ikatan antar sesama pekerja dan tamu undangan.


Rangkaian kegiatan ini memberikan makna yang mendalam bagi setiap peserta. Mereka menyadari bahwa meski berada jauh dari hiruk-pikuk peradaban, semangat kemerdekaan tetap dapat dirasakan dan dirayakan dengan penuh sukacita. Ini adalah sebuah pengingat bahwa di manapun kita berada, rasa syukur atas nikmat merdeka harus selalu ada, dan semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif harus terus dikobarkan.


Upacara bendera di Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko tersebut menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan di kota-kota besar, tetapi juga di tempat-tempat terpencil, di mana semangat juang dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia tetap berkobar dengan penuh semangat. Dengan penuh haru, para peserta upacara meninggalkan lokasi dengan tekad yang semakin kuat untuk terus berkarya dan berbakti bagi negeri, mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya, demi masa depan yang lebih baik.

Setelah suasana penuh khidmat dari doa tasyakuran perlahan mereda, perhatian para peserta upacara beralih menuju tumpeng kemerdekaan yang telah dipersiapkan dengan rapi. Tumpeng tersebut, dengan puncaknya yang menjulang, berdiri sebagai simbol perayaan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih. Berhiaskan aneka lauk-pauk tradisional, tumpeng itu menjadi pusat perhatian, menambah nuansa kehangatan di tengah suasana kebersamaan.


Pimpinan proyek, dengan senyum yang penuh kebanggaan, mempersilakan Kiai Badrun Sulaiman untuk membuka tumpeng tersebut sebagai bentuk penghormatan. Dengan penuh rasa hormat, Kiai Badrun melangkah maju, mengambil pisau yang telah disediakan, dan memotong puncak tumpeng dengan tangan yang mantap.


Para peserta upacara menyambut momen tersebut dengan tepuk tangan yang meriah, mencerminkan kegembiraan dan rasa syukur mereka. Satu per satu, mereka pun ikut serta dalam acara makan bersama, menikmati setiap suapan tumpeng yang sarat akan makna dan simbolisasi. Makanan sederhana itu seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan rasa syukur tak selalu harus dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan kebersamaan dan hati yang tulus.


Di tengah nuansa perayaan yang sederhana namun penuh makna ini, terlihat jelas bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari belenggu penjajahan, tetapi juga tentang menjaga dan merawat persatuan, kebersamaan, dan keberlanjutan perjuangan. Momen pembukaan tumpeng kemerdekaan ini pun menjadi penutup yang manis untuk rangkaian acara, mengukir kenangan yang tak akan terlupakan di hati setiap peserta.


Ketika matahari mulai memuncak di cakrawala, para peserta meninggalkan lokasi dengan perasaan yang hangat, membawa semangat kemerdekaan yang lebih membara untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Di tempat yang jauh dari hingar bingar kota, di tengah proyek pembangunan yang besar, mereka telah merayakan kemerdekaan dengan cara yang unik dan mendalam, menyatu dengan alam dan berakar pada tradisi yang penuh makna.


MUIMMedia

Share:

"Malam Syukur: Merajut Semangat Kemerdekaan di Bawah Langit Margomulyo"


www.muimargomulyo.or.id || Margomulyo - Jumat, 16 Agustus 2024, Masjid Besar Al-Ikhlas di Kecamatan Margomulyo menjadi saksi dari sebuah acara yang penuh makna dan khidmat, yaitu Malam Tasyakuran Kemerdekaan Ke-79. Acara yang berlangsung dari pukul 19.30 hingga 21.30 ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan masyarakat setempat.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Kapolsek Margomulyo, Danposramil Margomulyo, Asper Kedawak Utara, Koordinator Pengawas Pendidikan, Asper Kates, Kepala Puskesmas Margomulyo, Kepala KUA Margomulyo beserta Penyuluh Agama Islam, Kepala Desa se-Kecamatan Margomulyo, Ketua MWC NU, Ketua MUI, tokoh agama dari masing-masing desa, serta Takmir Masjid Besar Al-Ikhlas Margomulyo.

Acara yang dipandu oleh MC Ustadz Syaifudin ini dimulai dengan Sujud Syukur yang dipimpin oleh Bapak Syamsul Idzom. Kemudian, Bapak Agung selaku panitia memberikan sambutan yang penuh semangat dan harapan. Sambutan dari Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., juga menambah semarak acara. Beliau mengapresiasi terselenggaranya acara ini dan berharap semangat kemerdekaan terus terjaga di hati masyarakat.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo. Suasana semakin khidmat ketika Kiyai Rosyyidi Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo memimpin doa penutup, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Malam Tasyakuran Kemerdekaan Ke-79 ini tidak hanya menjadi momen untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga sebagai ajang mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di antara warga Kecamatan Margomulyo. Semoga semangat kemerdekaan ini terus menyala dan membawa kebaikan bagi kita semua.

Acara Malam Tasyakuran Kemerdekaan Ke-79 di Masjid Besar Al-Ikhlas Margomulyo juga menjadi ajang refleksi bagi masyarakat. Dalam sambutannya, Bapak Agung selaku panitia menekankan pentingnya menjaga semangat kemerdekaan dan meneruskan perjuangan para pahlawan dengan cara yang relevan di masa kini. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk terus berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan daerah.

Sambutan dari Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., juga memberikan motivasi bagi masyarakat. Beliau mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini. "Semangat kemerdekaan harus terus kita jaga dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bersama-sama membangun Margomulyo menjadi lebih baik," ujarnya.

Kegiatan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo, menambah kekhidmatan acara. Doa-doa yang dipanjatkan mengingatkan hadirin akan pentingnya bersyukur dan memohon perlindungan serta keberkahan dari Allah SWT. 

Doa penutup yang dipimpin oleh Kiyai Rosyyidi Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo menjadi momen yang sangat menyentuh. Dalam doanya, beliau memohon agar seluruh masyarakat Margomulyo selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. 

Acara ini tidak hanya menjadi momen perayaan, tetapi juga sebagai sarana introspeksi dan penguatan spiritual bagi masyarakat. Kehadiran berbagai tokoh penting dan masyarakat setempat menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan dan gotong royong di Kecamatan Margomulyo. Semoga semangat ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.



MUIMMedia

Share:

"Cahaya Ilmu di Balai Desa Ngelo: Menelusuri Jejak Kebaikan dalam Tausiyah Rutin Bersama MUI Kecamatan Margomulyo"


Ngelo, 2 Agustus 2024 – Rangkaian acara Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diadakan oleh Muslimat NU Ranting Ngelo berlangsung dengan khidmat pada hari Jumat, 2 Agustus 2024. Bertempat di Balai Desa Ngelo, acara ini dimulai pukul 13.00 dan berakhir sekitar 15.30 WIB, dihadiri oleh seluruh anggota dan pengurus Muslimat NU Ranting Ngelo.

Acara puncak TURBA kali ini menghadirkan Bapak Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun membahas kajian mendalam tentang Kitab *Wasiyatul Mustofa*. Beliau menguraikan tiga tanda orang yang sholeh sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga ciri tersebut adalah: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui amal saleh, memperbaiki agama dengan amal perbuatan, dan menunjukkan kerelaan terhadap orang lain sebagaimana kerelaan terhadap diri sendiri.

Selain itu, Kiyai Badrun juga menyampaikan pesan penting mengenai bahaya judi online dan peredaran narkoba yang dapat merusak kehidupan rumah tangga. Peringatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat kesadaran dan komitmen anggota masyarakat dalam menjaga keharmonisan keluarga dan lingkungan.

Acara ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara penceramah dan peserta, di mana banyak anggota masyarakat aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai topik yang dibahas. Tausiyah Rutin Bersama ini menjadi momen penting dalam mempererat silaturahmi dan meningkatkan pemahaman keagamaan di kalangan warga Ngelo.

Selama acara berlangsung, suasana di Balai Desa Ngelo dipenuhi oleh semangat kebersamaan dan keinginan untuk meningkatkan kualitas iman dan amal. Pencerahan yang diberikan oleh Kiyai Badrun tidak hanya memberikan wawasan spiritual, tetapi juga menambah pengetahuan praktis tentang cara menghadapi tantangan zaman modern, khususnya yang berkaitan dengan perilaku negatif seperti judi online dan narkoba.

Peserta acara menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mengikuti setiap sesi tausiyah dan berinteraksi dalam tanya jawab. Beberapa peserta mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berharap acara semacam ini dapat terus berlanjut untuk memperkuat iman dan membangun komunitas yang lebih baik.

Dalam penutup acara, pengurus Muslimat NU Ranting Ngelo menyampaikan apresiasi kepada Kiyai Badrun Sulaiman atas materi tausiyah yang sangat inspiratif dan bermanfaat. Mereka juga berterima kasih kepada seluruh anggota dan pengurus yang telah hadir dan berpartisipasi aktif.

Acara TURBA kali ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Ngelo, serta menjadi contoh bagi kegiatan serupa di masa mendatang. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus belajar, diharapkan setiap individu dapat menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih baik dan harmonis.
 

Share:

TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Sambut Muharram dengan Semangat Shodaqoh

 

Margomulyo, 7 Juli 2024 - Semangat Muharram kembali menghidupkan Masjid Al Amin, Kaligede, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Pada Minggu, 7 Juli 2024, jam 13.00 WIB, kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diinisiasi oleh Pengurus Muslimat NU Kaligede sukses digelar. Kegiatan yang menjadi kajian rutin setiap minggu pertama di setiap bulan ini, dihadiri oleh jamaah Majlis Taklim Al Amin, yang dipimpin oleh Supriani selaku ketua majlis.

Tema Muharram dan Shodaqoh

Tema yang diangkat kali ini, "Menyambut Bulan Muharram dengan Shodaqoh," menjadi topik utama dalam tausiyah yang disampaikan oleh Gunowo Abdul Ghofur, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Beliau menjelaskan keutamaan shodaqoh dalam menyambut bulan Muharram, bulan yang penuh berkah dan kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan. Shodaqoh, sebagai salah satu amal yang sangat dianjurkan dalam Islam, memiliki banyak keutamaan, termasuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membantu sesama yang membutuhkan.

Baca Juga: TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Menyemai Semangat Muharram dalam Menanggulangi Bahaya Judi Online dan Narkoba

Pentingnya Shodaqoh dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam tausiyahnya, Gunowo Abdul Ghofur menekankan bahwa shodaqoh tidak hanya memberikan manfaat bagi yang menerima, tetapi juga bagi yang memberi. "Dengan bershodaqoh, kita membersihkan harta dan hati kita dari sifat kikir. Shodaqoh juga menjadi jalan untuk mendapatkan ridho Allah dan keberkahan hidup," ujar beliau di hadapan jamaah yang antusias mendengarkan.

Baca Juga: MUI Margomulyo Gelar TURBA: Tangkal Bahaya Judi Online dan Narkoba untuk Keluarga Harmonis


Bahaya Judi Online dan Narkoba

Selain membahas keutamaan shodaqoh, Gunowo Abdul Ghofur juga menyampaikan dampak negatif judi online dan peredaran narkoba terhadap kehidupan sosial masyarakat. "Judi online dan narkoba adalah dua masalah besar yang dapat merusak moral, mental, dan ekonomi masyarakat kita. Kita harus waspada dan berperan aktif dalam mencegah dan memberantas kedua masalah ini," tegasnya. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk bersatu dalam memerangi judi online dan narkoba, yang sudah merambah hingga ke desa-desa dan merusak generasi muda.

Baca Juga: Dengan Spirit Muharram kita tingkatkan kualitas silaturahmi guna menanggulangi dampak Judi online dan peredaran Narkoba."


Antusiasme Jamaah

Kegiatan TURBA kali ini dihadiri oleh banyak jamaah dari berbagai kalangan. Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya kajian rutin seperti ini dalam memberikan pencerahan dan menambah wawasan keagamaan. Para jamaah terlihat serius menyimak setiap materi yang disampaikan dan berharap dapat mengamalkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Kegiatan TURBA MUI Margomulyo di Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri: Sinergi dan Komitmen dalam Menjaga Moralitas dan Kerukunan

Harapan dan Doa Bersama

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon perlindungan dan petunjuk dari Allah SWT agar selalu diberi kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Para jamaah berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara rutin dan menjadi sarana untuk memperkuat silaturahmi serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama.

Dengan semangat Muharram, kegiatan TURBA ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan amal kebaikan, menjalin silaturahmi yang lebih erat, dan bersama-sama memerangi segala bentuk kemaksiatan yang merusak tatanan sosial masyarakat. Majlis Taklim Al Amin berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan positif yang dapat membawa perubahan baik bagi masyarakat sekitar. Semoga semangat ini terus menyala dalam setiap langkah kita bersama.



MUIMMedia

Share:

MUI Margomulyo Gelar TURBA: Tangkal Bahaya Judi Online dan Narkoba untuk Keluarga Harmonis


Margomulyo, 17 Juli 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo menggelar kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) dengan tema “Menanggulangi Dampak Negatif Judi Online dan Peredaran Narkoba Demi Terwujudnya Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah”. Acara ini diinisiasi oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo dan dilaksanakan di Aula MWCNU Margomulyo pada pukul 20.30 hingga 23.00 WIB.

Kegiatan TURBA kali ini menghadirkan Bapak Kiyai Rosyidi, anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri utama. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan banyak hal yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama yang berkaitan dengan bahaya judi online dan peredaran narkoba.

Baca Juga: TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Sambut Muharram dengan Semangat Shodaqoh


Kiyai Rosyidi menyoroti bahwa judi online dan narkoba telah membawa dampak negatif yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. "Judi online dan narkoba tidak hanya merusak individu tetapi juga menghancurkan fondasi keluarga. Banyak kasus perceraian yang disebabkan oleh kecanduan judi online, dan tidak sedikit yang terjebak dalam pinjaman online (PINJOL) akibat kalah berjudi," ungkap Kiyai Rosyidi dengan penuh keprihatinan.

Baca Juga: TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Menyemai Semangat Muharram dalam Menanggulangi Bahaya Judi Online dan Narkoba


Beliau juga mengungkapkan bahwa rusaknya moral di kalangan remaja akibat peredaran narkoba merupakan masalah yang sangat serius. "Remaja adalah generasi penerus bangsa, namun banyak di antara mereka yang terjerumus dalam narkoba, merusak masa depan mereka sendiri dan menghancurkan harapan orang tua," tambahnya.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Rosyidi juga memberikan solusi dan ajakan kepada para hadirin untuk bersama-sama menanggulangi permasalahan ini. Beliau menekankan pentingnya peran keluarga dalam memberikan pendidikan dan pengawasan yang ketat terhadap anak-anak. "Keluarga adalah benteng utama dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif. Kita harus membangun keluarga yang kokoh dengan nilai-nilai agama agar terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah," tutupnya.

Baca Juga: Dengan Spirit Muharram kita tingkatkan kualitas silaturahmi guna menanggulangi dampak Judi online dan peredaran Narkoba."


Kegiatan TURBA ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, dari tokoh agama, pemuda, hingga ibu-ibu rumah tangga yang antusias mendengarkan tausiyah dari Kiyai Rosyidi. Acara ditutup dengan doa bersama, berharap agar masyarakat Margomulyo terhindar dari dampak buruk judi online dan narkoba, serta dapat membangun keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.

Baca Juga: Kegiatan TURBA MUI Margomulyo di Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri: Sinergi dan Komitmen dalam Menjaga Moralitas dan Kerukunan

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan bahaya yang mengintai dan lebih proaktif dalam menjaga keluarganya dari pengaruh negatif yang dapat merusak tatanan kehidupan. MWCNU Margomulyo berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.



MUIMMedia

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman