Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi
Tampilkan postingan dengan label Ngelo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngelo. Tampilkan semua postingan

Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir, Pesan Bu Nyai Sriani

amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-pesan-bu-nyai-sriani
Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan margomulyo

Ngelo, Margomulyo — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu, Ranting Ngelo, Kecamatan Margomulyo, yang dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan bertempat di kediaman Ibu Umiati, Jipangulu, Desa Ngelo.

Kajian rutin tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah, dan memperdalam pemahaman keagamaan bagi para jamaah. Kegiatan diikuti jajaran Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo beserta seluruh anggotanya. Turut hadir Ibu Kepala Desa Ngelo serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Yasin, Tahlil dan Shalawat Mengawali Kajian

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan shalawat Nabi ﷺ secara berjamaah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, kalimat thayyibah, dan shalawat menciptakan suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan melakukan muhasabah.

Majelis seperti ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam amal yang diharapkan memberikan manfaat jauh setelah pertemuan berakhir.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
(QS. Yasin: 12)

Ayat tersebut memberikan sebuah renungan mendalam: manusia tidak hanya meninggalkan amal yang ia kerjakan secara langsung, tetapi juga dapat meninggalkan atsar, yakni jejak dan pengaruh yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi berada di dunia.

Bu Nyai Sriani: Ada Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri Bu Nyai Sriani, S.Pd., Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Produk Halal MUI Kecamatan Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian dengan tema “Amalan yang Tak Pernah Putus.”

Tema ini mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya adalah kesempatan untuk menanam bekal bagi kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dunia, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa terdapat amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menjadi inti penting dari tema kajian. Ada tiga pintu keberlanjutan pahala yang disebutkan Rasulullah ﷺ.

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya terus diharapkan mengalir selama manfaat tersebut ada.

Bu Nyai Sriani mengajak jamaah untuk tidak hanya berpikir tentang sedekah yang manfaatnya selesai dalam satu waktu, tetapi juga mulai memikirkan amal yang manfaatnya dapat diwariskan kepada masyarakat.

Misalnya membantu pembangunan atau pemeliharaan masjid, menyediakan fasilitas air untuk masyarakat, mewakafkan tanah, menyediakan mushaf Al-Qur'an, mendukung lembaga pendidikan, atau bentuk wakaf lain yang manfaatnya terus dirasakan.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadis tersebut:

مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ عَمَلَ الْمَيِّتِ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِهِ، وَيَنْقَطِعُ تَجَدُّدُ الثَّوَابِ لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبَهَا، فَإِنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، وَكَذَلِكَ الْعِلْمُ الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيمٍ أَوْ تَصْنِيفٍ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ.

“Makna hadis ini adalah bahwa amal orang yang telah meninggal terputus dengan kematiannya dan terputus pula pembaruan pahala baginya, kecuali dalam tiga perkara tersebut, karena ia menjadi sebab adanya perkara-perkara itu. Anak merupakan hasil usahanya, demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran atau karya tulis, dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.”

Penjelasan Imam Nawawi tersebut memberikan pemahaman penting: amal yang terus mengalir biasanya lahir dari sesuatu yang sengaja kita tanam dan bangun selama masih hidup.

2. Ilmu yang Terus Dimanfaatkan

Amalan kedua adalah ilmu yang bermanfaat.

Seseorang mungkin telah meninggal puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi ketika ilmu yang pernah diajarkan masih dipelajari dan diamalkan, manfaat ilmu tersebut tetap hidup.

Seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya, seorang ustaz yang mengajarkan fikih, seorang ibu yang mengajari anaknya membaca doa, atau seseorang yang menulis dan menyebarkan ilmu yang benar, semuanya dapat meninggalkan jejak kebaikan.

Inilah relevansi yang sangat indah dengan kegiatan kajian Muslimat NU. Ilmu yang disampaikan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Jika ilmu itu dipahami, diamalkan, kemudian diajarkan kembali kepada keluarga dan masyarakat, maka manfaatnya dapat berkembang dari satu orang kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)

Karena itu, menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas berkumpul. Ia merupakan investasi akhirat.

3. Mendidik Anak Menjadi Generasi Saleh

Amalan ketiga yang disebut Rasulullah ﷺ adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga mempunyai dimensi akhirat yang sangat panjang.

Mendidik anak bukan hanya agar pandai membaca, mendapatkan pekerjaan, atau sukses secara duniawi. Lebih jauh, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan iman, akhlak, ibadah, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan kemudian mendoakan orang tuanya, hubungan kebaikan itu tidak berhenti pada kematian orang tua.

Doa seorang anak menjadi salah satu bentuk keberlanjutan manfaat dari pendidikan yang telah ditanamkan orang tua selama hidupnya.

Karena itu, tugas seorang ibu sesungguhnya sangat mulia. Rumah tangga dapat menjadi madrasah pertama, dan seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang akan meneruskan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mencari Amal yang Besar

Lebih jauh, Bu Nyai Sriani mengajak jamaah agar tidak terjebak pada anggapan bahwa amal yang bernilai harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

Kadang-kadang amal yang tampak sederhana justru menjadi sebab lahirnya manfaat yang panjang.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an, mengajarkan doa, membantu seseorang memahami ilmu agama, menyumbangkan mushaf, menyediakan air untuk jamaah, membantu pembangunan tempat ibadah, atau mendukung pendidikan anak-anak merupakan contoh bagaimana seseorang dapat menanam atsar kebaikan.

Allah SWT menggambarkan besarnya nilai infak:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat, sebagaimana satu benih dapat menghasilkan banyak bulir.

“Atsar” Kebaikan: Jangan Sampai yang Tertinggal Justru Keburukan

Ayat QS. Yasin: 12 juga mengandung peringatan yang tidak kalah penting. Allah tidak hanya mencatat apa yang kita kerjakan, tetapi juga آثَارَهُمْ — bekas-bekas yang mereka tinggalkan.

Karena itu, setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya:

Ketika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, apa yang akan tertinggal dari diri saya?

Apakah anak-anak yang saleh?

Apakah ilmu yang bermanfaat?

Apakah masjid yang pernah dibantu?

Apakah mushaf yang pernah diberikan?

Apakah seseorang yang pernah kita ajari membaca Al-Qur'an?

Apakah orang miskin yang pernah kita bantu?

Atau justru meninggalkan perkataan yang menyakiti, perselisihan, dan keburukan yang terus dikenang orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan tema kajian “Amalan yang Tak Pernah Putus” bukan hanya materi untuk didengarkan, tetapi juga ajakan untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing.

Menjadikan Majelis Taklim sebagai Ladang Amal

Kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo pada akhirnya memberikan pesan bahwa majelis taklim dapat menjadi salah satu tempat menanam amal yang manfaatnya melampaui waktu.

Ilmu yang disampaikan dapat diamalkan.

Amalan yang diamalkan dapat ditularkan.

Kebaikan yang ditularkan dapat menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan baik yang terus diwariskan dapat menjadi atsar yang tetap hidup meskipun orang yang memulainya telah tiada.

Di sinilah nilai penting kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU. Silaturahmi tidak hanya memperkuat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbanyak ilmu, memperkuat ibadah, dan membangun kepedulian sosial.

Sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah ﷺ, umur manusia boleh berhenti, tetapi manfaat dari kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus berlanjut.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah memperbanyak menanam kebaikan: bersedekah, mengajarkan ilmu, mendidik generasi, membantu sesama, dan membangun amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Sebab manusia mungkin akan meninggalkan dunia, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya dapat terus berjalan dari generasi ke generasi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. 

Share:

Bahaya HIV hingga Fenomena Perempuan Masuk Neraka, Jadi Sorotan TURBA MUI Margomulyo

bahaya-hiv-hingga-fenomena-perempuan-masuk-neraka-jadi-sorotan-turba-mui-margomulyo
Ngatini, S.Pd. Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo

MARGOMULYO – Majelis taklim Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo kembali menggelar kegiatan rutin yang dirangkai dengan TURBA (Turun ke Bawah) MUI Kecamatan Margomulyo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ibu Katin Jipangulu, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Ranting Muslimat NU Ngelo, Pengurus Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Margomulyo, Ibu Kepala Desa, serta anggota Majelis Taklim. Suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ngatini, S.Pd., Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah persoalan penting yang dekat dengan kehidupan masyarakat, di antaranya tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga kehormatan, kesehatan, dan ketahanan keluarga.

Bahaya HIV dan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri

Ngatini mengingatkan bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan yang harus dipahami secara benar dan tidak boleh disikapi dengan stigma terhadap penderitanya. HIV adalah persoalan medis yang membutuhkan pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Dalam konteks kehidupan keluarga, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk sikap bertanggung jawab, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan dan keturunan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Ayat tersebut, jelas Ngatini, tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan tersebut.

Karena itu, menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga keluarga, dan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang sehat secara jasmani sekaligus kuat secara moral.

Namun demikian, ia juga menekankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. Mereka tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan dukungan, pengobatan, serta pendampingan. Pencegahan penyakit harus berjalan bersama dengan sikap kasih sayang dan kemanusiaan.

“Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu”, Lalu Mengapa Banyak Perempuan Masuk Neraka?

Pada bagian lain, Ngatini mengajak jamaah merenungkan kedudukan perempuan, khususnya seorang ibu, dalam Islam.

“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi kenapa banyak wanita yang masuk neraka?” tegas Ngatini dalam tausiyahnya.

Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Seorang perempuan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, terlebih ketika menjadi seorang ibu. Namun kemuliaan tersebut harus diwujudkan melalui iman, ketaatan, akhlak, tanggung jawab, dan amal saleh.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan orang tua. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’: 23)

Bahkan Rasulullah SAW memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seorang ibu. Dalam sebuah hadis tentang seorang sahabat yang hendak berjihad, Rasulullah SAW bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika dijawab masih ada, Nabi SAW bersabda:

فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Maka tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”

Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat mengenai besarnya keutamaan berbakti kepada ibu. Adapun ungkapan populer “الجنة تحت أقدام الأمهات” (surga di bawah telapak kaki ibu) memiliki beberapa jalur riwayat dengan penilaian sanad yang berbeda; karena itu, yang paling aman adalah menyandarkan maknanya kepada hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu yang lebih kuat.

Mengapa Ada Perempuan yang Masuk Neraka?

Ngatini kemudian mengajak jamaah memahami hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dijelaskan salah satu sebab yang disebutkan Nabi SAW, yaitu banyak mencela dan mengingkari kebaikan pasangan. Karena itu, menurut Ngatini, hadis tersebut bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar kaum perempuan melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.

Perempuan yang menjadi ibu, lanjutnya, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tutur kata, kedisiplinan, agama, dan akhlak.

Karena itu, seorang ibu jangan sampai hanya sibuk mengurus kebutuhan lahiriah keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan spiritual keluarga.

Ibu sebagai Madrasah Pertama

Ngatini menegaskan bahwa rumah tangga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu mempunyai posisi penting dalam membentuk karakter generasi.

Seorang ibu yang menjaga salatnya akan memberikan contoh kepada anaknya. Ibu yang membiasakan membaca Al-Qur’an akan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Ibu yang menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan perkataan kasar akan mengajarkan anak tentang akhlak tanpa harus banyak memberikan teori.

Karena itu, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari statusnya sebagai ibu, tetapi juga dari iman, ilmu, akhlak, dan amalnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan semata-mata jenis kelamin, tetapi keimanan dan amal saleh.

Menjaga Lisan, Menjaga Keluarga

Lebih lanjut, Ngatini mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menjaga lisan. Banyak persoalan rumah tangga bermula dari perkataan yang dianggap sepele: mencela pasangan, membuka aib keluarga, membicarakan kekurangan orang lain, hingga membiasakan mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kaum perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar ketika menjelaskan sebab banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka: memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Ngatini kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan majelis taklim bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bermuhasabah, dan memperbaiki diri.

Sebab, lanjutnya, menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah selalu memiliki kemauan untuk belajar, mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki akhlak, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kaidah hikmah yang masyhur disebutkan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kaidah tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Mencegah kerusakan moral, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan diri, dan melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif merupakan bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan penuh keberkahan.

Menutup tausiyahnya, Ngatini mengajak seluruh jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo untuk terus menjaga kekompakan, meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menjadikan majelis taklim sebagai sarana membangun perempuan yang berilmu, berakhlak, sehat, dan mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.

Kegiatan TURBA MUI Margomulyo tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diakhiri dengan doa bersama. Kehadiran MUI di tengah majelis taklim diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama, organisasi keagamaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di Kecamatan Margomulyo.

Share:

PENGURUS MUI KECAMATAN MARGOMULYO 2021-2026

pengurus-mui-kecamatan-margomulyo-2021-2026

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan wadah pengabdian para ulama, zu'ama', dan cendekiawan muslim yang berkomitmen membimbing dan melayani umat. Kepengurusan masa khidmat 2021–2026 ini terbentuk melalui musyawarah dan dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bojonegoro, KH. Alamul Huda, pada 1 Desember 2021.

Share:

TURBA MUI Kecamatan Margomulyo: Mengupas Urgensi Wakaf di Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede

(Kiyai Badrun Ketua MUI Margomulyo)

Pada hari Ahad Legi, 28 Juli 2024, Majelis Taklim Muslimat NU Dusun Kaligede Desa Margomulyo menjadi pusat perhatian dengan dilaksanakannya kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo. Acara yang berlangsung di Masjid Al-Amin Kaligede dari pukul 12.30 hingga 14.00 ini dihadiri oleh jamaah ibu-ibu Muslimat NU dari Kaligede dan Jepang, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Tema kajian yang diangkat dalam TURBA kali ini adalah "Urgensi Wakaf dalam Menopang Pergerakan Dakwah Islam," yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menguraikan pentingnya wakaf sebagai salah satu instrumen penting dalam mendukung keberlanjutan dakwah Islam. Ia menjelaskan bahwa wakaf bukan hanya sekadar pemberian harta benda, tetapi juga bentuk komitmen dan kontribusi nyata umat Islam dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial.

Kiyai Badrun juga menekankan bahwa melalui wakaf, umat Islam dapat menciptakan berbagai fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat luas, seperti masjid, madrasah, dan pusat-pusat dakwah. "Dengan mengoptimalkan potensi wakaf, kita dapat memastikan kelangsungan program-program keagamaan dan sosial yang berdampak positif bagi umat," ujarnya.

Selain membahas tentang wakaf, Kiyai Badrun juga memaparkan tiga hal yang menjadi tanda seseorang mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat. Pertama, Qutun Halalun (makanan yang halal), yang mengingatkan jamaah akan pentingnya menjaga kehalalan rezeki yang diperoleh dan dikonsumsi. Kedua, Mujalasatul Ulama (hadir di kajian ilmu ulama), yang menekankan pentingnya mencari ilmu dari para ulama sebagai sumber pencerahan dan petunjuk hidup. Ketiga, Sholat Ma'al Imam (shalat berjamaah), yang mengajak jamaah untuk selalu menjaga kebersamaan dalam melaksanakan ibadah shalat.

Acara TURBA di Majelis Taklim Muslimat NU Kaligede ini tidak hanya memberikan pencerahan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antarjamaah dan tokoh masyarakat. Kehadiran ibu-ibu Muslimat NU dari Kaligede dan Jepang, serta tokoh masyarakat dan agama setempat, menunjukkan betapa besar antusiasme dan dukungan terhadap kegiatan keagamaan ini.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dengan kerjasama dan dukungan semua pihak, dakwah Islam dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya di masa mendatang.

Share:

TURBA MUI Desa Ngelo: Peran NU dalam Menanggulangi Dampak Judi Online

 Ngelo, 29 Juni 2024 - Kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang dipimpin oleh Bapak Kiyai Paniran, Ketua MUI Desa Ngelo, kembali digelar di Musholla Baitul Makmur, Dusun Tolu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Acara yang diinisiasi oleh Pengurus Ranting NU Ngelo ini berlangsung pada hari Sabtu, dimulai pukul 09.00 hingga selesai. TURBA merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap Sabtu terakhir di setiap bulan, dengan tujuan mempererat silaturahmi dan memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan masyarakat Desa Ngelo.

Acara kali ini dihadiri oleh keluarga besar NU Ranting Ngelo beserta semua Badan Otonom, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, dan LazisNU. Turut hadir pula Kepala Desa Ngelo serta para Kepala Dusun dari lima Dusun yang ada di Desa Ngelo. Kehadiran para tokoh dan anggota masyarakat ini menunjukkan antusiasme dan komitmen bersama dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial yang bermanfaat.

Tema penyuluhan yang diangkat pada TURBA kali ini adalah "Peran NU dalam Menanggulangi Dampak Judi Online." Dalam tausiyahnya, Bapak Kiyai Paniran menekankan pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam menghadapi dan menangani berbagai permasalahan sosial yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah maraknya judi online. Menurut beliau, judi online tidak hanya merusak moral individu, tetapi juga berdampak negatif pada keharmonisan keluarga dan stabilitas ekonomi masyarakat.

"Kita semua harus menyadari bahwa judi online adalah musuh bersama yang harus kita perangi. NU, sebagai organisasi keagamaan yang peduli terhadap kesejahteraan umat, memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya judi online. Selain itu, kita juga harus aktif memberikan dukungan dan solusi bagi mereka yang terjerat dalam praktik tersebut," ujar Kiyai Paniran dalam penyampaiannya.

Lebih lanjut, beliau mengajak seluruh hadirin untuk terus bersinergi dalam upaya preventif dan rehabilitatif, serta tidak segan melaporkan dan menindak tegas para pelaku judi online. Bapak Kiyai Paniran juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendidik dan membimbing anggota keluarga agar tidak terjerumus dalam perilaku negatif tersebut.

Acara TURBA ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiyai Paniran, memohon keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT agar Desa Ngelo senantiasa dijauhkan dari segala bentuk kemaksiatan dan diberi kekuatan untuk terus berjuang menegakkan kebenaran dan kebaikan.

Dengan adanya kegiatan rutin seperti TURBA, diharapkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di kalangan warga NU Ranting Ngelo semakin meningkat, serta mampu memberikan kontribusi positif dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada di masyarakat.


Share:

Pemberdayaan Ekonomi Umat dalam Menguatkan Himmah dalam Mempelajari Al-Qur'an di Usia Senja

 Pada Hari Ahad, tanggal 9 Juni 2024, Muslimat NU Ranting Ngelo Kecamatan Margomulyo menyelenggarakan acara Ngaji Rutin yang kali ini menghadirkan pemateri dari MUI Margomulyo, yaitu Bapak Kiyai Paniran, yang membahas pentingnya pemberdayaan ekonomi umat dalam menguatkan himmah (cita-cita) dalam mempelajari dan memahami Al-Qur'an di usia senja.


Dalam sambutannya, Bapak Kiyai Paniran menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi umat memiliki peran yang sangat penting dalam menopang kehidupan umat, terutama dalam mendukung proses pembelajaran Al-Qur'an di usia senja. Beliau menekankan bahwa dengan ekonomi yang kuat, umat dapat lebih fokus dan memiliki kemampuan untuk mendalami serta memahami Al-Qur'an dengan lebih baik.


Acara yang diadakan di Muslimat NU Ranting Ngelo ini merupakan bagian dari program TURBA (Tausiyah Rutin Bersama) MUI Margomulyo yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan motivasi kepada umat, khususnya para lansia, untuk tetap semangat dalam mempelajari dan memahami Al-Qur'an.


Dalam kesempatan tersebut, Bapak Kiyai Paniran juga menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi umat tidak hanya sebatas soal mencari penghasilan, namun juga meliputi bagaimana umat dapat mengelola dan menggunakan penghasilan tersebut secara bijaksana sesuai dengan ajaran agama.


Acara Ngaji Rutin Muslimat NU Ranting Ngelo Kecamatan Margomulyo ini dihadiri oleh puluhan lansia yang antusias untuk mengikuti tausiyah dari Bapak Kiyai Paniran. Mereka menyimak dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan, serta bertanya langsung untuk memperdalam pemahaman mereka tentang pentingnya pemberdayaan ekonomi dalam memperkuat himmah dalam mempelajari Al-Qur'an di usia senja.


Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan umat dapat semakin termotivasi untuk terus belajar dan memahami Al-Qur'an, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih baik lagi.


Share:

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Tri Maryono, S.A.P.

profil-pengurus-mui-kecamatan_01479846060

Tri Maryono, S.A.P. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang aktif dalam bidang organisasi, pelayanan sosial, serta tata kelola kelembagaan. Berdomisili di Dusun Jipangulu RT 003/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau menjadikan pengabdian sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Tri Maryono, S.A.P. dipercaya sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan. Amanah ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, kemampuan koordinasi, serta tanggung jawab dalam mendukung kelancaran administrasi dan berbagai kegiatan Dewan Pertimbangan.

Sebagai sekretaris, kemampuan mengelola informasi, dokumentasi, komunikasi, dan tata administrasi menjadi bagian penting dalam memastikan roda organisasi dapat berjalan secara tertib dan efektif.

Pengabdian melalui LAZISNU

Selain aktif di MUI, Tri Maryono juga mengemban amanah sebagai Ketua LAZISNU MWCNU Margomulyo. Peran ini menjadi salah satu bentuk pengabdian dalam bidang sosial dan pemberdayaan umat.

LAZISNU merupakan ruang untuk mengelola potensi zakat, infak, dan sedekah agar dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Amanah tersebut membutuhkan integritas, ketelitian, transparansi, dan kepedulian karena dana yang dikelola merupakan kepercayaan dari umat.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)

Zakat tidak hanya memiliki dimensi ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga mengandung nilai kepedulian sosial. Melalui pengelolaan yang baik, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi sarana membantu masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

Teknisi dan Tata Kelola Birokrasi

Tri Maryono memiliki bidang keahlian dalam teknisi dan tata kelola birokrasi. Keahlian ini menjadi pendukung penting dalam menjalankan amanah organisasi.

Kemampuan teknis diperlukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan operasional, sementara tata kelola birokrasi membantu menciptakan sistem kerja yang tertib, terencana, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam organisasi, semangat pengabdian perlu diiringi dengan sistem yang baik. Administrasi yang tertata, dokumentasi yang rapi, koordinasi yang efektif, dan pembagian tugas yang jelas akan membantu setiap program berjalan dengan lebih maksimal.

Keahlian tersebut juga sangat relevan dalam pengelolaan lembaga sosial. Ketika amanah umat dikelola dengan sistem yang baik, kepercayaan masyarakat akan semakin kuat.

“Luangkan Waktumu untuk Kebaikanmu”

Pesan yang menjadi prinsip Tri Maryono adalah:

“Luangkan waktumu untuk kebaikanmu, dan tetap semangat berjuang.”

Pesan sederhana tersebut mengandung makna yang mendalam. Waktu merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT. Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama dalam sehari, tetapi yang membedakan adalah bagaimana waktu tersebut digunakan.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(QS. Al-'Asr: 1–3)

Surah Al-'Asr mengingatkan bahwa waktu akan terus berjalan dan tidak dapat kembali. Karena itu, waktu yang dimiliki hendaknya digunakan untuk sesuatu yang bernilai dan memberikan manfaat.

Meluangkan waktu untuk kebaikan berarti menyediakan sebagian kesempatan yang kita miliki untuk beribadah, belajar, membantu sesama, menjalankan amanah, menjaga keluarga, dan melakukan berbagai aktivitas yang memberikan manfaat.

Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kesempatan Besar

Sering kali seseorang menunggu memiliki banyak waktu untuk melakukan kebaikan. Padahal, kebaikan dapat dimulai dari waktu yang sederhana.

Meluangkan waktu untuk membantu orang lain, menghadiri kegiatan keagamaan, mengurus organisasi, berbagi ilmu, membantu masyarakat, atau sekadar memberikan perhatian kepada seseorang yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari memanfaatkan waktu untuk kebaikan.

Dalam konteks pengabdian, waktu yang diberikan untuk organisasi bukanlah waktu yang hilang. Ketika digunakan untuk menjalankan amanah dengan ikhlas, waktu tersebut dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ath-Thabrani; maknanya masyhur dalam literatur keutamaan amal)

Pesan tersebut selaras dengan semangat pengabdian: semakin banyak waktu yang dapat diarahkan untuk memberikan manfaat, semakin besar peluang kebaikan itu tumbuh dan dirasakan oleh orang lain.

Tetap Semangat Berjuang

Bagian kedua dari pesan Tri Maryono adalah:

“Dan tetap semangat berjuang.”

Dalam perjalanan pengabdian, tidak semua proses berjalan mudah. Ada kalanya hasil yang diharapkan belum terlihat, tenaga terasa berkurang, atau berbagai persoalan datang silih berganti.

Namun, perjuangan dalam kebaikan membutuhkan istiqamah. Tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar, tetapi terus melakukan kebaikan secara konsisten.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-'Ankabut: 69)

Ayat tersebut memberikan motivasi bahwa kesungguhan dalam kebaikan tidak akan sia-sia. Allah SWT mengetahui setiap usaha, pengorbanan, dan perjuangan hamba-Nya.

Amanah sebagai Jalan Pengabdian

Amanah sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Margomulyo dan Ketua LAZISNU MWCNU Margomulyo merupakan ruang bagi Tri Maryono untuk mengamalkan pesan tersebut.

Waktu yang diberikan untuk mengurus administrasi organisasi, melakukan koordinasi, mengelola kegiatan sosial, serta melayani kepentingan umat merupakan bagian dari pengabdian yang memiliki nilai apabila dilaksanakan dengan niat yang baik.

Setiap amanah membutuhkan kesabaran. Setiap perjuangan membutuhkan keteguhan. Dan setiap kebaikan membutuhkan kesediaan untuk meluangkan waktu.

Karena itu, pesan “Luangkan waktumu untuk kebaikanmu, dan tetap semangat berjuang” bukan sekadar motivasi, tetapi sebuah ajakan untuk tidak membiarkan waktu berlalu tanpa makna.

Gunakan waktu untuk berbuat baik, jalankan amanah dengan sungguh-sungguh, dan jangan mudah menyerah dalam perjuangan.

Sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Namun, kebaikan yang dilakukan hari ini dapat menjadi bekal yang terus memberikan manfaat di masa depan.

Identitas Singkat

  • Nama: Tri Maryono, S.A.P.
  • Alamat: Dusun Jipangulu RT 003/RW 001, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Sekretaris Dewan Pertimbangan
  • Jabatan Sosial: Ketua LAZISNU MWCNU Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Teknisi dan Tata Kelola Birokrasi
  • Pesan: “Luangkan waktumu untuk kebaikanmu, dan tetap semangat berjuang.”
Share:

"Syukur di Tengah Rimba: Merayakan Kemerdekaan dengan Doa dan Tumpeng di Proyek Bendungan Karangnongko"

www.muimargomulyo.or.id || Pada Sabtu, 17 Agustus 2024, di tengah keheningan rimba yang memayungi Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko, Desa Ngelo, suasana bergemuruh dengan semangat kemerdekaan yang tak kunjung padam. PT Waskita, sebagai penggerak utama proyek ini, menyelenggarakan Upacara Bendera memperingati HUT ke-79 Republik Indonesia, sebuah momen sakral yang dihadiri oleh para pekerja, pemimpin proyek, dan undangan terhormat, termasuk Kiai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo.


Langit pagi yang cerah seolah menyambut antusiasme para peserta upacara yang berdiri tegak di bawah kibaran sang Merah Putih. Upacara ini bukan sekadar seremonial rutin, melainkan sebuah manifestasi dari rasa syukur yang mendalam atas nikmat kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan air mata para pahlawan bangsa. Walaupun diadakan di tengah belantara, semangat kebangsaan membara dalam setiap jiwa yang hadir.


Setelah rangkaian upacara selesai, momen khidmat dilanjutkan dengan sesi doa tasyakuran. Kiai Badrun Sulaiman, didaulat oleh pimpinan proyek untuk memimpin doa. Dalam lantunan doa yang mengalun merdu, Kiai Badrun memohonkan berkah untuk negeri ini, mengingatkan setiap hati yang hadir tentang betapa berharganya kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.


Rangkaian acara ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah simbol nyata dari syukur yang tulus atas anugerah kemerdekaan. Di tengah-tengah hutan belantara, jauh dari gemerlap kota, para peserta upacara tetap menggelorakan semangat kemerdekaan dengan penuh kegairahan. Mereka menyadari bahwa merdeka bukanlah sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk terus mengisi kemerdekaan ini dengan karya dan pengabdian, di mana pun mereka berada.

Ketika gema doa tasyakuran bergema di tengah rimba, suasana menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berdesir lembut, seakan turut mengaminkan setiap kata yang terucap. Kiai Badrun dengan penuh khidmat menutup mata, mengisyaratkan mengangkat tangan ke langit, dan memimpin doa dengan hati yang tulus. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bangsa ini selalu dilindungi, diberikan keberkahan dalam setiap langkah, dan diberikan kekuatan untuk terus menjaga persatuan serta kesatuan yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.


Setelah doa selesai, seluruh peserta upacara merasakan kedamaian yang mendalam, seolah seluruh alam turut bersyukur bersama mereka. Pimpinan proyek kemudian mengajak semua yang hadir untuk menikmati hidangan sederhana sebagai simbol tasyakuran atas kemerdekaan. Di tengah hutan yang biasanya sunyi, suasana menjadi hangat dengan canda tawa dan kebersamaan, mempererat ikatan antar sesama pekerja dan tamu undangan.


Rangkaian kegiatan ini memberikan makna yang mendalam bagi setiap peserta. Mereka menyadari bahwa meski berada jauh dari hiruk-pikuk peradaban, semangat kemerdekaan tetap dapat dirasakan dan dirayakan dengan penuh sukacita. Ini adalah sebuah pengingat bahwa di manapun kita berada, rasa syukur atas nikmat merdeka harus selalu ada, dan semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif harus terus dikobarkan.


Upacara bendera di Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko tersebut menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan di kota-kota besar, tetapi juga di tempat-tempat terpencil, di mana semangat juang dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia tetap berkobar dengan penuh semangat. Dengan penuh haru, para peserta upacara meninggalkan lokasi dengan tekad yang semakin kuat untuk terus berkarya dan berbakti bagi negeri, mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya, demi masa depan yang lebih baik.

Setelah suasana penuh khidmat dari doa tasyakuran perlahan mereda, perhatian para peserta upacara beralih menuju tumpeng kemerdekaan yang telah dipersiapkan dengan rapi. Tumpeng tersebut, dengan puncaknya yang menjulang, berdiri sebagai simbol perayaan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih. Berhiaskan aneka lauk-pauk tradisional, tumpeng itu menjadi pusat perhatian, menambah nuansa kehangatan di tengah suasana kebersamaan.


Pimpinan proyek, dengan senyum yang penuh kebanggaan, mempersilakan Kiai Badrun Sulaiman untuk membuka tumpeng tersebut sebagai bentuk penghormatan. Dengan penuh rasa hormat, Kiai Badrun melangkah maju, mengambil pisau yang telah disediakan, dan memotong puncak tumpeng dengan tangan yang mantap.


Para peserta upacara menyambut momen tersebut dengan tepuk tangan yang meriah, mencerminkan kegembiraan dan rasa syukur mereka. Satu per satu, mereka pun ikut serta dalam acara makan bersama, menikmati setiap suapan tumpeng yang sarat akan makna dan simbolisasi. Makanan sederhana itu seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan rasa syukur tak selalu harus dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan kebersamaan dan hati yang tulus.


Di tengah nuansa perayaan yang sederhana namun penuh makna ini, terlihat jelas bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari belenggu penjajahan, tetapi juga tentang menjaga dan merawat persatuan, kebersamaan, dan keberlanjutan perjuangan. Momen pembukaan tumpeng kemerdekaan ini pun menjadi penutup yang manis untuk rangkaian acara, mengukir kenangan yang tak akan terlupakan di hati setiap peserta.


Ketika matahari mulai memuncak di cakrawala, para peserta meninggalkan lokasi dengan perasaan yang hangat, membawa semangat kemerdekaan yang lebih membara untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Di tempat yang jauh dari hingar bingar kota, di tengah proyek pembangunan yang besar, mereka telah merayakan kemerdekaan dengan cara yang unik dan mendalam, menyatu dengan alam dan berakar pada tradisi yang penuh makna.


MUIMMedia

Share:

"Menjaga Asa di Malam Selasa Pahing: Ketulusan Berkhidmah dan Melawan Racun Zaman"


Senin malam, 12 Agustus 2024, Masjid Al-Ikhlas yang terletak di Dusun Matar, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, menjadi saksi dari sebuah acara penuh makna. Pengajian Rutin Malam Selasa Pahing yang diinisiasi oleh Jamaah Masjid Al-Ikhlas kali ini bertransformasi menjadi momen yang sarat dengan tausiyah dan pencerahan. Acara yang berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.00 ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid Al-Ikhlas, tokoh agama, dan masyarakat setempat.


Pada kesempatan tersebut, Bapak Jumari, selaku perwakilan panitia sekaligus Ketua LazisNU Ranting Ngelo, menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya acara ini. "Kehadiran kita malam ini bukan hanya sebagai bentuk pengabdian, tetapi juga sebagai wujud kepedulian terhadap masa depan generasi dan tatanan sosial di masyarakat kita," ujarnya dengan penuh semangat.


Acara yang digagas oleh Jamaah Masjid Al-Ikhlas ini mencapai puncaknya dengan tausiyah yang dibawakan oleh Bapak Kiyai Paniran, seorang tokoh yang dikenal luas sebagai Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, Kiyai Paniran mengangkat tema keikhlasan dan istiqomah dalam berkhidmah kepada umat. Beliau menekankan bahwa keikhlasan adalah fondasi utama dalam setiap amal, sementara istiqomah adalah penopang agar amal tersebut tetap berkelanjutan dan membawa manfaat yang nyata.


Tak hanya itu, Kiyai Paniran juga menyoroti isu-isu krusial yang tengah menggerogoti masyarakat, terutama bahaya JUDI Online (JUDOL) dan narkoba. "Kedua ancaman ini tidak hanya merusak generasi muda, tetapi juga menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial yang kita bangun bersama dengan susah payah," tegasnya.


Dengan penyampaian yang lugas namun penuh dengan kedalaman makna, Kiyai Paniran mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman-ancaman tersebut. Beliau menekankan pentingnya peran serta seluruh elemen masyarakat dalam membentengi diri dan lingkungan dari pengaruh negatif yang dapat merusak moral dan masa depan bangsa.


Acara yang berlangsung dengan khidmat ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian ilmu, tetapi juga menjadi momen introspeksi bagi setiap jamaah yang hadir. Keikhlasan, istiqomah, serta kewaspadaan terhadap bahaya JUDI Online dan narkoba, menjadi pesan kuat yang diusung dalam pengajian kali ini, menggugah kesadaran kolektif untuk terus berjuang dalam menjaga kemaslahatan umat.

Share:

Menggali Syukur dan Memperkuat Iman Melalui Pemahaman Al-Qur'an

Ngelo, 11 Agustus 2024 – MT Al-Hidayah Dusun Jeruk, Desa Ngelo, menyelenggarakan kegiatan TURBA (Tausiyah Rutin Bersama) pada hari Minggu, 11 Agustus 2024. Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme hingga selesai, dihadiri oleh seluruh anggota MT Al-Hidayah yang dengan semangat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Acara ini menjadi momen penting bagi pengembangan spiritual dan pengetahuan keagamaan komunitas setempat. Bapak Paniran, Ketua MUI Desa Ngelo Kecamatan Margomulyo, hadir sebagai pemateri utama dengan menyampaikan kajian yang mendalam dan relevan bertema "Memperbanyak Rasa Syukur atas Nikmat yang Diberikan Allah, Khususnya Kemampuan Membaca Al-Qur'an."

Dalam pemaparannya, Bapak Paniran menekankan pentingnya bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan, terutama kemampuan membaca dan memahami Al-Qur'an. Beliau menggarisbawahi bahwa membaca Al-Qur'an bukan hanya kewajiban rutin, melainkan sebuah anugerah ilahi yang harus dihargai dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an, umat Islam dapat memperdalam iman mereka sekaligus meningkatkan kualitas hidup spiritual dan sosial.

Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh seluruh peserta. Para anggota MT Al-Hidayah aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab, berusaha menggali lebih dalam materi yang telah disampaikan oleh Bapak Paniran. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang bagi anggota untuk saling berbagi pengalaman serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara mereka.

Acara ditutup dengan doa bersama, yang dipimpin oleh Bapak Paniran, memohon agar Allah senantiasa memberkahi dan membimbing setiap langkah anggota MT Al-Hidayah dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur'an. Harapan besar bahwa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi anggota untuk terus meningkatkan kualitas ibadah mereka dan memperbanyak rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan.

Dengan suksesnya pelaksanaan kegiatan TURBA ini, MT Al-Hidayah kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan spiritual dan pemahaman keagamaan komunitasnya. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari upaya pemberdayaan umat melalui pendidikan agama yang mendalam dan menyeluruh, yang diharapkan dapat memperkokoh iman dan kualitas hidup spiritual masyarakat Dusun Jeruk.


FKPAIMedia

Share:

"Membangun Ketahanan Sosial: Tausiyah MUI Desa Ngelo Serukan Pentingnya Guyub Rukun Hadapi Ancaman Judi Online dan Narkoba"

Pada hari Ahad, 11 Agustus 2024, kegiatan Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) MUI Desa Ngelo kembali dilaksanakan dengan penuh khidmat di Musholla An-Nur Ngasem, Dusun Jeruk, Desa Ngelo. Acara yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB ini dihadiri oleh segenap jamaah Majelis Taklim An-Nur serta warga setempat, yang berbondong-bondong datang untuk mengikuti tausiyah yang telah menjadi agenda rutin tersebut.


Kegiatan kali ini menghadirkan Bapak Paniran, seorang Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema yang sangat relevan dan mendesak, yakni "Urgensi Guyub Rukun dalam Masyarakat yang Majemuk guna Membentengi dari Dampak Negatif Judi Online dan Bahaya Narkoba."


Di hadapan jamaah, Bapak Paniran menyampaikan betapa pentingnya menjaga kerukunan dan kekompakan dalam masyarakat, terutama di tengah kondisi sosial yang semakin kompleks dan beragam. Menurut beliau, guyub rukun bukan hanya sekadar semboyan, tetapi sebuah keharusan untuk membangun benteng sosial yang kuat dalam menghadapi ancaman yang mengintai, seperti maraknya judi online dan penyalahgunaan narkoba yang semakin meresahkan.


Bapak Paniran juga menekankan bahwa peran aktif masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan dan saling peduli sangat krusial untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman. Beliau mengingatkan bahwa tantangan-tantangan ini tidak dapat diatasi sendirian, melainkan memerlukan upaya kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah dan warga untuk selalu bersinergi, memperkuat komunikasi, dan saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam godaan-godaan yang dapat merusak tatanan sosial dan moral.


Acara TURBA ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Paniran, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan kekuatan dan keteguhan iman kepada seluruh masyarakat Desa Ngelo, sehingga dapat terhindar dari segala bentuk kemaksiatan dan senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Para jamaah yang hadir tampak antusias dan menyimak dengan penuh perhatian, menyadari pentingnya pesan-pesan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut. 


Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan nilai-nilai guyub rukun yang telah ditekankan dalam tausiyah dapat terus terjaga dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, demi terciptanya masyarakat yang harmonis dan bebas dari dampak negatif judi online serta bahaya narkoba.


FKPKPAIMedia

Share:

"Malam Penuh Hikmah: Menapaki Cahaya Keimanan di Rutinan Malam Jum'at Legi"

 

Ngelo, 1 Agustus 2024 – Malam Jum’at Legi di Aula Matawali Jipangulu, Desa Ngelo, menjadi ajang berkumpulnya para tokoh agama dan masyarakat dalam Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) MUI Kecamatan Margomulyo yang diadakan oleh Majelis Taklim Wal Istighotsah (MATAWALI) Rohmatan Lil ‘Alamin Jipangulu. Acara yang dimulai pada pukul 20.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 23.45 WIB ini dihadiri oleh semua anggota dan pengurus Matawali dari Blora dan Bojonegoro, perangkat Desa Ngelo, tokoh NU Ranting Ngelo, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara dibuka dengan pembacaan Sholawat Bilqiyam yang diikuti oleh seluruh jamaah, menciptakan suasana khidmat dan penuh berkah. Selanjutnya, kajian rutin yang mengangkat kitab Ayyuhal Walah karya Imam Al-Ghozali dipaparkan oleh Kiyai Badrun Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Kajian ini menjadi momen penting untuk memperdalam pemahaman agama dan memperkuat iman.

Setelah kajian, acara dilanjutkan dengan Mujadah Istighotsah Rohmatan Lil ‘Alamin, yang dipimpin langsung oleh Kiyai Badrun. Moment istighotsah ini menandai puncak acara, memberikan kesempatan kepada jamaah untuk memohon doa dan rahmat Allah SWT.

Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan pula ziyaroh ke Maqom Waliyulloh Mbah Santri, seorang santri Sunan Kudus yang diutus untuk menyebarkan Islam di Bumi Jipangulu dan sekitarnya. Ziyaroh ini menjadi refleksi dan penghormatan terhadap perjuangan para ulama terdahulu.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun Sulaiman menyampaikan pesan penting mengenai bahaya yang dihadapi umat di zaman akhir ini. Beliau menyoroti empat hal utama yang sering menjadi andalan sebagian orang, namun justru bisa menjadi sumber bahaya:

  1. Mengandalkan Dirham dan Dinar: Ketergantungan pada uang sebagai jaminan kesejahteraan hidup.
  2. Mengandalkan Harta dan Kekuasaan: Menjadikan kekayaan dan kekuasaan sebagai tolak ukur utama keberhasilan.
  3. Mengandalkan Pekerjaan dan Keahlian: Terlalu fokus pada profesi dan keahlian sebagai sumber utama kestabilan hidup.
  4. Mengandalkan Makhluq Sesama: Bergantung pada manusia lainnya dalam setiap aspek kehidupan.

Kiyai Badrun menegaskan bahwa terlalu berlebihan mengandalkan hal-hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang lupa akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Selain itu, beliau juga mengingatkan tentang bahaya judi online dan peredaran narkoba yang dapat merusak kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan kesadaran akan pentingnya berpegang teguh pada ajaran agama serta menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan.


Kiyai Badrun juga menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan zaman modern, umat Islam harus lebih cermat dan bijaksana dalam memanfaatkan harta dan kekuasaan. Beliau mendorong para jamaah untuk selalu mengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sementara dan merupakan amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, sikap ketergantungan yang berlebihan pada materi atau kekuasaan dapat menjauhkan seseorang dari kesadaran akan kekuasaan dan kebesaran Allah.


Di samping itu, Kiyai Badrun juga membahas dampak negatif dari judi online dan peredaran narkoba, yang menurutnya bukan hanya merusak individu tetapi juga merusak tatanan sosial dan kehidupan rumah tangga. Beliau mengingatkan bahwa kedua hal ini dapat mengakibatkan kerusakan moral dan spiritual, yang pada gilirannya berdampak negatif pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Kiyai Badrun menyerukan kepada seluruh jamaah untuk bersama-sama melawan praktik-praktik tersebut dengan meningkatkan kesadaran dan pendidikan tentang bahaya yang ditimbulkan.


Sebagai penutup, Kiyai Badrun mengajak seluruh hadirin untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan saling mendukung dalam menjalankan ajaran agama dengan penuh keikhlasan. Beliau berharap, melalui kegiatan seperti TURBA ini, masyarakat dapat semakin solid dalam menjaga keimanan dan ketakwaan, serta mempererat tali persaudaraan di tengah-tengah komunitas.


Acara yang berakhir dengan doa bersama ini diharapkan memberikan dampak positif bagi seluruh peserta dan masyarakat sekitar, serta menjadi sarana untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah serta kehidupan sehari-hari. Semoga semangat yang diperoleh dari Tausiyah Rutin Bersama ini dapat terus membimbing dan memberikan manfaat bagi umat.

Share:

"Cahaya Ilmu di Balai Desa Ngelo: Menelusuri Jejak Kebaikan dalam Tausiyah Rutin Bersama MUI Kecamatan Margomulyo"


Ngelo, 2 Agustus 2024 – Rangkaian acara Tausiyah Rutin Bersama (TURBA) yang diadakan oleh Muslimat NU Ranting Ngelo berlangsung dengan khidmat pada hari Jumat, 2 Agustus 2024. Bertempat di Balai Desa Ngelo, acara ini dimulai pukul 13.00 dan berakhir sekitar 15.30 WIB, dihadiri oleh seluruh anggota dan pengurus Muslimat NU Ranting Ngelo.

Acara puncak TURBA kali ini menghadirkan Bapak Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun membahas kajian mendalam tentang Kitab *Wasiyatul Mustofa*. Beliau menguraikan tiga tanda orang yang sholeh sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga ciri tersebut adalah: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui amal saleh, memperbaiki agama dengan amal perbuatan, dan menunjukkan kerelaan terhadap orang lain sebagaimana kerelaan terhadap diri sendiri.

Selain itu, Kiyai Badrun juga menyampaikan pesan penting mengenai bahaya judi online dan peredaran narkoba yang dapat merusak kehidupan rumah tangga. Peringatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat kesadaran dan komitmen anggota masyarakat dalam menjaga keharmonisan keluarga dan lingkungan.

Acara ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara penceramah dan peserta, di mana banyak anggota masyarakat aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai topik yang dibahas. Tausiyah Rutin Bersama ini menjadi momen penting dalam mempererat silaturahmi dan meningkatkan pemahaman keagamaan di kalangan warga Ngelo.

Selama acara berlangsung, suasana di Balai Desa Ngelo dipenuhi oleh semangat kebersamaan dan keinginan untuk meningkatkan kualitas iman dan amal. Pencerahan yang diberikan oleh Kiyai Badrun tidak hanya memberikan wawasan spiritual, tetapi juga menambah pengetahuan praktis tentang cara menghadapi tantangan zaman modern, khususnya yang berkaitan dengan perilaku negatif seperti judi online dan narkoba.

Peserta acara menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mengikuti setiap sesi tausiyah dan berinteraksi dalam tanya jawab. Beberapa peserta mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berharap acara semacam ini dapat terus berlanjut untuk memperkuat iman dan membangun komunitas yang lebih baik.

Dalam penutup acara, pengurus Muslimat NU Ranting Ngelo menyampaikan apresiasi kepada Kiyai Badrun Sulaiman atas materi tausiyah yang sangat inspiratif dan bermanfaat. Mereka juga berterima kasih kepada seluruh anggota dan pengurus yang telah hadir dan berpartisipasi aktif.

Acara TURBA kali ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Ngelo, serta menjadi contoh bagi kegiatan serupa di masa mendatang. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus belajar, diharapkan setiap individu dapat menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih baik dan harmonis.
 

Share:

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Label

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman