MARGOMULYO, Ahad 20 September 2026. — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali menggelar kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Kegiatan berlangsung pada Ahad (20/9/2026) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Amin, Kaligede, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut diikuti oleh segenap jamaah Masjid Al-Amin, pengurus majelis taklim, serta tokoh masyarakat setempat.
Kegiatan TURBA menjadi salah satu ruang bagi MUI Kecamatan Margomulyo untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain sebagai sarana silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi forum penyampaian pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan umat sehari-hari.
Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Abdul Ghofur, Wakil Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema “Memperbanyak Syukur dan Istighfar serta Taubat dari Semua Dosa.”
Syukur atas Nikmat Allah
Dalam penyampaiannya, Abdul Ghofur mengajak jamaah untuk memperbanyak rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT. Menurutnya, manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan daripada menyadari begitu banyak nikmat yang telah diterimanya.
Padahal, kesehatan, kesempatan, keluarga, rezeki, keamanan, ilmu, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan nikmat yang tidak ternilai.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”(QS. Ibrahim: 7)
Abdul Ghofur menjelaskan bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan.
Syukur dengan hati berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. Syukur dengan lisan diwujudkan melalui pujian dan pengakuan atas karunia-Nya. Sedangkan syukur dengan perbuatan diwujudkan dengan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan ketaatan.
“Jangan sampai kita baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat itu dicabut. Kesehatan baru terasa sangat berharga ketika kita sakit, waktu terasa mahal ketika usia semakin berkurang, dan kesempatan beribadah baru terasa penting ketika kesempatan itu sudah tidak ada,” tuturnya.
Istighfar sebagai Jalan Memohon Ampunan
Selain memperbanyak syukur, jamaah juga diajak untuk membiasakan diri memperbanyak istighfar.
Menurut Abdul Ghofur, istighfar tidak hanya dilakukan oleh seseorang yang merasa banyak dosa. Istighfar merupakan bentuk kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan...”(QS. Hud: 3)
Istighfar juga merupakan amalan yang memiliki dimensi sosial dan spiritual. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat tersebut, istighfar dikaitkan dengan turunnya rahmat dan berbagai karunia Allah.
Karena itu, Abdul Ghofur mengingatkan agar istighfar tidak hanya dilafalkan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan. Istighfar hendaknya menjadi kebiasaan sehari-hari, baik ketika mendapatkan kesenangan maupun ketika menghadapi ujian.
“Orang yang banyak beristighfar bukan berarti orang yang paling banyak dosanya. Justru istighfar menunjukkan bahwa seseorang menyadari dirinya sebagai hamba yang penuh kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah,” jelasnya.
Taubat Tidak Boleh Ditunda
Pembahasan kemudian dilanjutkan mengenai pentingnya taubat. Manusia, menurutnya, tidak luput dari kesalahan. Namun, kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Allah SWT berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat tersebut memberikan harapan bahwa pintu ampunan Allah senantiasa terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Abdul Ghofur menjelaskan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan harus disertai kesungguhan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bertaubat harus meninggalkan dosa, menyesali perbuatan yang dilakukan, serta memiliki tekad untuk tidak mengulanginya.
Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka taubat juga harus disertai upaya menyelesaikan hak tersebut.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya...”(QS. At-Tahrim: 8)
Muhasabah dan Memperbaiki Diri
Lebih lanjut, Abdul Ghofur mengajak jamaah menjadikan muhasabah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah nikmat Allah disyukuri? Sudahkah dosa-dosa dimintakan ampun? Sudahkah kesalahan kepada sesama diperbaiki? Dan sudahkah waktu yang diberikan Allah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat?
Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama banyak menekankan pentingnya muhasabah. Evaluasi terhadap diri sendiri menjadi sarana agar seorang Muslim tidak terlena dengan kehidupan dunia dan tidak merasa dirinya telah sempurna.
Syukur membuat seseorang menyadari nikmat. Istighfar membuat seseorang menyadari kekurangan. Sementara taubat mendorong seseorang untuk memperbaiki kesalahan.
Ketiga hal tersebut menjadi rangkaian penting dalam membangun kehidupan seorang Muslim yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menjadikan TURBA sebagai Ruang Pembinaan Umat
Kegiatan TURBA MUI Kecamatan Margomulyo di Masjid Al-Amin Kaligede berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Kehadiran jamaah, pengurus majelis taklim, dan tokoh masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi serta memperkuat hubungan antara ulama dan masyarakat.
Melalui kegiatan TURBA yang dilaksanakan secara rutin, MUI Kecamatan Margomulyo berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan secara langsung di tengah masyarakat.
Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bersama bahwa kehidupan seorang Muslim hendaknya selalu diwarnai dengan syukur atas nikmat, istighfar atas kekurangan, dan taubat atas kesalahan.
Selama kesempatan hidup masih diberikan Allah SWT, selama itu pula pintu untuk memperbaiki diri tetap terbuka.
(Redaksi)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar