MARGOMULYO – Majelis taklim Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo kembali menggelar kegiatan rutin yang dirangkai dengan TURBA (Turun ke Bawah) MUI Kecamatan Margomulyo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ibu Katin Jipangulu, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Ranting Muslimat NU Ngelo, Pengurus Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Margomulyo, Ibu Kepala Desa, serta anggota Majelis Taklim. Suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pembinaan keagamaan, dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ngatini, S.Pd., Anggota Komisi Organisasi dan Kelembagaan MUI Kecamatan Margomulyo, menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah persoalan penting yang dekat dengan kehidupan masyarakat, di antaranya tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga kehormatan, kesehatan, dan ketahanan keluarga.
Bahaya HIV dan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri
Ngatini mengingatkan bahwa HIV merupakan persoalan kesehatan yang harus dipahami secara benar dan tidak boleh disikapi dengan stigma terhadap penderitanya. HIV adalah persoalan medis yang membutuhkan pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan yang tepat.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga diri dari berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Dalam konteks kehidupan keluarga, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk sikap bertanggung jawab, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan dan keturunan. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Isra’: 32)
Ayat tersebut, jelas Ngatini, tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjauhi berbagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan tersebut.
Karena itu, menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga keluarga, dan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang sehat secara jasmani sekaligus kuat secara moral.
Namun demikian, ia juga menekankan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. Mereka tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan dukungan, pengobatan, serta pendampingan. Pencegahan penyakit harus berjalan bersama dengan sikap kasih sayang dan kemanusiaan.
“Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu”, Lalu Mengapa Banyak Perempuan Masuk Neraka?
Pada bagian lain, Ngatini mengajak jamaah merenungkan kedudukan perempuan, khususnya seorang ibu, dalam Islam.
“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, tetapi kenapa banyak wanita yang masuk neraka?” tegas Ngatini dalam tausiyahnya.
Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Seorang perempuan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, terlebih ketika menjadi seorang ibu. Namun kemuliaan tersebut harus diwujudkan melalui iman, ketaatan, akhlak, tanggung jawab, dan amal saleh.
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan orang tua. Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS. Al-Isra’: 23)
Bahkan Rasulullah SAW memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seorang ibu. Dalam sebuah hadis tentang seorang sahabat yang hendak berjihad, Rasulullah SAW bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika dijawab masih ada, Nabi SAW bersabda:
فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
“Maka tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”
Hadis ini menjadi salah satu dasar kuat mengenai besarnya keutamaan berbakti kepada ibu. Adapun ungkapan populer “الجنة تحت أقدام الأمهات” (surga di bawah telapak kaki ibu) memiliki beberapa jalur riwayat dengan penilaian sanad yang berbeda; karena itu, yang paling aman adalah menyandarkan maknanya kepada hadis tentang keutamaan berbakti kepada ibu yang lebih kuat.
Mengapa Ada Perempuan yang Masuk Neraka?
Ngatini kemudian mengajak jamaah memahami hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat mayoritas penghuni neraka adalah perempuan. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.” (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain dijelaskan salah satu sebab yang disebutkan Nabi SAW, yaitu banyak mencela dan mengingkari kebaikan pasangan. Karena itu, menurut Ngatini, hadis tersebut bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan keras agar kaum perempuan melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.
Perempuan yang menjadi ibu, lanjutnya, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi. Dari seorang ibu, anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, tutur kata, kedisiplinan, agama, dan akhlak.
Karena itu, seorang ibu jangan sampai hanya sibuk mengurus kebutuhan lahiriah keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan spiritual keluarga.
Ibu sebagai Madrasah Pertama
Ngatini menegaskan bahwa rumah tangga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu mempunyai posisi penting dalam membentuk karakter generasi.
Seorang ibu yang menjaga salatnya akan memberikan contoh kepada anaknya. Ibu yang membiasakan membaca Al-Qur’an akan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Ibu yang menjaga lisannya dari ghibah, fitnah, dan perkataan kasar akan mengajarkan anak tentang akhlak tanpa harus banyak memberikan teori.
Karena itu, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari statusnya sebagai ibu, tetapi juga dari iman, ilmu, akhlak, dan amalnya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS. Al-Ahzab: 35)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan semata-mata jenis kelamin, tetapi keimanan dan amal saleh.
Menjaga Lisan, Menjaga Keluarga
Lebih lanjut, Ngatini mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menjaga lisan. Banyak persoalan rumah tangga bermula dari perkataan yang dianggap sepele: mencela pasangan, membuka aib keluarga, membicarakan kekurangan orang lain, hingga membiasakan mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat.
Rasulullah SAW juga mengingatkan kaum perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar ketika menjelaskan sebab banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka: memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.
Ngatini kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan majelis taklim bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bermuhasabah, dan memperbaiki diri.
Sebab, lanjutnya, menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah selalu memiliki kemauan untuk belajar, mengakui kesalahan, bertaubat, memperbaiki akhlak, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam kaidah hikmah yang masyhur disebutkan:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”
Kaidah tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Mencegah kerusakan moral, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan diri, dan melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif merupakan bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan penuh keberkahan.
Menutup tausiyahnya, Ngatini mengajak seluruh jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo untuk terus menjaga kekompakan, meningkatkan wawasan keagamaan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menjadikan majelis taklim sebagai sarana membangun perempuan yang berilmu, berakhlak, sehat, dan mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Kegiatan TURBA MUI Margomulyo tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diakhiri dengan doa bersama. Kehadiran MUI di tengah majelis taklim diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama, organisasi keagamaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di Kecamatan Margomulyo.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar