Selamat Datang Di Website Resmi MUI Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> MUI Margomulyo Gelar Sarasehan untuk Tingkatkan Konsolidasi dan Koordinasi

Profil Pengurus MUI Kecamatan Margomulyo — Alifia Putri Rochmatun Nazila, S.Sos.

profil-pengurus-mui-kecamatan_0338182039

Alifia Putri Rochmatun Nazila, S.Sos. merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo yang memiliki perhatian terhadap bidang komunikasi, digitalisasi informasi, serta pembinaan dan bimbingan keislaman. Berdomisili di Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, beliau turut mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat melalui jalur kelembagaan dan pelayanan keagamaan.

Dalam kepengurusan MUI Kecamatan Margomulyo, Alifia dipercaya sebagai Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi. Amanah tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan masyarakat saat ini, ketika informasi keagamaan dapat disebarkan secara cepat melalui berbagai media digital.

Kemampuan menyampaikan informasi secara santun, edukatif, dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi keagamaan yang sehat. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat membutuhkan konten keislaman yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki dasar yang benar dan membawa kemaslahatan.

Mengabdi sebagai Penyuluh Agama Islam

Selain aktif dalam kepengurusan MUI, Alifia juga menjalankan amanah sebagai Penyuluh Agama Islam pada KUA Margomulyo. Peran tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat.

Penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara nilai-nilai ajaran Islam dengan realitas kehidupan masyarakat. Bimbingan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan keagamaan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai seorang penyuluh, kemampuan untuk mendengarkan, memahami kondisi masyarakat, serta menyampaikan pesan agama dengan bahasa yang bijaksana menjadi bagian dari proses pengabdian.

Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Ayat tersebut memberikan pedoman bahwa menyampaikan ajaran agama hendaknya dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan cara yang santun.

Bimbingan Keislaman sebagai Bentuk Pengabdian

Bidang keahlian Alifia adalah Bimbingan Keislaman. Keahlian ini memiliki cakupan yang luas, mulai dari memberikan pemahaman dasar agama, mendampingi masyarakat dalam menghadapi persoalan keagamaan, hingga membantu membangun kesadaran untuk menjalankan ajaran Islam secara lebih baik.

Bimbingan keislaman bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu seseorang menemukan arah dan ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Dalam memberikan bimbingan, seorang penyuluh dituntut untuk mampu menempatkan diri sebagai pendamping masyarakat. Setiap persoalan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Karena itu, ilmu agama perlu disampaikan dengan kebijaksanaan, empati, dan mempertimbangkan kondisi orang yang menerima bimbingan.

Pesan Kehidupan: QS. Al-Isra Ayat 7

Pesan yang menjadi prinsip Alifia Putri Rochmatun Nazila, S.Sos. adalah QS. Al-Isra ayat 7. Allah SWT berfirman:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman yang kedua, (Kami bangkitkan musuh-musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.”
(QS. Al-Isra: 7)

Bagian awal ayat tersebut mengandung pesan yang sangat kuat:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.”

Pesan ini mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sederhana tetapi mendalam: setiap kebaikan yang kita lakukan pada hakikatnya akan kembali memberikan manfaat kepada diri kita sendiri, dan setiap keburukan yang kita lakukan juga pada akhirnya akan membawa akibat bagi diri kita sendiri.

Kebaikan yang Kembali kepada Pelakunya

Ketika seseorang membantu orang lain, mungkin orang yang dibantu memang mendapatkan manfaat. Namun, kebaikan tersebut juga memberikan nilai bagi orang yang menolong.

Ketika seseorang menyampaikan ilmu, ia membantu orang lain memahami sesuatu. Tetapi pada saat yang sama, ilmu tersebut menjadi amal yang dapat menjadi bekal bagi dirinya.

Ketika seseorang memberikan nasihat dengan tulus, ia mungkin membantu orang lain menemukan jalan yang lebih baik. Namun, ia juga sedang melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang peduli dan bertanggung jawab.

Inilah salah satu pesan penting QS. Al-Isra ayat 7: kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Allah SWT juga berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Ayat tersebut semakin memperkuat kesadaran bahwa setiap amal memiliki konsekuensi dan nilai di hadapan Allah SWT.

Relevansi dengan Dakwah dan Penyuluhan

Pesan QS. Al-Isra ayat 7 sangat relevan dengan tugas seorang penyuluh agama. Dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat, nilai yang ditanamkan bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga memahami bahwa pilihan hidup memiliki konsekuensi.

Kebaikan yang dilakukan seseorang akan membentuk kehidupannya sendiri. Demikian pula keburukan yang dipilih akan memberikan dampak kepada dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Karena itu, bimbingan keislaman hendaknya mendorong masyarakat untuk membangun kesadaran dari dalam diri, bukan hanya karena takut terhadap aturan atau penilaian manusia.

Seseorang berbuat baik karena memahami bahwa kebaikan adalah jalan yang diridai Allah. Ia membantu karena menyadari bahwa manusia saling membutuhkan. Ia menjaga ucapan karena memahami bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi.

Dakwah di Era Digital

Sebagai Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi MUI Kecamatan Margomulyo, Alifia juga memiliki ruang pengabdian yang sangat relevan dengan perkembangan zaman.

Media digital dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat secara lebih luas. Satu tulisan, satu video, atau satu pesan keislaman dapat menjangkau banyak orang.

Namun, semakin luas jangkauan informasi, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Informasi yang benar dapat memberikan manfaat, sedangkan informasi yang salah dapat menimbulkan kesalahpahaman bahkan konflik.

Karena itu, prinsip QS. Al-Isra ayat 7 dapat menjadi pengingat: gunakan kemampuan dan teknologi untuk kebaikan, karena setiap apa yang kita sebarkan pada akhirnya akan kembali kepada diri kita dalam bentuk pertanggungjawaban dan dampak.

Menjadi Penyampai Kebaikan

Peran Alifia sebagai Penyuluh Agama Islam sekaligus pengurus MUI menjadi ruang untuk menyatukan ilmu, komunikasi, dan pengabdian.

Melalui bimbingan keislaman, beliau dapat membantu masyarakat memahami nilai-nilai agama. Melalui bidang humas dan digitalisasi informasi, pesan-pesan tersebut dapat disampaikan melalui berbagai media secara lebih luas.

Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.’”
(QS. Fussilat: 33)

Ayat tersebut memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang yang mengajak kepada kebaikan sekaligus mengamalkan kebaikan tersebut dalam kehidupannya.

Pada akhirnya, QS. Al-Isra ayat 7 mengajarkan bahwa kehidupan adalah ruang untuk memilih dan menanam. Kebaikan yang ditanam akan menjadi kebaikan bagi diri sendiri, sedangkan keburukan yang dilakukan juga akan kembali kepada pelakunya.

Melalui amanah sebagai Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi MUI Kecamatan Margomulyo, peran sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Margomulyo, serta keahlian dalam Bimbingan Keislaman, Alifia Putri Rochmatun Nazila, S.Sos. terus mengambil bagian dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan, mendidik, dan memberikan manfaat.

Berbuat baik bukan karena ingin dipuji manusia, tetapi karena yakin bahwa setiap kebaikan pada akhirnya akan kembali menjadi kebaikan bagi diri sendiri.

Identitas Singkat

  • Nama: Alifia Putri Rochmatun Nazila, S.Sos.
  • Alamat: Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro
  • Jabatan di MUI: Anggota Komisi Hubungan Masyarakat dan Digitalisasi Informasi
  • Jabatan Sosial: Penyuluh Agama Islam KUA Margomulyo
  • Bidang Keahlian: Bimbingan Keislaman
  • Pesan: QS. Al-Isra: 7 — إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total KUNJUNGAN

MUIM TV

Viral 30 hari Terahir

Postingan Populer

Arsip

Label