KUWALI ||KULTUM MATAWALI || Romadhon Madrosah bagi kaum Muslimin || ROMADHON #5

KUWALI SPECIAL ROMADHON

HARI 5

Romadhon Madrosah bagi kaum Muslimin

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

Mengawali Kultum yang singkat ini, Saya berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri Saya pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

Ibarat sebuah madrasah, Ramadhan adalah tempat bagi kita untuk mendidik dan menempa diri. Ibarat madrasah, maka di sana ada Enam komponen penting yakni guru pembimbing, kurikulum, peserta didik, mata pelajaran, ujian dan tujuan pendidikan.

 

1. Guru pembimbing.

Guru pembimbingnya adalah iman dan niat ikhlash karena mengharap ridla Allah semata. Keduanya sangat vital. Keduanya sangat berpengaruh pada sah tidaknya puasa, serta diterima tidaknya puasa.

 

2. Kurikulum.

Kurikulum dan silabusnya adalah ilmu tentang puasa yang mencakup rukun-rukun puasa, syarat wajibnya, syarat sahnya, hal-hal yang membatalkannya, sunnah-sunnahnya, tingkatan-tingkatan puasa, hal-hal yang mengurangi atau membatalkan pahala puasa dan lain-lain.

Ini harus diketahui dan dijalankan semuanya. Paling tidak hukum-hukum dasar terkait dengan puasa.  

 

3. Peserta didik.

Peserta didiknya adalah seluruh umat Islam yang sudah baligh, berakal dan mampu berpuasa. Begitu juga anak kecil yang sudah genap berusia tujuh tahun, telah mumayyiz (mampu memahami pembicaraan dan menjawab pertanyaan sederhana) dan kuat untuk berpuasa, maka walinya wajib untuk memerintahkannya berpuasa.

 

4. Mata pelajaran.

Mata pelajarannya banyak. Disini saya contohkan empat saja.

a. Sabar

b. Sukur.

c. Muroqobah

d. Tawakal

 

4.a  Sabar.

Puasa mengajarkan kepada kita sabar;

·      Sabar menjalankan ketaatan.

·      Sabar dalam meninggalkan perkara haram dan;

·      Sabar dalam menghadapi musibah.

Madrasah Ramadhan mengajarkan kepada kita tiga jenis sabar sekaligus.

Pada saat puasa, kita ditempa untuk melakukan berbagai kewajiban dan menghindarkan diri kita dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kita juga dituntut untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir dan miskin, yaitu rasa lapar dan dahaga.

 

Dengan itu, seandainya kita diuji dengan rasa lapar dan musibah-musibah yang lain suatu waktu nanti, maka diharapkan kita akan diberi kekuatan untuk melaluinya karena kita sudah ditempa di madrasah Ramadhan.

 

4.b Bersyukur.

Melalui puasa juga, kita belajar bersyukur. Bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena di luar sana, masih banyak orang yang menahan lapar dan dahaga selama berbulan-bulan, sedangkan kita menahan lapar dan dahaga hanya selama satu bulan.

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

4.c Muraqabah.

Madrasah Ramadhan juga menanamkan pada diri kita al-Muraqabah lillah, yakni selalu merasa tindak tanduk kita diawasi, diperhatikan dan dilihat oleh Allah taala.

 

Selama puasa, mungkin saja seseorang makan dan minum dan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa tanpa diketahui oleh orang lain. Akan tetapi ia tahan dirinya, tidak melakukan hal itu karena ia merasa diawasi oleh Allah taala. Dalam hadits qudsi, Allah taala berfirman:  

Maknanya: Dia meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku(H.R. Muslim)  

 

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى (رواه مسلم)

 

4.d Tawakal.

Puasa juga mengajarkan kepada kita tawakal kepada Allah. Seseorang yang memanjakan dirinya, mungkin saja ia tidak berpuasa karena merasa tidak kuat. Tapi hal itu tidak ia lakukan. Ia makan sahur secukupnya lalu berpuasa dan bertawakal kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah akan menjadikannya kuat menjalankan ibadah puasa. Dan masih banyak lagi pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari madrasah Ramadhan.

 

5. Ujian.

Ibarat madrasah, Ramadhan juga memiliki ujian. Ujiannya adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan perjuangan melawan godaan setan agar kita tidak melakukan perbuatan dosa, maksiat dan segala hal yang dapat membatalkan puasa atau membatalkan pahala puasa.

 

6. Tujuan pendidikan.

Sedangkan tujuan pendidikan dari madrasah Ramadhan adalah menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa, menjalankan seluruh kewajiban, meninggalkan semua perkara haram dan mendahulukan kepentingan akhirat daripada kepentingan duniawi.

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

Demikian Kultum yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.  

Wallohu A’lamu Bisshowab.

 

 

 

 

 

Pemateri:

De Badruns

(Ketua MUI Margomulyo)

 

 

 

Share:

KUWALI ||KULTUM MATAWALI || Orang yang Tertipu Selama Ramadhan || ROMADHON #4

KUWALI SPECIAL ROMADHON

HARI 4

Orang yang Beribadah tapi Tertipu Selama Ramadhan

الحَمْدُ للهِ الّذِي خَلَقَ الخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَأَمْرُهُمْ بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْمَلُ الخَلْقِ عُبُودِيَّةً للهِ، وَأَعْظَمَهُمْ طَاعَةً لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ. اَمَّا بَعْدُ،

 

Jamaah KUWALI ROHIMAKUMULLOH,  

Ramadhan hadir sebagai bulan yang paling istimewa di antara sebelas bulan lainnya. Keistimewaan tersebut terlihat dari dorongan untuk memperbanyak ibadah di bulan suci ini dan janji pelipat gandaan pahala bagi orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah.

 

Sebuah bulan yang hari demi harinya, jam demi jamnya, dan menit demi menitnya, detik demi detiknya sangat berharga. Bagaimana tidak bernilai, bila tidur orang puasa saja dimasukkan sebagai perbuatan ibadah, diamnya setara dengan membaca tasbih, dan amal kebaikan sejajar dengan amal berlipat-lipat di luar Ramadhan.

 

Atas dasar keutamaan ini, tidak heran bila banyak orang berbondong-bondong menunaikan ibadah Ramadhan sebanyak-banyaknya. Mereka tidak hanya menahan makan dan minum, tapi juga menjalankan rutinitas di luar amalan fardhu.

 

Mereka mulai memenuhi masjid, gemar bertadarus Al-Qur'an, dzikir, shalat tarawih, memberi hidangan berbuka puasa, dan amalan-amalan sunnah lainnya.

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

Tentu sangat menggembirakan menyaksikan gairah baru yang positif seiring dengan tibanya bulan penuh berkah ini.

 

Masyarakat menjadi tampak semakin religius. Meskipun, kita tahu semangat yang sama tidak dialami oleh semua orang. Tetapi, setidaknya kita melihat gejala perkembangan yang lebih baik setidaknya selama satu bulan.

 

Ramadhan mendorong banyak orang untuk mengubah diri, istirahat sejenak dari kesibukan duniawi yang melelahkan, dan meninggalkan hal-hal buruk. Semoga seluruh amalan tersebut terlaksana atas dasar keimanan yang kokoh sehingga dapat membersihkan kotoran-kotoran masa lalu, sebagaimana sabda Nabi:

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Taala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.(Muttafaqun alaih)

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Peningkatan intensitas dan frekuensi ibadah adalah hal yang baik. Hanya saja kita perlu seksama agar segenap upaya yang kita curahkan untuk beribadah tidak menguap sia-sia.

 

Menguap sia-sia? Ya, ibadah tidak otomatis pasti bernilai ibadah. Ibadah juga mengandung jebakan-jebakan yang bila seorang hamba tidak hati-hati akan terperosok ke dalamnya.

 

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitab al-Kasyfu wat Tabyin menyebutnya sebagai al-maghrurin (para ngibadah ibadah yang tertipu). Menurut Imam al-Ghazali, ketertipuan tersebut karena seorang ahli ibadah keliru dalam menempatkan skala prioritas.

 

Tipuan (ghurur) itu terjadi antara lain ketika seseorang hanyut dalam kesibukan ibadah-ibadah sunnah dan mengabaikan hal-hal yang wajib. Beliau antara lain menyebut:  

"Mereka (ahli ibadah yang tertipu) mengabaikan hal-hal fardhu dan menyibukkan diri pada hal-hal sunnah. Kadang mereka tenggelam dalam kesibukkan itu hingga sampai pada perilaku berlebih-lebihan dan permusuhan."

 

أَهْمَلُوْا الفَرَائِضَ وَاشْتَغَلُوا بِالنَّوَافِل، وَرُبَّمَا تَعَمَّقُوا فِيها حَتّى يَخْرُجُوْا إِلى السَّرَف والعدوان

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah, 

Orang bisa saja sangat bersemangat menjalankan ibadah shalat tahajud dini hari sampai subuh. Tapi jika karena perbuatannya itu ia meninggalkan shalat subuh maka ia sesungguhnya sedang tertipu.

 

Atau seseorang bisa saja aktif membangunkan sahur orang lain, tapi bila cara-cara yang digunakan mengganggu orang lain, seperti dengan membunyikan petasan, orang tersebut sesungguhnya juga tertipu.

 

Sebab, ibadah mengajak orang sahur tidak boleh menelantarkan kewajiban kita untuk tidak mengusik ketenteraman orang lain. Contoh lain di sekitar tentang hamba yang terperdaya ini adalah, ketika seseorang sibuk soal shalat tarawih, memperdebatkan jumlah rakaatnya yang paling afdhal, menghujat pihak yang tidak sepaham, lalu menimbulkan pertengkaran antarkompok yang tidak sepaham.

 

Padahal, melaksakan shalat tarawih adalah sunnah, sementara menjaga kerukunan dan persatuan adalah wajib. Terawih adalah perbuatan baik. Namun akan sayang sekali bila perbuatan baik tersebut lantas mengorbankan perbuatan lain yang lebih baik.

 

Jamaah KUWALI hafidhakumullah,  ,

Seorang terperdaya dengan ibadahnya juga ketika ia terlalu sibuk dengan tampilan luar daripada substansi. Misalnya pada kasus orang bertadarus Al-Qur'an. Mungkin ia sanggup mengkhatamkannya hanya dalam sehari semalam, menikmati tiap nada lantunan yang diekspresikan.

 

Namun saat hatinya melayang-layang pada urusan duniawi, lupa akan makna lafal yang dibaca, hamba itu sesungguhnya sedang tertipu. Menurut Al-Ghazali, substansi membaca Al-Qur'an adalah meresapi makna di dalamnya.

 

Sebab lezatnya Al-Qur'an bersumber dari makna, bukan hanya dari lagu atau keindahan suara pembacanya. Soal mengabaikan substansi ini sering kita dapati dalam banyak kasus ibadah-ibadah lain.

 

Wudhu, sembahyang, sedekah, sekolah, puasa, zakat, haji, umrah, ikut pengajian, dan sejenisnya. Kerapkali perkara-perkara teknis mengalihkan fokus orang dari peduli terhadap tujuan dan aspek-aspek yang lebih substansial. Belum lagi bila ibadah-ibadah itu kemudian ditempeli sifat-sifat tercela, seperti pamer, bangga diri, ingin dipuji, dan lain-lain.

 

Penjelasan ini bukan berarti ibadah-ibadah yang sunnah tidak penting, atau perkara teknis sama sekali tidak dibutuhkan. Keterangan ghurur tersebut hendak mengingatkan kita bahwa jangan sampai urusan-urusan sekunder itu membuat kita lalai akan urusan-urusan primer, ibadah sunnah mengantarkan kita untuk mengabaikan ibadah wajib. Yang ideal tentu saja adalah kita sanggup melaksanakan kedua-duanya secara maksimal.

 

Semoga penjelasan ini mampu mengoreksi ibadah-ibadah alfaqir pribadi dan jamaah sekalian sehingga kita semua bisa melewati hari Ramadhan dengan lebih baik.

 

Amiin ya rabbalâlamîn. Wallâhu a‘lam bish shawâb. 

 

 

Pemateri:

De badruns

(Ketua MUI Margomulyo)

 

Share:

KUWALI ||KULTUM MATAWALI|| Adab Puasa||ROMADHON #3

KUWALI SPECIAL ROMADHON

(Adab berpuasa)

HARI 3

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah KUWALI ROHIMAKUMULLOH,   Kini kita memasuki  bulan Ramadhan. Pada bulan ini umat Islam di seluruh dunia diwajibkan berpuasa sebagaimana umat-umat sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanu wataála dalam surat Al-Baqarah ayat 183 sebagai berikut:  

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  

Ibadah puasa tidak hanya memiliki ketentuan hukum yang menentukan sah tidaknya, tetapi juga memiliki adab tertentu yang berpengaruh terhadap pahala yang diterima oleh seseorang. Artinya adab berpuasa sangat penting untuk diperhatikan karena menentukan kualitas ibadah ini di hadapan Allah subhanu wataála sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 439), sebagai berikut:

 

Artinya: Adab berpuasa, yakni: mengonsumsi makanan yang baik, menghindari perselisihan, menjauhi ghibah (menggunjing orag lain), menolak dusta, tidak menyakiti orang lain, menjaga anggota badan dari segala perbuatan buruk.”  

 

آدَابُ الصِّيَامِ: طَيِّبُ اْلغِذاَءِ، وَتَرْكُ اْلمِرَاءِ، وَمُجَانَبَةُ اْلغِيْبَةِ، وَرَفْضُ اْلكَذِبِ، وَتَرْكُ اْلآذَى ، وَصَوْنُ اْلجَوَارِحِ عَنِ اْلقَبَائِحِ  

 Jamaah Jumat hafidhakumullah,   Keenam adab sebagaimana disebutkan di atas akan diuraikan satu per satu berikut ini:

 

Pertama, mengonsumsi makanan yang baik. Selama berpuasa, khususnya di bulan Ramadhan, makanan yang sebaiknya kita konsumsi adalah makanan yang baik atau halalan thayyiba.

 

Makanan yang baik tidak identik dengan makanan yang lezat atau mahal, tetapi adalah makanan yang baik bagi kesehatan dan tentu saja juga halal secara syarí. Beberapa makanan dikenal sangat lezat seperti cumi-cumi, rempelo, hati,   otak dan sebagainya.

 

Tetapi semua makanan  ini mengandung protein sangat tinggi yang dalam jangka pendek atau panjang bisa merugikan kesehatan khususnya bagi mereka yang telah mengidap kelesterol tinggi.    Beberapa makanan yang baik kita konsumsi selama Ramadhan, disamping makanan pokok seperti nasi atau lainnya, adalah  kurma, madu, sayuran,  daging, ikan, dan lain sebagainya.

 

Intinya adalah makanan yang secara kesehatan baik untuk dikonsumsi dan juga halal secara syarí. Syukur-syukur makanan itu ada tuntunannya di dalam agama baik berdasarkan Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  seperti madu dan kurma sebagaimana telah disebutkan di atas.

 

Kedua, menghindari perselisihan. Pertengkaran atau perselisihan bisa terjadi kapan saja. Tetapi orang-orang berpuasa sangat dianjurkan menjaga kesucian bulan Ramadhan dengan tidak melakukan pertengkaran.

 

Untuk itu diperlukan kesadaran penuh untuk menahan diri dari emosi yang dapat menjurus pada pertengkaran. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang dirawayatkan oleh Bukhari berikut ini:

 

Artinya: Dan jika seseorang mengajak bertengkar atau mencela maka katakanlah, Sesungguhnya aku sedang berpuasa. (Ucapkan hal ini dua kali).”   

 

وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ  

 

Jadi ungkapan Aku sedang berpuasasebagaimana dimaksudkan dalam hadits di atas adalah untuk menyatakan ketidak sanggupan kita untuk berselisih atau bertengkar dengan pihak lain di bulan Ramadhan.  Intinya kita sangat dianjurkan untuk bisa menjaga perdamaian dan kerukunan bersama di saat kita sedang berpuasa.

   Jamaah Jumat hafidhakumullah,

 

Ketiga,  menjauhi ghibah/menggunjing orang lain. Menggunjing orang lain di luar bulan Ramadhan saja tidak baik, apalagi selama puasa di bulan suci ini. Tentu dosanya lebih besar dan dapat menghilangkan pahala berpuasa itu sendiri.

 

Oleh karena itu setiap orang yang berpuasa perlu menyadari hal ini sehingga bisa bersikap hati-hati dalam menjaga lisannya. Lisan memang merupakan salah satu organ manusia yang paling banyak mendatangkan dosa apabila kita tidak berhati-hati.

 

Artinya banyak dosa yang diakibatkan ketidak mampuan kita menjaga lisan, seperti menggunjing, memfitnah dan sebagainya.  Semakin baik kita menjaga lisan, semakin banyak keselamatan kita dapatkan. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Al-Bukhari sebagai berikut: 

 

Artinya: ‏“‏Keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lisan

 

سَلَامَةُ اْلِإنْسَانِ فِي حِفْظِ الِّلسَانِ  

 

 Keempat, menolak dusta. Menolak berkata dusta merupakan hal penting sebab sekali berdusta kita akan cenderung berdusta lagi untuk menutupi dusta sebelumnya. Di saat puasa,  kita harus mampu menghindari berkata dusta karena dusta dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala berpuasa. Juga, kita harus mampu menahan diri dari melakukan sumpah palsu sebab hal ini juga dapat merusak kualitas ibadah puasa kita.

 

Tentu saja tidak hanya kualitas ibadah puasa kita menjadi menurun akibat dusta dan bersumpah palsu, tetapi juga kita akan mendapatkan dosa yang lebih besar.    Hal tersebut sebagaimana disinggung Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh At-Thabrani sebagai berikut:   

Artinya: Takutlah kalian terhadap bulan Ramadhan karena pada bulan ini, kebaikan dilipatkan sebagaimana dosa juga dilipat-gandakan.

 

 

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ  

”   Jamaah Jumat hafidhakumullah,,  

Kelima, tidak menyakiti orang lain. Menyakiti orang lain baik secara fisik maupun secara verbal  merupakan perbuatan tercela. Setiap perbuatan tercela berdampak langsung terhadap kualitas ibadah puasa kita. Ibadah puasa yang kita jalani dengan susah payah dengan menahan dahaga dan lapar dari pagi dini hari hingga saat maghrib,  akan sia-sia tanpa pahala apabila kita tidak mampu menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat menyakiti orang lain.

 

Menyakiti orang lain merupakan kezaliman dan oleh karenanya merupakan kemaksiatan.    Oleh karena itu, betapa pentingnya selalu mengingat bahwa di dalam bulan Ramadhan kita benar-benar harus dapat menjaga lisan agar tidak sekali-kali menggunakannya untuk menyakiti orang lain seperti memfitnah, menghina dan lain sebagainya.

 

Keenam, menjaga anggota badan dari segala macam perbuatan buruk. Di bulan Ramadhan khususnya, hendaklah kita dapat menjaga tangan kita agar tidak kita gunakan untuk maksiat seperti memukul orang lain ataupun mencuri, dan sebagainya.

 

Kaki juga harus kita jaga sebaik mungkin dengan tidak menggunakannya untuk pergi ke tempat-tempat tertentu untuk berbuat maksiat dan sebagainya. Demikian pula mata dan telinga kita hendaklah selalu kita jaga sebaik-baiknya agar tidak kita gunakan untuk melakukan perbuatan maksiat yang dosanya dilipatkan dalam bulan suci ini.

 

Singkatnya, jangan sampai kita berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus dan dahaga saja karena banyak melanggar adab berpuasa sebagaiamana dikhawatirkan Rasululllah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad sebagai berikut:   

 

Artinya: Banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa pun selain dari pada lapar dan dahaga.

 

 

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ اْلجُوْعُ وَاْلعَطَسُ  

Jamaah Jumat hafidhakumullah,

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat rahmat dan pertolongan dari Allah subhanahu wataala sehingga ibadah puasa tahun ini akan dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa melanggar ketentuan hukum dan adab berpuasa. Dengan cara ini insya Allah puasa kita akan diterima oleh Allah subhanahu wataala dan mendapatkan ampunan-Nya yang sebesar-besarnya. Amin ya rabbal alamin.

Wallohu A’lamu Bishowab

 

Pemateri:

De badruns

Ketua MUI Margomulyo

 

 

Share:

KUWALI ||KULTUM MATAWALI|| ROMADHON #2

Share:

KUWALI ||KULTUM MATAWALI || ROMADHON #1

Share:

Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo

Ngaji Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo

08 April 2022

Kitab Wasiyatul Mustofa

Wahai Sahabat Ali, termasuk kemuliaan seorang mukmin adalah memiliki istri yang patuh pada suami, (senantiasa melaksanakan) sholat berjamaah, dan tetangga-tetangganya mencintainya.

 

يَا عَلِيُّ مِنْ كَرَامَةِ الْمُؤْمِنِ زَوْجَةٌ مُوَافِقَةٌ وَالصَّلَاةُ جَمَاعَةً وَجِيْرَانٌ يُحِبُّوْنَهُ

 

Note*

Dalam Keterangan Yang lain istri yang taat kepada suami juga bisa menjadi penyebabnya dapat masuk surga, lho. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.

 (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

 

Terkait Sholat jamaah sudah di jabarkan di pertemua selumnya, Sedangkan orang yang di cintai tetangga itu mempunyai tanda mampu menjaga ketenteraman atau kedamaian, tidak hanya sesama muslim, tapi juga orang diluar muslim dari perbuatan lisan dan tangannya,sebagaimana yang di jelaskan Rosululloh sebagai berikut

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

(Hadits Shahih, Riwayat  Muslim, Lihat Shahiihul jaamiNo. 6709)

 

Wahai Sahabat Ali, Barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan, menjauhi perkara haram dan dusta di dalamnya, maka Tuhan Yang Maha Pengasih ridlo padanya dan mewajibkan baginya surga-surga.

 

 

يَا عَلِيُّ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَاجْتَنَبَ الْحَرَامَ فِيْهِ وَالْبُهْتَانَ رَضِيَ عَنْهُ الرَّحْمٰنُ وَاَوْجَبَ لَهُ الْجِنَانَ

Wahai Sahabat Ali, barang siapa yang mengikuti Bulan Ramadhan dengan puasa 6 hari di Bulan Syawal, maka Allah mencatat baginya puasa setahun penuh.

 

يَا عَلِيُّ مَنِ اتَّبَعَ رَمَضَانَ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ صَوْمَ الدَّهْرِ كَلِّهِ

 

Wallohu A’lamiu Bisshowab

 

 

 

Pemateri:

De badruns
(Ketua MUI Margomulyo)

 

Share:

MUIM TV

Jumlah Pengunjung

Popular Posts

Label