Kajian Rutin Malam Rabu Wage di Musholla Nurul Hidayah Perkuat Nilai Silaturahmi dan Keikhlasan Umat


Margomulyo — Selasa, 21 April 2026. Kegiatan kajian rutin Malam Rabu Wage kembali digelar di Musholla Nurul Hidayah, Batang, Kecamatan Margomulyo, pada Selasa, 21 April 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan dihadiri oleh seluruh jamaah musholla, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.

Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo dalam upaya memperkuat pembinaan keagamaan melalui kunjungan langsung ke majelis taklim di wilayah pedesaan. Pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan tradisi dan jadwal masing-masing majelis, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan manakib Jawahirul Ma’ani yang dipimpin oleh Kiyai Jamin selaku takmir Musholla Nurul Hidayah. Suasana religius yang tercipta dari pembacaan manakib tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah pada kesiapan spiritual dalam mengikuti kajian inti.

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, Kiyai Badrun, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi serta menjauhi sifat dendam terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa momentum Idul Fitri 1447 Hijriah hendaknya dimaknai sebagai titik awal untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan membangun kembali hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

“Silaturahmi dan sikap saling memaafkan merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Tidak ada ruang bagi dendam dalam hati seorang mukmin,” tegas beliau di hadapan jamaah.

Melalui kegiatan kajian rutin ini, diharapkan nilai-nilai keislaman yang menyejukkan dan membangun dapat terus tertanam dalam kehidupan masyarakat. Program MUI Margomulyo ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah kehidupan umat.

======================================

Silaturahmi dan Pengendalian Dendam: Pilar Etika Sosial dalam Islam

Pendahuluan
Islam menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian integral dari kesempurnaan iman. Dua nilai kunci yang saling terkait dalam konteks ini adalah silaturahmi (menyambung hubungan) dan pengendalian dendam (ghill). Keduanya bukan sekadar norma sosial, melainkan mandat syariat yang berdampak langsung pada kualitas spiritual individu dan stabilitas sosial. Artikel ini mengurai urgensi menjalin silaturahmi serta meninggalkan dendam, dengan landasan nash dan implikasi praksisnya.


Landasan Normatif: Perintah Menyambung, Larangan Memutus

Al-Qur’an menegaskan kewajiban menjaga relasi kekerabatan dan melarang pemutusannya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Dalam ayat lain, Allah mencela pemutus silaturahmi sebagai bentuk kerusakan sosial:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Sementara itu, Islam secara tegas mendorong pembersihan hati dari dendam. Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS. An-Nur: 22)

Hadis Nabi ﷺ juga menegaskan dampak langsung silaturahmi terhadap keberkahan hidup:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Silaturahmi sebagai Instrumen Keberkahan

Secara teologis, silaturahmi adalah ibadah sosial yang menghasilkan barakah—peningkatan kualitas dan keberlanjutan kebaikan. Keberkahan ini termanifestasi dalam tiga ranah:

  1. Spiritual: hati lebih lapang, ibadah lebih khusyuk, dan terjaga dari penyakit hati.
  2. Psikologis: berkurangnya stres sosial, meningkatnya rasa memiliki (sense of belonging).
  3. Sosial-ekonomis: terbukanya jejaring tolong-menolong (ta’awun) yang memperlancar rezeki.

Dengan demikian, silaturahmi bukan aktivitas seremonial, tetapi mekanisme etis yang memperkuat ekosistem kebaikan.


Dendam sebagai Penyakit Hati dan Disfungsi Sosial

Dendam (ghill) adalah residu emosi negatif yang menggerogoti integritas batin. Dalam perspektif tasawuf, dendam menghalangi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karena memelihara kebencian dan keinginan membalas.

Dampaknya tidak hanya personal, tetapi juga sosial:

  • Eskalasi konflik: dendam memperpanjang siklus permusuhan.
  • Disintegrasi komunitas: melemahkan kepercayaan dan solidaritas.
  • Distorsi moral: membenarkan tindakan balasan yang melampaui batas.

Karena itu, Islam menempatkan ‘afw (memaafkan) dan shafh (berlapang dada) sebagai solusi kuratif sekaligus preventif.


Integrasi Nilai: Silaturahmi Tanpa Dendam

Silaturahmi yang otentik mensyaratkan pembersihan hati dari dendam. Tanpa itu, relasi hanya bersifat formal, tidak menghasilkan keberkahan. Integrasi keduanya tampak dalam beberapa prinsip operasional:

  1. Proaktif menyambung relasi: tidak menunggu pihak lain memulai.
  2. Memaafkan tanpa syarat: memutus siklus balas-membalas.
  3. Tabayyun dan dialog: menyelesaikan kesalahpahaman secara adil.
  4. Doa dan husnuzan: menjaga prasangka baik sebagai fondasi relasi.

Nabi ﷺ memberikan standar etika yang tinggi: bukan sekadar membalas kebaikan, tetapi tetap menyambung hubungan meski diputus oleh pihak lain.


Relevansi Kontekstual: Momentum Idul Fitri

Idul Fitri merupakan momen strategis untuk rekalibrasi relasi sosial. Tradisi saling bermaafan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus berlanjut pada komitmen konkret: menghapus dendam, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat jaringan silaturahmi secara berkelanjutan.


Penutup

Menjalin silaturahmi dan meninggalkan dendam adalah dua sisi dari satu etika Islam yang sama: membangun kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Pada level individu, keduanya menyucikan jiwa dan menumbuhkan ketenangan. Pada level sosial, keduanya menjadi fondasi kohesi dan harmoni. Implementasi konsisten dari nilai-nilai ini bukan hanya ketaatan normatif, tetapi investasi jangka panjang bagi peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUIM TV

Jumlah Pengunjung

Popular Posts

Label